Sanubari Teduh

[ST-018] 佛如良醫法如藥 Buddha Bagaikan Tabib Agung dan Dharma Bagaikan Obat

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus senantiasa menjaga hati ini, agar tetap murni baik fisik maupun batin. Belakangan ini kita sering mengatakan bahwa Dharma bagaikan air yang senantiasa membersihkan kekeruhan batin. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus giat menyucikan hati dan pikiran. Jika ingin menyucikan hati, kita harus menggunakan Dharma. Kita harus senantiasa menggunakan ajaran Buddha di dalam hati dan sungguh-sungguh menerapkannya dalam praktik nyata.

Dengan pikiran yang terjaga, maka setiap perbuatan kita tak akan menyimpang dan tak akan diliputi kegelapan dan noda batin. Untuk itu, dengan penuh ketulusan, dengan batin dan fisik yang murni, kita hendaknya menghormati Tiga Permata. Makhluk awam yang ingin bertobat hendaknya terlebih dulu memberi penghormatan kepada Tiga Permata.

Demikianlah, bagi semua makhluk, Tiga Permata adalah mitra yang baik dan ladang menanam berkah. Tiga Permata merujuk pada Buddha, Dharma, dan Sangha. Mengapa disebut permata? Karena jarang ada dan sulit ditemukan di dunia, maka disebut permata. Lihatlah, kehadiran Yang Maha Sadar yaitu Buddha di dunia sangatlah langka. 2.500 tahun yang lampau, seorang pangeran lahir di Kapilavastu.

Sejak saat itu, hadirlah seorang yang mencapai pencerahan. Di dunia, beliau melihat berbagai masalah dan kondisi. Sebagai orang yang memiliki kebijaksanaan, beliau dapat melihat kondisi yang terus berubah serta tidak kekal. Karenanya, dalam ketidakkekalan ini beliau terdorong untuk mencari kebenaran mutlaki. Maka, beliau meninggalkan istana, melakukan pencarian, dan mencapai pencerahan. Proses ini memiliki banyak kesulitan. Namun, beliau tak takut akan penderitaan dan yakin bahwa di balik ketidakkekalan pasti ada kebenaran mutlak. Beliau terus mencari dan akhirnya menemukannya. Sejak itu, ada seorang Yang Maha Sadar di dunia. Kita menyebut-Nya Buddha.

Sudah 2.500 tahun berlalu, hingga kini belum ada Buddha kedua. Lihatlah, sungguh langka. Dharma ditemukan oleh Yang Maha Sadar ini. Dengan hakikat dan kebijaksanaan-Nya yang murni, Beliau mengamati kebenaran sejati dari segalanya. Dengan demikian, segala misteri kehidupan ini satu demi satu dijelaskan-Nya pada kita hingga kita menyadari kebenaran abadi. Untuk memahami kebenaran abadi, kita harus mempraktikkan ajaran Buddha. Ajaran inilah yang disebut Dharma. Siapakah yang dapat menerima Dharma? Seperti kita yang dalam hidup bisa jatuh sakit, penyakit ini harus diperiksa oleh dokter dan diberi resep obat, baru bisa sembuh. Jadi, seperti inilah Dharma. Dharma sangat sulit ditemukan. Tanpa Dharma, penyakit batin semua makhluk tak bisa disembuhkan, sebagaimana orang sakit memerlukan obat.

Namun, meskipun obat telah tersedia, juga dibutuhkan orang yang merawat orang sakit. Jadi, obat mutlak diperlukan, dan karenanya disebut sebagai permata. Obat yang dapat menyembuhkan penyakit kita itu, itulah permata sejati, itulah Permata Dharma. Buddha adalah manusia yang menyadari kebenaran sejati, guru yang dapat membimbing orang lain. Kebenaran yang dibabarkan berdasarkan yang Buddha temukan disebut “Dharma”. Dharma adalah obat mujarab yang dapat mengobati penyakit batin semua makhluk. Karenanya, disebut “Permata Dharma”. Meski begitu banyak metode Dharma, jika tak dapat menemukan metode yang sesuai, penyakit kita akan tetap berlanjut. Terlalu banyak obat justru membawa efek samping, seperti banyak orang mengatakan dirinya tulus dan ingin mendengar banyak Dharma. Meski banyak mendengar Dharma, namun tak menemukan metode yang sesuai. Ini karena ia tak meresapinya ke dalam hati. Bagaikan orang yang salah minum obat, efeknya malah bertolak belakang. Karena itu, ada satu istilah yaitu rintangan pengetahuan. Karena memiliki banyak pengetahuan, kemudian timbullah kemelekatan. Pengetahuan ini tak dapat digunakan dan hanya menjadi kemelekatan, akibatnya terbentuklah rintangan pengetahuan.

Semakin melekat, kita semakin terbelenggu dan semakin risau. Inilah yang disebut rintangan pengetahuan. Ia mengalami rintangan di berbagai kondisi. Jika demikian, sangatlah menderita mempelajari ajaran Buddha. Ia menggunakan banyak obat yang salah, sehingga efeknya menjadi terbalik. Kita harus menggunakan Dharma dengan benar. Ketika Dharma dapat digunakan dengan benar, maka ia menjadi permata. Sama seperti mencari donor sumsum yang cocok, dalam sejumlah kasus, ada pasien yang mengalami semacam kelainan genetik hingga ia menderita leukemia. Tubuhnya tak bisa menghasilkan sel darah sehingga ia membutuhkan donor sumsum tulang untuk ditransplantasikan pada tubuhnya.

Untuk menemukan sumsum tulang yang cocok, tak mudah meski mencari dari puluhan ribu orang. Mencari donor yang cocok dari puluhan ribu orang, bayangkan betapa sulitnya. Setelah menemukan donor yang sesuai dan menjalani transplantasi, ia memulai lembaran hidup yang baru karena tubuhnya kini dapat memproduksi sel darah. Sungguh luar biasa.

Jadi, ini juga merupakan Dharma. Untuk menemukan Dharma yang sesuai guna menyembuhkan penyakit kita, sesungguhnya tidaklah mudah. Karena itulah, Dharma disebut permata. Tentu kita juga membutuhkan ibu yang merawat. Lihatlah, ketika seorang anak sakit, sudah tentu ia tak dapat jauh dari ibunya, karena ibunyalah yang dapat merawatnya. Ibu bagaikan perawat yang merawat pasien. Hati seorang ibu sungguh luar biasa. Kasih seorang ibu sungguh berharga.

Maka, Sangha bagaikan perawat pasien yang harus memiliki hati seorang ibu. Mengembangkan cinta kasih yang demikian tidaklah mudah. Buddha bagaikan tabib, Dharma bagaikan obat, Sangha bagaikan perawat. Untuk menyembuhkan penyakit di dunia, tabib, obat, dan perawat tak boleh kurang satu pun. Ada praktisi Buddhis yang hidup membiara. Lihatlah dari begitu banyak orang di dunia, yang sungguh-sungguh berikrar hidup membiara ada berapa jumlahnya? Menjalani kehidupan monastik bukanlah dilakukan demi diri sendiri. Ini memang suatu cara mengasihi diri sendiri karena kita mengikuti jejak Buddha. dan berusaha memahami kebenaran sejati di tengah ketidakkekalan. Namun, selain itu kita pun harus mengikuti jejak Bodhisattva, karena inilah jalan yang dipuji para Buddha, Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus memiliki semangat Bodhisattva. Tanpa semangat Bodhisattva, kita akan jatuh ke dalam praktik yang sempit yang hanya mencari pembebasan bagi diri sendiri.

Begini tentu tak dapat mencapai kebuddhaan. Untuk mencapai kebuddhaan, haruslah mencerahkan diri sendiri dan orang lain. Mencerahkan orang lain berarti memberi manfaat bagi orang lain. Inilah semangat Mahayana. Jika hanya mencerahkan diri sendiri, kita hanya bisa menjadi Arhat atau Pratyekabuddha. Kita harus mencerahkan orang lain, terjun ke tengah-tengah umat manusia untuk menyelesaikan misi Buddha dan Bodhisattva, yaitu menyelamatkan semua makhluk.

Dengan demikian, barulah kita dapat mencapai kesempurnaan praktik dan kesadaran. Inilah praktisi Buddhis yang sejati. Jadi, tidaklah mudah hidup sebagai anggota Sangha. Ingin memasuki hidup monastik saja sudah tidak mudah, apalagi jika kemudian dapat mengikuti jejak para Buddha dan Bodhisattva dengan melakukan praktik nyata menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. Ini lebih sulit lagi.

Jadi, ada begitu banyak hal yang sulit dilakukan dan sulit dicapai. Karena itu, Sangha juga disebut permata. Oleh sebab itu, ketiganya disebut Tiga Permata: Permata Buddha, Permata Dharma, Permata Sangha. Karena permata ini sangat sulit ditemukan, kita harus mencarinya dengan penuh rasa hormat, dan melatih diri dengan sungguh-sungguh. Praktisi Buddhis harus memiliki semangat Bodhisattva. Menyucikan batin adalah yang utama, memberi manfaat bagi makhluk lain adalah yang terpenting. Tiga Permata adalah mitra yang baik dan ladang menanam berkah bagi semua makhluk.

Tiga Permata sungguh merupakan mitra yang baik sekaligus ladang berkah bagi semua makhluk. Sebelumnya, kita telah mengulas bahwa Buddha bagaikan tabib agung, Dharma bagaikan obat, dan Sangha bagaikan ibu yang merawat. Ini juga telah kita bahas tadi. Kemudian, Tiga Permata juga dapat menjadi mitra yang baik bagi kita. Jika kita berkumpul bersama teman yang baik, dari teman-teman yang baik ini, kita dapat mempelajari banyak ilmu yang bermanfaat.

Ada banyak metode yang harus dipelajari dalam hidup, bukan hanya dalam mempelajari ajaran Buddha yang memiliki banyak metode. Sesungguhnya, semua orang di dunia ingin memiliki kehidupan yang bahagia, menjadi orang yang berhasil. Oleh karena iru, kita membutuhkan mitra yang baik untuk mengajar dan membimbing kita. Orang berkata, bila berkumpul dengan orang baik, suatu saat pasti akan berhasil. Maka, mitra yang baik sangatlah penting.

Buddha juga dapat menjadi sahabat kita. Kita sering menyebutnya guru sekaligus teman. Buddha datang ke dunia untuk menyatukan umat manusia dan menyelamatkan semua makhluk. Barusan saya mengatakan bahwa kemunculan seorang Buddha amatlah langka. Selama lebih dari 2.000 tahun ini hanya ada satu, belum ada yang kedua. Sesungguhnya, bagi para Buddha dan Bodhisattva Dunia Saha adalah tempat Mereka bermanifestasi, tempat Mereka harus mengajar. Sesungguhnya, tanah suci para Buddha berada di Dunia Saha ini. Mereka senantiasa berada bersama kita.

Jadi, Buddha terus-menerus kembali ke tengah-tengah umat manusia. Jadi, jika ada orang yang membimbing kita, kita harus memandangnya dengan hati Buddha, bahwa ia adalah Buddha hidup yang muncul di hadapan kita. Ketika hati kita sedang bimbang, lalu ada teman baik yang dengan sepatah kata memecahkan masalah itu, kita hendaknya mengganggap kata-kata itu sebagai kata-kata Buddha. Dharma membuka ketidaktahuan kita, membebaskan kita dari kegelapan batin. Inilah Buddha Dharma. Jadi, Tiga Permata bisa menjadi tabib yang memeriksa penyakit, bisa menjadi obat penyembuh penyakit, dan juga perawat yang mendampingi kita melewati kehidupan yang sulit.

Lihatlah betapa banyak insan Tzu Chi yang senantiasa terjun ke masyarakat, menghibur dan mendampingi orang yang menderita. Bukankah mereka adalah mitra yang baik? Mereka juga merupakan perwujudan Tiga Permata. Ini juga disebut ladang berkah. Tiga Permata pun merupakan ladang berkah kita. Ladang berkah harus mencakup tiga aspek, baru dapat disebut ladang berkah.

Tiga aspek ini yakni, pertama, ladang penghormatan, kedua, ladang budi luhur, ketiga, ladang welas asih. Menghormati Buddha, Sangha, orang tua, dan orang yang menderita akan mendatangkan berkah, bagai petani yang menuai setelah menanam. Karena itu, ladang digunakan sebagai perumpamaan di sini, dan disebutlah mereka sebagai ladang berkah. Menghormati berarti menjunjung. Terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha, kita harus senantiasa memiliki rasa hormat. Ini disebut ladang penghormatan. Baru saja kita bahas berkali-kali bahwa Buddha terus-menerus kembali ke dunia demi semua makhluk. Beliau tak henti-hentinya membimbing kita untuk memahami Dharma dan menemukan kebenaran mutlak di balik ketidakkekalan.

Jadi, Buddha, Dharma, Sangha patut kita hormati. Jika kita memiliki rasa hormat dalam hati, barulah kita dapat menghormati Dharma. Jika kita tak memiliki rasa hormat di hati, kita tak akan dapat menghormati Dharma. Dengan adanya rasa hormat dalam hati, Anda dapat bertekad sepenuh hati dan merealisasikannya dalam tindakan. Dengan mampu mempraktikkan ajaran, maka dalam perjalanan hidup ini kita tak akan menyimpang. Kita harus melatih diri dalam kehidupan ini juga karena dengan terlahir sebagai manusia dan berkesempatan mengenal ajaran Buddha, dalam kehidupan ini kita dapat mengumpulkan banyak benih ajaran Buddha yang berguna bagi kehidupan ini dan akan datang. Jadi, terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha kita harus memiliki rasa hormat dan penuh kasih. Inilah yang disebut ladang penghormatan.

Kita harus memiliki rasa hormat pada Tiga Permata, rasa hormat yang timbul dari dalam hati, agar Dharma dapat meresap ke dalam hati. Ini bagaikan benih yang ditanam di ladang batin. Benih ini adalah benih kebijaksanaan sebab dengan adanya Tiga Permata di dalam hati, berarti kita telah memiliki benih kebijaksanaan. Selanjutnya yaitu ladang budi luhur. Orang tua adalah ladang budi luhur kita. Kita harus berbakti pada mereka. Budi orang tua sangat sulit dibalas. Lihat, meski Buddha telah mencapai kebuddhaan, ketika Beliau melihat seonggok tulang, Beliau tidak hanya menghormati dan berterima kasih pada orang tua di kehidupan ini, melainkan juga berterima kasih pada orang tua di banyak kehidupan lampau yang tak terhingga.

Karena saat Beliau melihat tulang-belulang itu, dengan penuh rasa syukur Beliau menunjukkan sikap hormat. Lihatlah Buddha, baik pada orang tua di kehidupan ini atau lampau, Beliau tetap bersyukur dan berterima kasih. Terlebih lagi, dalam Sutra Bakti Seorang Anak dikatakan bahwa bagaimana pun kita membalas budi orang tua, tetap sulit terbalas sepenuhnya. Bagaimana pun kita berusaha membalasnya, tetap tak akan terbalas secara penuh. Lihatlah, ada penggalan Sutra yang berbunyi, ketika orang tua sudah berusia lanjut dan tak leluasa berjalan, anaknya harus menopang mereka. Bagaimana jika keduanya ingin berjalan bersama? Sang ayah ditopang di bahu kiri dan sang ibu di bahu kanan. Meski bahu sang anak terluka dan berdarah hingga tulangnya terlihat, dengan melakukan upaya sulit seperti ini terhadap orang tua, apakah sudah dapat membalas budi pada orang tua? Tidak.

Buddha adalah ladang berkah yang teragung dan terunggul, sedangkan orang tua merupakan ladang berkah terunggul di tiga alam. Sutra Balas Budi Ibu menyusui anak selama tiga tahun. Selama sepuluh bulan mengandung, orang tua mengalami banyak penderitaan baik fisik maupun batin. Saat kita beranjak dewasa, orang tua senantiasa mengkhawatirkan kita. Meski ibu telah berusia 100 tahun, dan anaknya berusia 80 tahun, di lubuk hati sang ibu sang anak tetaplah seperti bayi. Cinta kasih seperti ini bagaimana dapat kita balas sepenuhnya? Kita harus senantiasa berusaha. Di Luodong, Taiwan, ada sepasang ibu dan anak yang menjadi relawan daur ulang. Sungguh menyenangkan melihatnya. Anaknya berusia 60 tahun lebih, sedangkan ibunya 80 tahun lebih. Mereka hanya hidup berdua. Sang anak sangat berbakti pada ibunya. Ekonomi keluarga mereka pas-pasan. Anaknya itu menderita katarak sehingga tak dapat melihat dengan jelas. Namun, setiap hari ia membuat ibunya bahagia dengan mengajak ibunya melakukan daur ulang. Setiap pagi mereka berangkat menggunakan becak. Sang ibu duduk di atas becak dan ia yang mendorongnya.

Ketika berangkat, ia pun bernyanyi, “Berangkat saat matahari belum benderang, langit perlahan-lahan semakin terang.” Ia bukan duduk di atas sadel, dan mengayuh pedal agar becak bergerak. Ia membawa ibunya naik becak dengan mendorong becak itu. Ibunya duduk di atas becak dan ia mendorongnya sambil berjalan. Selama perjalanan, matahari belumlah terbit. Ia pun bernyanyi untuk ibunya, “Berangkat saat matahari belum benderang, langit perlahan-lahan semakin terang.” Lagu ini adalah sebuah lagu lama. Sang ibu bahagia mendengarnya sambil duduk di atas becak itu. Untuk apa mereka berangkat pagi-pagi? Untuk melakukan daur ulang. Ada orang yang berkata, “Nek, setiap hari ikut anak dengan becak, apakah Nenek tidak lelah?” “Setelah itu masih harus melakukan daur ulang, apakah tidak lelah?” Nenek itu pun menjawab, “Tidak, becak kami ini adalah Mercedes-Benz Taiwan.” “Anak saya berkata bahwa jika saya duduk dalam Mercedes-Benz, tak ada orang yang bisa melihat saya, tetapi kalau di atas becak, semua orang dapat melihat saya.” “Anak saya juga bilang bahwa tempat sampah adalah kotak harta karun.” “Ia berkata bahwa suatu ketika dari dalam tempat sampah ia pernah menemukan radio.” “Ia pun membawanya pulang, membersihkan, dan memperbaikinya, sehingga saya dapat mendengar lagu dari radio dengan gembira.”

 

Kita dapat melihat saat seluruh becaknya dipenuhi dengan sampah daur ulang, barulah sang anak mengayuhnya. Ibunya mengamati sepanjang jalan, memungut sampah-sampah daur ulang sambil membantu mendorong becak. Dalam perjalanan pulang, sang anak menyanyikan lagu lama yang lain. Sepasang ibu anak ini sungguh bahagia. Mereka tidak begitu berada, sang anak tak dapat memberi ibunya hidup mewah. Kekayaan secara materi, mereka tak punya, tetapi batin mereka sungguh kaya raya.

Membahagiakan ibu merupakan ungkapan rasa syukur. Lihat, inilah yang disebut ladang budi luhur. Anak laki-laki ini sudah berusia 60 tahun lebih dan tetap terus menemani ibunya. Dan hal ini membuat sang ibu lebih bahagia daripada memiliki menantu. Inilah yang disebut membalas budi. Jadi, orang tua adalah ladang budi luhur kita. Ladang welas asih adalah orang yang menderita. Kita iba melihat makhluk yang menderita. Kita dapat bersumbangsih bagi mereka. Di Taiwan Utara, ada Bapak Jiang. Ia pensiun pada usia 60 tahun lebih dan menerima sejumlah dana pensiun. Ia hidup sebatang kara. Kini, usianya telah lanjut. Beberapa tahun lalu ia menarik tabungannya sebesar satu juta seratus ribu NT (± Rp300 juta) untuk didanakan ke Tzu Chi. Ada orang berkata kepadanya, “Anda hanya hidup sendiri, kalau mendanakan uang begitu banyak, kelak Anda bagaimana?” Ia menjawab, “Menyimpan uang dalam bank tak membuahkan apa-apa.” “Orang yang punya uang tetapi tak bisa menggunakannya dengan baik adalah orang bodoh.” “Saya telah menggunakan uang dengan tepat.” “Saya berdana ke Tzu Chi, uang ini akan seperti air yang mengalir dan mewakili saya melakukan banyak hal baik.” “Setelah meninggal, tubuh ini akan saya donorkan ke Tzu Chi.” ”Tubuh ini akan saya sumbangkan.” “Insan Tzu Chi akan mengurusnya dengan baik.” “Uang yang berdiam di bank adalah uang mati, tak ada gunanya.”

Lihatlah, ia begitu bijaksana. Ia dapat menggunakan uang dengan tepat dan menggunakan kemampuannya untuk membantu orang yang membutuhkan. Ia berkata Tzu Chi dapat membantunya melakukan banyak hal yang baik dan menolong banyak orang. Lihat, inilah yang disebut ladang welas asih. Ia tak memiliki ketamakan dan kemelekatan di hati, pikirannya pun tak menyimpang. Hatinya tak tamak dan pikirannya tak menyimpang. Orang tua berusia 80 tahun ini tahu bahwa uang yang disimpan di bank hanya digunakan bagi kepentingan pribadi. Bagaimana setelah dirinya meninggal? Lebih baik ia gunakan uang dan kemampuan ini untuk sesuatu yang lebih bermakna, yaitu menolong orang lain. Lihatlah para insan Tzu Chi. Adakah hari di mana mereka berhenti bersumbangsih bagi orang yang menderita, dan membantu memenuhi kebutuhan mereka? Inilah ladang welas asih. Ladang welas asih ini telah digarap oleh para insan Tzu Chi. Kita semua terjun ke tengah masyarakat dengan sungguh-sungguh dan bersumbangsih di tengah penderitaan.

Tetapi, apakah ladang budi luhur kita juga telah digarap dengan baik? Semua orang hendaknya segera merenungkannya. Apakah ladang penghormatan kita juga telah digarap dengan baik? Jika dilihat dari luar memang sudah dilakukan. Tetapi, apakah Buddha, Dharma, dan Sangha senantiasa ada di hati kita? Apakah kita telah menghormati Tiga Permata? Jika ya, ditambah dengan berbakti pada orang tua dan bersumbangsih dengan cinta kasih, maka gabungan dari ketiga ladang ini akan menjadi sebuah ladang berkah yang besar.

Saudara sekalian, kita harus sungguh-sungguh menjaga hati. Dengan demikian, kita dapat menanam benih baik di ladang batin dan menggarapnya dengan baik.

Untuk itu, kita tetap harus senantiasa bersungguh-sungguh.

Leave A Comment