Sukacita Pulang ke Rumah Batin
Kegiatan ini bertujuan mempererat keakraban dan kebersamaan serta menjalin tali kasih antara penerima bantuan dan relawan Tzu Chi, sebagaimana diungkapkan oleh koordinator kegiatan Lina Naga. “Selain itu, juga berbagi berkah kepada para penerima bantuan dalam rangka menyambut Hari Natal dan Tahun Baru Imlek, sekaligus melihat perkembangan para penerima bantuan, apakah ada perubahan atau tidak. Kita juga memberikan informasi seputar Yayasan Buddha Tzu Chi dan Master Cheng Yen selaku pendiri Tzu Chi karena masih banyak yang tidak tahu apa itu Tzu Chi dan siapa pendirinya. Mereka juga diberikan penyuluhan kesehatan agar timbul sikap menghargai kesehatan dan kehidupan,” sambungnya.
Suasana kebersamaan telah terasa sejak pagi ketika relawan panitia mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Cuaca Minggu pagi yang cerah menjadi penyemangat bagi 60 relawan yang bersatu hati dalam menyambut dan melayani penerima bantuan dan pendamping yang mulai berdatangan sekitar pukul 07.30. Relawan tim pendaftaran dengan cekatan menukarkan kupon undangan yang dibawa penerima bantuan dengan kartu nomor peserta yang berfungsi sebagai tanda pengenal dan memudahkan pembagian parsel setelah acara selesai. Bagi yang ingin merapikan dan memangkas rambut diarahkan ke area salon yang ditangani oleh relawan dan stylist dari salon ternama di kota Medan. Para penerima bantuan mendapat kesempatan berfoto di photo booth sebagai kenang-kenangan dan hasil fotonya akan mereka bawa pulang nantinya. Mereka kemudian naik ke lantai 2 untuk memilih barang-barang dari donatur Tzu Chi yang masih layak pakai seperti pakaian, ikat pinggang, sepatu, sandal, tas, dompet, botol air dan boneka.
Relawan Hui Nie, selaku MC, membuka acara dengan pengenalan Yayasan Buddha Tzu Chi yang meliputi profil singkat Yayasan Buddha Tzu Chi dan Master Cheng Yen, pendiri Tzu Chi serta visi dan misi Tzu Chi. Tidak ketinggalan pula celengan bambu yang merupakan ide awal Master Cheng Yen dalam melaksanakan misi amal dan cikal bakal terbentuknya Tzu Chi. Para hadirin diajak untuk bersumbangsih dengan berdana guna menciptakan berkah bagi diri sendiri dan orang lain yang membutuhkan.
Acara dilanjutkan dengan sesi berbakti untuk menyambut Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember. Dalam keheningan yang diiringi musik sendu, Hui Nie, relawan Tzu Chi menuturkan kalimat-kalimat motivasi dan perenungan yang mengingatkan hadirin akan perjuangan dan jasa tampa pamrih ibu dalam membesarkan anak-anaknya dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tidak berapa lama, terdengar isak tangis hadirin. Suasana haru menyelimuti seluruh ruangan saat para anak asuh bersujud dan mempersembahkan bunga kepada ibu mereka di atas panggung kemudian mencurahkan segenap perasaan dengan peluk cium hangat untuk ibu tercinta. Tidak sedikit relawan ikut meneteskan air mata karena tak kuasa menahan haru. “Saat orang tua masih ada, cintailah dan sayangilah mereka, berbaktilah kepada mereka. Ketika mereka telah tiada, segala ucapan cinta dan sayang tidak ada gunanya lagi,” pesan Hui Nie kepada semua hadirin.
Selain wawasan dan penyuluhan, hadirin juga disuguhkan serangkaian hiburan berupa penampilan isyarat tangan lagu Senyuman Terindah oleh relawan yang menyiratkan pesan, dari siapa lagi kita bisa mendapatkan senyuman terindah jika bukan dari ayah dan ibu kita sendiri? Pengorbanan terbesar yang bisa kita lakukan tidak akan pernah cukup membalas budi orang tua kepada kita karena mereka telah memberikan segenap hati dan cinta kasih bahkan sejak kita masih di dalam kandungan ibu. Ada pula penampilan relawan dan anak asuh membawakan lagu Harta Berharga yang bermakna harta yang paling berharga dan istana yang paling indah adalah keluarga, tarian Agadoo bernuansa ceria yang lucu dan menggemaskan oleh anak asuh Medan dan Tanjung Morawa, medley (rangkaian beberapa lagu yang dibawakan secara bersambungan) lagu daerah yang mencerminkan kesatuan dalam keberagaman dan ditutup dengan isyarat tangan lagu Satu Keluarga oleh relawan bersama hadirin.
“Sangat bersyukur atas bantuan Tzu Chi dalam hal pengobatan dan terapi untuk anak saya, juga selalu memberi dorongan semangat. Sulit diungkapkan dengan kata-kata rasa terima kasih kami sebagai orang tua untuk relawan dan donatur yang telah membantu meringankan beban kami. Hanya Yang di Atas yang dapat membalasnya,” ungkap Agus Kurniawan dengan mata berkaca-kaca. Agus terinspirasi dengan sikap welas asih dan ketulusan hati relawan Tzu Chi dalam menangani kasus anaknya. Ia berharap Tzu Chi terus berkembang dan tidak berhenti menyalurkan berkah dan bantuan kepada yang kesusahan dan menderita.
“Semoga dengan kegiatan ini, para penerima bantuan terinspirasi untuk menciptakan berkah dan membantu yang lain, karena apa yang mereka berikan akan kembali kepada diri mereka sendiri. Untuk para relawan, semoga semakin termotivasi untuk bersumbangsih dan berbuat kebajikan,” tutup Lina Naga selaku koordinator kegiatan.
Jurnalis : Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Amir Tan, Kamin (Tzu Chi Medan),
Editor : Hadi Pranoto.