Tzu Chi Filipina Menggelar Pelatihan Relawan di Buddhist Tzu Chi Campus
Relawan Tzu Chi dari seluruh Filipina berkumpul di Buddhist Tzu Chi Campus (BTCC) untuk mengikuti pelatihan selama satu hari di Sta. Mesa, Manila, pada tanggal 20 Maret 2022.
Lautan kelabu menutupi BTCC ketika relawan dari Cebu, Davao, Leyte, dan Zamboanga datang untuk bergabung dengan relawan dari Manila, Marikina dan San Mateo di Rizal, dan Angeles City di Pampanga. Juga ada relawan dari Bohol, Bicol, dan wilayah lain dari Filipina yang mengikuti secara online.
“Senang sekali melihat anda semua hari ini,” kata CEO Tzu Chi Filipina Henry Yunez dalam sambutannya di Aula Jing Si. “Selama lebih dari dua tahun belakangan ini, saya hanya bisa mendengar suara anda, tetapi saya tidak bisa melihat siapapun. Sangat menyentuh hati melihat segitu banyak orang yang bersedia datang dan bergerak maju meskipun pandemi belum hilang sepenuhnya.”
Salah satu bukti dedikasi relawan Tzu Chi adalah kehadiran Harvey Yap, yang terbang dari wilayah Zamboanga untuk mengikuti pelatihan. “Saya sedikit senang dan takut karena tanggung-jawab yang akan ada setelah menjadi anggota komite resmi. Tetapi juga juga bersemangat untuk kesempatan yang akan datang, dan saya berharap saya bisa membagikan pengalaman ini di Zamboanga.” kata Yap.
Yap pertama kali bertemu dengan Tzu Chi ketika sedang kuliah di Manila. “Saya sedikit introvert, dan saya memiliki kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Jadi, selama kuliah, saya memutuskan bahwa saya ingin mengikuti organisasi yang berbeda. Saya harus menempatkan diri saya diluar sana.” kenang Yap. Dia kemudian mencari organisasi secara online, dan menemukan informasi tentang organisasi seperti ABS-CBN Foundation’s Bantay Bata dan Yayasan Buddha Tzu Chi. “Kemudian, saya mengemail kedua yayasan tersebut, dan adalah Yayasan Tzu Chi yang membalas email saya dan mengundang saya untuk bergabung. Itulah kisah bagaimana saya berkenalan dan terlibat dengan Tzu Chi.” kenangnya. Pengalaman menjadi relawannya yang pertama adalah kunjungan ke panti jompo di Pampanga.
Beberapa tahun kemudian sejak pindah ke Zamboanga 12 tahun lalu, Yap kembali aktif lagi ketika pandemi melanda, memimpin upaya bantuan pandemi Tzu Chi di Zamboanga. Dengan semangat baru, dia kini bekerja secara aktif dengan komunitas Muslim di propinsi tersebut.
Sebagai seorang muslimin, dia menemukan bahwa ajaran Tzu Chi sangat sejalan dengan ajaran Islam. “Semuanya tentang melayani orang lain. Itu saja. Ini tentang melayani orang, mencintai orang, membantu mereka. Hampir sama.” kata Yap.
“Mereka tidak pernah mengalami dimana seseorang memberi mereka sesuatu tanpa pamrih. Mereka juga terkejut karena mereka berpikir setiap orang pasti punya maksud tertentu.” tambah Yap. Ini murni perhatian.menurutnya, adalah bagaimana Tzu Chi bisa membangun kepercayaan dan mengembangkan hubungan dengan mereka.
Saat dia mengikuti lebih banyak pelatihan relawan untuk mengembangkan cara dan kebijaksanaan Tzu Chi, Yap berharap Tzu Chi lebih banyak hadir di Zamboanga dan pulau-pulau di sekitarnya. “Saya berharap bisa menanam lebih banyak benih kebijaksanaan Buddha di daerah yang orang lain takut mendatanginya.”
Relawan Tzu Chi lainnya, Claire Santos, berseri-seri gembira ketika dia resmi menjadi anggota komite pelatihan. Santos adalah penerima bantuan Tzu Chi di Maly, San Mateo di Rizal ketika “Habagat” (Angin Musim Hujan) menghancurkan rumahnya di bulan Agustus 2012. “Kami sangat bahagia ketika melihat relawan Tzu Chi karena itu adalah pertama kalinya kami melihat sebuah organisasi sebesar Tzu Chi datang membantu kami. Dan mereka tidak memilih siapa yang mau mereka tolong. Mereka membantu semua orang.” kenang Santos. Terinspirasi dengan cinta kasih Tzu Chi yang tanpa pamrih, dia memutuskan untuk menjadi relawan Tzu Chi dan bergabung dengan kegiatan Tzu Chi.
“Saya sangat senang bisa bertemu kembali dengan relawan lain, terutama yang sudah lama kita rindukan. Saya sangat senang hari ini,” kata Santos. Sekarang bergerak naik setelah magang selama 10 tahun, dia mengungkapkan betapa bersyukurnya dia menjadi bagian dari Tzu Chi yang telah membantunya tumbuh selama bertahun-tahun. “Selama ada Tzu Chi, saya akan tetap ada untuk melakukan kegiatan. Saya akan terus mengabdi kepada yayasan, demi sesama relawan dan orang-orang yang membutuhkan bantuan kami.”
Santos sudah merasa seperti di rumah. Ini seperti keluarga besar, katanya.
Seperti yang dikatakan CEO Tzu Chi Filipina, Henry Yunez. “Tzu Chi adalah sebuah keluarga yang sangat besar,” kata Yunez yang mengakui semua upaya yang telah dilakukan oleh semua relawan dan staf yang bekerja sama untuk menyelenggarakan sebuah acara. “Saya sangat berterima kasih kepada saudara/i dari komite pelatihan, para pemimpin grup, yang telah menemani para peserta pelatihan ini. Saya juga sangat berterima kasih kepada tim yang bekerja di dapur, dan tim persiapan yang telah mempersiapkan segala sesuatu mulai dari beberapa hari yang lalu.”
Setelah sesi pagi, peserta pelatihan dibagi menjadi grup yang berbahasa Filipina, Inggris, dan Mandarin. Sesi-sesi berikutnya termasuk sesi yang mengajarkan tata krama dan bahasa isyarat Tzu Chi, dan berbagi cerita tentang Dharma Master Cheng Yen.
Peserta pelatihan dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil untuk berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang apa yang mereka alami dan pelajari sebagai relawan Tzu Chi.
“Kami bisa bersama karena kami memiliki kebersamaan,” kata CEO Tzu Chi Filipina Henry Yunez kepada para relawan.
Dengan harapan agar semua orang mau berjalan bersama di jalan Tzu Chi untuk saling membantu agar bisa mencapai lebih banyak lagi, CEO Tzu Chi Filipina Henry Yunez berbagi kata-kata bijak Master Cheng Yen, “Tidak pernah ada kata terlambat bagi kebersamaan yang sudah mengakar untuk berkembang. Jangan khawatir tentang perjalanan jauh selama seseorang telah menemukan jalannya.”
Jurnalis : Ben Baquilod,
Fotografer : Daniel Lazar, Matt Serrano,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.