Sanubari Teduh

[ST-003] Banyak Bertobat Kala Hidup di Masa Lima Kekeruhan

Saudara se-Dharma sekalian, waktu demikian cepat berlalu. Karenanya, kita harus memanfaatkan setiap waktu yang ada. Setiap saat, kita harus terus melatih diri karena dalam kehidupan ini kita telah memilih jalan pelatihan diri.

Melatih batin, tabiat, dan perilaku yang pantas. Kita harus menjaga pikiran dengan baik. Dengan senantiasa meningkatkan kesadaran, kita mampu membuka hati dan memahami kebenaran. Pikiran dapat membawa kita mencapai kebuddhaan atau membuat kita terus terlahir di enam alam tanpa memperoleh kedamaian. Jadi, inti melatih diri adalah pikiran. Praktisi Buddhis seharusnya memahami bahwa Buddha datang ke dunia demi semua makhluk yang menderita.

Beliau membabarkan kebenaran dari segala sesuatu di alam semesta pada kita agar kita dapat memahami kebenaran tentang penderitaan, kekosongan, dan ketidakkekalan. Penderitaan berasal dari karma kolektif. Semua makhluk menciptakan banyak karma buruk yang membawa kekeruhan bagi dunia. Dunia Saha tempat kita tinggal, dalam Sutra disebut dunia dengan lima kekeruhan.

Lima kekeruhan ini yaitu kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, noda batin, kekeruhan makhluk hidup, dan usia.

Kekeruhan usia, kekeruhan makhluk hidup, kekeruhan pandangan, kekeruhan noda batin, dan kekeruhan kalpa. Kita saat ini hidup di era kekeruhan kalpa.

Pada masa ini, kehidupan manusia tengah terancam. Di mana-mana terdapat ancaman bagi manusia. Banyak hal yang mengancam keselamatan manusia dan juga tragedi menyedihkan yang terjadi di zaman ini.

Di tempat tragedi itu terjadi, kehidupan manusia menjadi tak menentu, tidak pasti apakah bisa melewati satu hari. Sungguh tidak kekal. Ini juga adalah bencana akibat manusia. Di masa kalpa menyusut ini, kelaparan, wabah penyakit, peperangan, dll terjadi; sandang, pangan, dan kebutuhan lain semakin langka. Inilah yang disebut kekeruhan kalpa. Di masa ini noda batin makhluk hidup semakin tebal, tubuh dan batin semakin rapuh, karenanya rentang usia semakin berkurang.

Inilah yang disebut kekeruhan usia. Kekeruhan atau menurunnya rentang usia hidup disebabkan oleh pertikaian yang terjadi antarmanusia. Ini karena manusia tak memahami kebenaran. Jika memahami kebenaran, dengan sendirinya kita akan menyadari kalau semuanya saling terkait, dan sifat welas asih pun akan timbul.

Banyak orang tak memahami bahwa segala sesuatu baik makhluk hidup maupun bukan, hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan, karena sebagai makhluk hidup, kita harus bergantung pada semua makhluk dan  materi di alam semesta agar dapat bertahan hidup. Karena tidak memahami ini, manusia lalu ingin merebut apa yang dimiliki orang lain dan selalu ingin lebih kaya dari orang lain.

Oleh sebab itu, lahirlah konflik. Makhluk hidup di masa akhir Dharma memiliki pandangan keliru, pandangan salahnya semakin dalam, dan tidak memahami jalan kebajikan untuk berlatih. Inilah yang disebut kekeruhan pandangan. Saat pikiran semua makhluk menjadi keruh, mereka dapat menghalalkan segala cara. Segala sesuatu di dunia ini seharusnya milik bersama semua makhluk. Namun, bila ingin menguasai dan memiliki hak penuh atasnya, kita akan menjadi penjajah. Di satu sisi kita ingin memperoleh, di sisi lain kita tak ingin kehilangan. Ini tak sesuai dengan prinsip kebenaran. Karenanya, peperangan dapat timbul.

 

 

Inilah yang disebut kekeruhan pandangan. Karena pandangan yang berbeda, konflik timbul. Keenam indra mengalami kontak dengan objek luar sehingga menimbulkan noda ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan; inilah yang disebut kekeruhan noda batin. Kekeruhan noda batin berawal dari ketamakan, kebencian, kebodohan. Tanpa ketiga hal tersebut, bagaimana kita bisa berpandangan keliru?

Jika bukan karena pandangan yang keliru, bagaimana perseteruan dapat terjadi? Jika bukan karena perseteruan, bagaimana kehidupan bisa terancam? Jadi, gabungan dari keempat kekeruhan ini menyebabkan zaman ini diliputi kekeruhan, hingga zaman ini disebut masa kekeruhan kalpa.

Oleh karena itulah, kekacauan dan bencana kerap terjadi. Lima kekeruhan ini dengan sendirinya akan menimbulkan 3 bencana. Dalam Sutra Buddhis dibahas mengenai “tiga bencana besar” dan “tiga bencana kecil”. Tiga bencana kecil merujuk pada kelaparan, wabah penyakit, dan peperangan di dunia.

Tiga bencana besar adalah bencana alam akibat angin, air, dan api. Makhluk hidup di masa ini diliputi kekeruhan, sehingga menimbulkan banyak bencana yang terus terjadi secara bersamaan. Hal ini sungguh membuat kita cemas. Apa yang dapat kita lakukan? Tentu kita harus berusaha semaksimal mungkin karena semua makhluk memiliki karma kolektif. Kekeruhan yang diciptakan bersama dari karma buruk yang terhimpun dapat membawa tiga bencana besar yang mengakibatkan bencana terus terjadi.

Karena kekeruhan membawa banyak bencana, kita harus membawa aliran yang jernih untuk menyucikan hati manusia. Oleh karena itu, saat mendirikan Tzu Chi, saya bermaksud menjadikannya lahan untuk melatih welas asih. “Tzu” berarti memberi kebahagiaan. Di masa ini, di kalpa ini, di zaman ini, kita tahu makhluk hidup diliputi noda batin. Karenanya, kita harus membangkitkan welas asih dalam diri semua orang supaya mereka dapat menyadari berkah dan juga menghargai berkah.

Kita harus terjun ke tengah masyarakat untuk dapat melenyapkan pandangan keliru, sehingga semua makhluk dapat hidup harmonis dan menghargai kehidupan. Coba bayangkan, bukankah ladang pelatihan ini merupakan cara pemurnian di tengah lima kekeruhan? Jadi, kekeruhan harus dimurnikan dengan aliran yang jernih. Dengan demikian, barulah bencana akan lenyap.

Oleh karena itu, saya berharap semua bisa lebih memahami Tzu Chi. Selain bekerja, kita harus lebih memahami kebenaran dan belajar untuk bertobat, sehingga baru bisa berjalan di Jalan Bodhisattva. Untuk berjalan di Jalan Bodhisattva, kita harus terlebih dahulu bertobat atas segala karma buruk dimulai sejak hari ini juga. Kita sering mendengar orang berkata, “Terima kasih Master telah mendirikan ladang pelatihan Tzu Chi, sehingga dapat mengubah cara pandang saya dan menolong keluarga kami.” Saudara sekalian, bukankah kita sering mendengar ungkapan seperti itu? Itu karena insan Tzu Chi saling menginspirasi dan saling membimbing.

Kata “Tzu” berarti kebahagiaan. Membuat setiap orang menyadari berkah, menghargai berkah, dan sekaligus menciptakan berkah juga adalah makna dari “Tzu” (cinta kasih). Welas asih berarti menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan. Ada orang yang menderita dalam batinnya, ada pula yang menderita dari segi materi. Jika dapat membangkitkan welas asih, kita akan memiliki kekuatan yang tak terbatas untuk melenyapkan segala penderitaan mereka. Inilah yang dimaksud “Chi” (menolong). “Chi” (menolong) berarti welas asih.

Dimulai dari Hualien, kini insan Tzu Chi telah tersebar di seluruh dunia, mengembangkan dan membangkitkan cinta kasih, serta menghimpun kekuatan  menolong yang menderita. Banyak kisah yang membangkitkan rasa syukur.

Setiap kisah merupakan bahan pendidikan bagi kehidupan. Inilah ladang pelatihan diri. (Tzu)- memiliki cinta dan welas asih di hati, (Chi)- menyelamatkan dunia dan menolong sesama. Tzu Chi adalah ladang bagi manusia melatih diri mengembangkan welas asih. Kita harus tahu kewajiban kita dan melatih keterampilan di ladang ini.

Tahu kewajiban berarti mendalami ajaran Buddha, dan melatih keterampilan berarti selalu mengubah pikiran awam (yang tak terlatih) dan penuh noda batin menjadi murni seperti Buddha dan para suciwan. Inilah yang dimaksud dengan mengubah pikiran awam menjadi pikiran Buddha. Semua ini membutuhkan keterampilan. Ketika kita telah mengerti kewajiban ini dan berlatih dengan giat, inilah yang disebut melatih diri. Ada sebuah pepatah Zen yang berbunyi, “Baik memikul kayu maupun mengangkut air, keduanya adalah meditasi.” Bahkan ketika makan dan minum pun pikiran tidak terpecah dan mengembara. Inilah yang disebut keterampilan.

Saudara sekalian, ladang pelatihan welas asih kita telah dibangun. Kini, kita harus lebih menyelam ke dalam batin untuk membersihkan noda batin kita. Jadi, tiba saatnya kita mulai membahas “Syair Pertobatan Air Samadhi Welas Asih” dan melihat bagaimana upaya para suciwan mencerahkan kita. Coba direnungkan, adakah orang awam yang tak pernah melakukan kesalahan? Setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari, dalam segala ucapan dan tindakannya, sulit terhindar dari kesalahan.

Lihatlah Bhiksu Wu Da yang sudah menjalani hidup sebagai bhiksu selama 10 kehidupan, mematuhi sila dengan ketat, dan bermoral baik. mematuhi sila dengan ketat, dan bermoral baik. Namun, 10 kehidupan sebelumnya, sebuah dendam yang panjang telah tertanam karena pada kehidupan lampau ia adalah Yuan Ang yang mengelabui Chao Cuo. Karena itu, dendam ini terus mengikutinya selama 10 kehidupan.

Namun, dalam 10 kehidupan, Bhiksu Wu Da adalah bhiksu agung yang bermoral luhur hingga tiada celah bagi Chao Cuo membalas dendam karena buah karma buruk Bhiksu Wu Da tak memiliki kondisi untuk berbuah. Bukan berarti Chao Cuo tak berusaha membalas, tapi ia tak memiliki celah untuk melakukannya.

Lihatlah, pada kehidupan yang ke-10, ia disayangi kaisar dan dianugerahi singgasana kayu cendana. Akibat rasa gembira yang meluap sesaat, peluang karma buruknya berbuah pun muncul. Rasa gembira yang berakar dari kesombongan itu membuka peluang karma buruknya untuk berbuah. Sungguh menakutkan. Cukup lama, ia menderita luka di kakinya. Kemudian, Yang Arya Kanaka menolongnya. Namun, ini juga memerlukan jalinan jodoh. Saat Yang Arya Kanaka menderita sakit, Bhiksu Zhi Xuan (Bhiksu Wu Da) merawatnya karena rasa ibanya. Tak sampai hati melihat bhiksu yang sakit, Bhiksu Zhi Xuan pun merawatnya.

Karena perawatan dan welas asihnya, maka ketika ia menemui kesulitan, ada orang yang bisa menolongnya. Inilah hukum sebab dan akibat. Satu benih sebab, dapat menghasilkan banyak buah. Ladang pelatihan welas asih bertujuan agar setiap orang membuka hati dan mengembangkan cinta kasih tanpa pamrih, cinta kasih yang tanpa disertai ego.

Kita harus mengikis noda dalam batin kita. Dengan banyaknya orang, tempat ini baik untuk berlatih karena kita harus belajar untuk saling mengutarakan pandangan, sehingga dapat menyatukan pandangan ini. Inilah yang disebut memiliki kesatuan misi. Hukum sebab dan akibat tak dapat dihindari.

Setiap perbuatan baik atau buruk pasti berbuah. Bertobat adalah melatih keterampilan, mengubah pikiran awam menjadi pikiran Buddha, menempa diri di tengah masyarakat, sepenuh hati mengembangkan cinta kasih.

Bukankah di dalam Tzu Chi, kita semua memiliki misi yang sama? Dengan pandangan yang sama, kekeruhan pandangan akan lenyap dengan sendirinya. Dengan menyatukan kekuatan dan pandangan, Dengan menyatukan kekuatan dan pandangan, kekeruhan makhluk hidup, noda batin, dan pandangan dengan sendirinya akan lenyap.

Karena kita menghargai kehidupan, kekeruhan usia pun akan lenyap. Seperti Bhiksu Wu Da yang menghormati seorang bhiksu yang sakit, merasa tak tega, dan mengasihinya, sehingga dirinya dapat diselamatkan sehingga dirinya dapat diselamatkan dan terbebas dari belenggu dendam 10 kehidupan.

Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sadar dalam setiap perbuatan. Dalam berinteraksi dengan orang lain, saat bersikap, bertutur kata, dan lainnya, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita. Sikap kita terhadap orang lain, ketulusan kita, rasa hormat kita, setiap tindakan kita, semua merupakan benih. Maka, semua harus meningkatkan kewaspadaan. Sebelumnya, pernah saya katakan selain membuka hati dan memahami kebenaran, juga pernah saya sampaikan bahwa kita harus “merendahkan hati”. Artinya adalah menghormati langit dan bumi.

Dengan demikian, kita tahu bahwa dalam setiap tindakan dan tutur kata, bahwa dalam setiap tindakan dan tutur kata, kita harus senantiasa  meningkatkan kewaspadaan. Karena telah bertobat, dalam setiap tindakan dan tutur kata, haruslah senantiasa waspada, tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Inilah makna pertobatan yang sesungguhnya.

Pepatah berbunyi, “Tiga inci di atas kepala adalah dewa.” Janganlah berpikir, “Ketika saya berbuat sesuatu, tiada seorang pun yang melihat.” Ada, ada langit dan bumi. Hati nurani Anda adalah dewa yang dimaksud. Apa pun kesalahan yang Anda lakukan, ingatlah, “Tiga inci di atas kepala adalah dewa.” Karenanya, kita harus senantiasa meningkatkan kesadaran batin. Ini barulah pertobatan yang sesungguhnya. Kita harus mengerti untuk menerima Dharma ini sepenuh hati, terlebih lagi harus mempraktikkannya. Kita harus melakukan praktik nyata.

Sebelum memahami Dharma, kita kehilangan arah. Setelah memahaminya, kita harus meningkatkan kesadaran diri. kita harus meningkatkan kesadaran diri. Mempelajari ajaran Buddha adalah  menambah kebajikan dan melenyapkan noda batin, mencari kedamaian batin, senantiasa berintrospeksi atas kesalahan diri, sehingga memperoleh kebebasan dan kedamaian. Melakukan introspeksi juga merupakan Dharma. Jadi, janganlah berpikir bahwa Dharma hanyalah yang kita dengar dalam Sutra. Jadi, ketika dalam kebaktian pagi setiap hari kita menghormat kepada Buddha dan melafalkan nama-Nya, ini juga merupakan Dharma. Kita semua tahu bahwa mempelajari ajaran Buddha bertujuan untuk mencapai kebuddhaan. Jika tidak, maka tak perlu mempelajarinya.

Jadi, mempelajari ajaran Buddha bertujuan mencapai kebuddhaan, dari kondisi dan tingkatan yang awam, mencapai tingkatan yang sama dengan Buddha. Ini membutuhkan tekad dan ikrar yang agung. Proses pelatihan ini disebut Jalan Bodhisattva.

Inilah Dharma. Dengan mempelajari ajaran Buddha, kita tahu bahwa perjalanan ini sangat panjang dan akan mengalami beragam kondisi batin. Bagaimanakah cara memilih di antara kondisi batin yang beragam itu? Bagaimana menaklukkan kondisi yang tidak baik dan mengarahkan pelatihan kita ke jalan lapang yang mengarah pada kebuddhaan dan tidak tersesat dalam kondisi pikiran awam?

Ini juga merupakan Dharma. Dalam Jalan Bodhisattva, bagaimanakah kita melenyapkan noda batin dan juga pikiran buruk yang timbul? Untuk melenyapkan semua ini, juga dibutuhkan Dharma. Untuk melenyapkan semua noda batin itu, kita harus senantiasa bertobat. Ketika bertemu orang baik, kita harus belajar dari mereka dengan rendah hati serta membangkitkan rasa syukur.

Ketika bertemu dengan orang jahat, kita harus dengan penuh hormat berterima kasih karena ia  mengondisikan kita mengikis karma buruk.Kita harus mengatasi cobaan dalam melatih diri. Kesulitan dalam hubungan antarmanusia dan masalah merupakan sebuah ujian. Sebilah pedang harus diasah oleh batu pengasah, baru akan memperoleh ketajaman.

Sebuah batu giok harus diasah oleh batu kasar, barulah akan menampilkan kecemerlangan. Dalam Sutra Bunga Teratai dikatakan, ketika Buddha meramalkan kebuddhaan para siswanya, Beliau juga meramalkan Devadatta, Beliau juga meramalkan Devadatta, bahkan tanah Buddha-nya akan berlangsung dalam masa yang lebih panjang dan menyelamatkan lebih banyak makhluk.

Ada yang bertanya pada Buddha, “Mengapa Devadatta yang begitu jahat diramalkan Buddha memiliki tanah Buddha yang berumur lebih panjang?” Buddha berkata, “Aku berterima kasih  karena Devadatta adalah mitra yang baik bagi-Ku.” “Tanpa Devadatta, bagaimana Aku dapat memiliki banyak cara untuk membimbing semua orang?” “Devadatta adalah mitra yang baik bagi-Ku.” “Ia memiliki andil dalam pencapaian-Ku”

Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, terhadap orang yang sengaja menyakiti kita, kita pun harus berterima kasih, karena ia turut melatih kita mencapai tujuan. Terima kasih bukanlah hanya sebatas bibir namun hati menyimpan dendam. Jika kita masih menyimpan dendam dalam hati, kita akan melupakan hakikat diri kita. Ketika memiliki niat berbuat baik, janganlah hanya karena suatu kondisi buruk, lalu kita melupakan tekad awal. membangkitkan noda batin, dan tak meresapi Dharma, sebanyak apa pun melantunkan Syair Pertobatan tak akan ada gunanya.

Jadi, saat melafal Syair Pertobatan Air Samadhi, kita harus senantiasa menerapkan isinya dalam kehidupan sehari-hari; dengan air Dharma pertobatan kita membersihkan diri dari segala kekeruhan. Kini, dunia diliputi lima kekeruhan dan tiga bencana terus-menerus terjadi. Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Selain membuka hati dan memahami kebenaran, kita harus menghormati langit dan bumi. Ajaran dan kebijaksanaan Buddha serta pemahaman para sesepuh di masa lalu adalah metode. Dharma merupakan air jernih yang membersihkan batin kita.

Karenanya, Saudara sekalian, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Segala kondisi yang buruk sulit dihindari untuk muncul dalam perjalanan kita di Jalan Bodhisattva. Karenanya, kita harus meningkatkan kesadaran. Kondisi apa pun yang kita hadapi, kita harus segera menggunakan air Dharma yang jernih ini untuk membersihkan kekeruhan dalam batin kita.

Kita harus selalu memiliki hati yang bertobat. Mari kita semua senantiasa bersungguh-sungguh.

Leave A Comment