Sanubari Teduh

[ST-002] Melatih Bathin Melalui Pertobatan Serta Kembali Pada Kebenaran

Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, yang terpenting adalah merangkul semua makhluk dan memahami kebenaran.

Kita harus memahami bahwa makhluk hidup dan bukan makhluk hidup adalah satu kesatuan. Kita harus memahami kebenaran dan tidak tersesat. Inilah yang terpenting dalam melatih diri. Merangkul semua “makhluk”, mencakup makhluk hidup maupun bukan. Memahami “kebenaran”, yaitu segala kebenaran yang berlaku di alam semesta. Jika kita dapat memahami kebenaran, kita tak akan disesatkan oleh hal apa pun.

Jika dapat merangkul semua makhluk, hati kita akan lebih terbuka dan berpengertian. Hati yang terbuka dapat menerima segala hal. Dengan adanya pengertian, kita tak akan memiliki pandangan yang salah. Saya sering mengatakan, “Lapangkanlah hati seluas jagat raya.” Bukankah itu sama dengan uraian saya sebelumnya? Ketika orang awam terbuai perasaan cinta, mereka menjadi buta akan kebenaran. Mereka menjadi buta akan kebenaran, yang berarti tak dapat melihat kebenaran dan diliputi kegelapan batin.

Ketika terbuai asmara, cinta manusia menyimpang dari kebenaran. Makhluk awam kerap terbuai asmara yang menyebabkan bertambahnya kegelapan batin. Demi kepentingan pribadi, lalu memutarbalikkan kebenaran dan tak dapat membedakan benar atau salah, sehingga mengganggu keharmonisan masyarakat.

Mengeksploitasi sumber daya alam, tanpa memahami bahwa kehidupan kita bergantung pada semua yang ada di dunia dan membutuhkan keharmonisan masyarakat. Mengapa makhluk hidup maupun bukan dikatakan sebagai satu kesatuan? Karena manusia bergantung pada segala sesuatu. Siapa yang tak bergantung pada bumi untuk hidup? Setiap manusia membawa buah karma pendukung yang menentukan di mana ia akan tinggal. yang menentukan di mana ia akan tinggal.

Semua ini bergantung pada karma yang dibawanya. Benda mati (bukan makhluk hidup) adalah segala materi seperti rumput, kayu, hasil tambang, tanah, dan sebagainya. Makhluk hidup adalah makhluk-makhluk yang terlahir di enam alam kehidupan. Dunia terbentuk diawali dari benda mati, diikuti lahirnya makhluk hidup sesuai karmanya. Seringkali dikatakan, “Tidak ada yang bisa dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” Karma di sini berarti buah karma. Buah karma adalah sesuatu yang menggentarkan, kita tak dapat menghindarinya.

Semua makhluk terlahir karena karmanya. Buah karma pendukung adalah buah karma yang menentukan di mana kita lahir. Kadangkala, terlintas pikiran bahwa kita sungguh beruntung. Terlahir di Taiwan, kita menikmati cuaca yang bersahabat setiap haridan memiliki sumber daya alam berlimpah. Inilah buah karma penopang kita, karma yang menyebabkan kita dapat lahir dan tinggal di sini. Tetapi, setelah menetap di sini, apakah semua orang memiliki kehidupan yang sama? Tidak.

Semua ini bergantung pada buah karma utama. Ada yang hidup berlimpah, ada yang kekurangan. Ada yang baik, jahat, bijaksana, bodoh. Semua ini adalah buah karma utama, Semua ini bergantung pada buah karma utama, bergantung pada karma yang kita bawa dan kondisi lingkungan tempat tinggal, serta orang-orang yang berjodoh dengan kita. Semua ini memengaruhi pandangan kita dalam berinteraksi dengan sesama.

Semua ini sangatlah rumit. Kita masih orang awam yang belum tercerahkan, sehingga masih banyak diliputi noda batin. “Makhluk hidup” di dalam ajaran Buddha merujuk pada semua makhluk di dunia yang memiliki kesadaran, dapat juga hanya merujuk pada “manusia”. Dengan adanya noda batin, penderitaan pun muncul. Noda batin dapat berupa ketamakan, dapat berupa kebencian, dapat berupa kebodohan, dapat berupa keraguan, dapat berupa kesombongan.

Semua noda ini terus timbul dalam batin semua makhluk. Karenanya, dalam hubungan antarsesama, sulit dihindari adanya dendam, benci, cinta, perpisahan, pertemuan, lahir, tua, sakit, mati. Dengan keterikatan kepada lima agregat, penderitaan yang dialami sungguh tak terlukiskan. Karenanya, kita terus-menerus menciptakan karma, bagaikan guliran bola salju yang terus membesar.

Semakin banyak karma buruk yang kita ciptakan, semakin bertambah jalinan jodoh buruk. Ketika timbul perselisihan antarmanusia, rasa dendam berkepanjangan akan timbul, krisis dan bencana besar pun akan datang. Inilah bagaimana cara manusia merusak bumi.

Banyak orang bertanya, “Dari mana manusia berasal?” Manusia tidak datang dari langit, bukan pula muncul dari dalam tanah. Semua makhluk ada karena kemelekatan pada nafsu dan juga akibat kekuatan karmanya sendiri, sehingga terlahir di dunia ini. Karenanya, dunia Saha juga disebut dunia makhluk hidup. Kita harus berdoa dengan tulus. Semoga suara hati kita dapat menjangkau para Buddha. Karena telah membuat karma buruk di masa lampau, kita harus segera mengubah diri.

Melihat banyaknya penderitaan di dunia, kita hendaknya dapat segera mengubah diri dan segera mengembangkan welas asih yang merasakan penderitaan makhluk lain. Perasaan ini bukanlah perasaan yang egois. Jika kita memiliki nafsu, cinta, dan perasaan yang egois, noda batin akan terus muncul dan kegelapan batin kita akan semakin tebal. Noda batin ini akan terbawa pada kehidupan selanjutnya bersama dengan benih karma buruk kita.

Karenanya, kita harus bertobat, mengasihi semua makhluk, serta memahami bahwa segala sesuatu di dunia, baik yang hidup maupun bukan adalah satu kesatuan. Apa yang dimaksud dengan satu kesatuan ini? Tentu sangat panjang jika dijelaskan.

Semuanya tak lepas dari unsur tanah, air, api, dan angin. Makhluk hidup dan segala sesuatu di alam semesta, semuanya akan tumbuh berkembang. Kita harus bergantung pada semua itu untuk bertahan hidup. Karenanya, selain mengasihi sesama manusia, kita harus menyayangi segala hal.

Untuk itu, para relawan daur ulang Tzu Chi berkata bahwa melakukan daur ulang merupakan cara menghargai berkah. Kita membuat sesuatu menjadi berguna kembali. Inilah cara menyayangi segala sesuatu. Jika kita dapat memahami bahwa segala sesuatu di dunia adalah satu kesatuan, cinta kasih yang kita miliki akan semakin luas, sehingga dapat mengasihi semua orang. Dengan demikian, konflik tak akan terjadi.

Jika kita dapat memahami kebenaran ini, hati kita tak akan diliputi kegelapan. Karena itu, memahami kebenaran amatlah penting. Ada orang yang berkata, “Saya sudah berbuat baik dan melatih diri, “Saya sudah berbuat baik dan melatih diri, tapi kenapa saya terus menerima buah karma buruk?”

Sesungguhnya, jika tidak mencabut akar karmanya, Anda belum dapat terbebas dari karma buruk. Setiap orang harus senantiasa bertobat, barulah moralitas dan kebajikannya terus tumbuh. Saya sering menyinggung soal pertobatan. Kita harus bertobat dengan menyeluruh dan mendalam hingga pada hal yang paling kecil sekalipun. Saya sering berkata kita harus merendahkan hati.

Jangan berpikir kita telah berbuat banyak. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita masih memiliki karma buruk dan noda batin halus yang belum dilenyapkan. Perilaku kita mungkin sudah berubah, namun benih noda batin kita belum tercabut. namun benih noda batin kita belum tercabut. Untuk mencabut benih noda batin, jalan utama yang sesungguhnya adalah bertobat dengan tulus, melenyapkan tabiat dan pikiran buruk secara tuntas.

 

Bhiksu Wu Da hidup pada masa dinasti Tang. Ketika belajar sambil mengembaradi masa mudanya, di sebuah vihara ia bertemu seorang bhiksu yang tak dikenal. Bhiksu ini menderita penyakit berat, Seluruh tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap dan juga sangat kotor. Entah penyakit apa yang dideritanya.

Karena tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap, banyak orang menghindar dan tak mengacuhkannya. Di masa muda, nama Dharma Bhiksu Wu Da adalah Zhi Xuan. Setiap bhiksu/bhiksuni memiliki 2 nama Dharma. Nama Dharma lainnya adalah Zhi Xuan. Ia adalah seorang bhiksu muda yang datang ke vihara itu. Kebetulan ia tinggal di sebelah bhiksu sakit ini. Melihat bhiksu yang sakit ini, ia merasa tak sampai hati sehingga ia pun merawatnya dengan penuh kasih. Dirawatnya hingga penyakitnya membaik dan akhirnya sembuh.

Selama selang waktu ini, bhiksu yang sakit ini sangat berterima kasih. Ketika Bhiksu Zhi Xuan akan pergi, bhiksu yang sakit ini berkata kepadanya, “Terima kasih karena engkau telah merawatku selama ini, sehingga aku sehat kembali.” “Terima kasih.” “Aku tak bisa membalas semua ini.” “Tetapi, sekarang kita akan berpisah, kelak jika engkau menemui kesulitan dan tak dapat mengatasinya, datanglah mencariku di Gunung Jiulong, Kerajaan Shu.” “Engkau dapat menemuiku di tempat dua batang pohon pinus berdiri.” “Jika Engkau menemui kesulitan, datanglah mencariku.” Mereka pun berpisah. Waktu pun berlalu, tak terasa masa yang dilalui amat panjang. Bhiksu muda Zhi Xuan senantiasa giat berlatih, memahami kebenaran dalam Tripitaka dan memegang teguh sila vinaya.

Ia akhirnya menjadi kepala Vihara An Guo dan menjadi guru besar dalam Sangha. Karena moralitas dan kebajikannya yang luhur, namanya semakin termasyhur, dan kaisar pun mengangkatnya  menjadi guru Dharma kerajaan. Setiap kali beliau membabarkan Dharma, Kaisar Yi Zong pasti selalu hadir dan sangat menaruh hormat padanya. Suatu ketika, Kaisar Yi Zong demi menunjukkan rasa hormatnya kepada sang guru Dharma, menghadiahkan Bhiksu Wu Da sebuah singgasana yang terbuat dari kayu cendana. Singgasana Dharma ini dibuat sangat tinggi, karena untuk membabarkan Dharma diperlukan tempat duduk yang tinggi.

Jadi, kaisar menghadiahkannya singgasana ini. Kayu cendana sangatlah mahal dan berharga. Seperti diketahui, jika kita bicara soal kayu cendana dan ingin membelinya, mungkin kita harus berhitung terlebih dahulu. Kaisar Yi Zong menggunakan bahan berharga ini untuk membuat sebuah singgasana Dharma.

Kaisar Yi Zong menggunakan bahan yang paling berharga untuk memberi persembahan kepada Bhiksu Wu Da. Ini menunjukkan rasa hormat kaisar kepadanya. Bhiksu Wu Da pun menaiki singgasana dengan perasaan amat gembira. Kaisar Yi Zong sendiri pun hadir pada saat itu. Saat itu, Kaisar Yi Zong juga hadir di sana. Karena di dalam hati Bhiksu Wu Da timbul rasa gembira yang berlebihan, kakinya pun membentur singgasana tersebut. kakinya pun membentur singgasana tersebut.

Mulanya, lututnya hanya menderita sedikit memar yang tak lebih besar dari sebutir mutiara. yang tak lebih besar dari sebutir mutiara. Namun luka itu perlahan-lahan membengkak dan kemudian mulai bernanah hingga kulitnya terkelupas.

Kaisar Yi Zong mengundang banyak tabib negara demi menyembuhkan bhiksu Wu Da, namun tak berhasil. Bahkan kaisar sampai mengeluarkan pengumuman, tetapi tiada tabib di negeri itu yang mampu. Luka ini semakin lama semakin parah dan menjadi sebesar mangkuk, Bentuknya menyerupai kepala manusia, memiliki hidung dan mulut.

Bahkan kemudian, mulut itu harus diberi makan. Luka ini kemudian disebut “luka wajah manusia”, sungguh mirip dengan wajah manusia dan bisa membuka mulut untuk makan. Sakitnya sungguh menyiksa. Para tabib terkemuka dari seluruh negeri sudah tak berdaya mengobati Bhiksu Wu Da. Pada saat itu, Bhiksu Wu Da tiba-tiba teringat ketika masih muda, ia pernah merawat seorang bhiksu yang sakit.

Ketika akan berpisah, sang bhiksu pernah berpesan padanya bahwa jika kelak ia menemui kesulitan yang tak dapat diatasi, ia dapat mencari bhiksu itu. Bhiksu Wu Da pun berpikir, “Mungkin bhiksu ini adalah orang yang akan menyelamatkan hidup saya.” Untuk itu, ia menempuh perjalanan ke Gunung Jiulong di Kerajaan Shu dan memutuskan untuk mencari bhiksu itu.

Setibanya di sana, Gunung Jiulong ternyata amat besar dan luas. Ke manakah ia harus mencari? Ia pun teringat tentang 2 batang pohon pinus. Ternyata ia benar-benar menemukan kedua pohon itu dan merasa sangat gembira. Meski melangkah dengan susah payah dan dengan rasa sakit yang menusuk tulang, ia tetap berjalan.

Di sana, akhirnya ia melihat sebuah vihara yang sangat indah dan agung di antara kedua batang pohon pinus. Di depan pintu, terlihat bhiksu yang dulu. Kini, ia telah sehat, berdiri di muka vihara menyambut Bhiksu Wu Da. Ia pun bertanya, “Ada masalah yang memerlukan bantuanku?” Bhiksu Wu Da menjawab, “Lihatlah,  aku menderita “luka wajah manusia”. “Para tabib sudah tak berdaya mengobatiku.” “Karenanya, aku teringat pesanmu padaku.” “Hari ini saya datang memohon bantuanmu.” Bhiksu ini pun berkata kepadanya, “Jangan cemas, itu mudah.” “Sekarang hari telah gelap, bermalamlah di sini.” “Besok saya akan meminta orang untuk membawamu mencuci lukamu hingga sembuh.” Bhiksu Wu Da pun merasa tenang.

Pagi keesokan harinya, seorang sramanera kecil membawa Bhiksu Wu Da ke tepi sebuah tebing di mana air mengalir. Di sana terdapat sebuah kolam berair jernih. Sramanera ini berkata kepadanya, “Cucilah kakimu dengan air ini, lukamu akan segera sembuh.” Bhiksu Wu Da pun sangat gembira. Ketika akan membungkukkan tubuh untuk mengambil air, tiba-tiba ia mendengar suara.

Suara ini seperti sebuah halusinasi, namun terdengar sangat jelas. Suara itu berkata, “Jangan dicuci dulu.” Bhiksu Wu Da pun berhenti. Suara itu kembali berkata, “Dengarkan dahulu perkataan saya, dengan demikian dendam kita akan berakhir.” Ada dendam apa di antara mereka? Suara ini seakan berasal dari luka itu. Suara itu berkata, “Engkau telah membaca banyak kitab dan memahami banyak pengetahuan.” “Kau tentu tahu kisah Yuan Ang dan Chao Cuo.” “Tentu, aku tahu.” “Kisah ini sudah terjadi lama sekali.” “Memang, sudah lama sekali.” “Dahulu, engkau adalah Yuan Ang dan aku adalah Chao Cuo.”

“Tahukah engkau, rasa dendam ketika Chao Cuo dibunuh?” “Dapatkah engkau mengingatnya?” Bhiksu Wu Da pun mencoba mengingatnya.

Ya, dalam catatan kitab kuno ada tertulis bagaimana Yuan Ang mengelabui Chao Cuo dan memenggalnya di Kota Timur. Kepala Chao Cuo terus menggelinding hingga membentur sebuah batu sehingga batu itu terpental. Mulutnya pun tetap terbuka. Karena pada saat akan dieksekusi, Chao Cuo menyimpan dendam yang dalam dan ingin berteriak mengeluarkan makian.

Saat baru akan membuka mulut, pisau tengah ditebaskan ke kepalanya. Itu terjadi secara bersamaan. Kepalanya pun terus menggelinding hingga membentur sebuah batu, sehingga batu itu masuk ke mulutnya. Dan batu itu pun hancur berkeping-keping. Rasa dendam dan kebenciannya begitu besar. Karenanya, ia terus menaruh dendam pada Yuan Ang dan bersumpah untuk membalas dendam.

Namun, selama 10 kehidupan Yuan Ang adalah bhiksu, karena setelah mengeksekusi Chao Cuo, Yuan Ang melepaskan jabatan dan melatih diri. Ia menjadi bhiksu agung di beberapa kehidupan. Ia menjadi bhiksu selama 10 kehidupan. Di setiap kehidupan, ia memegang teguh sila sehingga tiada kesempatan bagi musuhnya untuk membalas dendam. Suara ini pun berkata, “Saya telah mengikutimu selama 10 kehidupan.” “Karena engkau menjalankan sila dengan teguh, aku pun tak dapat membalas dendam.” “Di kehidupan ini, karena kelalaian kecilmu, aku baru berkesempatan membalas dendam.” “Pikiranmu yang tak murni membuka kesempatan bagi karma buruk untuk berbuah.” “Karena menerima penghormatan dari kaisar, timbul kesombongan dalam hatimu.”

“Ketika kesombongan ini muncul, karma buruk pun berkesempatan untuk berbuah.” “Karenanya, aku dapat membalas dendam.” “Kini, aku telah menerima air Samadhi dari Yang Arya Kanaka, maka mulai hari ini, berkat air Samadhi dari Yang Arya Kanaka, belenggu pikiranku telah terlepas.” “Aku pun mulai hari ini melepaskan dendam kesumat di antara kita.” “Aku berterima kasih atas air Samadhi pemberian Yang Arya Kanaka.”

Setelah suara itu selesai berbicara, Bhiksu Wu Da seolah-olah terbangun dari mimpi. Ia pun mengambil air untuk mencuci lukanya. Rasa sakit lalu membuatnya tak sadarkan diri. Setelah sadar kembali, “luka wajah manusia” itu telah lenyap. Ia sangat bersyukur dan ingin segera kembali untuk berterima kasih kepada Yang Arya Kanaka. Namun, vihara itu tak dapat lagi ditemukan.

Sejak saat itu, Bhiksu Wu Da tak pernah meninggalkan tempat itu Ia mendirikan pondok untuk melatih diri dan menulis Syair Pertobatan Air Samadhi.

Saudara sekalian, bhiksu agung dalam 10 kehidupan pun masih menerima buah karma buruk, apalagi kita. Kita sering kali mendengar orang berkata, “Saya sudah paham, saya akan berubah.” Mereka mungkin berubah dalam perbuatannya, namun dalam pikirannya belum tentu berubah. Setiap tindakan, setiap pikiran yang timbul, semuanya menciptakan karma. Karma pasti akan berbuah. Jika kita tak membuka hati dan  memahami kebenaran, maka karma tak akan lenyap

Sebagai praktisi Buddhis, kita harus paham, setelah karma buruk berbuah, ia akan lenyap. Kita hendaknya menerima dengan ikhlas dan sukacita.Meskipun menderita, batin kita hendaknya tetap merasakan sukacita dan penuh rasa syukur. Semoga semua orang menjaga pikirannya. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus membuka hati dan memahami kebenaran. Dengan membuka hati, kita dapat memahami kesalingterkaitan semua hal di dunia.

Dengan memahami kebenaran, pikiran kita tak akan lagi diliputi kegelapan. Jadi, untuk memiliki kemurnian tubuh dan batin, kita harus membuka hati dan memahami kebenaran. Untuk itu, kita harus lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

MPO88ASIA

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888