Sanubari Teduh

[ST-005] Membangkitkan Kejernihan Hati

Saudara se-Dharma sekalian, dalam Syair Pertobatan Air Samadhi tertulis, “Para Buddha berbelas kasih pada semua makhluk sehingga mengajarkan metode pertobatan.” “Berbelas kasih pada semua makhluk.” Kita semua memahami bahwa hakikat dari Buddha, semua makhluk, dan pikiran adalah sama. Setiap orang memiliki benih kebuddhaan. Buddha masa lalu dan masa depan saling mendukung.

Mereka semua mengajarkan bahwa semua orang berpotensi mencapai kebuddhaan. Semua orang pun dapat belajar untuk memiliki rasa welas asih yang sama dengan Buddha. Jadi, semua Buddha memiliki cinta kasih dan welas asih pada semua makhluk. Cinta kasih yang bersifat universal ini, harus kita pahami dengan sepenuh hati. Ini menunjukkan bahwa para Buddha di tiga masa dan sepuluh penjuru memiliki cinta kasih yang sama.

Saya sering berkata kepada semua orang untuk mengubah pikiran awam menjadi pikiran Buddha. Inilah tujuan praktik pelafalan nama Buddha. Sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa mendalami ajaran Buddha adalah praktik dasar, melafalkan nama Buddha adalah latihan keterampilan. Tanpa melatih keterampilan, kita tak akan berhasil dalam praktik. Kita harus melatih keterampilan, yaitu dengan melafalkan nama Buddha. Melafalkan nama Buddha bukan hanya dilakukan ketika menemui kesulitan. Bukan begitu. Bukan pula hanya dapat dilakukan bersama-sama dalam upacara kebaktian. Bukan hanya itu. Sesungguhnya, kita harus sepenuh hati merenungkan hakikat kebuddhaan dalam diri kita.

Inilah yang disebut “menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri”. Jika semua orang memiliki semangat dan pandangan yang sama, yaitu cinta kasih seperti para Buddha, maka ketika kita bersatu hati, kekuatan yang terhimpun sangatlah besar dan mampu menolong semua makhluk yang menderita. Sepenuh hati merenungkan hakikat kebuddhaan di dalam diri, memiliki cinta kasih universal dan welas asih terhadap semua makhluk, inilah keterampilan melafalkan nama Buddha.

Saudara sekalian, kata-kata berikut sangatlah penting dan menjadi tujuan kita mempelajari ajaran Buddha. Kita harus ingat bahwa, “Para Buddha berbelas kasih pada semua makhluk.” Kita harus mengembangkan cinta kasih yang sama seperti Buddha agar dapat menolong semua makhluk. Tetapi, apakah hati seperti ini dimiliki semua orang? Ya. Hanya saja hati kita diliputi kegelapan batin. Buddha mengajarkan cara melatih keterampilan, dengan tujuan untuk menyucikan batin. Untuk membersihkan noda dan kegelapan batin, kita harus menggunakan Dharma.

Dharma bagaikan air. Dharma sama seperti air. Benda yang kotor harus dibersihkan dengan air. Noda di dalam batin harus dibersihkan dengan bimbingan Dharma. Jadi, Syair Pertobatan Air Samadhi berisi cara membersihkan kekeruhan di dalam batin. Menyucikan hati dengan air Dharma, membersihkan kekeruhan dan noda dalam batin. Untuk itulah Buddha membabarkan makna pertobatan bagi kita. Pertobatan berarti penyucian, bagai air yang membersihkan noda. Pertobatan dibutuhkan karena kita memiliki noda batin dan pernah melakukan kesalahan.

Kita pernah melakukan kesalahan, dan jika kita terus berusaha menutupinya, benih-benih noda dan kegelapan batin akan menutupi batin kita selapis demi selapis. Dewasa ini, ada banyak orang yang mengalami hidup sulit di masa lalu, yang pernah melakukan kesalahan, ataupun yang orang tuanya hidup susah. Mereka tak ingin orang-orang tahu hal-hal di masa lalu, seperti orang tua yang hidup dalam kesulitan, dan melakukan pekerjaan kasar. Mereka tidak mau mengakui bahwa orang tuanya bekerja kasar. Kebanyakan orang hanya suka bercerita bahwa orang tuanya memiliki kehidupan yang baik, memiliki kedudukan yang tinggi. Mereka ingin membanggakan diri sendiri.

 

Jika diri sendiri pernah melakukan kesalahan di masa lalu, maka semua ini mereka tutupi dan sembunyikan. Mereka tak mau hal ini diketahui orang lain. Inilah yang disebut menutupi kesalahan. Menutupi kesalahan akan membuat benih-benih noda dan kegelapan batin menutupi batin kita selapis demi selapis sehingga kekeruhannya menebal dan sulit dibersihkan.

Bertobat berarti mengakui kesalahan dan kondisi yang tidak membanggakan di masa lalu. Kita harus berani membuka pintu hati dan pikiran agar noda dalam batin kita dapat dibersihkan selapis demi selapis. Saya sering berkata, “Pengakuan membawa kemajuan.” Banyak orang pernah berbuat salah dalam hidup. Ketika memiliki kesalahan, janganlah disembunyikan. Kita harus berani membukanya dan berinisiatif mengakuinya. Inilah yang disebut bertobat.

Dengan bertobat atas kesalahan masa lalu, barulah kita dapat memulai awal yang baru. Karenanya, banyak orang mengatakan, “Saya telah terlahir kembali.” “Saya yang dulu, yang kemarin, telah tiada.” “Hari ini, saya yang baru telah lahir.”

Inilah makna pertobatan. Seperti orang zaman sekarang yang sering menggunakan komputer, ketika memori komputernya penuh, kita harus membersihkannya dengan menghapus data-data yang tak terpakai. Dengan demikian, komputer ini dapat berfungsi kembali dengan baik, kita pun dapat membuat artikel yang baru, dan dapat menyimpan data yang baru. Demikian pula dengan pertobatan. Bertobat berarti mengakui kesalahan masa lalu dan membersihkan noda masa silam.

Untuk itu, kita harus menggunakan Dharma yang berasal dari kebijaksanaan Buddha untuk membersihkan kekeruhan dalam batin kita. Inilah ladang pelatihan batin. Setelah bertobat atas kesalahan  dan noda batin masa lalu, barulah manusia dapat memulai hidup baru.

Buddha berkata, “Semua makhluk diliputi kekeruhan yang tebal, siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran, siapa yang tak pernah melakukan kekeliruan?” Semua makhluk diliputi kekeruhan yang tebal, semua orang mengetahui hal ini. Umat Buddha awam bisa mengatakan bahwa semua makhluk diliputi kekeruhan yang tebal. Akan tetapi, apakah yang dimaksud kekeruhan? Kekeruhan berarti adanya noda dan kekotoran. Kekotoran ini sudah terhimpun dengan tebal.

Hakikat setiap orang adalah murni dan tak ternoda. Inilah yang disebut hakikat sejati. Setiap orang memiliki hakikat yang murni. Karena adanya kegelapan batin (ketidaktahuan), timbullah ketamakan, kebencian, kebodohan, serta noda batin lainnya yang menutupi hakikat sejati ini. Semakin bertambah usia manusia, kekeruhan dalam batin akan semakin menutupi pemahaman kita akan kebenaran. Akibatnya, noda batin pun terus timbul. Oleh karena itu, kita harus sadar saat pikiran yang ternoda muncul.

Dulu saya pernah mengungkapkan, kegelapan batin menimbulkan Tiga Aspek Halus, dan ketika bersinggungan dengan objek luar, timbullah Enam Aspek Kasar. Saya juga sering bercerita kepada kalian semua, hakikat murni dari semua orang tertutup karena adanya kegelapan batin yang menimbulkan ketamakan, kebencian, kebodohan. Dengan adanya ketamakan, kebencian, kebodohan, maka ketika bersentuhan dengan objek luar, yaitu wujud, aroma, rasa, sentuhan, dll., pikiran kita akan bereaksi terhadapnya dan ketika organ-organ indra kita— mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dll. mengalami kontak dengan objek luar, kita akan melakukan perbuatan yang tidak baik. Dengan adanya kontak dengan objek luar, maka muncullah Enam Aspek Kasar secara terus-menerus. Dengan demikian, hakikat murni yang dimiliki setiap orang pun tertutup.

 

 

Tiga Aspek Halus:

– Karma akibat kegelapan batin

– Pemahaman subjektif

– Dunia objektif

Enam Aspek Kasar:

– Pengetahuan yang membedakan

– Keberlanjutan

– Kemelekatan

– Pelabelan

– Penciptaan karma

– Penderitaan akibat karma

Segala hal di dunia, apakah itu baik maupun buruk, selama batin kita jernih, kita akan dapat memahami nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya, kebenaran dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di sekeliling kita. Karenanya, kita harus berintrospeksi diri dan melihat ke dalam batin. Jika kejernihan batin tertutup oleh noda, kita akan diliputi kegelapan dan pandangan salah. Sekali pikiran salah ini timbul, ia akan terus-menerus terakumulasi. Beginilah makhluk awam yang diliputi kegelapan batin terperangkap dalam batin yang penuh noda.

Dengan demikian, kita terus berada dalam lingkaran tumimbal lahir selama berkalpa-kalpa dan terus menciptakan karma. Dengan hati jernih, Dharma terlihat jelas, sehingga senantiasa diliputi kebahagiaan dan kedamaian. Ketika kegelapan batin timbul, makhluk hidup terjerumus dalam lingkaran tumimbal lahir. Apakah yang disebut kejernihan? Yaitu hakikat kebuddhaan kita. Apa yang dimaksud kegelapan batin? Yaitu pandangan salah akibat ketidaktahuan. Inilah penyebab tumimbal lahir.

Kekeruhan noda batin ini sudah sangat tebal dan berlapis. Kegelapan dan noda batin yang kotor itu telah terakumulasi selapis demi selapis, sehingga cahaya hakikat sejati kita tak lagi terpancar keluar. Cahaya hakikat sejati yang cemerlang ini telah tertutup. Karena itulah dikatakan, “Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran?” Semua orang pernah melakukan kesalahan. Janganlah kita berpikir, “Saya tak pernah berbuat salah, tapi mengapa karma buruk saya terus berbuah, hal-hal yang tidak diinginkan terus menimpa diri saya.” Ini adalah akibat perbuatan kita di masa lampau.

Dengan adanya kegelapan batin yang terakumulasi, karma buruk yang dilakukan pun semakin banyak. Kini, kita tengah berusaha mengikisnya. Ketika karma buruk kita berbuah, Kita harus memahami dan menerimanya dengan bijak. Dengan demikian, barulah kita dapat mengatasi karma buruk itu.

Setelah melewati kesulitan, kita hendaknya bersyukur karena  akhirnya kita dapat terbebas dari kesulitan itu. Kita harus menjaga sikap penuh syukur ini agar ketika karma buruk berbuah, kegelapan batin kita tidak bangkit kembali. Jika tidak, bukan saja karma buruk tak akan lenyap, namun kegelapan batin juga dapat bertambah.

 

Ketika bertemu kesulitan, kita hendaknya memahaminya, menerima dengan bijaksana, dan bersyukur karena berkesempatan mengikis karma buruk. Contohnya, ketika mengalami kecelakaan lalu lintas, kita akan mulai bertanya, “Saya tidak berbuat jahat, mengapa saya mengalami kecelakaan?” “Saya juga sudah berbuat baik, mengapa saya menderita penyakit?” Pemikiran seperti ini tidaklah benar.

Kecelakaan bukanlah tanpa sebab. Kecelakaan terjadi antara 2 kendaraan atau lebih. Begitu banyak kendaraan dan orang di jalan, mengapa orang itu tidak menabrak orang lain, tetapi justru menabrak kita? Ini dikarenakan adanya benih sebab yang telah matang dan berbuah.

Jadi, ketika karma buruk ini berbuah, kita seharusnya mengatakan, “Untunglah, setelah diselamatkan dan menjalani perawatan, saya bagai terlahir kembali.” “Terima kasih, karma ini telah lenyap.” “Kita hanya menerima buah ringan dari karma berat, syukurlah.”

Lalu, bagaimana menjalani hidup setelah itu? Kita harus giat dan bersemangat karena tubuh manusia sungguh rentan. Tubuh ini mudah sekali terluka. Jadi, kehidupan ini demikian rentan. Dahulu, kita menimbun banyak kegelapan batin. Kini, kita harus menerima buahnya dengan sukacita. Janganlah mengeluh dengan berkata, “Mengapa saya sakit?” “Saya sudah menjadi orang baik, mengapa saya terus didera penyakit?” Kita hendaknya mengubah jalan pikiran kita, bersyukur dengan adanya penyakit ini, kita dapat memahami ketidakkekalan hidup dan telah mengikis sedikit karma buruk.

Jika penyakit datang kembali, kita harus berpikir, “Terima kasih, karena saya dapat menghadapinya dengan pandangan yang benar.” “Ketika penyakit datang kembali, saya menerima buah karma ini dengan sukacita.” Dengan demikian, kita melenyapkan karma buruk. Adanya akibat, pasti dikarenakan adanya sebab. Jika dapat menerimanya dengan sukacita dan tak lagi membangkitkan noda batin, karma ini pun akan lenyap.

Ada orang yang meskipun tidak mengeluh, namun memiliki pemikiran menyimpang. Ketika didera penyakit, ia berkata, “Karena telah membuat ikrar yang luhur, maka Mara datang menggoda.” Pandangan ini tidaklah benar. Jika benar begitu, siapa lagi yang berani berikrar luhur? Siapa lagi yang berani bertekad? Hal ini tidaklah benar. Bukan karena Anda berikrar, lalu ada Mara yang datang mengganggu. Jika Anda dulu tak menanam benih dari karma itu, bagaimana Anda dapat menerima akibatnya? Tidak mungkin. Bukan karena kita berikrar, lalu datanglah Mara maupun kesulitan. Bukan.

Kita harus memahaminya seperti ini, “Beruntung saya telah berikrar, sehingga pada saat ini saya memahami ajaran Buddha, memahami kebenaran, dan dapat bersumbangsih.” “Terima kasih, karena sebelum saya sakit, saya dapat menemukan ajaran yang baik ini, sehingga saya dapat memahami kebenaran dan dapat mempraktikkannya.” “Saya sungguh beruntung.” Kita hendaknya berpikir demikian. Mengikis karma dengan menerimanya secara ikhlas, dan tidak lagi menciptakan karma buruk baru. Ketika menghadapi kesulitan, kita pun harus memahami bahwa beginilah hukum alam dalam kehidupan.

Dulu kita membuat karma buruk dengan suka hati, maka kini harus menerima buahnya dengan sukarela. “Mengikis karma dengan menerimanya secara ikhlas, dan tidak lagi menciptakan karma buruk baru.” Kita semua, para praktisi Buddhis mengetahui kalimat ini. “Mengikis karma dengan menerimanya secara ikhlas.” Ketika karma buruk berbuah, kita harus menerimanya dengan sukacita, barulah karma buruk itu akan lenyap.

Semua makhluk, seperti yang Buddha babarkan, memiliki kekeruhan yang tebal, yang terakumulasi dari banyak kehidupan sebelumnya selapis demi selapis.

“Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran?” Sesungguhnya, siapakah yang layak berkata, “Saya tidak pernah berbuat karma buruk.” Tentu pernah. Semua orang terlahir membawa benih karma buruk. Jadi, semua orang memiliki karma buruk. Siapa yang berani berkata ia tak memilikinya? Ketika Buddha lahir ke dunia, Beliau pun masih membawa sisa benih karma. Beliau mengalami sakit kepala, sakit pinggang, pernah terserang penyakit, dan kaki-Nya pernah tertusuk ranting sehingga Beliau terserang tetanus. Ini merupakan buah karma masa lampau-Nya, dan Buddha pun menerimanya dengan ikhlas.

Kita harus memahami semua ini. Tiada orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Bedanya, ada yang lebih dulu tersadar, sehingga ketika karma terus-menerus berbuah, mereka menerimanya dengan sukacita, bersikap penuh pengertian, dan bersyukur.

Demikianlah, Dharma bagaikan air jernih yang membersihkan noda. Ketika menerima buah karma dengan sukacita, inilah penyucian, penyucian selapis kegelapan batin dan pengikisan sedikit karma seseorang. Jadi, jika kita telah menciptakan karma buruk, kita harus menerima akibatnya. Karena ini merupakan buah dari perbuatan kita, kita harus menerimanya dengan sukacita. Karenanya, saya sering mengatakan tentang  sikap tahu berpuas diri, bersyukur, penuh pengertian, dan toleransi.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika menghadapi orang, masalah, dan berbagai hal, kita sulit terhindar dari pikiran buruk. Jika kita dapat menggunakan 4 sikap tersebut, hati kita akan senantiasa tenang dan seimbang. Terlahir di enam alam kehidupan, semua makhluk membawa benih-benih karma. Senantiasa bertobat berarti menggunakan air Dharma untuk membersihkan noda batin akibat karma buruk, dan akhirnya kembali pada  hakikat sejati yang murni.

Jika memiliki kekotoran akibat karma buruk, kita harus senantiasa bertobat. Dengan air Dharma yang murni, kita membersihkan kekotoran ini. Jadi, semuanya bergantung pada pikiran. Kita harus senantiasa bersungguh-sungguh, menjaga pikiran kita dengan baik, dan membersihkan kekotoran dengan air Dharma.

Inilah pertobatan, yaitu melenyapkan noda batin kita dengan Dharma. Jadi, penderitaan yang demikian kompleks dapat diakhiri dengan Dharma yang sederhana.

Saudara sekalian, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Semua bermula dari pikiran. Semoga semua lebih bersungguh-sungguh.