Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Yang Pertama dari Enam Paramita ialah Dana

Pascagempa, banyak bangunan sekolah, vihara, pagoda, dan rumah yang runtuh. Master berkata bahwa pendidikan tidak bisa ditunda. Pascagempa, kami segera memberikan bantuan agar anak-anak dapat kembali bersekolah,” kata Li Jin-lan, relawan Tzu Chi.

Pada saat yang sama, kami juga membagikan minyak goreng, beras, dana solidaritas, dan alat tulis, mendirikan ruang kelas dan rumah rakitan sementara, menjalankan program bantuan lewat pemberian upah, dan mengadakan baksos Kesehatan,” lanjut kata Li Jin-lan.

Kami sangat bersyukur kepada Kakak Ji Xuan dan tim dari Malaysia yang mengajarkan cara mendirikan rumah rakitan sementara kepada relawan setempat,” pungkas Li Jin-lan.

Mengenai gempa bumi di Myanmar kali ini, saya sungguh tidak tega mendengarnya. Butuh orang untuk menyebarkan ajaran Buddha dan orang ini harus menunjukkan citra Buddhis. Umumnya, kaum monastik tinggal di vihara. Namun, akibat gempa bumi kali ini, tempat tinggal mereka mengalami kerusakan. Ada banyak kaum monastik yang tidak tahu harus bagaimana dan tidak memiliki tempat tinggal tetap. Jika demikian, bagaimana mereka bisa menyebarkan Dharma? Karena itu, kita sangat ingin membantu mereka.
Saudara sekalian, sebagai umat Buddha, kita harus melindungi Dharma. Akibat gempa bumi di Myanmar kali ini, banyak bangunan Buddhis yang mengalami kerusakan. Melakukan pembangunan kembali dalam waktu singkat tidaklah mudah. Namun, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan bantuan. Akan tetapi, begitu banyak bangunan yang rusak, dari manakah kita harus memulainya? Untuk itu, saya membutuhkan kerja keras kalian.

Ada 83 gedung sekolah yang mengalami kerusakan atau keruntuhan,” kata Wen Si-lang, relawan Tzu Chi.

Dari 80-an gedung sekolah ini, para relawan di Myanmar berdiskusi hingga memilih beberapa sekolah yang dilaporkan kepada Master hari ini,” kata Zhang Ji Xuan, relawan Tzu Chi.

Setelah berhimpun di sana dan melakukan survei, kalian tahu mana yang lebih membutuhkan bantuan. Kalian harus mengklasifikasikannya menjadi kategori berat, sedang, dan ringan serta terlebih dahulu memberikan bantuan yang paling dibutuhkan. Setelah melakukan survei, kalian tahu bahwa yang paling dibutuhkan ialah tempat tinggal dan barang kebutuhan sehari-hari.
Sekolah ini mengandalkan penghasilan dari air mineral yang mereka hasilkan sendiri. Dari biaya bimbingan belajar murid, upah guru, hingga biaya pengobatan, semuanya berasal dari hasil penjualan air ini,” kata Li Jin-lan, relawan Tzu Chi.

Kita melihat sebuah vihara menyaring air dan menjualnya. Ini juga sangat baik. Dengan menjual air bersih, mereka dapat memenuhi kebutuhan sendiri. Para pembeli air juga melindungi Dharma. Untuk membantu mereka, yang terbaik ialah membimbing mereka hidup mandiri. Jika mereka memiliki lahan dan dapat menggarapnya sendiri, itu juga merupakan salah satu metode pelatihan diri.
Terkadang, kalian mungkin bisa berbagi dengan mereka tentang pola hidup kita di Griya Jing Si agar mereka juga dapat perlahan-lahan belajar untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Saat ini, kita hendaknya melakukan survei dan jika ada yang membutuhkan bantuan, kita hendaknya membantu mereka.
Kita terlebih harus membantu anak kurang mampu untuk bersekolah. Kita juga harus mengunjungi keluarga kurang mampu. Misi amal harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Saat ada orang yang dilanda penderitaan dan kita memiliki kekuatan untuk membantu, kita hendaknya berusaha semaksimal mungkin.
Pusat Tzu Chi ada di Taiwan. Berhubung saya meminta kalian untuk bersumbangsih dengan segenap hati dan tenaga, tentu Tzu Chi Taiwan akan memberikan dukungan penuh. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa inilah kesempatan bagi kalian untuk menciptakan berkah. Jika kalian tidak menggenggam kesempatan ini untuk bersumbangsih bagi ajaran Buddha, setelah kesempatan ini berlalu, kelak mungkin tidak ada kesempatan lain lagi. Berikanlah bantuan sekarang selagi mereka membutuhkan.
Begitu mendengar bahwa kalian tiba di Mandalay, kami langsung pergi untuk berhimpun dengan kalian. Kemudian, kami juga memperhatikan warga setempat bersama relawan lainnya. Akibat gempa, hati warga setempat tidak bisa tenang. Mereka juga kehilangan semangat dan harapan,” kata U San Thein, relawan Tzu Chi.

Saat itu, kami mengumpulkan warga dan menjelaskan program bantuan lewat pemberian upah pada mereka. Namun, warga belum bisa mengerjakannya. Di bawah bimbingan relawan, mereka perlahan-lahan mempelajari cara mendirikan rumah rakitan sementara,” lanjut U San Thein.

U San Thein melanjutkan “Saat tiba di Mandalay, kami melihat banyak sekolah yang mengalami kerusakan dan murid-murid mengalami kondisi yang sulit. Begitu masuk ke dalam gedung sekolah, yang terlihat hanyalah lumpur dan puing. Murid-murid sama sekali tidak berani masuk ke dalam.”

Agar murid-murid dapat kembali bersekolah dengan tenang, kami membantu mendirikan ruang kelas sementara. Para murid dan orang tua murid sangat gembira. Melihat mereka begitu gembira, kami turut merasa senang. Setelah pulang dari Mandalay, sebagian relawan lokal ini tak lagi minum minuman keras, juga tidak lagi mengunyah buah pinang,” pungkas U San Thein.

Kini, mereka juga mulai bervegetaris. Mereka juga terinspirasi untuk bervegetaris,” kata Jiang Jia-fa, relawan Tzu Chi.

Jadi, kita perlu lebih banyak menjalin jodoh baik. Begitu dibutuhkan, kita hendaknya segera menciptakan berkah. Bersumbangsihlah dengan tenang dan Tzu Chi Taiwan akan mendukung kalian. Di dunia internasional, semua orang tahu bahwa Myanmar membutuhkan bantuan. Tzu Chi Taiwan akan selalu memberikan dukungan. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)
Makin banyak bersumbangsih, makin banyak pula pencapaian kalian. Saat orang-orang bersedia bergabung menjadi donatur, itu sangatlah bermakna bagi kita. Dengan dukungan mereka, kalian akan perlahan-lahan bisa berdiri sendiri. Saat di suatu negara terdapat banyak insan Tzu Chi, kalian dapat menjalankan misi secara mandiri. Inilah harapan saya terhadap kalian.
Master yang terhormat dan terkasih, para bhiksuni Griya Jing Si, dan keluarga besar Tzu Chi, apa kabar?” tanya U Thein Tun, relawan Tzu Chi.

Di Myanmar, saya menjalankan praktik donasi segenggam beras setiap hari. Saat celengan beras saya penuh, insan Tzu Chi berkata bahwa beras-beras itu dapat digunakan untuk menolong orang yang lebih membutuhkan, seperti anggota Sangha yang mengumpulkan makanan ataupun orang-orang yang mengalami kesulitan ekonomi,” kata U Thein Tun.

Sejak saat itulah, saya mengajak 4–5 orang untuk melakukannya bersama. Lalu, praktik ini terus meluas hingga sekitar 15 orang. Uluran tangan banyak orang dapat membantu satu keluarga mengatasi kesulitan selama sebulan. Jadi, kami mulai menyisihkan beras ke dalam celengan beras setiap hari,” lanjut U Thein Tun.

Berkat ajaran Master, barulah kami memiliki kebijaksanaan seperti ini dan berkesempatan untuk menciptakan pahala dan kebajikan yang tak terhingga. Jika diberikan uang seribu dolar, saat uang itu habis, maka tak ada yang tersisa. Namun, sekarang saya memperoleh Dharma. Pahala dan kebijaksanaan ini tidak habis untuk digunakan dari kehidupan ke kehidupan,” pungkas U Thein Tun.

Umat Buddha selalu mempraktikkan dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang merupakan Enam Paramita. Inilah enam metode pelatihan diri. Lihatlah, yang pertama ialah dana. Di antara Enam Paramita, dana adalah yang pertama. Orang-orang kurang mampu mengalami kesulitan hidup dan kita hendaknya berusaha untuk membantu mereka. Jadi, selagi bisa, berusahalah untuk bersumbangsih.

Membantu pembangunan kembali dan menjadi sandaran batin pascagempa
Segera memberikan bantuan untuk menenteramkan kehidupan korban bencana
Yang pertama dari Enam Paramita ialah dana
Bersama-sama mempraktikkan kebajikan, melindungi Dharma, dan menciptakan berkah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 24 Juli 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 26 Juli 2026