Kegiatan Internasional

Tzu Chi kembali ke Tanahang Walang Hagdanan dengan Bantuan Beras

Sejak didirikan oleh Biarawati Belgia Suster Valeriana Baerts, ICM, pada tahun 1973, Tanahang Walang Hagdanan (TWH) telah membantu mengubah para penyandang disabilitas menjadi anggota masyarakat yang produktif yang menyumbangkan waktu, upaya, dan bakat mereka untuk upaya yang produktif dengan segala keterbatasan mereka.
Namun, walaupun mereka telah mengatasi tantangan kondisi fisik mereka, belum ada jalan keluar dari pandemi Covid-19 selain menjalani karantina untuk mengekang penyebaran virus tersebut. Bengkel kerja mereka yang memproduksi mainan edukatif dan kerajinan tangan dari kayu yang dulu ramai harus ditutup. Tidak bisa beroperasi dengan kapasitas penuh, Tanahang Walang Hagdanan (TWH) terpaksa mengharuskan pekerja mereka berkerja bergantian, yang berarti pendapatan yang lebih sedikit dari sebelumnya. “Bagaimana kami bisa memenuhi permintaan pelanggan kami dan meningkatkan taraf hidup para penyandang disabilitas?” kata Manajer HRD Tanahang Walang Hagdanan (TWH) Maria Belen Pacete.

Relawan Tzu Chi berbincang-bincang dengan Manajer HRD Tanahang Walang Hagdanan (TWH) Maria Belen Pacete.
Pelatihan ketrampilan dan peluang mata pencaharian bagi para penyandang disabilitas ada di Tanahang Walang Hagdanan.
Para penyandang disabilitas di bagian pembungkusan ulang obat-obatan di Tanahang Walang Hagdanan.

Selama bertahun-tahun, Yayasan Tzu Chi telah secara konstan mendukung Tanahang Walang Hagdanan (TWH). Pada tahun 2019, relawan Tzu Chi menghadiahkan bantal lembut buatan tangan dari bahan-bahan kain yang didaur ulang. Bantal tersebut untuk membantu para penyandang disabilitas yang harus duduk berjam-jam di kursi roda agar bisa duduk dengan nyaman.
Para awal Pandemi pada tahun 2020, relawan Tzu Chi memberikan bantuan beras ke TWH untuk membantu mereka selama masa karantina. Kedermawaan tersebut terulang lagi pada tanggal 31 Maret 2022 ketika para relawan menyalurkan bantuan 189 karung beras ke para penyandang disabilitas di Cainta, Rizal. “Tzu Chi sangat membantu kami. Mereka adalah jaringan kami untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari, terutama beras,” kata Pacete. “Ketika anda punya beras, anda bisa menyandingkannya dengan apa saja. Terima kasih kepada Tzu Chi, para pekerja kami memiliki sesuatu untuk dimakan ketika persediaan mereka habis.”
 

Seorang relawan Tzu Chi membantu menurunkan beras di Tanahang Walang Hagdanan.
"Terima Kasih kepada Tzu Chi, para pekerja kami punya sesuatu untuk dimakan ketika persediaan mereka habis," kata Manajer HRD Tanahang Walang Hagdanan Maria Belen Pacete.

“Bagi sebagian orang di TWH, kabar kedatangan Tzu Chi serasa mendapat kunjungan dari kawan lama. “Saya telah melihat Tzu Chi disini sejak saya masih kecil,” kata Erika Mae Joy Villaflores. “Mereka akan mengadakan program yang berbeda untuk kami. Mereka juga membantu kami bertahan hidup semasa pandemi ketika bengkel kerja kami harus ditutup.”
Awalnya ditugaskan untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, dia dipindahkan kebagian pengepakan ulang obat-obatan Unilab ketika para murid sekolah harus dirumahkan. Villaflores harus menggunakan kursi roda akibat penyakit Pott atau penyakit TBC tulang belakang, yang terdiagnosa ketika dia masih berusia 10 tahun.
“Sulit untuk diterima, terutama untuk seorang anak yang dulunya bisa berjalan,” katanya tentang kondisi kesehatannya. Segala sesuatu berubah ketika orang tuanya membawanya ke TWH. “Dulu saya berpikir saya satu-satunya penyandang disabilitas di dunia ini. Ketika saya tiba di TWH, saya mengetahui bahwa ada berbagai macam tipe penyandang disabilitas – orang-orang ada yang tidak memiliki tangan atau kaki, mereka yang lumpuh dari pinggang kebawah. Jika mereka masih bisa belajar dan bekerja, maka saya juga bisa,” katanya. “TWH menunjukkan kepada saya bahwa semuanya mungkin saja terjadi, bahwa sebagai penyandang disabilitas saya bisa melakukan lebih dari sekedar duduk di sudut ruangan dan menunggu segala sesuatu dibawakan ke saya.”
Seperti halnya TWH, Tzu Chi juga memberikan welas asihnya kepada siapapun, tanpa memandang penampilan atau kemampuannya. “Saya sangat mengagumi dedikasi anda untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Anda tidak hanya membantu para penyandang disabilitas, anda juga membantu para korban topan badai, membantu mengevakuasi letusan Gunung Taal, dan bencana-bencana lain baik yang buatan manusia maupun alam. Dan anda tidak membeda-bedakan apapun : baik putih, hitam, ataupun coklat, anda menolong semuanya,” kata Erika.

Didiagnosa menderita penyakit Pott pada usia 10 tahun, Erika Mae Joy Villaflores tidak mau membiarkan cacat tubuhnya menjadi penghalang baginya. Dia mengajar anak-anak yang berkebutuhan khusus sebelum dipindah-tugaskan kebagian pengepakan ulang obat-obatan. "TWH menunjukkan kepada saya segala sesuatu mungkin saja terjadi. Bahwa sebagai penyadang disabilitas saya bisa berbuat lebih dari sekedar duduk di sudut ruangan dan menunggu semuanya dibawakan kepada saya."

Donna adangla telah menerima bantuan Tzu chi sejak dia duduk di kelas 1. “Saya ada di Banawe, cabang Tanahang Walang Hagdanan di kota Quezon ketika saya pertama kali mengenal Tzu Chi. Relawan sering pergi kesana untuk memberi kami beras, makanan, buku tulis, dan hal-hal lain yang kami butuhkan.”
Terlahir dengan cacat bawaan yang membuatnya tidak memiliki tangan dan kaki, Adangla mempertahankan selera humornya tentang kondisinya. “Jika saya terlahir dengan tubuh yang lengkap, mungkin saya tidak akan bertemu dengan Tzu Chi,” celotehnya. Walaupun harus duduk di kursi roda tidak menghentikannya untuk menjadi produktif – atau artistik. Juga ditugaskan dibagian pengepakan ulang obat-obatan, dia adalah anggota Rondalla On Wheels, sebuah grup musik yang terdiri dari para penyandang disabilitas yang tampil untuk relawan Tzu Chi  setiap kali mereka datang berkunjung.

Walau terlahir cacat, Donna Adangla tetap mempertahankan selera humornya tentang kondisi tubuhnya. "Jika saya terlahir dengan tubuh yang lengkap, mungkin saya tidak akan pernah bertemu dengan Tzu Chi," celotehnya.
Ketika pembagian celengan Tzu Chi, Donna Adangla meminta 2 buah celengan. ""Saya kira anda bisa mengatakan saya membayar didepan. Apa yang telah dilakukan Tzu Chi untuk kami sebelumnya, kini giliran saya untuk membalas."

Lebih penting lagi, berada diatas kursi roda tidak menghalanginya untuk menolong orang lain, termasuk para dermawannya. Ketika Tzu Chi membagi-bagikan celengan kepada setiap anggota TWH, Adangla meminta 2 buah celengan. “Di rumah, saya punya sebuah tas berisi koin yang belum saya belanjakan. Mungkin itu karena para relawan Tzu Chi datang berkunjung dan itu adalah untuk mereka ?” katanya.  

Para penyandang disabilitas mendengarkan dengan seksama ketika ada presentasi singkat oleh relawan Tzu Chi.
Selain sekarung beras, relawan memberikan sebuah celengan kepada para penyandang disabilitas dan stiker vegetarian.
Berbagai macam barang hasil kreasi para penyandang disabilitas di Tanahang Walang Hagdanan.
Mainan edukatif adalah produk yang dihasilkan di bagian kerajinan kayu.
Seorang penyandang disabilitas menunjukkan hasil karyanya kepada relawan Tzu Chi.
Relawan Tzu Chi menyumbangkan 189 karung beras kepada Tanahang Walang Hagdanan.

“Apa yang telah dilakukan Tzu Chi kepada kami sebelumnya, kini giliran saya untuk membalas,” kata Donna Adangla ketika meminta 2 buah celengan Tzu Chi.

Sumber : www.tzuchi.org.ph,
Jurnalis : Joy Rojas,
Fotografer : Matt Serrano,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.