Waisak Penuh Cinta di Panti Jompo, Relawan Tzu Chi Hadirkan Kehangatan Batin
Relawan Tzu Chi Medan memperingati Hari Raya Waisak 2569 BE/2025 M bersama 67 orang opa dan oma penghuni Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti, yang berlokasi di Aula Yayasan Guna Budi Bakti, Jalan Yos Sudarso, Martubung, Medan Labuhan.
Dalam perayaan Waisak yang penuh makna ini, para relawan menggelar ritual pemandian Rupang Buddha, yang melambangkan pembersihan batin dan tubuh. Di balik ritual ini tersimpan pesan mendalam: setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbarui diri, membersihkan hati dari kekotoran batin, serta menyalakan kembali cahaya kebajikan.
Dalam perayaan Waisak yang penuh makna ini, para relawan menggelar ritual pemandian Rupang Buddha, yang melambangkan pembersihan batin dan tubuh. Di balik ritual ini tersimpan pesan mendalam: setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbarui diri, membersihkan hati dari kekotoran batin, serta menyalakan kembali cahaya kebajikan.
Para opa dan oma mengikuti prosesi pemandian Rupang Buddha dengan khidmat. Momen ini menjadi simbol penyucian diri sekaligus refleksi spiritual untuk memperbaharui niat dan tekad dalam menjalani kehidupan dengan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan.
Bagi penghuni panti yang tidak dapat hadir di aula karena kondisi fisik yang lemah, para relawan mendatangi kamar mereka dengan membawa Rupang Buddha, mangkuk berisi air wangi, dan bunga. Semangat para lansia yang tetap menyala di balik tubuh yang mulai rapuh memberikan pelajaran berharga bahwa selama niat masih hidup, tubuh pun akan ikut bergerak.
Senyum merekah di wajah para penghuni panti, penuh keharuan dan kebahagiaan. Meski langkah kaki tak lagi sekuat dahulu, semangat mereka untuk mengikuti acara tetap menyala, terlebih karena kehadiran para relawan yang mendampingi dengan sepenuh hati.
Bagi penghuni panti yang tidak dapat hadir di aula karena kondisi fisik yang lemah, para relawan mendatangi kamar mereka dengan membawa Rupang Buddha, mangkuk berisi air wangi, dan bunga. Semangat para lansia yang tetap menyala di balik tubuh yang mulai rapuh memberikan pelajaran berharga bahwa selama niat masih hidup, tubuh pun akan ikut bergerak.
Senyum merekah di wajah para penghuni panti, penuh keharuan dan kebahagiaan. Meski langkah kaki tak lagi sekuat dahulu, semangat mereka untuk mengikuti acara tetap menyala, terlebih karena kehadiran para relawan yang mendampingi dengan sepenuh hati.
Magdalena, penanggung jawab kegiatan ini, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran perayaan Waisak 2569 BE/2025 M.
“Saya merasa senang melihat senyuman mereka (opa dan oma). Saat mereka berbincang dengan relawan, terlihat jelas kebahagiaan di wajah mereka. Ada yang tidak bisa keluar dari kamar, maka kami datangi mereka dan tetap bisa melaksanakan pemandian Rupang Buddha,” ujar Magdalena.
Ia menambahkan bahwa acara ini berjalan lancar berkat kerja sama 29 orang relawan yang dengan suka cita dan bersatu hati menyiapkan makanan, dekorasi, hingga mendampingi opa dan oma satu per satu. “Ini bukan sekadar kegiatan, ini adalah bentuk cinta,” tuturnya.
“Saya merasa senang melihat senyuman mereka (opa dan oma). Saat mereka berbincang dengan relawan, terlihat jelas kebahagiaan di wajah mereka. Ada yang tidak bisa keluar dari kamar, maka kami datangi mereka dan tetap bisa melaksanakan pemandian Rupang Buddha,” ujar Magdalena.
Ia menambahkan bahwa acara ini berjalan lancar berkat kerja sama 29 orang relawan yang dengan suka cita dan bersatu hati menyiapkan makanan, dekorasi, hingga mendampingi opa dan oma satu per satu. “Ini bukan sekadar kegiatan, ini adalah bentuk cinta,” tuturnya.
Kehadiran para relawan tak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga menjadi telinga yang mendengar dengan sepenuh hati. Seperti yang dilakukan Liong Jen Lie dan Agus, yang mendampingi seorang oma yang baru menjalani operasi lutut di Bandung. Sambil berjalan perlahan menuju aula, sang oma bercerita, dan para relawan mendengarkannya dengan hangat.
“Kami merasa sukacita karena bisa memberi semangat kepada opa dan oma. Meski langkah mereka pelan, kami percaya bahwa setiap langkah adalah harapan baru,” ujar Liong Jen Lie.
Aan, pengelola Panti Jompo Guna Budi Bakti, menyambut relawan dengan penuh suka cita. Menurutnya, momen seperti ini membawa energi positif dan keharmonisan bagi para lansia. “Kami berharap, melalui kegiatan ini, para penghuni panti bisa mendapatkan semangat baru dan terus bersyukur atas hidup yang masih diberi kesehatan dan perhatian,” harap Aan.
Aan, pengelola Panti Jompo Guna Budi Bakti, menyambut relawan dengan penuh suka cita. Menurutnya, momen seperti ini membawa energi positif dan keharmonisan bagi para lansia. “Kami berharap, melalui kegiatan ini, para penghuni panti bisa mendapatkan semangat baru dan terus bersyukur atas hidup yang masih diberi kesehatan dan perhatian,” harap Aan.
Setelah prosesi pemandian rupang Buddha, para relawan membagikan makanan dan camilan kepada para lansia di ruang makan. Para opa dan oma menikmati sajian tersebut dengan tenang. Di akhir acara, mereka bernyanyi bersama, diiringi tawa dan canda kebahagiaan.
Perayaan Waisak ini bukan sekadar ritual, tetapi juga wujud nyata welas asih dalam tindakan. Ketika relawan menyentuh hati para lansia dengan cinta dan perhatian, di situlah ajaran Buddha benar-benar hidup.
Melalui perayaan ini, para relawan tidak hanya memberi, tetapi juga menerima. Mereka belajar tentang kekuatan, ketulusan, pentingnya kehadiran, serta betapa berharganya waktu yang dibagikan untuk orang lain.
Perayaan Waisak ini bukan sekadar ritual, tetapi juga wujud nyata welas asih dalam tindakan. Ketika relawan menyentuh hati para lansia dengan cinta dan perhatian, di situlah ajaran Buddha benar-benar hidup.
Melalui perayaan ini, para relawan tidak hanya memberi, tetapi juga menerima. Mereka belajar tentang kekuatan, ketulusan, pentingnya kehadiran, serta betapa berharganya waktu yang dibagikan untuk orang lain.
“Jangan meremehkan diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi tak terhingga”
– Kata Perenungan Master Cheng Yen –
Jurnalis : Elisa Intan (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Tanoto, Rimba Kosasih, Elisa Intan (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.
Fotografer : Tanoto, Rimba Kosasih, Elisa Intan (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.