Zhen Shan Mei Bootcamp 2025, Semangat Relawan Zhen Shan Mei Tak Pernah Padam
Koordinator atau He Xin Zhen Shan Mei Indonesia, Stephen Ang, menjelaskan bahwa kamp tahun ini berbeda dari sebelumnya karena menerapkan sistem seleksi yang lebih ketat.
“Peserta yang ikut tahun ini harus melalui beberapa tahap seperti sudah pernah mengikuti pelatihan ZSM di komunitas dan memiliki karya yang sudah dimuat di website Tzu Chi Indonesia atau media sosial komunitasnya,” ujarnya.
Tema Jadilah Pelita, Jadilah Teladan sendiri mengandung makna mendalam. Stephen berharap, setelah melewati rangkaian pembelajaran dan pengalaman di kamp ini, para peserta dapat pulang dengan semangat baru, menjadi pelita yang menerangi dan teladan yang menginspirasi di lingkungan masing-masing.
“Relawan Zhen Shan Mei sering menghadapi tekanan di lapangan. Melalui sesi perenungan mereka bisa merelaksasi hati dan pikiran, mengubah beban menjadi kekuatan positif,” ujar Stephen.
Dalam materinya bertajuk Zhen Shan Mei yang Abadi, Stephen menekankan pentingnya keberlanjutan misi Zhen Shan Mei. “Suatu saat kita akan mewariskan peran kepada generasi berikutnya. Tapi karya yang sudah kita buat, baik itu tulisan, foto, maupun video akan tetap abadi, menjadi sejarah yang menginspirasi banyak orang sepanjang masa,” ungkapnya penuh makna.
Beliau mengingatkan bahwa agar masyarakat dapat hidup tenteram, dibutuhkan tiga hal yang berjalan seiring yakni niat yang baik, pribadi yang baik, dan berita yang baik. Inilah makna sejati dari budaya Zhen Shan Mei (Kebenaran, Kebajikan, dan Keindahan), arah yang menjadi panduan setiap relawan Tzu Chi dalam berkarya.
“Sebagai relawan Zhen Shan Mei, kita perlu memahami bahwa keindahan bukan hanya tentang gambar yang indah,” tutur Dé jiǎn Shīfu. “Tetapi juga tentang hati yang bajik dan niat yang murni di balik setiap karya.”
Dé jiǎn Shīfu menekankan bahwa setiap kali relawan mengangkat kamera, tujuannya bukan sekadar merekam peristiwa, melainkan menampilkan keindahan dan kebajikan di dalamnya. “Konten yang indah harus memiliki nilai budaya yang membawa pengaruh positif,” ujarnya.
“Saya sering terharu melihat relawan Indonesia. Walaupun tidak semua memahami bahasa Mandarin dengan sempurna, namun kalian mampu menjalankan ajaran Master Cheng Yen dengan sepenuh hati. Semangat seperti ini sangat langka,” sambungnya.
Beliau pun kerap membagikan kisah relawan Indonesia kepada relawan di Taiwan dan negara lain. “Saya selalu mengatakan bahwa saya ingin belajar dari relawan Indonesia Karena kalian memiliki semangat untuk mendengarkan dan menjalankan Dharma dengan sukacita.” Tuturnya.
Mengisahkan pengalamannya, Dé jiǎn Shīfu menceritakan bagaimana ia mulai memegang kamera dan video sejak tahun 1997 di Jing Si Hualien. “Banyak yang bertanya, seorang biksuni kok bisa memegang kamera?” katanya sambil tersenyum. “Semua karena bimbingan Master. Beliau mengajarkan bahwa setiap ceramah, setiap peristiwa, harus kita dokumentasikan, karena di situlah kita menggali potensi diri.”
Menurut Dé jiǎn Shīfu, menjadi relawan Zhen Shan Mei adalah ladang berkah. Tidak perlu takut tidak bisa, yang penting ada kemauan, kesungguhan, dan hati yang bersukacita. “Kalau kalian tulus, bahkan dengan kamera handphone pun hasilnya bisa indah,” ujarnya sambil menunjukkan foto bunga yang ia ambil di Tzu Chi.
“Kalau akarnya dalam, bunga akan mekar secara alami. Begitu pula hati kita bila berakar pada niat baik, maka karya kita pun akan memancarkan keindahan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar mendokumentasikan kegiatan, Dé jiǎn Shīfu menegaskan bahwa relawan Zhen Shan Mei sejatinya sedang merekam perjalanan kehidupan dan cinta kasih. Karena itu, setiap relawan perlu memiliki kepekaan batin, mampu melihat jalinan jodoh di balik setiap peristiwa dan menumbuhkan rasa syukur atas setiap pertemuan.
“Relawan Zhen Shan Mei bukan hanya merekam keindahan, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan,” ujar Dé jiǎn Shīfu. “Kita belajar untuk tenang, peka terhadap sekitar, dan menulis atau memotret dengan hati yang jernih.”
Dengan demikian, semangat Jing Si bukan hanya tercermin dalam tulisan dan foto, tetapi dalam cara kita memandang dunia dengan mata yang lembut, hati yang penuh syukur, dan pikiran yang bening.
Selain itu, ada juga sesi bersama DAAI TV bertajuk “Dari Lensa ke Hati: Menginspirasi Lewat Kisah Nyata” yang disampaikan oleh presenter DAAI TV, Sera Mirsa, memberikan wawasan baru tentang pentingnya menyebarkan kebaikan melalui media digital. Para relawan pun diharapkan siap berperan sebagai videografer agar kisah-kisah cinta kasih dari seluruh pelosok Indonesia bisa terekam dan menjangkau lebih banyak orang.
Bootcamp ini telah dipersiapkan sejak setahun sebelumnya dengan perencanaan matang, mulai dari konsep, tema, hingga materi. Kegiatan berlangsung selama dua hari penuh dengan berbagai sesi bermakna seperti “AI di Tangan yang Bajik”, “Teguh di Tengah Badai”, hingga talkshow inspiratif bersama pasangan relawan senior.
“Saya merasa lebih berkembang. Sebelumnya saya enggak pernah belajar fotografi, video, atau menulis artikel. Ternyata saya punya minat di situ,” ujarnya dengan senyum bangga.
Kegiatan kamp yang padat memberi tantangan tersendiri. Saat sesi bersama Stephen Ang bertajuk Zhen Shan Mei yang Abadi, para peserta diberi waktu singkat untuk membuat video bertema tertentu. “Awalnya sempat blank, karena tim saya orang-orang baru. Tapi ternyata bisa juga. Di situ saya belajar me-manage waktu dan orang,” ujarnya.
Bagi Yunita, seluruh materi terasa menarik. Ia memperoleh banyak ilmu baru mulai dari teknik pengambilan gambar yang menarik, tips menulis artikel, hingga pemahaman tentang SOP relawan Zhen Shan Mei. Sepulang dari kamp, semangatnya langsung diuji. Ia mendapat tugas baru membuat video dokumentasi untuk acara kepulangan Gan En Hu, menggabungkan foto-foto kegiatan selama satu tahun terakhir.
“Saya merasa lebih percaya diri sekarang. Sepulang dari kamp ini, saya bertekad untuk lebih aktif lagi di kegiatan Zhen Shan Mei,” ujarnya mantap.
Sementara itu di ujung timur Indonesia, Marcopolo telah mengabdikan diri sebagai relawan Zhen Shan Mei Tzu Chi Biak sejak tahun 2015. Ia pertama kali mengenal Tzu Chi pada tahun 2012 saat ikut membantu membagikan beras cinta kasih dari Taiwan ke daerah-daerah pedalaman.
“Waktu itu saya memang senang jalan-jalan ke tempat baru dan sedang belajar fotografi,” ceritanya. Dari situ ia diajak oleh Nining Shijie, relawan yang dulu mendokumentasikan kegiatan di Biak. Saat Nining pindah, Marcopolo pun melanjutkan tugas tersebut.
Baginya kamp Zhen Shan Mei kali ini terasa berbeda. Jika sebelumnya lebih banyak fokus pada teknis seperti menulis, fotografi, dan video, maka tahun ini suasananya lebih inspiratif dan reflektif.
“Saya sangat terinspirasi dengan materi dari Hadi Pranoto Shixiong tentang Menyebarkan Kebaikan di Era Digital, juga kisah Shifu dari Taiwan, dan sesi bersama Stephen Ang. Semua memberikan semangat baru,” ujarnya.
Dari kamp ini, ia menyadari pentingnya media sosial sebagai sarana untuk menjangkau lebih banyak orang. “Saya belajar banyak tentang konten dan media sosial. Tapi di Biak, saya kerja sendiri, belum ada tim. Jadi agak berat, apalagi ini membawa nama yayasan,” katanya jujur.
Langkah pertama yang akan ia lakukan setelah pulang adalah mencari tim berjiwa muda untuk bersama-sama mengelola konten. “Agar Tzu Chi Biak juga bisa hadir di media sosial dan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan lebih luas lagi,” ujarnya penuh semangat.
Fotografer : Arimami Suryo A., Clarissa Ruth, Henry Tando (He Qi Muara Karang),
Editor : Arimami Suryo A.