Tzu Chi mengadakan Distribusi Amal di sebuah Sekolah di Istanbul
Pada tanggal 19 Februari, Tzu Chi Turki memulai 10 hari distribusi bantuan amal di El Menahil Internasional School di Sultangazi City, Istanbul, Turki. Para penerima bantuan ada lebih dari 7.650 keluarga, termasuk keluarga yang kurang mampu secara finansial, siswa sekolah yang harus bekerja, mahasiswa yang bekerja, dan keluarga yang tidak mampu membayar bahan bakar di musim dingin. Total sebanyak 841 relawan memberikan waktu mereka untuk membantu acara tersebut. Kali ini, makanan kaleng secara khusus dimasukkan ke dalam barang-barang yang didistribusikan agar kaleng nya bisa digunakan sebagai celengan setelah isinya dimakan.
Selama masa pandemi, Yayasan Tzu Chi Turki telah mengubah distribusi bantuan menjadi satu kali dalam 2 bulan untuk mengurangi jumlah kegiatan yang akan mengumpulkan orang banyak. Pada tanggal 19 Februari, sebanyak 40 pembagian dilakukan, sekali distribusi berlangsung selama satu jam, dan ada lebih 18 pembagian pada minggu tersebut.
Kali ini, setiap rumah menerima sebuah makanan kaleng, dengan tiga pilihan – kacang polong, buncis, atau kacang fava. Setelah dimakan, para penerima bisa menutup tutupnya dan mengubahnya menjadi celengan. Semua menyukai ide ini.
Setiap kali setelah pembagian, akan ada kegiatan penggalangan dana, Relawan menemukan bahwa beberapa orang menyimpan donasi mereka di kantong plastik, atau didalam botol kaleng bekas buatan sendiri, botol plastik, bahkan botol susu dan membawanya untuk didonasikan.
Suatu ketika, seseorang membawa sebuah kantong. Kantongnya berat, dengan sekitar 50 plat tembaga didalamnya – seharga sekitar 50 Lira (sekitar Rp. 51.000,-). Didalamnya ada pesan : “Saya mohon maaf hanya ini uang yang ada pada saya, tetapi ini satu-satu nya harta saya.” Relawan Tzu Chi sangat tersentuh dengan dedikasi ini.
Selama pembagian pada tanggal 19 Februari, wakil kepala sekolah Ahmed Alian berkata kepada para penerima bantuan : “Ketika anda masih di Syria, anda adalah orang kaya yang memiliki rumah, mobil, dan uang. Kemudian, ketika ketidak-kekalan terjadi, anda kehilangan semuanya dan mengungsi kemari; dan sekarang dengan bantuan dari Tzu Chi, keadaan anda semakin baik. Jangan pernah lupa ini adalah cobaan dari Allah untuk anda. Selalu ingat untuk berbuat baik kepada orang lain. Ketika anda memiliki kemampuan untuk bertahan hidup, anda juga dapat memberi kesempatan berharga ini kepada mereka yang lebih membutuhkan.”
Relawan Tzu Chi Faisal Hu menjelaskan asal usul seragam biru putih Tzu Chi. Relawan Tzu Chi Nadya Chou menjelaskan konsep dari celengan bambu – menaruh sebuah koin di dalam celengan dan membentuk pikiran yang baik pada saat bersamaan. Semua pikiran yang baik akan dijalin menjadi sebuah jaring penuh berkah, membawa kedamaian dan harapan bagi semua orang.
Pada tanggal 19 Februari, di acara pembagian, terkumpul dana sebanyak 59.055,4 Lira Turki (sekitar Rp. 57.145.000,-). Mayoritas dana yang terkumpul adalah uang receh, yang artinya para penerima bantuan menabung sedikit demi sedikit setiap hari. Walaupun donasi yang terkumpul dari lebih dari 7.000 keluarga bukan jumlah yang besar sekali, relawan Tzu Chi percaya para penerima bantuan telah menyadari bahwa setiap hal kecil dapat membuat perbedaan dan dengan mengumpulkan sedikit cinta kasih dari setiap orang akan menciptakan kekuatan cinta kasih untuk menolong orang lain.
Pada distribusi setiap dua bulanan, setiap keluarga akan menerima bantuan senilai 1.000 Lira Turki (sekitar Rp. 973.000,-). Keluarga awam di Taiwan mungkin akan menghabiskan jumlah tersebut dalam 1 kali kunjungan ke supermarket. Tetapi, bagi para pengungsi yang terkena dampak pandemi Covid-19 dan inflasi parah, bantuan itu sangat penting. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada orang-orang baik dari seluruh dunia antusiasme mereka untuk membantu keluarga-keluarga pengungsi ini melewati masa-masa sulit mereka.
Menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang membutuhkan partisipasi semua orang untuk menyatukan cinta kasih mereka mulai sekarang. Biarkan kekuatan cinta menerangi dunia.
Jurnalis : Nadya Chou,
Fotografer : Nadya Chou, Yousef Aljamal, Omer Yilmaz,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.