TIMA Global Forum 2023: Memperhatikan Pasien Bagai Keluarga Sendiri
Di hari ke-2 TIMA Global Forum 2023 yang berlangsung di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara (17/6) ini terdapat satu sesi yang terbagi dalam 3 kelas, yaitu kelas Physician, kelas Dentist, dan kelas Nurse & Volunteer. Di kelas Nurse & Volunteer (Perawat & Relawan) inilah Huang Ming-yue (Kepala Tim Relawan Pemerhati di Taichung Tzu Chi Hospital, Taiwan) berbagi tentang peran relawan pemerhati di rumah sakit.
“Kehidupan ini adalah sebuah proses saling membantu. Kita hari ini sangat beruntung karena berada dalam kelompok orang yang bisa membantu orang lain. Saya ingin menanyakan satu hal: Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup Anda, apakah Anda telah siap menghadapinya?” Melalui pertanyaan ini Ming-yue mengajak setiap peserta untuk bersama-sama merenung. Ia juga menceritakan beberapa kisah dan kejadian di dalam rumah sakit yang telah menginspirasinya untuk menghargai setiap detik dalam hidupnya.
Ming-yue juga memaparkan bahwa adanya relawan pemerhati di rumah sakit Tzu Chi pada awalnya bermula dari seorang relawan bernama Yan Hui-mei (顏惠美). Saat itu Rumah Sakit Tzu Chi Hualien yang baru dibuka sangat kekurangan orang dan tenaga. Maka karena kepedulian dan cinta kasihnya, Yan Hui-mei saat itu mengajak beberapa relawan untuk membantu di Rumah Sakit Tzu Chi Hualien, yang akhirnya berkembang menjadi relawan pemerhati rumah sakit. Perkembangan terkini, dalam satu hari bahkan sudah terdapat ratusan relawan pemerhati yang bertugas.
“Seorang relawan pemerhati harus belajar dan mengasah diri secara kontiniu, yaitu dalam keseharian ketika berinteraksi dengan para pasien. Dalam proses inilah relawan akan banyak belajar dan berkembang. Relawan itu sendiri harus punya niat untuk terjun ke dalamnya. Selanjutnya, harus menggunakan sikap dan hati yang sangat tulus. Lalu, dengan kontiniu mendampingi pasien, kita baru bisa mengetahui dan menyesuaikan dengan kebutuhannya,” ucap Ming-yue membagikan beberapa langkah penting yang harus dilewati relawan pemerhati berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun lebih.
“Pekerjaan perawat seperti kami ini memang ada satu hal yang cukup berbeda dari yang lain, yaitu kami harus belajar mendengarkan, yaitu bagaimana mendengarkan suara hati pasien dan keluarganya dalam menghadapi ketidakpastian hidup ini. Inilah yang Master Cheng Yen ajarkan kepada kita, yaitu bagaimana mendengarkan untuk mengetahui ketakutan dan kebutuhan mereka. Setelah mendengarkan kita baru bisa menggunakan hati kita untuk mendampingi mereka melewati penderitaan ini,” jelas Mei-hui. Ia menuturkan bahwa dengan mendengarkan pasien ataupun keluarganya, kadang-kadang yang perlu ia lakukan untuk membantu hanyalah hal sederhana, seperti memberikan sebuah pelukan, ataupun memberi sentuhan fisik dengan memegang tangan.
Dalam sharingnya, ia juga menceritakan banyak kisah kecil mengenai pendampingan yang ia lakukan terhadap pasien-pasien di rumah sakit, salah satunya adalah Sofian. Sofian yang berasal dari Indonesia dibawa oleh relawan Tzu Chi Indonesia ke Rumah Sakit Tzu Chi di Taiwan untuk menjalani operasi pada tumor di matanya 20 tahun yang lalu. Saat itu Mei-hui sangat berusaha memikirkan bagaimana agar dapat membuat Sofian nyaman selama menjalani perawatan di Taiwan yang merupakan tempat asing dengan bahasa yang berbeda pula. Mei-hui bahkan melibatkan suami dan putrinya untuk memikirkan caranya.
“Jadi kami saat itu membeli buku diari, kami berikan Sofian untuk ditulis, setelah dia tulis akan ada yang membantu kami menerjemahkan. Jadi ini adalah salah satu catatan Sofian,” ucap Mei-hui sambil memperlihatkan slide berisi foto Sofian dengan catatan tertanggal 24 April 2004. Isi catatannya adalah: Perasaan saya bercampur antara sedih dan gembira, rasanya sangat terharu. Saya tidak pernah menyangka ada orang yang mau membantu meringankan penderitaan saya.
Selain itu putri Mei-hui yang seumuran dengan Sofian juga memberikan bantal dan selimut kesayangannya untuk Sofian. Mei-hui juga membeli sebuah peta, lalu membuat sebuah garis yang menghubungkan Indonesia dengan Taiwan, di samping garis itu ditempelkan banyak stiker berbentuk hati. Beberapa cara inilah yang dilakukan Mei-hui untuk membangun kedekatan dengan Sofian.
Dalam sharingnya, Mei-hui juga menceritakan kisah seorang pasien kanker payudara yang karena beberapa hal sempat merasa tidak senang dan berpikir untuk menuntut pihak rumah sakit. Namun karena perhatian dan pendampingan dari tim perawat, terlebih ketika Mei-hui mengganti obat dan merawat lukanya selama hampir 5 jam tanpa mengeluh bau, pasien tersebut pun akhirnya luluh dan mulai bisa tersenyum.
Dalam menjalankan tugasnya, para perawat tidak sedikit menghadapi kondisi yang menyulitkan dan serba salah, namun Mei-hui berusaha menghadapinya dengan mengikuti ajaran dari Master Cheng Yen. “Menghadapi pasien, yang kita lihat adalah pekerjaan. Tapi Master Cheng Yen mengajarkan kita bahwa bisa bertemu adalah sebuah jalinan jodoh. Ada jodoh baik, ada juga jodoh buruk. Jadi setiap berada di hadapan pasien, saya belajar bersyukur, saya berharap dapat menjalin jodoh baik dengan mereka. Saya juga bersyukur karena mereka telah memberi saya banyak pelajaran, saya juga dapat memanfaatkan profesionalitas saya membantu mereka. Ketika saya berpikir demikian, mereka menjadi penolong bagi saya, mereka adalah guru bagi saya,” kata Mei-hui menutup sharing.
Fotografer : Erli Tan, Agus DS, Mery Hasan (He Qi Barat 2),
Editor : Metta Wulandari.