[ST-001] Pancaran Air Dharma Menyucikan Pikiran
Saudara se-Dharma sekalian, hari demi hari, bulan demi bulan, dalam setiap hari yang berganti dan kenangan di masa lalu. Saya selalu merasa, dalam kehidupan ini manusia, masalah, dan hal-hal yang kita temui terus-menerus bertambah. Setiap hal maupun setiap orang semuanya merupakan karya tulis. Ada orang yang mengagumkan dan dapat membuat orang lain tersentuh, namun ada pula orang yang membuat orang lain merasa sedih ataupun prihatin. Ada yang hidup berlimpah, ada yang kekurangan.
Ada orang yang hidupnya berjalan lancar sesuai keinginan, namun lengah dalam menjalani kehidupan. Meski kini menikmati berkah, mereka tak sadar sedang mengundang bencana di kemudian hari. Karena kegelapan batin dan ketidaktahuan, mereka menjalani hidup dengan sia-sia.
Ini juga adalah kehidupan yang menyedihkan. Sungguh sulit berkesempatan mendengar ajaran Buddha dan terlahir sebagai manusia. Namun, semua makhluk awam diliputi ketidaktahuan dan kegelapan batin sehingga terus lahir kembali di enam alam kehidupan sesuai karmanya.
Kita harus menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan melakukan segala hal dengan sepenuh hati. Hanya dengan hidup berkesadaran seperti ini, hidup kita akan menjadi kokoh dan penuh arti. Kisah-kisah kehidupan seperti ini jika dapat diabadikan, akan menjadi warisan sejarah yang penuh makna, yang dapat membimbing orang lain, dan juga menyucikan hati manusia.
Dengan kebijaksanaan-Nya, Buddha membabarkan Dharma bagi kita lebih dari 2.000 tahun lalu. Pada masa itu, apakah kita termasuk yang hadir ketika Buddha membabarkan Dharma lebih dari 2.000 tahun lalu? Ataukah pada masa itu, kita mungkin telah mendengar nama Buddha, namun belum berjodoh dan tidak berkesempatan bertemu dengan-Nya.
Mungkin juga pada masa itu, di zaman yang sama dengan Buddha, bukan saja tak bertemu dengan Buddha tetapi juga tak pernah mendengar nama-Nya dan tak tahu Beliau tengah membabarkan Dharma. Kita tak dapat memastikannya. Memiliki jodoh untuk bertemu dan mendengar ajaran Buddha adalah hal yang luar biasa.
Lebih dari 2.000 tahun lampau, di manakah kita saat itu? Tidak tahu.
Yang pasti kita ada di antara 6 alam kehidupan.
Enam alam kehidupan:
– Alam manusia
– Alam dewa
– Alam neraka
– Alam binatang
– Alam setan kelaparan
– Alam asura
Enam alam kehidupan mencakup alam manusia, alam dewa, neraka, binatang, dan setan kelaparan. Kita semua pasti pernah terlahir di kelima alam ini. Namun, entah di mana kita pada masa Buddha hidup. Di antara enam alam kehidupan, ada yang disebut alam asura. Makhluk asura tersebar di lima alam lainnya. Di alam dewa yang penuh kebahagiaan, terdapat makhluk asura. Di alam manusia, tempat suka duka silih berganti, juga terdapat makhluk asura. Di neraka, alam setan kelaparan, dan alam binatang yang penuh penderitaan, makhluk asura pun ada.
Jadi, asura tersebar di lima alam lainnya. Namun, asura dianggap sebagai alam tersendiri karena makhluk asura ini banyak menimbulkan penderitaan.
Sebagai contoh, makhluk asura pun terdapat di alam dewa. Oleh karena itu, meski para dewa hidup dalam kenikmatan, mereka masih diliputi noda batin. Kegelapan dan noda batin inilah asura. Asura tersebar di lima alam lainnya. Segala penderitaan di alam dewa maupun manusia disebabkan oleh nafsu dan noda batin semua makhluk yang merupakan asura dalam batin.
Karena batin kita diliputi ketidaktahuan, kebencian dan kebodohan mudah timbul. Jika ketamakan tak terpenuhi, kemarahan timbul. Semua itu timbul akibat kegelapan batin. Saat kemarahan bangkit, orang tidak dapat berpikir jernih dan tak lagi peduli pada kebenaran.
Inilah asura. Asura berarti makhluk yang penuh kebencian, senantiasa menyimpang dan menjadi penghalang, merusak ajaran kebenaran dengan menimbulkan keraguan dan ketakutan. Saat para dewa memiliki batin yang demikian, itulah asura di dalam batin. Di alam manusia, asura bahkan lebih banyak lagi. Lihatlah, mengapa ada begitu banyak bencana di dunia? Bencana alam dan bencana akibat ulah manusia terus terjadi. Semua ini bermula dari pikiran manusia yang penuh noda dan kegelapan batin. Lihatlah dalam masyarakat kita, mereka yang sering membangkitkan perselisihan merupakan asura di alam manusia.
Sifat penuh kebencian dan gemar berselisih ini menimbulkan penderitaan bagi dunia. Bagaimana membebaskan diri dari enam alam kehidupan ini, terutama dari alam asura yang mengganggu semua alam kehidupan?
Setiap orang hendaknya melenyapkan mental asura ini dari dalam batinnya. Bahkan di alam dewa pun terdapat asura, terlebih lagi di alam manusia. Di dalam batin setiap orang terdapat mental asura. Singkatnya, meski memiliki berkah, asura tak memiliki kebajikan. Inilah jenis asura yang masih memiliki berkah. Ada pula asura di neraka, alam setan kelaparan, dan alam binatang.
Inilah jenis asura yang tengah memetik buah karma buruk Di alam dewa maupun di alam manusia, asura adalah makhluk yang memiliki berkah namun tak memiliki kebajikan. Asura yang tak memiliki berkah maupun kebajikan terlahir di alam neraka, alam binatang, dan alam setan kelaparan.
Yang dikhawatirkan adalah kalau di enam alam kekuatan asura sangat besar dan tak hentinya mencemari batin kita. Di alam manusia, ada orang yang memiliki berkah, namun lengah dalam menjalani hidupnya, penuh dengan ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Mereka hanya bisa menikmati berkah, namun tak mengerti menciptakan berkah. Batin mereka dipenuhi noda. Asura telah menguasai hakikat diri mereka yang murni dan bajik.
Sifat hakiki yang murni dan bajik ini sering kali muncul namun tertutup kembali. Banyak orang berkata, “Saya tahu saya bersalah.” “Saya ingin segera berubah sekarang.”Namun, keinginan untuk berubah ini, dengan cepat akan kembali tenggelam.
Hal ini sungguh menakutkan. Asura yang berada dalam batin kita memiliki kekuatan yang besar. Untuk berubah, kita harus gigih. Apa yang dimaksud ”berubah”? Berubah berarti menyesal atau bertobat. Kita harus bertobat. Jika tidak, waktu berlalu dengan cepat, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Hidup dalam kegelapan batin ini sungguh merupakan penderitaan yang tak terkira. Oleh karena itu, kita harus bertobat untuk membersihkan diri dari ketidaktahuan.
Kita pun harus menaklukkan pikiran kita sendiri. Ketidaktahuan dan kegelapan batin, asura dan kekuatan Mara, menimbulkan masalah dalam batin kita. Karenanya, kita harus bertobat.Barulah kita dapat meluruskan pandangan.
Dengan pikiran yang penuh cinta dan welas asih, Buddha mengajarkan metode pertobatan. Jadi, tujuan Buddha membabarkan Dharma tak lain adalah agar kita melangkah di jalan yang suci dan terang. Jalan yang suci dan terang ini merupakan hakikat diri setiap orang. Sifat kita dapat disucikan.
Dengan menyucikan batin, berarti kita terus melenyapkan kegelapan batin hingga semakin dekat dengan hakikat diri kita yang terang, yang tak ternoda – hakikat kebuddhaan yang sama dengan Buddha. Untuk itu, dalam melatih diri, kita harus memiliki hati yang bertobat. Dengan pikiran yang penuh cinta dan welas asih, Buddha mengajarkan metode pertobatan. Jika semua makhluk dapat memurnikan pikiran, bertobat sepenuh hati dan melakukan kebajikan, karma buruk yang terakumulasi tak lagi efektif. Kita adalah manusia yang belum tercerahkan. Siapa yang belum pernah berbuat salah? Siapa yang tak pernah berpikir menyimpang? Siapa yang lahir dengan kebijaksanaan sempurna dan memahami kebenaran akan segala hal?
Tiada orang yang tak pernah berbuat salah. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Karenanya, kita harus bertobat dan mengingatkan diri sendiri, serta meluruskan arah hidup kita. Jika tidak demikian, bagaimana kita dapat membimbing orang lain? Untuk itu, kita harus bertekad dan bertobat dengan sungguh-sungguh.
Bagaikan air yang membersihkan kotoran pada tubuh, membersihkan noda pada pakaian, dan membersihkan kotoran pada benda-benda, demikianlah Dharma menyucikan pikiran. Pertobatan dapat diumpamakan sebagai air. Ketika kita melantunkan Amitartha Sutra, di sana tertulis bahwa air dapat mencuci bersih segala noda. Baik air sumur maupun air sungai, asalkan itu air, ia dapat membersihkan segala noda. Segala benda materi di dunia ini memerlukan air untuk membersihkannya. Bagaimana dengan manusia? Setiap orang harus menjaga lahan batinnya.
Di dalam hati, kita pun memiliki sumber air yang murni, hanya saja kita tak tahu cara menggunakannya.
“Wahai putra berbudi, Dharma bagaikan air yang dapat mencuci noda.”
“Baik air sumur, air kolam, air sungai, maupun air laut, semua dapat membersihkan kotoran.”
“Demikian pula dengan air Dharma, dapat membersihkan noda batin semua makhluk.”
Apakah yang dimaksud dengan air murni ini? Dharma.
Dharma adalah air bagi lahan batin. Dari manakah air ini berasal? Sama halnya dengan lahan di bumi ini.
Terkadang kita khawatir akan kekurangan air bila hujan tak kunjung turun. Jika hujan tak kunjung turun, tumbuhan di bumi akan layu mengering. Hujan turun dari langit. Semua orang berpikir demikian. Sesungguhnya, sumber air ada di bumi. Hanya saja kita tak menggalinya, sehingga belum menemukannya.
“Wahai putra berbudi, hakikat air adalah satu, namun air sungai, air sumur, dan air laut tetap berbeda satu sama lain.”
“Demikian pula dengan hakikat Dharma, dapat membersihkan noda batin tanpa perbedaan, namun Tiga Dharma dan Empat Buah Pencapaian, tetap berbeda dan tidaklah sama.”
Orang yang hidup di daerah yang tidak mempunyai sungai, dan jauh dari sumber air lainnya, dapat menggali sumur dan mengambil air dari dalam tanah. Sebenarnya, di dalam tanah ada aliran air alami. Jika Anda dapat menemukan aliran ini, setelah digali tak begitu dalam, air pun akan mengalir keluar. Jika kita tak menemukan jalur aliran air ini, kita mungkin perlu menggali lebih dalam untuk menemukan sumber air.
Jika kita menemukan air, semua benda bisa dibersihkan. Jika dalam batin kita terdapat Dharma, batin kita pun dapat menjadi suci. Tiada yang dapat hidup tanpa air di dunia. Segala kehidupan bergantung pada air.
Namun, daripada mengandalkan air hujan, lebih baik menggali sumur dalam tanah. Demikian pula lahan batin, dibutuhkan keberanian untuk menggalinya, agar menemukan sumber air Dharma, sehingga kehidupan menjadi tenteram dan bahagia. Semuanya mungkin masih ingatkita pernah membahas bahwa saat Tzu Chi pertama kali berencana membangun rumah sakit, Profesor Chen sangat memerhatikan saya. Saat saya menggagas pembangunan rumah sakit, Tzu Chi telah berjalan selama 10 tahun.
Kita melihat orang-orang yang dibantu Tzu Chi bukan hanya hidup dalam keterbatasan, tetapi juga banyak yang menderita penyakit. Dari sana saya melihat bahwa penyakit adalah hal yang paling membuat orang menderita. Keduanya, menjadi sakit karena miskin maupun menjadi miskin karena sakit, adalah penderitaan yang sungguh tak terlukiskan. Bantuan pengobatan menjadi satu-satunya harapan.
Saat itu, baksos pengobatan sudah sering diadakan, tetapi itu bukan jalan keluar yang tuntas. Saya pun berharap bantuan Tzu Chi bagi mereka yang menderita sakit dapat terus berlanjut dalam jangka panjang.
Jadi, terpikirkan oleh saya sebuah cara yang dapat menolong orang secara tuntas serta memungkinkan cinta kasih senantiasa mengalir. Karena itu, saya ingin membangun rumah sakit. Menggali sumur demi semua makhluk. Demi jiwa kebijaksanaan (Prajna-jiva) semua makhluk, demi kebahagiaan masyarakat, misi Tzu Chi berlanjut dari amal ke pengobatan.
Profesor Chen ini sangat memerhatikan saya. Ia berkata kepada saya, “Master, kabarnya Anda ingin membangun rumah sakit.”
“Meskipun membangun rumah sakit itu baik, namun saya menyarankan Anda tidak melakukannya.” Saya bertanya,“Mengapa?” Ia menjawab, “Kondisi kesehatan Anda tidak begitu baik.” “Perhatikan kesehatan Anda.” “Jangan menambah beban yang lebih berat.” “Banyak orang masih membutuhkan Anda.” “Membangun rumah sakit butuh kerja keras dan bukanlah hal yang mudah.” “Jangan lagi menambah beban diri Anda.” “Membangun rumah sakit sangatlah sulit.”
Saya pun berkata kepadanya, “Profesor Chen, saya memahami perhatian Anda.” “Saya tahu, ingin membangun rumah sakit berarti saya melampaui kemampuan diri sendiri.” “Namun, saya rasa justru karena banyak orang yang membutuhkan, maka saya harus mencari jalan bagi mereka.”
“Kini, meski banyak dermawan yang penuh cinta kasih, menyumbangkan dananya setiap bulan, tetapi saya melihat lebih banyak lagi orang yang perlu ditolong. “Mari ambil contoh sebuah kolam.” “Saya bisa menggunakan batu bata dan semen untuk membangun kolam agar dapat menampung air.”
“Orang yang membutuhkan air sangat banyak, sedangkan kolam ini bergantung pada tetes demi tetes air yang mengalir ke sana.” Jika suatu saat air berhenti mengalir ke sana, mereka yang membutuhkan tak bisa terbantu.”
Karenanya, saya memutuskan untuk mengalihkan sumber daya pembangunan kolam ini untuk menggali sebuah sumur dengan harapan air sumur ini terus mengalir dari sumber mata airnya, sehingga mereka yang membutuhkan bisa terbantu. Jadi, saya telah memutuskan untuk menjadi penggali sumur.
Ini terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan membangun rumah sakit. Setiap orang mampu menjadi penggali sumur, setiap orang dapat mencurahkan cinta kasih, dan memberi kebahagiaan bagi orang lain. Untuk menemukan air, galilah ke dalam tanah. Untuk melihat Dharma, galilah ke dalam batin. Dharma adalah sebuah cara. Bagaimana cara menyucikan hati manusia dan membuat mereka semakin mengerti bahwa ada banyak cara untuk berbuat kebajikan?
Selain membantu orang dengan misi amal, bisa juga menolong orang melalui misi pengobatan. Ini agar semua orang punya lebih banyak kesempatan untuk berkumpul dan kekuatan yang terhimpun bisa lebih besar. Dunia ini membutuhkan air, namun yang terpenting, batin kita lebih membutuhkan air, air yang dapat membersihkan kekotoran batin, serta membebaskan kita dari kegelapan batin.
Tentu saja, untuk menemukan air dengan cara ini diperlukan kebijaksanaan Buddha. Untuk itu, kita harus bertobat. Dengan pikiran yang penuh cinta dan welas asih, Buddha mengajarkan metode pertobatan. Jika semua makhluk dapat memurnikan pikiran, bertobat sepenuh hati dan melakukan kebajikan, karma buruk yang terakumulasi tak lagi efektif. Bagaikan air yang membersihkan kotoran pada tubuh, membersihkan noda pada pakaian, dan membersihkan kotoran pada benda-benda, demikianlah Dharma menyucikan pikiran.
Setiap orang hendaknya menyadari bahwa hari demi hari terus berlalu, tahun demi tahun terus berganti, bulan demi bulan terus berjalan. Bulan purnama adalah awal bagi bulan untuk kembali menjadi bulan sabit. Bulan sabit adalah awal bagi bulan untuk kembali menjadi bulan purnama. Saudara sekalian, manusia pun demikian. Usia kehidupan manusia memiliki batas. Setelah satu masa kehidupan berakhir, ke manakah kita akan pergi?
Kita terus mengembara di enam alam kehidupan. Kapankah kita dapat terbebas dari lingkaran ini? Saat ketika kita dapat bebas datang dan pergi, serta dapat memilih alam tujuan kita. Tentu saja, untuk itu kita harus membangkitkan kebijaksanaan dari hakikat sejati kita.
Untuk itu, semua hendaknya bersungguh-sungguh. Kita harus menghadapi setiap hari dengan hati yang penuh pertobatan. Jadi, mulai besok, kita akan membahas metode pertobatan. Mari kita senantiasa bersungguh-sungguh.