[ST-006] Segera Mengoreksi Diri dan Mengubah Karma Buruk Menjadi Berkah
Saudara se-Dharma sekalian, tujuan kita mempelajari ajaran Buddha adalah untuk memahami kebenaran.
Dalam proses ini, kita pun harus memahami batin kita sendiri. Tentu saja, dalam kehidupan manusia di dunia, siapa yang tak pernah melakukan kesalahan? Beberapa hari ini kita tengah membahas, “Semua makhluk diliputi kekeruhan tebal, Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran, siapa yang tak pernah melakukan kekeliruan.” Pelanggaran adalah kesalahan yang disengaja. Yang tidak disengaja disebut kekeliruan. Seperti yang biasa kita ketahui, kesalahan yang disengaja tak dapat dimaafkan. Inilah norma hukum yang berlaku di masyarakat. Jika sengaja melakukan kejahatan terencana, itu termasuk pelanggaran berat.
Kesalahan yang tidak disengaja dapat dianggap lebih ringan. Karena itu, kita semua seharusnya tidak melakukan kejahatan terencana untuk mencelakai orang lain. Janganlah kita melakukan hal ini. Jika sadar telah berbuat salah tanpa sengaja, kita harus segera memperbaiki diri. Karena sejak masa tanpa awal kita telah terus terlahir di 6 alam, maka kita tak luput dari kesalahan.
Oleh sebab itu, ketika karma berbuah, kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa karma buruk masa lampau kini berbuah. Jika kita dapat segera memperbaiki diri, maka karma buruk akan lebih mudah terkikis. Orang yang dapat memperbaiki diri berarti telah memulai kehidupan yang baru. Kesalahan yang disengaja disebut pelanggaran. Kesalahan yang tidak disengaja disebut kekeliruan. Manusia sulit terhindar dari kesalahan. Jika dapat segera memperbaiki diri, maka karma buruk dapat diubah menjadi berkah.
Di Tzu Chi terdapat banyak kisah. Ada orang yang dapat kita jadikan teladan, ada pula yang dapat dijadikan peringatan untuk mengingatkan apakah kita sama dengannya. Oleh sebab itu, ada ungkapan berikut ini, “Dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang, kita pasti dapat menemukan seorang guru.” “Teladani segala sisi baiknya, ambillah pelajaran dari sisi buruknya.” Kita semua pasti pernah berbuat salah. Karenanya, jadikan orang-orang di masa lalu kita, yang baik maupun buruk, sebagai contoh dan peringatan bagi diri sendiri.
Sesungguhnya, di dalam Tzu Chi, kita bertemu dengan banyak Bodhisattva dunia. Semangat Bodhisattva dipraktikkan oleh manusia, kebuddhaan pun dicapai oleh manusia. Sebagai manusia, semua tentu pernah berbuat salah. Mampu menyadari kesalahan dan memperbaiki diri, adalah kebajikan yang besar.
“Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran?” “Siapa yang tak pernah melakukan kekeliruan?” “Makhluk awam bertindak bodoh karena kegelapan batin.” Penggalan syair itu mengingatkan kita bahwa di masa lalu ada begitu banyak orang yang melakukan kesalahan dan tindakan bodoh akibat kegelapan batin.
Baru-baru ini, ada seorang relawan, yaitu Mei-lian. Usianya belum terlalu tua, baru separuh baya. Namun, ia menjalani masa lalu yang amat sulit. Ia terlahir di keluarga yang kekurangan. Ayah dan ibunya bekerja sangat keras dengan menjadi buruh kasar. Karena tinggal di pedalaman, meskipun telah bekerja keras, kehidupan mereka masih sangat sulit.
Mei-lian adalah putri sulung. Ia tak sampai hati melihat orang tuanya membanting tulang. Ibunya pun berharap ia cepat bekerja agar dapat meringankan beban keluarga. Meski ia ingin melanjutkan sekolah, keadaan keluarganya tak memungkinkan. Jadi, ia pun menerima nasibnya. Akhirnya ia merantau ke Taipei. Ia bekerja keras di Taipei, tetapi penghasilannya tidak banyak.
Karena itu, ibunya memarahinya, “Orang lain menghasilkan banyak uang di Taipei.” “Orang lain menghasilkan banyak uang di Taipei.” “Mengapa setiap bulan kamu hanya mengirimkan sedikit uang?” Saat itu ia baru berusia belasan tahun dan menjawab tanpa berpikir panjang, “Kalau Ibu mau saya menghasilkan banyak uang, saya akan bekerja di bar.” “Dengan begitu saya bisa mengirim banyak uang.” Dalam pemikirannya, setelah mendengar kata-kata ini, ibunya pasti menghalanginya. Namun, ternyata sang ibu tidak menghalangi. Maka, dengan diliputi amarah ia pun kembali ke Taipei dan benar-benar bekerja di sebuah bar.
Suatu hari, ketika ia berusia 17 tahun, ada seorang tamu yang mengajaknya berdansa. Ia yang masih belia dan hijau, merasa cara berdansa tamu tersebut sangatlah lucu. Ia pun berkata, “Anda berdansa seperti seekor kera.” Dengan sebuah kalimat yang terucap ini, tamu yang sedang mabuk tersebut marah dan mulai memukulinya hingga mengalami luka di sekujur tubuh.
Ia pun dilarikan ke rumah sakit dengan luka di seluruh bagian tubuhnya. Saat itu ia baru berusia belasan tahun, bagaimana mungkin sanggup menahan rasa sakit yang begitu berat? Untuk menghilangkan rasa sakitnya, rumah sakit memberinya suntikan morfin. Setelah mendapat suntikan ini, ia merasa sangat nyaman. Maka, setiap terasa sedikit sakit, ia berteriak.
Akibatnya, morfin telah merusak tubuh dan juga pikirannya. Ia telah mengalami kecanduan. Setelah keluar dari rumah sakit, ia mulai mengonsumsi narkoba dan menyakiti diri sendiri dari hari ke hari. Batinnya pun sangat tersiksa. Ia sering mencoba bunuh diri dengan memotong nadi, tetapi setiap kali mencoba selalu diselamatkan oleh orang lain. Entah sudah berapa kali ia mencoba. Ia mengatakan bahwa setiap ingin mencoba bunuh diri, ia selalu bermimpi seperti bertemu saya.
Saya yakin saat itu ia belum mengenal saya, tetapi dalam mimpinya ia selalu melihat seorang bhiksuni yang menatapnya dengan penuh kesedihan. Meskipun bermimpi demikian, setelah terbangun ia terus menjalani hidup yang salah dan menjerumuskan dirinya sendiri. Suatu hari, ia berencana bunuh diri dengan melompat ke laut. Ia pun menyewa taksi. Ketika sopir taksi mengangkutnya, dan bertanya ia hendak ke mana, ia mengatakan bahwa ia hendak ke tepi laut.
Sopir taksi itu pun mengantarnya. Tetapi, sopir taksi ini merasa sepertinya ada yang tidak beres dengan anak gadis ini. Ia terlihat menderita dan mengalami depresi, dan ingin pergi ke tepi laut sendirian, maka sopir itu pun terus mengamatinya.
Setelah sampai, sopir taksi yang baik hati ini tidak berani pergi dan tetap menunggu. Kemudian, ia melihat gadis itu semakin mendekat ke tepi laut dengan kebimbangan. Sopir taksi ini pun merasa bahwa keadaan semakin berbahaya. Ia pun turun dari mobil dan mendekatinya. Ketika sang gadis ingin melompat bunuh diri, ia segera menahannya dan mulai berbicara untuk menasihatinya.
Akhirnya, gadis ini menjadi lebih sadar. Sejak saat itu, di kala hatinya sedang risau, gadis ini akan menelepon sopir taksi itu. Begitu menerima teleponnya, sopir taksi ini tahu bahwa masalah tengah menanti. karena setiap kali menjemput gadis ini, ia harus banyak bercerita untuk membimbingnya. Tetapi, sopir taksi ini sangat baik hati. Ia bersedia menjemput gadis ini setiap kali diminta. Suatu hari, gadis ini meminta untuk diantarkan pulang ke kampungnya, dan sopir taksi itu pun mengantarnya. Ternyata, desa si gadis terletak di pegunungan, bukan seperti desa-desa biasanya.
Setibanya di sana, barulah terlihat bahwa ternyata gadis ini sangat berbakti. Ia pulang dengan membawa buah tangan untuk orang tua dan neneknya. Melihat sikap gadis itu terhadap nenek dan orang tuanya yang demikian hangat, sopir taksi ini pun tersentuh.
Lama-kelamaan timbullah perasaan cinta. Akhirnya, mereka berdua pun menikah. Sopir taksi itu sangat menyayangi istrinya. Setelah berkeluarga, perempuan ini meninggalkan lingkungannya yang dulu. Ia sangat ingin mengubah kebiasaan buruknya. Namun, hal ini sangatlah sulit. Kebiasaan mengonsumsi alkohol, narkoba, merokok, dan berjudi telah lama ia pelihara sehingga sangat sulit diubah.
Namun, suaminya sangat berlapang hati dan tetap mencintainya. Berulang kali ia membujuk istrinya. Istrinya pun menjawab, “Saya mengerti, saya akan berubah.” Tetapi, ia tetap sulit berubah. Suatu ketika, ia pun mengandung. Karena mengandung, maka naluri keibuannya membuatnya sadar. Ia pun mulai berjuang melawan diri sendiri. Menyadari bahwa dirinya mengandung, ia tak boleh lagi mengonsumsi narkoba ataupun mendapat suntikan morfin.
Setelah perjuangan yang berat, ahirnya ia terlepas dari kecanduan. Hal ini sungguh tidak mudah. Ini dikarenakan naluri seorang ibu. Setelah melahirkan, ia tak lagi memakai narkoba, tapi ia masih minum alkohol, merokok, dan berjudi. Suaminya sering kali harus membawa anak mereka sewaktu bekerja menarik penumpang. Begitulah ia melewati hari-harinya.
Suaminya sungguh tak berdaya, namun tetap tak kehilangan rasa cintanya dan terus merawat istri dan anaknya. Istrinya terus menjalani kehidupan yang keliru. Suatu ketika, ia merasa kurang sehat dan diperiksa. Setelah diperiksa, diketahui bahwa ia mengidap penyakit kanker. Ia sangat terkejut dan berpikir, “Mengapa hidupku jadi begini?” Pada saat-saat itu, ia bertemu dengan insan Tzu Chi. Seorang insan Tzu Chi perlahan-lahan membimbingnya, dan berharap ia dapat mengubah kebiasaannya merokok, minum alkohol, dan berjudi. Insan Tzu Chi yang membimbingnya itu mengajaknya datang ke Hualien. Setelah datang ke Hualien dan bertemu saya, ia merasa, “Setiap kali mencoba bunuh diri, bhiksuni inilah yang saya lihat.” “Dalam mimpi, matanya menatap penuh kesedihan.” Jadi, sejak saat itulah ia mulai menyadari kesalahannya dan tak boleh meneruskan hal itu. Karenanya, ia sungguh-sungguh memperbaiki diri, berhenti minum alkohol, merokok, maupun berjudi.
Lalu bagaimana ia mengisi waktu? Dengan kegiatan daur ulang. Ia turut melakukan daur ulang untuk mengisi waktu yang dulu digunakan untuk berjudi. Lewat daur ulang, ia sering bersama insan Tzu Chi yang dapat senantiasa mengingatkan dan meningkatkan kesadarannya. Perlahan-lahan, ia dapat mengubah tabiat buruknya. Ia sangat giat dalam kegiatan daur ulang. Jadi, ia memberi teladan yang nyata selama bertahun-tahun kepada dua anaknya.
Kedua anaknya kini duduk di bangku SD. Mereka sangatlah lucu. Keluarga ini pun perlahan-lahan berubah. Pada tahun 2000, sang ibu mulai mengikuti pelatihan dan dilantik menjadi anggota komite Tzu Chi. Jalan hidupnya penuh dengan penderitaan. Semua ini disebabkan pemikiran yang keliru. Keadaan yang miskin memaksanya untuk bekerja di Taipei. Penghasilannya lebih sedikit dibanding orang lain, sehingga dimarahi ibunya. Hanya karena niat dan kemarahan sesaat, ia tak sengaja berkata kepada ibunya bahwa ia ingin bekerja di bar. Ini semua disebabkan oleh karma dan jalinan jodoh.
Orang tua pada umumnya mana mungkin akan semudah itu membiarkan anaknya bekerja di bar. Ketika anaknya berkata demikian, sang ibu menyangka kalau ia hanya bercanda sehingga tak menghiraukannya. Namun, sang anak justru mengira orang tuanya tak lagi menyayanginya, sehingga ia menjerumuskan diri sendiri. Setelah memasuki kehidupan seperti itu, sangatlah sulit untuk terbebas darinya. Di usia yang begitu belia, dan menjalani masa mudanya dalam kondisi seperti itu, ia sungguh patut dikasihani. Ia tersiksa secara fisik dan batin.
Untunglah ia memiliki karma baik dan bertemu dengan orang baik, sehingga di usia yang masih belia itu, ia dapat kembali memilih jalan yang benar dan menikah. Inilah kehidupannya. Siapa yang tidak pernah melakukan pelanggaran? Siapa yang tidak pernah melakukan kekeliruan? Pelanggaran adalah kesalahan yang disengaja. Kekeliruan adalah kesalahan yang tidak disengaja. Kesalahan yang tidak disengaja dilakukan akibat pemikiran yang menyimpang dan ketidaktahuan bahwa hal tersebut salah, hingga hanya mengutamakan pemenuhan kepentingan pribadi.
Beginilah kita sebagai makhluk awam, sering melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Untungnya, lingkungan Tzu Chi dapat memengaruhi Mei-lian. Karma dan jalinan jodoh memengaruhi kehidupan. Benih karma adalah perbuatan kita di masa lampau. Jalinan jodoh adalah yang kita temui saat ini. Jika tiada benih karma, kita tak akan menemui jalinan jodoh tersebut. Jadi, ketika jalinan jodoh matang, benih karma yang buruk pun dapat diubah ke arah yang baik.
Lihatlah, saat Mei-lian menumpang taksi itu, itu adalah jalinan jodoh, jalinan jodoh yang mengubah kehidupannya. Apakah jalinan jodoh ini datang tanpa sebab? Tentu saja tidak. Mereka pasti pernah menanam karma penyebabnya di masa lampau. Dalam hubungan antarmanusia, jalinan jodoh yang ada menjadi penyebab mereka saling bertemu. Jika tidak, setelah mengantar begitu banyak penumpang, mengapa sopir taksi itu tak pernah memerhatikan para penumpangnya yang lain selain mengantar mereka sampai ke tujuan? Sebaliknya, dari begitu banyak taksi di jalan, mengapa Mei-lian memanggil taksi yang itu? Mungkin saat itu memang belum saatnya ia mati, sehingga sopir taksi itu terus memerhatikannya.
Dengan demikian, Mei-lian dapat mengubah arah hidupnya. Meski telah berkeluarga, namun ia masih diliputi pandangan salah dan masih terus melakukan kesalahan. Jika terus begini, kondisi keluarga mereka akan hancur tak terbayangkan. Untunglah, sebuah penyakit membuat Mei-lian bertemu insan Tzu Chi.
Jalinan jodoh ini muncul kembali. Jalinan jodoh ini benar-benar mengubah hidupnya. Kini, ia menjalankan tugas dengan sukacita. Anak-anaknya pun sangat lucu. Mereka berdua turut melakukan daur ulang. Tutur kata mereka yang masih kanak-kanak amatlah lucu. Inilah kehidupan manusia.
Apakah karma tak dapat diubah? Tentu dapat diubah. Asalkan memiliki jalinan jodoh yang baik dan dapat memanfaatkan jalinan jodoh ini, nasib manusia pun dapat berubah. Hukum sebab akibat bekerja melampaui pemikiran awam. Asalkan memiliki pikiran yang baik, memahami cara memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, nasib akan dapat berubah.
Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran? Siapa yang tak pernah melakukan kekeliruan? Karena diliputi kekeruhan yang tebal, semua makhluk terus menciptakan karma buruk. Tanpa kesadaran, karma buruk akan semakin banyak. Karena itu, baik melakukan pelanggaran maupun kekeliruan. semuanya biasa terjadi. Kita mempelajari ajaran Buddha adalah agar dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan prinsip hukum sebab akibat yang belaku dalam kehidupan manusia.
Jadi, mari semua selalu bersungguh-sungguh.