Warga Kampung Warung Loa, Bogor Tak Lagi Khawatir Kekurangan Air bersih di Musim Kemarau
Tzu Chi Indonesia bersinergi dengan TNI AD dari kesatuan Kostrad membantu warga di Kampung Warung Loa, Tamansari, Bogor untuk membuat bak penampungan air bersih demi mengakomodasi para warga karena apabila musim kemarau tiba, warga kesulitan mendapatkan air bersih karena hanya mengandalkan sumber mata air dari Gunung Salak.
Kampung Warung Loa berada di kaki Gunung Salak Bogor. Jaraknya lebih kurang 18 Km dari Kota Bogor. Jumlah warga RT. 03 / RW. 09 ini lebih kurang ada 400 KK yang terdiri dari kisaran 11.000 jiwa.
Amah (42) warga Kampung Warung Loa mengatakan apabila musim kemarau panjang memang terasa menyedihkan. “Kita sampai beli air dua hari sekali, 500 liter, (itu) swadaya dari 4 KK. Kalau masuk musim kemarau, airnya mengecil,” jelas Amah. Biaya yang harus Amah keluarkan untuk membeli air minum secara swadaya itu adalah sekitar Rp. 80.000,- per KK. “Kalau lagi kepepet banget, kita ya beli air galon Rp. 6.000. Kadang langsung beli dua galon,” lanjut Amah.
Amah menceritakan kejadian kemarau panjang 4 tahun lalu, lalu hingga 8 bulan sangat sulit air. “Dulu ada bantuan air pakai mobil tangki, warga yang di pinggir jalan aja yang dapat, kalo saya yang rumahnya di belakang ya nggak kebagian,” kenang Amah. Terkadang Amah berpesan kepada Pak RT kalau-kalau ada mobil tangki datang.
“Air bagi saya kan pokok utama yaa.., semoga bak penampungan yang dibuat oleh TNI dan Tzu Chi sampai ke warga di sini, kebagian semua. Jadi walaupun kemarau, nggak susah air lagi,” harap Amah yang bersyukur ada solusi untuk pengadaan air bersih yang dilaksanakan oleh TNI Manunggal Air yang bekerja sama dengan Tzu Chi.
Seperti penuturan Amah, Ujang Rahim Ketua RT. 03 / RW. 09 juga mengatakan warga Kampung Warung Loa memang berkecukupan air ketika musim hujan tiba. Tapi sebaliknya, kemarau panjang membuat warga sangat kesulitan mendapatkan air. Mereka harus menghemat karena pembagian air dari mata air Gunung Salak diatur untuk bisa merata dan volumenya juga sangat kecil. Bahkan warga yang lokasi rumahnya sedikit ke atas sering tidak mendapatkan air seperti yang dialami oleh Ibu Amah. Kalau sudah begitu, kadang warga swadaya membeli air, kadang juga ada beberapa donatur yang mendonasikan air berkapasitar 8 ribu liter. “Dari sana, masing-masing warga mendapatkan sekitar 50 liter,” ungkap Ujang.
Sumber mata air warga Kampung Warung Loa berada 3.5 Km di puncak Gunung Salak. Dari sumber mata air ini, air dialirkan ke bak penampungan yang dahulu hanya berukuran 2×1 meter dengan kedalaman 1 meter. Untuk membantu memenuhi kebutuhan air warga, Tzu Chi dan TNI AD dari KOSTRAD dalam program TNI Manunggal Air membangun bak air berkapasitas 30 kubik yang berada di Ajisaka, tepatnya di kaki Gunung Salak.
Mayor TNI AD Hidayat dari tim program TNI AD Manunggal Air mengatakan sebelumnya bak penampungan yang dibangun warga hanya menggunakan bak penampungan kecil. Salurannya pun hanya menggunakan pipa kecil biasa yang mudah pecah jika terinjak atau tertimpa pohon.
“Saat ini yang kami lakukan adalah membuat bak penampungan yang lebih besar berkapasitas 30 kubik dan mengganti pipa yang lebih besar (2 inch) berjenis pipa high density polythene (HDPE). Pipa jenis ini memang pipa untuk pendistribuasian air bersih, lebih tahan gempa dan pastinya aman untuk daerah pegunungan yang terjal,” papar Mayor Hidayat.
“Kami dari TNI AD berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi karena sudah membantu program TNI AD Manunggal Air sehingga meringankan beban kami dan meringankan beban masyarakat yang ada di sekitar sini (Warung Loa),” lanjut Mayor Hidayat.
Perlu diketahui, di lokasi ini terdapat empat tempat ibadah, yaitu Pura, Masjid, Gereja, dan Wihara. Tempat ibadah ini masing-masing ramai dikunjungi umatnya terutama Pura, banyak sekali umatnya yang datang dari luar pulau Jawa, hingga ribuan orang. “Dengan dibangunnya bak penampungan yang lebih besar, kebutuhan air untuk keempat tempat ibadah ini khususnya umat di Pura dan warga Warung Loa dapat terpenuhi dengan baik,” darap Mayor Hidayat.
Mayor Hidayat pun berpesan kepada warga untuk menjaga sarana bak penampungan ini dengan baik agar bisa bertahan lama dan diatur dengan baik sehingga pembagian airnya merata. Mayor Hidayat mengatakan Program TNI AD Manunggal air ini sudah mencapai 783 titik dengan penerima manfaat 190 ribu KK, 580 ribu jiwa di seluruh Indonesia.
Joe Riadi Ketua Tim Tanggap Darurat Yayasan Tzu Chi sangat bersyukur dan terkesan pada bantuan pengadaan bak penampungan air bersih ini. “Kita relawan Tzu Chi sangat bersyukur, senang karena bisa membantu warga yang bukan hanya di bencana saja. Kita menghindari sumur bor yang dapat merusak bumi, jadi kita memanfaatkan sumber mata air. Saat ini kita bekerja sama dengan TNI AD, juga dapat dukungan dari pengurus Pura yang membantu dengan bergotong royong ketika menarik selang HDPE yang berat sekali. Intinya, yang terpenting warga senang,” tutur Joe Riadi.
Joe Riadi mewakili Yayasan Tzu Chi berharap warga bisa saling gotong royong memelihara, merawat bak penampungan ini, dan jika ada kerusakan bisa di perbaiki bersama-sama. “Kita Yayasan Tzu Chi membantu pembangunan dan semoga warga merawat, terpenuhi kebutuhan air bersihnya secara merata,” ucap Joe Riadi di depan perangkat desa dan pengurus rumah ibadah yang hadir pada peresmian bak penampungan air bersih ini, Jumat, 6 Oktober 2023.
Tempat penampungan air bersih di Ajisaka ini selanjutnya mengalir dengan pipa-pipa dengan sistem gravitasi ke pemukiman-pemukiman warga dan rumah-rumah ibadah yang berjarak sekitar 100 hingga 300 meter dari bak penampungan Ajisaka.
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Metta Wulandari.