Terima Kasih Ayah
Kelas parenting untuk murid-murid kelas budi pekerti. Kelas parenting ini dibawakan oleh Melly Kiong, seorang praktisi, pakar, trainer, pemerhati anak dan keluarga, pendiri Rumah Moral, peraih penghargaan Tupperware Award She Can Award, dan penulis buku.
Penerapan Mindful Parenting bisa dilakukan dengan mendengarkan anak sepenuh hati. Orang tua harus sabar menemani pertumbuhan anak menuju kedewasaan, adil, dan bijaksana dalam bertindak. Para Orang Tua dan tamu undangan sangat antusias mendengar dengan saksama sharing yang dibawakan oleh Ibu Melly dengan topik Ayah Ada Anak Bahagia.
Penerapan Mindful Parenting bisa dilakukan dengan mendengarkan anak sepenuh hati. Orang tua harus sabar menemani pertumbuhan anak menuju kedewasaan, adil, dan bijaksana dalam bertindak. Para Orang Tua dan tamu undangan sangat antusias mendengar dengan saksama sharing yang dibawakan oleh Ibu Melly dengan topik Ayah Ada Anak Bahagia.
Acara dilanjutkan dengan perayaan Hari Ayah bersama kelas budi pekerti Xiao Pu Sa. Para orang tua murid dan peserta yang hadir disuguhkan tayangan video perjalanan kilas balik perjalanan kasih sayang ayah terhadap anaknya dan 30 tahun kemudian kasih sayang anak yang sudah dewasa pada ayahnya yang sudah menua.
Pada tayangan video kilas balik perjalanan kasih sayang ayah tidak semua anak-anak di dunia ini memiliki ayah yang sehat dan normal. Seorang anak di daratan Tiongkok dengan cekatan merawat dan menjaga ayahnya yang lumpuh tanpa berkeluh kesah sedikitpun. Cekatan dan penuh semangat dalam merawat ayah hingga pekerjaan rumah tangga. Video ini membuka mata dan hati para peserta yang hadir untuk mensyukuri telah diberi kedua orang tua yang sehat.
Pada sesi lainnya, dalam Lukisan Pasir adalah jenis yang kesenian yang unik, dari pasir pasir halus dilukiskan kasih sayang ayah dari sejak kita bayi dan ayah selalu ada dalam perjalanan hidup kita bagai gunung batu yang tegar.
Pada tayangan video kilas balik perjalanan kasih sayang ayah tidak semua anak-anak di dunia ini memiliki ayah yang sehat dan normal. Seorang anak di daratan Tiongkok dengan cekatan merawat dan menjaga ayahnya yang lumpuh tanpa berkeluh kesah sedikitpun. Cekatan dan penuh semangat dalam merawat ayah hingga pekerjaan rumah tangga. Video ini membuka mata dan hati para peserta yang hadir untuk mensyukuri telah diberi kedua orang tua yang sehat.
Pada sesi lainnya, dalam Lukisan Pasir adalah jenis yang kesenian yang unik, dari pasir pasir halus dilukiskan kasih sayang ayah dari sejak kita bayi dan ayah selalu ada dalam perjalanan hidup kita bagai gunung batu yang tegar.
Para murid sekolah dan para orang tua yang memainkan drama tahun ini, diangkat dari film yang berjudul Da Cuo Che (Mengikuti Perjalanan Yang Salah) yang tayang perdana pada tahun 1983. Ya Su, seorang pemulung botol bekas, menemukan seorang bayi manusia dalam keranjang di pinggir jalan. Secarik kertas terselip di balik selimut, bayi ini bernama Amei, barang siapa yang bersedia mengadopsinya akan diberkati Dewi Anak.
Ya Su akhirnya memutuskan mengadopsi Amei. Seiring perjalanan waktu Amei tumbuh menjadi gadis cantik yang bercita cita menjadi penyanyi. Berkat bantuan kawanya, kariernya melesat dan banyak penggemar. Dia malu mengakui Ya Su sebagai ayah angkatnya yang bisu dan tuli.
Hari demi hari, Ya Su menua dan suatu hari ketika sedang menikmati konser Amei di televisi, tiba tiba Ya Su mendapat serangan jantung dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kondisinya kritis dan impian untuk melihat Amei untuk terakhir kalinya pupus sudah.
Amei sangat terpukul dan kehilangan, dia putuskan untuk menyanyikan lagu Ciu Kan Tang Bue Bo (Adakah Botol Arak Kosong yang Mau Dijual) sebagai ungkapan isi hatinya yang mendalam pada seorang Ya Su yang luar biasa. Semoga drama ini menginspirasi semua orang untuk tidak menunda untuk berbakti pada kedua orang tua.
Ya Su akhirnya memutuskan mengadopsi Amei. Seiring perjalanan waktu Amei tumbuh menjadi gadis cantik yang bercita cita menjadi penyanyi. Berkat bantuan kawanya, kariernya melesat dan banyak penggemar. Dia malu mengakui Ya Su sebagai ayah angkatnya yang bisu dan tuli.
Hari demi hari, Ya Su menua dan suatu hari ketika sedang menikmati konser Amei di televisi, tiba tiba Ya Su mendapat serangan jantung dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kondisinya kritis dan impian untuk melihat Amei untuk terakhir kalinya pupus sudah.
Amei sangat terpukul dan kehilangan, dia putuskan untuk menyanyikan lagu Ciu Kan Tang Bue Bo (Adakah Botol Arak Kosong yang Mau Dijual) sebagai ungkapan isi hatinya yang mendalam pada seorang Ya Su yang luar biasa. Semoga drama ini menginspirasi semua orang untuk tidak menunda untuk berbakti pada kedua orang tua.
Puncak Acara, Xiao Pu Sa berlutut panjang dan memberikan sebuah pao vegan untuk ayah sambil mengucapkan terima kasih dan minta maaf yang setulusnya dengan memeluk erat. Pada penghujung memperingati Hari Ayah, Melly Kiong berpesan kepada anak-anak untuk selalu belajar yang baik, sopan santun, mandiri, dan mempunyai karakter yang baik.
“Saya baru pertama kali ikut kelas Budi Pekerti Tzu Chi, dan saya merasa kelas ini sangat bagus, Anak-anak diajari tentang etika, selalu bersyukur, mandiri, dan mengasihi orang lain. Bukan hanya anak-anak yang dibimbing, para orang tua juga mendapat kesempatan ikut kelas parenting sehingga orang tua bisa lebih baik dalam mendidik anak-anak,”ucap orang tua dari Madelyn.
“Saya senang sekali karena hari ini papa tidak bekerja dan bisa ikut dalam kelas sehingga papa bisa mendengar langsung nyanyian saya. Terima kasih papa sudah bekerja demi keluarga, dan terima kasih Shi Gu (orang tua pendamping kelas budi pekerti) yang telah membimbing kami untuk menghargai dan berbakti kepada kedua orang tua,” ujar Madelyn dengan bahagia.
“Saya baru pertama kali ikut kelas Budi Pekerti Tzu Chi, dan saya merasa kelas ini sangat bagus, Anak-anak diajari tentang etika, selalu bersyukur, mandiri, dan mengasihi orang lain. Bukan hanya anak-anak yang dibimbing, para orang tua juga mendapat kesempatan ikut kelas parenting sehingga orang tua bisa lebih baik dalam mendidik anak-anak,”ucap orang tua dari Madelyn.
“Saya senang sekali karena hari ini papa tidak bekerja dan bisa ikut dalam kelas sehingga papa bisa mendengar langsung nyanyian saya. Terima kasih papa sudah bekerja demi keluarga, dan terima kasih Shi Gu (orang tua pendamping kelas budi pekerti) yang telah membimbing kami untuk menghargai dan berbakti kepada kedua orang tua,” ujar Madelyn dengan bahagia.
Acara diakhiri dengan menyaksikan tayangan Master Cheng Yen bercerita yang berjudul “Setengah Helai Selimut untuk Ayah yang sudah menua dan harus jaga pintu rumah dan berselimut tipis”. Perayaan Hari Ayah yang dihadiri oleh 41 orang murid kelas budi pekerti dan 82 orang relawan, dan tamu undangan ini ditutup dengan doa bersama.
Jurnalis : Merry Sudilan (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Dinarwaty, Augustina (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.
Jurnalis : Merry Sudilan (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Dinarwaty, Augustina (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.