Waisak 2024: Doa Bersama Waisak di Medan
Sebelum acara Waisak dimulai, para hadirin menyaksikan video kilas balik jejak perjalanan kegiatan Tzu Chi Medan di tahun 2023. Harapannya dapat semakin banyak menginspirasi orang yang mau untuk bersama-sama berbuat kebajikan.
Acara dilanjutkan dengan pementasan berjudul Kehidupan Sang Buddha, Menggerakkan Roda Dharma yang dibawakan oleh para relawan, Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi), dan tim medis TIMA serta Tzu Shao (murid kelas budi pekerti).
Kemudian para hadirin bersama-sama melantunkan Gatha Pendupaan, Gatha Pujian Bagi Buddha, dan Persembahan Pelita, Air Wangi dan Bunga
Gatha pendupaan, terpujilah para Buddha dan Bodhisattva dari sepuluh penjuru untuk datang berkumpul dan bersama-sama memulai prosesi pemandian Rupang Buddha yang khidmat ini.
Gatha Pujian Bagi Buddha, memohon pada Buddha agar menyebarkan cahaya terang untuk menerangi seluruh alam semesta, menjauhkan segala bencana di dunia ini. Sang Buddha Yang Maha Sadar di Alam semesta, datang kedunia ini dengan kekuatan ikrar dan welas asih membabarkan dharma dan membimbing semua mahkluk.
Pelita menerangi sepuluh penjuru dunia,air wangi membersihan kegelapan batin,harumnya bunga menyebarkan semerbak keluhuran Buddha dan keharumam Dharma. Dengan Dilanjutkan dengan prosesi pemandian Rupang Buddha.
Setelah prosesi pemandian Rupang Buddha, dilanjutkan sesi Hari Ibu International. Mery Sudilan, relawan Tzu Chi menyapa para hadirin dan mengucapkan, “Selamat Hari Ibu.” Kasih sayang dan pengorbanan orang tua sepanjang masa. Murid-murid kelas budi pekerti (Tzu Shao) mengajak mama tercinta untuk mengikuti apresiasi hari Ibu. Mereka memberikan setangkai bunga carnation, memijit bahu, dan memeluk sang ibu dengan kasih sayang. Merina adalah ibu dari remaja Tzu Shao Edlin Wijaya,merasa terharu dengan kegiatan ini.
“Setelah mengikuti perayaan Waisak Tzu Chi, saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang baru yaitu bersyukur karena saya dapat mengikuti acara ini, dan mengerti ketulusan dan kasih sayang ibu melalui perayaan Hari Ibu, serta paham cara melakukan ritual pemandian Rupang Buddha, dikarenakan walau saya sudah pernah mengikuti perayaan waisak, baru pertama kali saya melakukannya pemandian Rupang Buddha. Ketika melakukan prosesi, hati rasanya damai, khidmat, dan bersyukur akan budi luhur orang tua dan guru,” kata Fiorenza.
Sebagai kordinator kegiatan, Tan Kim Hong sangat terharu dan mengapresiasi kegiatan waisak yang telah berjalan dengan baik berkat dukungan semua relawan, para donatur dan masyarakat umum yang telah mengikuti dengan khidmat hingga prosesi pemandian Rupang Buddha selesai. Dengan ritual ini semoga bisa menghapus noda batin, kegelapan batin kita. “Harapannya momen waisak ini bisa membina keharmonisan antar umat beragama, serta semua makhluk berbahagia,” tegas Tan Kim Hong.
Fotografer : Liani, Amir Tan, Soit (Tzu Chi Medan),
Editor : Hadi Pranoto.