Tzu Chi Indonesia Kembali Merayakan Waisak Dengan Megah dan Khidmat
Tiga tahun berselang setelah pandemi, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyambut masyarakat umum, donatur, dan relawan dalam kegiatan besar, yakni Perayaan Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Aula Jing Si kembali ramai. Seperti perkiraan tim panitia, seluruh ruangan di Aula Jing Si mulai dari Jiang Jing Tang (lantai 4 Aula Jing Si), Guo Yi Ting (lantai 3 Aula Jing Si), Fu Hui Ting (lantai 2 Aula Jing Si), dan Xi She Ting (lantai 1 Aula Jing Si) hampir terisi penuh.
“Kami siapkan tempat ini karena pandemi Covid itu sudah berlangsung selama 3 tahun dan membuat semua kegiatan besar berhenti namun banyak orang yang rindu dengan kegiatan-kegiatan Tzu Chi,” papar Mei Rong, tim Acara. “Dilihat dari kegiatan Pemberkahan Akhir Tahun 2022 lalu dimana peserta itu membludak dan panitia harus sigap menyiapkan tempat duduk. Makanya sekarang kami sudah antisipasi dulu karena tahu bahwa keluarga besar Tzu Chi, donatur, keluarga para relawan, maupun penerima bantuan ingin hadir dan menjalin jodoh dengan Tzu Chi,” imbuhnya.
Kerinduan itulah yang dirasakan oleh Yung Fu (50) yang sebelumnya kerap ikut Waisak di Tzu Chi, karena istrinya, Suryawati (46) juga relawan Tzu Chi. Pasangan suami istri ini sangat senang sekali bisa kembali ikut kegiatan Waisak. Mereka pun sangat terharu ketika mendengarkan Ceramah Master Cheng Yen. Pada saat mendengarkan ceramah Yung Fu bahkan sampai berlutut karena rasa harunya.
“Sudah lama tidak mendengar Ceramah Master, jadi saya mendengarkannya dengan baik-baik, apalagi ajaran Master Cheng Yen kan untuk kebaikan alam semesta jadi saya harus mendengar semaksimal mungkin apa yang di sampaikan oleh Master Cheng Yen,” ungkapnya. “Kita harus bisa menjaga alam semesta ini dengan baik agar kehidupan berikutnya mungkin kita akan dilahirkan di alam ini lagi, jadi kita bisa menikmati hasil yang baik. Namun Apabila kalau kita merusak alam ini kita pun akan merasakan dampaknya jadi kita harus jaga dengan baik,” lanjutnya.
Mendengar penjelasan sang suami mata Suryawati pun tak bisa menahan air mata. Ia juga merasa sangat terharu dengan apa yang di sampaikan oleh Master Cheng Yen, ia juga berkata bahwa kita harus merawat lingkungan alam semesta ini. “Karena selama ini kita tidak sengaja memakai air dan juga kita masih belum bisa bervegetaris. Tapi saya sudah ada niat mau bervegetaris. Saat ini saya lebih banyak makan sayuran daripada daging,” ungkapnya.
Ada pula Cindy Aurelia yang sudah lama menantikan kegiatan-kegiatan Tzu Chi dilaksanakan secara besar lagi. Makanya ketika di tahun 2023 ini Cindy mengetahui acara Waisak Tzu Chi melalui Instagram, ia tidak membuang kesempatan. Cindy langsung menghubungi Tzu Chi Center dan bertanya mengenai pendaftaran. Ia pun mengajak serta keluarga dan teman-temannya. “Karena acara Waisak di Tzu Chi tidak hanya umat Buddhis yang merayakan namun semua golongan dan agama diajak serta,” tutur Cindy. “Sangat terasa toleransinya. Makanya saya mau ajak keluarga dan teman-teman saya untuk merasakan apa yang saya rasakan,” imbuhnya yang sudah mengajak 15 orang temannya.
Berbeda dengan Yung Fu dan Suryawati, juga Cindy, Kosiyah (43th), salah satu tamu yang hadir mengaku baru kali ini mengikuti Waisak di Tzu Chi. Ia pun takjub ketika masuk ke Aula Jing Si saat akan mengikuti kegiatan. Meskipun bukan pemeluk Agama Buddha, Kosiyah mengaku senang ikut kegiatan doa bersama karena bisa memberikannya pengalaman baru.
Berawal dari ajakan dari salah satu relawan di depo bogor untuk mengikuti kegiatan sharing pengendalian emosi, tanpa ragu Ia langsung mengiyakan ajakan mengikuti kegiatan doa bersama Waisak ini. Bersama rombongan dari bogor menggunakan bis, Kosiyah datang bersama anaknya sejak pukul 8 pagi ke Tzu Chi Centre di Pantai Indah Kapuk.
“Sambutan yang penuh keramah-tamahan dan penuh cinta kasih memberikan satu nuansa sendiri bagi kita yang hadir di sini,” tutur Bhante Bhadranatha Thera. “Di momen Waisak ini, selain kita bisa kembali untuk menguatkan keyakinan kita kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, juga menjalin silahturahmi yang baik dan saling mengingatkan satu sama lain untuk terus menumbuhkan semangat baru, motivasi baru dalam belajar dan mempraktikkan Dharma,” pesannya.
Melihat betapa antusiasnya masyarakat hingga pemuka agama yang hadir, Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sangat senang, berhubung tiga tahun sebelumnya terjadi pandemi, semua orang tidak bisa menghadiri acara Waisak. “Untuk tahun ini, kita sangat berterima kasih kita bisa hidup dengan aman dan tenteram, bisa melakukan pemandian Rupang Buddha bersama-sama di sini,” tutur Liu Su Mei.
“Selain berterima kasih akan budi luhur dari Buddha, budi baik dari orang tua, dan budi baik semua makhluk, lewat acara Waisak ini, kita berharap semua orang bisa bersikap tulus dalam membangkitkan niat bajik, semoga semua orang bisa sehat-sehat, masyarakat bisa harmonis,” lanjutnya.
Sesuai dengan Tema Waisak: 30 Tahun Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei juga menuturkan bahwa rasa syukur tak ada habisnya melihat perkembangan Tzu Chi bisa benar-benar bermanfaat untuk masyarakat di Indonesia. Dalam pepatah Tiongkok, Liu Su Mei mengingat terdapat istilah hidup mandiri pada umur 30 tahun. Tzu Chi bisa belajar dari pepatah ini.
“Kita berharap kita bisa menginspirasi lebih banyak orang lagi. Semoga empat misi Tzu Chi dan Tzu Chi di luar kota bisa berakar lebih mendalam sehingga kita bisa membangkitkan lebih banyak cinta kasih. Dengan adanya niat bajik dalam hati, keluarga akan lebih harmonis, begitu juga dengan masyarakat,” paparnya.
Fotografer : Anand Yahya, James Yip (He Qi Barat 2), Halim Kusin (He Qi Barat 2), Henry Tando (He Qi Utara 1), Henny Yohannes (He Qi Utara 2).