[ST-034] 善緣一轉惡緣消 Jalinan Jodoh Buruk Lenyap di Kala Jalinan Baik Matang
Saudara se-Dharma sekalian, pagi hari setiap harinya merupakan waktu terbaik bagi kita untuk melatih batin agar kembali pada hakikat murni. Siapakah di antara kita para makhluk awam yang mampu menjaga kemurnian batin// tak tergoyahkan? Sangat sulit. Karena itu, kita harus membuatnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang kita miliki bersumber dari benih karma yang kita bawa dari masa lampau ditambah pengaruh lingkungan di kehidupan ini. Ketika benih karma yang kita bawa ini bertemu kondisi dan jodoh untuk berbuah, noda batin kita pun terus bertambah. Kita telah mengatahui bahwa tabiat buruk akan menciptakan jalinan jodoh buruk, begitu pula, tabiat baik akan menciptakan benih karma baik yang akan membangkitkan jalinan jodoh baik. Seperti yang sering dikatakan, pikiran kita adalah kombinasi//antara baik dan buruk. Di kehidupan lampau,// kita pernah berbuat baik maupun buruk.
Pada kehidupan lampau, entah dalam berapa banyak kehidupan, noda batin serta jalinan jodoh baik dan buruk terus bertambah dan membuat kita pada kehidupan ini juga mewarisi karma baik dan buruk. Ketika karma buruk berbuah, lingkungan yang kita hadapi menjadi tidak menguntungkan. Meski lingkungan itu sesungguhnya baik, namun kita tak akan bertemu orang baik. Bahkan meski bertemu orang baik, kita juga tidak akan merasakan sukacita. Ini adalah akibat karma dan jodoh buruk yang kita tanam pada kehidupan lampau. Pada kehidupan sekarang, kita amat beruntung karena dapat bertemu ajaran Buddha. Berkesempatan bertemu Dharma tidaklah mudah, maka kita beruntung dapat lahir sebagai manusia, terlebih dapat mendengarkan Dharma. Yang lebih berharga dan membahagiakan lagi adalah dapat menjadi bagian dari sebuah organisasi Bodhisattva. Di sini kita berkesempatan untuk belajar dari banyak orang baik.
Saat bergabung dalam organisasi Bodhisattva ini, terhadap tabiat buruk masa lalu kita, kita harus sungguh-sungguh waspada. Meski bertemu dengan orang yang tidak kita sukai, namun sesungguhnya orang ini belum tentu tidak baik. Belum tentu. Ia mungkin berhubungan baik dengan orang lain, dan hanya kita yang tidak menyukainya. Orang lain mungkin suka mendengar ucapannya dan merasa kata-katanya sangat bermanfaat. Orang lain mungkin merasa setiap ucapannya adalah kata-kata baik dan mengandung Dharma. Lalu mengapa ketika mendengarnya kita menjadi tidak senang dan tak dapat menerimanya? Menghadapi hal seperti ini, kita harus segera berintrospeksi. Mungkin di kehidupan lampau kita telah menanam benih karma buruk sehingga terciptalah jalinan jodoh buruk. Jodoh buruk ini berlanjut ke kehidupan sekarang.
Setelah bergabung dalam organisasi Bodhisattva, kini kita harus mengingatkan diri sendiri untuk menumbuhkan jalinan jodoh baik dan memperbaiki jalinan jodoh buruk tersebut. Manusia terlahir sesuai karmanya. Meski karma yang telah ditanam tak dapat diubah, namun jalinan jodoh dapat diciptakan kembali. Jika dapat berintrospeksi diri dan banyak menjalin jodoh baik, maka buah karma buruk akan berlalu seiring matangnya jalinan jodoh ini. Contohnya, di Rumah Sakit Tzu Chi Dalin, ada seorang kakek yang istrinya dirawat di sana. Kakek ini terlihat sangat peduli kepada istrinya, tetapi ia tidak mau masuk ke kamar pasien dan hanya mondar-mandir di lorong. Suatu hari, seorang anggota komite Tzu Chi melihatnya dan merasa heran karena setiap kali hanya melihatnya berbicara dengan orang lain atau kepada perawat, tetapi tidak mau masuk ke dalam kamar pasien untuk menengok istrinya.
Jika ia tidak peduli pada istrinya, mengapa ia datang pagi-pagi sekali setiap hari? Hal ini terlihat bertentangan. Maka, komite tersebut bertanya kepadanya, “Kakek, sebenarnya siapa yang sedang dirawat di sini?” “Sepertinya Anda mencemaskan sesuatu.” “Maukah Kakek bicara dengan saya dan mengeluarkan kegelisahan Kakek?” Kakek itu menjawab, “Nona, Anda sepertinya orang yang baik.” “Aneh sekali, istri orang selalu terlihat baik di mata saya, namun mengapa saat melihat istri sendiri, saya merasa tidak senang?” “Tetapi, saya tetap peduli kepadanya dan khawatir dengan kesehatannya.” “Tetapi, mengapa setiap kali ingin berbicara dengannya, tidak ada kata yang keluar dan saya tidak bisa merasa gembira?” Komite tersebut kembali bertanya, “Sudah berapa lama kalian berumah tangga?” Kakek itu menjawab, “Jika dihitung-hitung, seharusnya sudah 40 sampai 50 tahun.” seharusnya sudah 4 sampai 5 puluh tahun.” “Lalu dalam puluhan tahun ini, bagaimana kalian hidup bersama?” Kakek itu menjawab, “Saya adalah petani.” “Jika ada waktu senggang, saya duduk di bawah pohon di depan rumah.” “Di sana kami beramai-ramai minum arak, merokok, mengunyah pinang, dan mengobrol.” “Kadang, istriku sangat galak.” “Melihat saya minum, ia akan mulai memaki.” “Saat saya masuk rumah setelah merokok, ia akan berteriak, mengatakan saya selalu bau alkohol dan rokok.” “Ia selalu memaki saya dari muda hingga tua.”
“Tetapi, sekarang ia sedang sakit.” “Sejujurnya, saya juga agak khawatir.” “Meskipun saya sering mengeluh, namun melihat ia terbaring sakit hingga tak bisa berdiri dan hanya terbaring di tempat tidur, sesungguhnya saya sangat khawatir.” Komite itu kemudian berkata, sebagai manusia, jangan sampai ada penyesalan.” “Melihat nenek sakit demikian parah, Kakek sangat khawatir.” “Saya rasa ada sesuatu yang ingin Kakek katakan pada nenek.” Kakek berkata, “Saya tak tahu harus bilang apa.” “Sebenarnya ada, tetapi saya tak tahu bagaimana mengatakannya.” “Saya juga tak tahu mengapa.” “Ketika melihatnya, ingin rasanya bertanya apakah ia lapar atau haus.”
“Tetapi, kata-kata saya tak dapat keluar.” Sambil berpikir, sang kakek melihat komite itu dan berkata, “Kelihatannya Anda seorang yang sangat baik.” “Seandainya putraku menikah denganmu, mungkin keluarga kami akan lebih harmonis.” Komite itu pun menjawab, “Kakek, sekarang Anda lihat saya begitu baik.” “Tetapi, perlu Anda ketahui, sebelum bergabung dengan Tzu Chi, saya sangat kejam.” “Saat bertemu dengan laki-laki, mereka terlihat bagaikan semut yang ingin saya bunuh.” Kakek itu bertanya, “Benarkah Anda sekejam itu?” Komite Tzu Chi ini pun menjawab, “Kakek, Master mengajarkan kita untuk tidak membanding-bandingkan.” “Kalaupun kita melihat sesuatu tampak baik, belum tentu itu benar-benar baik untuk kita.”
“Sebaiknya jangan membanding-bandingkan.” “Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik.” “Janganlah terlalu banyak menuntut terhadap keluarga sendiri.” “Kakek, jangan sampai menyesal.” “Saya rasa nenek juga sama sepertimu.” “Pasti banyak yang ingin ia sampaikan.” “Kakek, segeralah berbicara padanya.” “Kalian sudah bertahun-tahun bersama, juga sudah tidak muda lagi.” “Jika tidak mengatakannya sekarang, kelak Anda akan sangat menyesal.” “Master kami mengatakan bahwa penyesalan adalah siksaan terberat.” “Jika terus menunda, Anda tak akan sempat lagi mengatakannya, dan itu akan menjadi penyesalan terbesar.” “Itu adalah hukuman terberat.” “Ya,” jawab kakek itu.
“Saya juga pernah berpikir begitu.” “Beberapa waktu yang lalu, relawan lain pernah mengatakan hal yang sama kepadaku.” “Sesungguhnya, saya sangat menyesal.” “Tetapi, bagaimana caranya// mengatasi penyesalan ini?” Komite itu menjawab, “Mari, Kek, kita masuk sekarang.” “Saya akan menemanimu.” “Tetapi, saat berdiri di depan nenek, Anda harus berani bicara.” Ia bertanya, “Apa yang harus saya katakan?” “Pertama, yang perlu Kakek sampaikan adalah betapa Kakek peduli pada nenek.” “Ini menunjukkan bahwa Kakek mencintainya.” “Saya yakin selama puluhan tahun ini Kakek tak pernah mengatakan bahwa Kakek mencintainya.” Kakek itu berkata, “Itu memalukan.” “Suami istri perlu// mengatakan hal-hal seperti ini.”
Ia menjawab, “Ya, inilah saat untuk mengatakannya.” “Kakek pasti akan merasa bahagia karena telah mengutarakan isi hati Kakek.” “Nenek pasti akan senang mendengarnya, karena akhirnya ia mendapatkan apa yang ia nantikan.” Kakek bertanya, “Benarkah semanjur itu?” “Benar, Kek. Sangat manjur.” “Mari kita masuk sekarang.” Komite itu menemani kakek menghampiri nenek. Komite itu menyapa nenek terlebih dahulu, “Nenek, sudah baikan hari ini?” Nenek itu menjawab, “Saya sangat kesal.” “Bagaimana mungkin bisa merasa baikan?”
Komite itu pun berkata, “Nek, Nenek akan merasa sangat senang hari ini.” “Kakek ingin mengatakan sesuatu kepada Nenek.” “Siapa tahu apa yang kakek katakan akan dapat membantu Nenek menghapuskan kekesalan hati.” “Apa yang perlu dikatakan,” tanyanya. “Tidak ada yang perlu dikatakan.” Relawan ini kemudian berkata, “Kakek, kemari.” “Coba katakan pada nenek apa yang tadi Kakek utarakan pada saya.” “Beri tahu nenek isi hati Kakek, katakan yang benar-benar ingin Kakek katakan.” Kakek dengan penuh keberanian berseru dengan lantang, “Istriku, aku mencintaimu.” Ini seperti suatu hal yang telah lama tertahan, lalu tiba-tiba menyembur keluar. Sesungguhnya, caranya terlalu kasar.
Maka, relawan ini berkata kepadanya, “Kakek, cara bicaramu ini terlalu kasar.” “Coba ulang sekali lagi, nenek baru mengerti.” “Tadi Kakek mengatakannya terlalu cepat.” “Perlembut nadanya dan katakan pelan-pelan supaya nenek dapat mengerti.” Maka, kakek berkata, “Istriku, aku benar-benar mencintaimu.” “Maafkan aku, terima kasih telah mendampingiku selama ini.” Mata nenek membesar karena terkejut. Ia bertanya, “Apa yang baru kamu katakan, benarkah berasal dari perasaanmu sendiri?” “Ya, memang aku ingin mengatakannya.” “Hanya saja aku malu,” kata kakek. Nenek pun tersenyum. Begitulah pasangan suami istri zaman dulu, sangat dekat, namun saling sungkan.
Meski telah menikah, namun sang istri merasa tidak suka pada perilaku suaminya. tidak suka pada perilaku suaminya. Tidak suka melihat suaminya minum arak, ia akan langsung marah, Melihat suaminya merokok dan mengunyah pinang, ia juga tidak senang. Ia akan langsung mengomel, “Kamu ini terus-terusan minum sampai mabuk, dan merokok sampai seluruh tubuh bau asap.” Itulah topik percakapan mereka sehari-hari. Demikianlah jalinan jodoh mereka. Tentu mereka memiliki jalinan jodoh yang baik. Bila tak berjodoh, tak mungkin menjadi suami istri. Mereka pasti berjodoh. Benih karma dari kehidupan lampau mereka bertemu kondisi yang sesuai di kehidupan ini, menjadikan mereka suami istri, maka mereka hendaknya saling menyayangi. Lihatlah kakek dan nenek ini. Kalau saja mereka tidak bertemu dengan Tzu Chi dan tidak bertemu relawan yang menuntun mereka mengurai masalah dan dengan sabar mendorong kakek untuk menemui sang nenek agar kakek mau mengutarakan isi hatinya; jika tidak demikian, saya rasa nenek ini hingga saat terakhir hidupnya pun akan tetap merasakan ketidakpuasan, tak puas karena dalam puluhan tahun pernikahan, seperti ada jarak pemisah antara suami dan istri. Nenek juga pasti mencintai kakek, hanya saja tak sanggup mengutarakannya. Sebaliknya, setiap hari ia harus menghadapi perilaku kakek terhadapnya, tentu ketidakpuasan dalam hatinya semakin lama semakin menumpuk. Meskipun ia tidak membenci kakek, namun ketidakpuasan tetap ada. Hanya dengan beberapa patah kata dari kakek, seluruh ketidakpuasannya selama puluhan tahun terhapuskan sudah. Selama puluhan tahun, benih cinta di hati kakek tak menemui kondisi untuk bertunas karena jodohnya dengan Tzu Chi belum matang.
Jadi, dalam kehidupan pernikahan, jangan berpikir rumah tangga orang lain baik, dan menganggap rumah tangga sendiri tidak baik. Sesungguhnya, istri kita pun sangat baik. Jangan melihat suami orang lain begitu perhatian, sementara suami kita tidak demikian. Sesungguhnya, suami kita pun sangat baik. Semua ini tergantung pikiran kita. Saudara sekalian, jika benih karma masa lalu dan kondisi pendukung di masa kini dapat saling bertemu, maka jalinan jodoh baik ini akan menghapus jalinan jodoh buruk. Kita harus senantiasa bersyukur karena dalam organisasi ini kita dapat sering mendengar pengalaman dan kisah keteladanan dari banyak orang yang nyata dan mengandung Dharma. Ucapan mereka adalah Dharma yang indah. Oleh sebab itu, kita harus menjaga pikiran kita dan senantiasa bersyukur dalam menghadapi kondisi di luar diri kita. Apabila kita dapat melakukannya, berarti kita telah mengembangkan pikiran luhur. Menghargai dan mensyukuri jodoh dengan ajaran Buddha, inilah pikiran yang luhur. Kita harus merasa beruntung karena setiap hari berada dalam kondisi yang mendukung pelatihan diri.
Setiap orang di sekeliling kita terus membangkitkan niat baik dalam hati kita. Niat baik nan luhur yang terbangkitkan dalam lingkungan ini harus terus kita jaga dan kembangkan. Karena itu, kita harus sering membangkitkan// hati yang penuh pertobatan. Jangan sampai kita tak memiliki hati yang bertobat. Kita semua telah memahami makna pertobatan, yaitu bagai air jernih yang membersihkan noda. Pertobatan adalah pemurnian. Betapa pun banyaknya noda batin dan kekotoran yang ada dalam batin kita, harus dibersihkan dengan pertobatan. Seperti kisah tadi, saat nenek mendengar perkataan baik dari kakek, hatinya menjadi terbuka, segala ketidapuasannya pun hilang. Kakek ini, setelah mendengar nasihat orang lain, ia sadar, “Aku tahu dulu sikapku tidak benar.” “Aku akan berubah mulai dari sekarang.” Berubah adalah wujud pertobatan, dan pertobatan adalah pemurnian.
Apabila dapat melakukannya, kita akan dapat mengikis habis Tiga Rintangan. Tiga rintangan meliputi noda batin, karma, dan buah karma. Ketiganya dapat menutupi kebijaksanaan kita yang cemerlang. Hanya melalui pertobatanlah kekotoran dalam batin ini dapat disucikan. Mereka yang hendak melenyapkan Tiga Rintangan harus menggunakan pikiran yang bagaimana? “Mereka yang hendak melenyapkan 3 Rintangan harus menggunakan pikiran yang bagaimana?” Kita tahu salah satu dari Tiga Rintangan adalah noda batin atau kekotoran batin, juga dikenal sebagai kegelapan batin. Kegelapan batin sama dengan noda batin. Noda batin, karma, dan buah karma, bagaimana agar dapat kita kikis habis? Buddha mengatakan bahwa para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan metode terampil.
Kita semua hendaknya ingat bahwa para Buddha dan Bodhisattva datang ke dunia untuk mengajarkan kita dengan menggunakan metode terampil sesuai dengan sifat dan kemampuan kita. Jika kita dapat menerimanya, berarti kita menerima Dharma. Buddha mengajarkan 84.000 Pintu Dharma karena makhluk hidup memiliki 84.000 noda batin. Begitu pula, sifat dan kemampuan kita juga beragam hingga sebanyak 84.000 jenis. Jadi, Buddha bagaikan seorang tabib agung yang memberi obat sesuai penyakit. Dengan mengamati penyakit batin makhluk hidup, Buddha mengetahui metode apa yang tepat untuk menyembuhkan penyakit itu sekaligus melenyapkan noda batin mereka. Inilah tujuan para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan metode terampil di dunia.
Mereka menggunakan metode terampil untuk menjaga agar benih karma buruk tidak lagi timbul dari pikiran kita, dan membantu kita keluar dari belenggu noda batin. Kita harus berusaha. Belenggu noda dan kegelapan batin yang menyelubungi batin kita ini, kapankah baru dapat terbuka? Kita harus menggunakan ajaran Buddha. Saudara sekalian, dalam kehidupan kita sehari-hari, tiada sesuatu pun yang terpisah dari Dharma. Segala sesuatu yang telah kita pelajari, janganlah dilupakan begitu saja. Kita harus selalu mengingatnya dalam hati. Jadi, pikiran bagaimanakah yang harus kita miliki agar dapat mengikis habis Tiga Rintangan? Pikiran bagaimana yang harus dimiliki untuk dapat mengikis rintangan ini? Seperti yang saya katakan tadi, kita harus memahami orang lain. Kakek tadi hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri, selalu membandingkan dengan orang lain dan banyak menuntut terhadap istrinya sendiri. Ia merasa milik orang lain selalu lebih baik dan merasa tidak puas terhadap istrinya sendiri.
Janganlah kalian menganggap bahwa saya hanya membicarakan masalah orang dan tiada kaitannya dengan ajaran Buddha. Justru sangat berkaitan. Jika tak berjodoh, manusia tak akan bertemu. Manusia bisa bersama karena jalinan jodoh. Bagaimana menjalin jodoh untuk masa depan? Jalinan jodoh– sebab, kondisi, akibat, dan buah karma merupakan lingkaran yang tak terputus. Dengan adanya benih karma dan kondisi yang mendukung, maka akibat dan buah karma akan muncul. Kakek dan nenek tadi dulu telah menanam sebab. Karena itu, kini mereka berjodoh//menjadi suami istri.
Namun, setelah menjadi suami istri, mereka selalu membanding-bandingkan dan selalu merasa orang lain lebih baik. Ketidakbahagiaan ini adalah perasaan di dalam batin. Mendengar keluhan suaminya, nenek ini pun merasa tidak senang. Rasa tidak senang ini terus disimpan dalam hati. Akibatnya, ketika saling bertemu, mereka bersikap acuh tak acuh. Cinta yang mereka miliki satu sama lain terkubur di dalam hati tanpa kesempatan untuk bertunas. Jika jalinan jodoh baik tidak dibangkitkan, maka benih karma buruk akan berbuah dan terus terakumulasi. Sang kakek menanam sebab ketidakbahagiaan karena ia selalu membanding-bandingkan. Sedangkan istrinya memendam ketidakpuasan. Ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan ini menciptakan sebuah sebab baru yang akan dibawa suami istri ini ke kehidupan yang akan datang. Buah karma buruk mereka kembali menciptakan sebab baru bagi masa depan. Inilah lingkaran sebab dan akibat yang tak berujung. Singkat kata, kita harus membangkitkan pikiran luhur untuk melenyapkan rintangan ini. Jika kita memahami metode yang tepat, kita pasti dapat melenyapkannya.
Namun, jika kita tidak tahu metodenya, maka jalinan jodoh buruk ini tak akan berakhir. Karena sekarang kita telah memahami betapa menakutkannya hukum karma, maka kita harus mengikis dari sumbernya. Rintangan noda batin, karma, dan buah karma harus kita kikis dengan sungguh-sungguh. Saya harap dalam kehidupan sehari-hari, kalian tidak meremehkan setiap aktivitas. Janganlah mengabaikan metode terampil yang kita dapat. Dalam hubungan antarmanusia, janganlah membanding-bandingkan//dan banyak menuntut. Dengan demikian, berada di ladang pelatihan ajaran Buddha ini, dalam lingkungan Bodhisattva, kita harus senantiasa menghargai berkah dan saling bersyukur. Harap semua selalu bersungguh-sungguh.