[ST-004] Memberi Kebahagiaan Bagi Semua Makhluk dengan Kekuatan Cinta Kasih
Jika sungguh-sungguh melatih diri, setiap saat adalah waktu untuk melatih diri. Jika kita memahami tujuan melatih diri, tiada waktu yang berlalu tanpa melatih batin. Selama kita mengerti arah dan tujuan kita, sesungguhnya setiap hari kita sedang berlatih dengan metode Pertobatan Air Samadhi Welas Asih. Di ladang pelatihan welas asih Tzu Chi, tak sehari pun kita meninggalkan jalan Dharma ini.
Hanya saja kita belum sepenuhnya memahami bahwa Dharma Tzu Chi adalah pelatihan ke luar dan ke dalam. Ke luar, kita senantiasa mengasihi orang lain, dan bersumbangsih bagi sesama. Namun, adakalanya kita lengah terhadap pikiran kita sendiri. Pikiran bagaikan sebutir benih. Jika kita menanam benih yang baik, kelak ia akan bertunas, tumbuh besar, berbunga dan berbuah.
Benih apa yang ditanam, buah itulah yang akan dituai. Kini kita menanam benih yang baik, tetapi di masa lalu, mungkin kita pernah menanam benih yang buruk karena belum memahami kebenaran. Kita menanam benih yang baik dan buruk di dalam pikiran kita. Kini, kita harus bekerja keras untuk menanam benih yang baik. Benih yang ditanam pada kehidupan lampau tak dapat diubah dan tak perlu dilekati.
Setiap saat dalam hidup saat ini adalah kesempatan baik untuk menanam benih yang baik, janganlah disia-siakan. Kini, kita mengetahui cara melatih batin kita. Selain menanam benih yang baik, kita pun harus mengikis benih yang buruk.
Untuk itu, kita harus selalu menjaga pikiran, senantiasa berpikiran baik, dan terus bersumbangsih. Jadi, bersumbangsih adalah praktik ke luar. Menjaga pikiran baik adalah latihan ke dalam. Jika tabiat buruk dari kehidupan lampau kita masih terbawa, kini hendaknya kita mulai lebih memahami cara untuk melenyapkan tabiat buruk ini.
Untuk itu, sekarang kita akan membahasSyair Pertobatan Air Samadhi Welas Asih. Dharma bagaikan air, air pun merupakan Dharma. Jika batin kita diliputi kekotoran, kita harus membersihkannya dengan Dharma. Sama seperti benda-benda yang kotor, dibutuhkan air untuk membersihkannya. Demikian pula dengan batin kita. Bertobat artinya menyesali kesalahan. Karma buruk apa pun yang kita perbuat akibat noda batin di masa lalu, harus dibersihkan dengan air Dharma. Para Buddha berbelas kasih pada semua makhluk, sehingga mengajarkan metode pertobatan.
Dengan kesempurnaan pencerahan-Nya, para Buddha memberi kebahagiaan bagi semua makhluk dengan kekuatan cinta kasih. Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi tertulis, “Para Buddha berbelas kasih pada semua makhluk, sehingga mengajarkan metode pertobatan.” Ini menjelaskan inti Dharma di balik pertobatan. “Para Buddha” mencakup semua Buddha di masa lalu, masa kini, masa depan, dan di sepuluh penjuru.
Semua Buddha memiliki hati yang sama, yaitu belas kasih terhadap semua makhluk. Kita harus memahami siapa yang disebut “Buddha”. Buddha berarti “Yang Sadar”. Hanya yang sempurna dalam 3 aspek pencerahan yang dapat disebut “Buddha”.
Apakah ketiga aspek pencerahan itu? Mencerahkan diri sendiri, mencerahkan orang lain, seraya menyadari bahwa semua makhluk memiliki benih kebuddhaan. Yang terakhir, menyelamatkan semua makhluk. Ini disebut sebagai praktik yang tercerahkan.
Buddha menyadari kebenaran alam semesta, menyadari semua makhluk memiliki hakikat yang murni, dan menyadari bahwa kegelapan batinlah penyebab mereka terlahir di 6 alam kehidupan. Karena belas kasih terhadap semua makhluk, Buddha menjalankan praktik nyata untuk menyelamatkan semua makhluk. Inilah yang disebut praktik.
Jadi, aspek pertama adalah mencerahkan diri sendiri, menyadari semua makhluk memiliki benih kebuddhaan, serta menyadari segala kebenaran di dunia. Inilah yang beberapa waktu lalu kita bahas, yakni merangkul semua makhluk dan memahami kebenaran. Inilah yang disebut mencerahkan diri sendiri.
Kedua, mencerahkan orang lain. Buddha bukan hanya mencerahkan diri sendiri. Kebenaran yang begitu luhur harus diajarkan kepada semua makhluk agar mereka juga dapat memahami segala kebenaran di alam semesta. Agar semua orang memahami kebenaran, satu-satunya cara adalah memberi teladan nyata untuk membimbing mereka. Inilah yang disebut mencerahkan orang lain.
Jadi, dengan mencerahkan diri sendiri dan orang lain, kesadaran dan praktik menjadi sempurna. Dengan demikian, tercapailah kebuddhaan. Saya sering mengatakan kepada semua orang, sangatlah baik bila kita memahami ajaran Buddha, namun kita juga harus mempraktikkannya agar kita dapat memahami kebenaran sejati. Jika tidak mempraktikkannya, kita tak akan dapat memahami nilai kebenarannya.
Banyak orang berkata, “Saya sudah tahu, saya sudah tahu.” Meskipun tahu setelah mendengarnya, tanpa mempraktikkan langsung, mereka tak akan dapat merasakan kebahagiaan. Kita sering menyebutnya “kebahagiaan dalam Dharma”. Ini diperoleh saat menyerap Dharma ke dalam hati dan mempraktikkannya dalam sumbangsih nyata.
Hati serta tindakan kita menyatu dan sejalan dengan Dharma. Kebahagiaan dalam Dharma ini tidak sama Kebahagiaan dalam Dharma ini tidak sama dengan kebahagiaan ketika kita memperoleh materi, ketenaran, dan keuntungan. Kita akan risau ketika kehilangan semua itu. Tetapi, tiada dualisme dalam kebahagiaan Dharma. Dharma selalu membuat kita merasa damai. Untuk memperoleh kebahagiaan dalam Dharma, kita harus melakukan praktik nyata, melakukan tindakan benar yang perlu dilakukan.
Kita sering mendengar insan Tzu Chi berkata, “Bersumbangsih, bersumbangsih, bersumbangsih dengan sukacita.” “Mengapa begitu bersukacita?” Karena batin mereka merasakan kebahagiaan Dharma. Maka, insan Tzu Chi tak mengatakan ”sulit”, melainkan menganggapnya ”berkah”. Berkesempatan melayani masyarakat merupakan berkah bagi kita. Berkesempatan menciptakan berkah di masyarakat, menunjukkan bahwa kita dipenuhi berkah. Inilah kebahagiaan yang dirasakan.
Ketika melihat orang yang kita bantu selamat dan terbebas dari penderitaannya, kebahagiaan yang kita rasakan sulit dilukiskan. Karena itu, saya sering mendengar donor sumsum yang datang ke Griya Jing Si berkata, “Saya tak tahu harus berkata apa, saya hanya bisa berterima kasih karena berkesempatan mendonorkan sumsum tulang.” Jika mereka mengatakan hal ini, saya pasti mengatakan kepada mereka, “Menolong orang rasanya menyenangkan, bukan?” Benar, bahagia hingga tak tahu harus berkata apa. Saya yakin inilah kebahagiaan dalam Dharma. Rasanya sungguh membahagiakan. Ini bukan diraih karena menghasilkan uang, juga bukan karena memperoleh materi. Ini kebahagiaan yang diraih dari bersumbangsih. Inilah yang disebut ”kebahagiaan dalam Dharma”.
Untuk itu, dibutuhkan 3 aspek pencerahan. Kita harus mempraktikkan, menyelaminya sendiri selain memahaminya. Kita menyadari bahwa kita mampu bersumbangsih dan menyadari orang lain memperoleh manfaat. Inilah yang kita rasakan, inilah kebahagiaan. Setelah sempurna dalam 3 aspek pencerahan, barulah seseorang disebut sebagai “Yang Sadar”. “Yang Sepenuhnya Sadar” disebut Buddha.
Menyerap Dharma ke dalam hati, mempraktikkan Sutra secara nyata, dipenuhi kebahagiaan Dharma dan diliputi kedamaian. Kita menyebut “para Buddha” karena merujuk pada semua Buddha di tiga masa.
Ada Buddha masa lampau, masa kini, dan masa depan. Para Buddha bergantian datang ke dunia. Setiap Buddha memiliki kekuatan cinta kasih dan tujuan yang sama. Buddha melihat kebenaran dan memahami bahwa semua hal di dunia salinglah berkaitan. Hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Karenanya, para Buddha menggunakan kekuatan cinta kasih untuk memberi kebahagiaan bagi semua makhluk, dan berharap semua makhluk di alam semesta memperoleh kedamaian. Inilah harapan semua Buddha.
Dengan kekuatan cinta dan welas asih, membuat semua makhluk hidup terbebas dari noda batin dan memperoleh kedamaian, inilah ikrar agung para Buddha. Syair Pertobatan Air Samadhi berbunyi, “Dengan kekuatan cinta kasih memberi kebahagiaan bagi semua makhluk.” Inilah yang dipraktikkan oleh semua Buddha.
Namun, bukan hanya itu. Semua makhluk juga diliputi penderitaan akibat kegelapan batinnya. Semua makhluk yang diliputi kegelapan batin ini terus terombang-ambing dalam lautan penderitaan atau bagai terperangkap di dalam lumpur. Diperlukan orang yang segera datang menyelamatkan. Siapa yang dapat membebaskan semua makhluk dari penderitaan dan membimbing mereka yang memiliki noda batin berbeda-beda sehingga memahami kebenaran? Hanya Buddha yang bisa.
Jadi, dengan kekuatan cinta kasih-Nya, Buddha memberi kebahagiaan bagi semua makhluk dan membebaskan mereka dari penderitaan. Inilah tujuan Buddha datang ke dunia. Karena itu, dikatakan bahwa para Buddha berbelas kasih pada semua makhluk. Semua Buddha sama dalam hal ini. Para Buddha berbelas kasih pada semua makhluk, sehingga mengajarkan metode pertobatan.
Karena semua makhluk membutuhkan seorang suci yang telah sadar untuk membimbing mereka dan membabarkan Dharma. Maka, selama hidup di dunia, dalam kurun waktu 40 tahun lebih Buddha mengajarkan banyak metode terampil yang tak lain bertujuan agar semua makhluk dapat mengerti dan memahami ajaran-Nya. Beliau membimbing dengan sabar dan sistematis bagai air yang perlahan membersihkan kotoran. Mereka yang hanya memiliki sedikit noda batin, dapat tercerahkan hanya dengan sepatah ucapan, dapat mengubah tabiat setelah memahaminya dan selamanya tak akan lagi berbuat kesalahan.
Orang-orang semacam ini berkemampuan tinggi. Mereka dapat menerima ajaran dan menjalankannya selamanya. Buddha mengajarkan 84.000 metode terampil untuk membimbing semua makhluk secara bertahap agar dapat tersadar, memahami kebenaran, dan mengubah tabiat buruk. Bagaikan air yang membersihkan kotoran, ajaran ini menyucikan batin kita.
Kita semua pasti masih ingat pada Jing Huan. Komite Tzu Chi yang telah lanjut usia ini, Bodhisattva lanjut usia ini, ketika bergabung dalam Tzu Chi, ia sedang menghadapi masa yang tersulit dan batin yang amat gundah.
Saat itu, ia telah berusia lebih dari 70 tahun. Putranya mengalami kecelakaan pesawat. Setiap hari, wajahnya berlinang air mata. Putranya ini adalah anaknya yang terdekat. Ia adalah anak yang baik. Sebelum berangkat, ia berkata pada ibunya, “Saya akan pulang nanti malam.” “Saya harus bertugas ke Kaohsiung.” Ia lalu naik pesawat yang mengalami kecelakaan di Sanyi.
Orang tua ini harus melepas kepergian anaknya selamanya. Kesedihan yang dirasakannya, dapatkah kita bayangkan?
Kesedihannya berlangsung sangat lama. Kemudian, hal ini diketahui insan Tzu Chi. Setelah melihat sang ibu hampir kehilangan semangat hidupnya, mereka mengajaknya ke Hualien. Kebetulan, saat itu adalah bulan Maret, saat kita mengadakan retret selama 7 hari. Kira-kira, pada saat itulah ia ikut serta dalam retret.
Ketika melakukan pradaksina maupun ketika pembabaran Sutra, ia terus terlihat tenggelam dalam kesedihan. Suatu hari, saya bertanya padanya, “Sesungguhnya, ada apa dengan Anda?” “Anda kelihatan murung dan tidak bersemangat ketika mendengar ajaran.” “Mengapa?” Baru ia mulai menjelaskan tentang anak yang paling dekat dengannya, yang di pagi itu berpamitan dengannya dan mengatakan padanya, “Saya berangkat sekarang.” “Saya harus ke Kaohsiung.” “Saya akan pulang malam ini.” Siapa yang mengira bahwa kepergiannya kali ini adalah untuk selamanya. Ia merasa sangat sedih. Ia tak tahu lagi harus bagaimana melewati hari-hari berikutnya.
Saya pun berkata padanya, “Saya dapat memahami kesedihan Anda.” “Tapi, kejadiannya sudah berlalu sekian waktu.” “Anda terus menangis sepanjang hari, sementara anakmu ini sangat berbakti, maka ia pasti tak akan merasa tenang.” “Anda tentu berharap anakmu mendapat kedamaian. ” “Tapi, bila hati Anda tak dapat tenang, ia pun tak akan tenang.” Ia bertanya, “Lalu saya harus bagaimana?” “Apakah sekarang ia belum merasa damai?” Saya pun menjawab, “Pasti belum.” “Master, jadi saya harus bagaimana?” Saya menjawab, “Jika Anda dapat menenangkan hati, maka putramu pun akan tenang.” Ia berkata, “Saya sungguh tak tahu cara menenangkan hati saya.” “Bahkan ketika tidur pun, saya tetap melihat bayang-bayangnya.” “Biasanya, ia sering berbincang dengan saya.” “Sekarang, saya terus mengingat apa yang sering dikatakannya.” “Sekarang, ia tidak bisa lagi berbicara, bagaimana saya dapat merasa tenang?” Saya berkata, “Seperti layang-layang yang sudah rusak, Anda harus memotong benangnya agar layang-layang itu dapat terbang bebas.” “Kerisauan manusia adalah akibat dari belenggu benang atau tali cinta.” “Jika Anda terus menarik dan menahannya, bagaimana ia dapat lepas dan terbebas?”
Setelah mendengarnya, ia merasa ucapan ini amat mengena baginya, seperti obat yang mujarab. Matanya pun kembali bersinar. Ia berkata pada saya, “Master, kini saya mengerti.” “Saya tak akan memikirkan dia lagi.” Saya menjawab, “Ya, tak perlu dipikirkan.” Ia bertanya, “Lalu, hati saya harus ditambatkan ke mana?” Saya menjawab, “Anak yang seusia putramu semuanya adalah anakmu.” “Lihatlah, begitu banyak orang yang menderita yang seusia dengan putramu, mengalami cacat fisik dan hidup kekurangan.” “Anda bisa mengubah kerinduan terhadap putramu menjadi kerinduan pada orang-orang ini, dengan cinta kasihmu terhadap putramu, kasihilah orang-orang ini.”
“Bergabunglah dengan Tzu Chi.” Hari itu, ia pun berkata, “Baik, Master.” “Saya bersedia bergabung dengan Tzu Chi.” Ia lalu mengambil buku penggalang dana dan mulai menjadi anggota komite. Ia sangat giat dan bersemangat. Ia bahkan lebih cekatan daripada anak muda. Kini, ia tak lagi risau dan melekat. Setiap hari ia berbicara tentang Tzu Chi pada orang-orang yang ditemui. Putra dan putrinya yang lain juga sangat berbakti. Mereka berkata padanya, “Ibu mau ke mana? Mari saya antar naik mobil.” Ia menjawab, “Tidak usah.” “Kalian lakukan saja pekerjaan kalian.” “Saya jalan kaki saja, hitung-hitung olahraga.” “Donatur saya ada yang jauh, ada yang dekat.” “Saya berjalan sambil berolahraga dan menyiapkan bahan pembicaraan yang harus saya sampaikan nanti.” Ia sepenuh hati mengabdi di Jalan Bodhisattva.
Suatu hari, ia harus pergi ke daerah yang jauh sehingga harus naik kendaraan. Naik apa? Bus umum. Ia mendapat tempat duduk di bus. Di pemberhentian berikutnya, ada seorang pemuda yang bertubuh cacat naik. Ketika pemuda ini naik, tak ada lagi tempat duduk. Banyak anak muda yang melihatnya, namun pura-pura tidak melihat.
Mereka melihatnya, namun tak merasa perlu untuk memberikan tempat duduk pada pemuda ini. Tak ada yang memberinya tempat duduk. Orang tua ini merasa tak sampai hati dan memberikan tempat duduknya pada pemuda ini. Ia melambaikan tangan agar pemuda itu mendekat. Kemudian, ia berkata, “Duduklah.” Pemuda ini pun berkata, “Nenek, usiamu telah lanjut, saya tak bisa membiarkanmu berdiri.” Ia pun berkata, “Tidak, saya mau turun di sini.” Ia yang sudah tua itu benar benar berdiri, memberikan tempat duduknya, dan mengatakan bahwa ia mau turun.
Di pemberhentian berikutnya, ia benar-benar turun. Setelah turun, ia tetap menunggu di halte. Seorang pria paruh baya bertanya padanya, “Nek, Anda ingin tukar bus yang nomor berapa?” Ia menjawab, “Nomor 32.” Pria itu berkata, “Bukankah itu tadi bus no. 32?” “Mengapa Anda turun?” Ia menjawab, “Saya tahu, tadi saya naik bus itu, tapi ada seorang pemuda bertubuh cacat yang tidak mendapat tempat duduk.” “Saya memberikan tempat duduk saya padanya.” “Agar hatinya tenang, saya bilang saya mau turun di sini.” Pria ini sangat tersentuh mendengarnya. Hati Bodhisattva seperti inilah yang disebut cinta kasih dan welas asih. Ia memiliki kekuatan cinta kasih seperti Buddha untuk memberi kebahagiaan bagi semua makhluk, membuat mereka bahagia saat bertemu dengannya, dan terbebas dari kerisauan ketika mendengar ucapannya. Ini yang disebut membebaskan dari penderitaan. Ia telah berhasil menjalankan misi mendidik yang mampu membantu yang kurang mampu.
Ia pun selalu berpartisipasi dalam seluruh kegiatan Tzu Chi. Ia tersadar dan memperoleh pemahaman hanya dengan satu perkataan, “Memotong benang layang-layang.” “Jika hatimu tenang, maka putramu akan tenang.” Ucapan yang sederhana ini sangat mengena dan sesuai baginya, sehingga ia terbebas dari penderitaan. Ajaran yang mengena bagaikan obat mujarab. Namun, jika digunakan, barulah akan bermanfaat. Untuk dapat membuka hati dan memahami kebenaran, kita harus meresapkan Dharma ke dalam hati, sehingga memperoleh kebahagiaan dan kedamaian batin.
Saudara sekalian, kita harus senantiasa bersungguh-sungguh. Jangan lengah dalam sumbangsih ke arah luar dan melatih ke arah dalam. Semoga semuanya lebih bersungguh-sungguh.