[ST-010] Cinta Kasih Ibu Bagaikan Bodhisattva
Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menumbuhkan keyakinan. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala kebajikan yang menumbuhkan segala akar kebaikan. Bilamana sewaktu mempelajari ajaran Buddha kita tidak membangkitkan keyakinan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, maka sebaik apa pun ajaran-Nya, sebanyak apa pun Anda membaca, sedalam apa pun Anda mengkaji, yang Anda pahami hanya menjadi sebatas pengetahuan dan wawasan.
Keyakinan yang sejati adalah keyakinan yang disertai rasa hormat. Kita harus meyakini dan menghormati Buddha, meyakini dan menghormati Dharma serta Sangha. Kita harus menaruh keyakinan dan rasa hormat. Dharma bukanlah semata-mata untuk dipelajari, melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dharma merupakan cara kita menghadapi orang dan masalah sehari-hari. Segala tata krama dan perilaku, semuanya merupakan Dharma. Maka, kita harus meresapkan Dharma ke dalam hati dan menerapkannya dalam segala tindakan kita. Inilah keyakinan dan rasa hormat yang sesungguhnya kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.
Dharma bukanlah semata-mata untuk dipelajari, melainkan harus diserap ke dalam batin melainkan harus diresapkan ke dalam hati dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Inilah keyakinan dan rasa hormat yang sesungguhnya kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Pada kesempatan yang lalu kita telah membahas, dikarenakan kegelapan batin yang berlapis-lapis, maka noda batin menutupi hati sehingga kita tak meyakini para Buddha, Dharma yang mulia, dan Sangha yang suci, serta tak berbakti kepada orang tua dan keluarga.
Bukan hanya tidak menyakini Tiga Permata, bahkan tidak berbakti kepada orang tua sendiri. Sesungguhnya, keyakinan terhadap Tiga Permata harus dimiliki setiap praktisi Buddhis. Namun, dalam masyarakat luas, ada orang-orang yang memiliki keyakinan dan kepercayaan pada Tuhannya masing-masing. Jadi, yang saya maksud adalah untuk umat Buddha. Jika kita adalah umat Buddha, kita harus meyakini dan menghormati Tiga Permata. Keyakinan yang benar dalam ajaran Buddha, tak hanya meliputi keyakinan terhadap Tiga Permata, namun juga terhadap hukum sebab akibat.
Menghormati hukum sebab akibat berarti memahami hukum karma. Bagaimana kita bisa terlahir ke dunia? Karena di kehidupan lampau kita telah menjalin jodoh dengan orang tua kita. Seperti apa pun orang tua kita, berkat jasa merekalah kita dapat terlahir ke dunia ini. Kita sungguh harus berbakti pada orang tua. Namun, orang-orang di zaman sekarang banyak yang tak mengerti makna berbakti.
Tanggung jawab orang tua terhadap anak, tentu semua orang mengetahuinya. Membesarkan anak adalah tugas orang tua. Itu adalah tanggung jawab mereka. Jadi, orang tua akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Segala kerja keras dan usaha seumur hidup, mereka lakukan demi anak. Sungguh banyak kisah di masyarakat mengenai orang tua dengan segala usaha mereka, kerja keras mereka, kesederhanaan hidup mereka, dan sikap hemat yang mereka lakukan.
Jika Anda bertanya alasannya pada mereka, jawabannya hanya satu, yaitu demi anak-anaknya. Orang tua seperti ini sangatlah banyak. Terutama ibu. Ibu memiliki hati Bodhisattva. Ia mencintai anaknya seperti Bodhisattva mencintai semua makhluk. Ia rela mengorbankan nyawa demi anaknya. Apakah kita masih ingat beberapa tahun yang lalu ada seorang wanita hamil, yang pada usia kehamilan empat bulan didiagnosis mengidap kanker hati. Dokter pun mengatakan bahwa ia masih dapat tertolong bila segera diobati.
Namun, terhadap kehamilannya, janin dalam kandungannya yang berusia empat bulan itu harus digugurkan, agar ia dapat segera menjalani kemoterapi sebelum terlambat. Tetapi, ibu ini merasa anaknya itu telah hidup selama empat bulan. Jadi, ia tetap berkeras tak memikirkan nyawanya. Ia menolak pengobatan dan meminta dokter mempertahankan janinnya. Ia berharap dapat melahirkan anak ini Ia berharap dapat melahirkan anak ini meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Ketika itu, banyak anggota Muda-Mudi Tzu Chi (Tzu Ching) yang menjadi relawan di rumah sakit. Para ibu relawan kita sangat tersentuh dengan kisah ibu ini. Karenanya, setiap ada Tzu Ching yang datang akan diajak untuk menjenguk ibu ini.
Melihat ibu ini fisiknya semakin lemah hari demi hari karena kanker yang terus menggerogotinya, sungguh membuat tak sampai hati. Namun, sifat keibuannya terlihat teguh. Ketika ia berbicara dengan muda-mudi ini, wajahnya selalu tersenyum sambil mengelus perutnya. Perutnya semakin membesar dari hari ke hari. Ia tampak sebagai ibu yang bangga dan bahagia. Ia sangat menghargai dan menyayangi nyawa yang hidup dalam tubuhnya. Ia sangat bahagia. Namun, fisiknya makin lama makin lemah, dan semakin dekat dengan kematian, sementara anak di dalam perutnya semakin lama semakin terbentuk.
Bayi dalam kandungannya terus bertumbuh hari demi hari. Semua orang berdoa bagi ibu ini. Berharap ia dapat memenuhi kodratnya sebagai ibu dan dapat terus bertahan hidup untuk membesarkan anaknya. Setelah enam bulan di rumah sakit, harapannya pun menjadi kenyataan. Saya masih ingat hari ketika ia melahirkan. Dokter melihat kondisi ibu ini memburuk dan anaknya yang telah cukup bulan, lalu menyarankan untuk dilakukan bedah caesar, karena persalinan normal akan berbahaya baginya.
Ketika mendengar ia akan melahirkan, saya pun secara khusus menjenguknya dan mendampinginya di kamar bersalin. Saat saya melihatnya, ia masih tersenyum. Saya pun memberinya dorongan semangat. Ia berkata kepada saya, “Master, saya sangat berterima kasih karena selama ini banyak relawan menjaga saya.” “Saya sudah merasa puas, hari ini anak saya akan lahir.” Ia tampak seperti seorang ibu yang sehat, yang sangat bahagia karena akan melahirkan. Pada hari itu, ia menjalani bedah caesar dan anak yang dilahirkannya sangat sehat.
Keesokan harinya saya kembali menjenguknya. Saya berkata, “Selamat, ya.” “Apakah sudah melihat anakmu?” Ia menjawab, “Tahu ia sehat, itu sudah cukup.” “Bisa mengetahui itu saja sudah cukup.” Sesungguhnya, ia takut jika anaknya dibawa ke dekatnya dapat tertular oleh penyakitnya karena anaknya masih sangat kecil. Lihatlah, ibu ini sungguh mulia. Ia rela mengorbankan nyawa demi anaknya. Bahkan setelah anaknya lahir pun, ia masih memikirkan apakah anaknya akan tertular. Wanita ini beberapa hari kemudian meninggal dunia. Ia bahkan belum melihat anaknya. Kebijaksanaan dan keberanian seperti dirinya, inilah yang kita sebut sebagai “ibu”. Ia sungguh merupakan Bodhisattva dunia. Ia rela mengorbankan nyawa demi anaknya. Sungguh luar biasa. Inilah cahaya cinta kasih seorang ibu.
Hati seorang ibu bagaikan Bodhisattva, tanpa keluh kesah dan penyesalan menjaga anaknya dan rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan anak dari lahir hingga dewasa. Namun, betapa banyak orang yang tak memahaminya. Penderitaan ibu ketika mengandung selama 10 bulan, banyak orang tak memahaminya. Sesungguhnya, ibu menderita ketika melahirkan, anak pun harus berjuang ketika akan meninggalkan rahim ibu. Namun, setelah lahir, orang-orang lupa sumber kehidupan mereka dan bagaimana mereka dilahirkan dengan tidak mudah. Setelah lahir, selain perawatan dari ibu, juga ada ayah. Ayah bersusah payah menghidupi keluarga dan bekerja keras memberi pendidikan serta penghidupan terbaik bagi anak.
Namun banyak dari kita yang tak memahaminya. Karenanya, dalam pementasan “Sutra Bakti Seorang Anak”, pada salah satu baitnya dikatakan bahwa anak yang tak berbakti, “Menyia-nyiakan kehidupan sebagai manusia, diliputi kebodohan, tak mengingat budi orang tua.” Mereka sungguh menyia-nyiakan hidupnya. Semua orang seharusnya memahami tidaklah mudah terlahir sebagai manusia.
Manusia juga perlu mengetahui bahwa kecerdasan kita adalah yang tertinggi di antara semua makhluk hidup. Karenanya, kita harus mengenal balas budi. Kita yang terlahir sebagai manusia, jika tidak memahami tata susila sebagai manusia, berarti benar-benar telah menyia-nyiakan hidup ini dan tidak berbeda jauh dengan kebanyakan hewan.
Hal yang paling membedakan manusia dengan hewan adalah manusia memiliki tata susila. Jika memahami tata susila sebagai manusia, kita harus menyadari dan membalas budi. Dengan demikian, maka kehidupan ini baru benar-benar berharga. Sedangkan bila terlahir sebagai manusia, namun tak memahami prinsip menjadi manusia, bukankah berarti sia-sia? Tubuh manusia ini menjadi tidak berguna karena kita berpikiran dan bertindak bodoh.
Seperti yang kita bahas sebelumnya, tindakan bodoh akibat noda batin patut dikasihani, karena mereka tidak mengingat budi orang tua. Lihatlah betapa banyak anak muda di masyarakat yang bertindak semaunya. Mereka bersikap congkak dan sesuka hati. Anak-anak seperti ini, di rumah tidak berbakti kepada orang tuanya. Orang zaman dahulu berkata, ”Berbakti adalah sumber dari segala kebajikan.” Orang yang memahami perlunya berbakti, dengan sendirinya akan mengerti cara menghormati orang lain di masyarakat. Jika tak berbakti kepada orang tua di rumah, bagaimana bisa berteman baik di luar dan memiliki sikap menghormati orang lain? Sebagai anak haruslah ingat membalas budi orang tua, “harus ingat sumbernya ketika minum air”, barulah tidak menyia-nyiakan kehidupan sebagai manusia.
Jadi, untuk menjadi manusia seutuhnya, haruslah dimulai dari keluarga. Berlaku baik terhadap orang lain, harus dimulai dari berbakti kepada orang tua. Kita harus menyadari tubuh kita ini berasal dari mana dan bagaimana terbentuknya. Jika manusia tak menyadari akarnya dan tak berbakti kepada orang tua, sesungguhnya hidupnya amat sia-sia. Orang seperti ini tidak mengingat budi orang tua, dan tidak memikirkan orang tua serta budi baik yang telah mereka berikan. Bukan karena orang tua memberikan banyak harta atau karena orang tua mewariskan banyak uang atau memberi kita penghidupan yang baik barulah kita berterima kasih. Bukan. Jika hidup dalam kekurangan dan orang tua tetap bekerja keras demi anak, kita bahkan harus lebih berterima kasih.
Banyak kisah tentang bakti yang sangat menyentuh berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mereka yang dapat berpikir bajik, tentu akan menjaga moralitas sebagai manusia. Mereka akan paham berbakti dan menghormati. Orang tua berbudi luhur terhadap kita, namun banyak dari kita yang tak menghormatinya. Budi orang tua terhadap kita sangatlah besar. Saudara sekalian, adakalanya jika kita mengenang perlakuan orang tua terhadap kita sejak kecil, mungkin ada juga orang tua yang tak pandai mengungkapkan kasih sayang mereka. Lantas ada yang merasa bahwa dahulu orang tuanya tak mengasihinya, dan tak memerhatikannya. Bagaimana pun, kita seharusnya berpikir, jika bukan karena perawatan dan kasih sayang orang tua, akankah kita tumbuh dewasa dan menjadi orang?
Jadi, budi luhur orang tua selain mengandung selama 10 bulan, juga membesarkan kita hingga dewasa. Semua ini berkat kerja keras orang tua serta kasih sayang mereka. Mengetahui budi luhur mereka, sering kali kita tetap tidak menghormati mereka. Kita sering mendengar banyak orang yang tak pandai mengungkapkan kasih sayang dan rasa bakti mereka,sehingga dianggap melupakan budi baik dan tidak berbakti.
Budi orang tua sungguh besar. Kita harus segera mengungkapkan rasa bakti terhadap mereka. Mungkin kita masih ingat mengenai sebuah kasus, yaitu seorang nenek berusia 90 tahun lebih. Ia menderita sakit keras dan dirawat di Rumah Sakit Tzu Chi.
Ia memiliki tiga orang putra, dua orang menantu, dan seorang putri. Mereka semua sangat berbakti. Namun, ada seorang putra yang sangat dikhawatirkan ibunya. Suatu hari, seorang komite Tzu Chi melihat seorang bapak di luar kamar pasien. Ia pun bertanya pada bapak itu, “Mengapa Anda begitu khawatir?” Ia menjawab, “Ibuku telah berusia 90 tahun lebih.” “Kami berharap ia dapat hidup lebih lama lagi, namun sepertinya tak akan bisa.” Relawan Tzu Chi pun menghiburnya, “Kalian begitu berbakti, ibu kalian pasti sudah puas.” Tetapi, bapak ini berkata, “Ibu saya memang sungguh beruntung karena kami semua sangat berbakti.” “Saya adalah anak tertua dan memiliki dua saudara laki-laki.” “Ibu memiliki sebuah penyesalan.” “Ia sangat mengkhawatirkan adik bungsu kami.” “Bukankah ia kira-kira sudah berusia 50 tahun?” “Mengapa ibumu mengkhawatirkannya?”
Ia pun menjawab, “Tidak tahu mengapa.” “Adik bungsu kami mulanya juga sangat berbakti.” “Entah mengapa beberapa tahun belakangan ini ia memelihara kumis sampai panjang sehingga tak sedap dipandang.” Istrinya pun mengatakan padanya bahwa ia lebih memilih kumis daripada istri. “Ibu saya terus membujuknya untuk mencukur kumisnya, namun ia tidak mau.” “Inilah penyesalan ibu saya yang terbesar.” Komite Tzu Chi ini pun berkata, “Begitu rupanya. Serahkan saja pada saya.” Keesokan harinya, ia bertemu dengan seseorang yang berkumis dan berjenggot panjang juga berjalan-jalan di depan kamar pasien.
Komite itu pun mengenalinya dan segera menghampirinya, “Pak, Anda datang menjenguk siapa?” Ia menjawab, “Saya datang menjenguk ibu saya.” “Ada apa dengan ibu Anda?” Ia terlihat seperti sedang menahan air matanya karena tidak rela berpisah dengan ibunya. Komite Tzu Chi itu pun bertanya, “Mengapa Anda tidak masuk ke dalam?” Ia menjawab, “Ketika melihat saya, ibu saya tak senang.” “Mengapa?” “Anda terlihat penuh semangat.” “Kumis dan jenggot Anda ini mengingatkan saya pada seorang penyanyi,” kata komite Tzu Chi ini padanya.
Dan ia melanjutkan, “Melihat Anda memelihara kumis, saya jadi teringat pada seorang penyanyi.” Komite itu lalu menyebutkan sebuah nama. Bapak ini berkata, “Saya tahu, saya juga pernah mendengar lagunya.” “Ia sangat populer.” Komite Tzu Chi itu lalu menjawab, “Benar, sangat populer.” “Ketika masih muda, saya suka mendengarkan lagu-lagunya.” “Tetapi tahukah Anda, akhirnya semua tak lagi menyukai pertunjukannya.” Bapak itu pun bertanya, “Ada apa dengan pertunjukannya?” Ia menjawab, “Entah mengapa ia memelihara kumis dan jenggot.” “Ketika jenggotnya semakin panjang, para penggemarnya menjadi tidak suka.” “Bahkan lagu-lagunya juga tidak lagi disukai.” “Sejak itu, ia tak lagi populer.” Bapak itu membalas, “Oh.” Komite Tzu Chi itu bertanya lagi, “Tuan, Anda begitu berkarisma.” “Apa pekerjaan Anda?” Ia menjawab, “Servis sepeda motor.” Komite itu pun membalas, “Oh, saya tahu, mungkin Anda memelihara kumis karena saat Anda menyervis motor pelanggan, mereka menyukai kumis Anda.” “Ini semua demi kelancaran usaha Anda.” Bapak itu menjawab, “Bukan.” “Usaha sekarang sedang tidak lancar.” Komite itu berkata, “Kalau begitu, pasti karena demi istri Anda yang suka Anda memelihara kumis, betul kan?” Ia menjawab, “Tidak.” Komite itu kembali bertanya, “Lalu mengapa Anda mengorbankan banyak hal demi kumis?” “Sebuah keluarga yang begitu baik, istri yang rela mendampingi Anda seumur hidup.” “Ia mencintai Anda dan tak ingin melihat Anda tampil buruk.” “Karenanya, ia memarahi Anda.” Ia berkata, “Pria harus berpenampilan pria.” Komite itu menjawab, “Apakah semua pria harus memelihara kumis dan jenggot seperti Anda baru akan terlihat berkarisma?”
Ia menjawab, “Saya juga tahu.” “Sekarang saya tidak berani melihat ibu saya karena kumis dan jenggot yang panjang ini.” Komite itu segera menjawab, “Ya, ibu Anda telah berusia lanjut, entah berapa lama ia dapat bertahan.” “Jika Anda tidak segera berubah, guru kami mengatakan bahwa hukuman terbesar manusia adalah penyesalan.” Pria itu menjawab, “Saya mengerti.” “Saya mengerti apa yang harus saya lakukan.” Ia pun segera pulang. Keesokan harinya, ia berpenampilan baru. Komite Tzu Chi pun melihatnya berada di dalam kamar pasien dan memanggi-manggil, “Ibu, Ibu.” Ibunya sepertinya masih tak sadarkan diri. Komite Tzu Chi itu pun segera menghampiri dan membantunya memanggil, “Nenek, coba buka mata lebar-lebar.” Ia juga berkata kepada bapak itu, “Cepat panggil ibu, beri tahu dia siapa Anda.” Ia pun segera memanggil ibunya, “Ibu, saya putramu.” Ibunya membuka lalu menutup kembali matanya. Sang anak berkata, “Ibu tak mengenali saya?” “Saya putramu.” “Lihat, kumis dan jenggot saya telah dicukur.” “Lihatlah sebentar.” Sang ibu kembali membuka matanya dan tersenyum.
Meski tangannya lemah, namun tetap diulurkan untuk mengelus wajah anaknya. Putranya segera menyambut tangan ibunya yang hendak mengelus wajahnya, dan berkata, “Lihatlah, kumis dan jenggot saya telah dicukur.” Meski ibunya tak sanggup berbicara, ia tetap tersenyum. Cerita ini sungguh menyentuh. Seorang ibu yang berusia hampir 100 tahun, lebih dari 90 tahun, di dalam hatinya memiliki kekhawatiran terhadap putra bungsunya yang telah berusia lebih dari 50 tahun.
Sang ibu cemas karena anaknya memelihara jenggot. Bahkan di saat-saat terakhirnya, anaknya inilah yang menjadi penyesalannya. Kini, setelah melihat perubahan anaknya, ia pun merasa tenang dan dapat tersenyum. Keesokan harinya, ia pun tutup usia. Lihatlah, ada orang yang bukannya tidak berbakti, hanya saja tak mengerti cara mengungkapkannya atau kurang sesuai dengan keinginan orang tuanya. Ia berbakti, namun tak mengerti caranya. Sang ibu menginginkannya mencukur kumisnya, namun ia tak menurutinya. Tetapi, ia juga berbakti. Demi ibunya, akhirnya ia mencukur kumisnya. Intinya, kita harus mengerti cara mengungkapkan. Janganlah hanya menyimpan rasa bakti dalam hati, namun tak mau mengungkapkannya dan tak mau menuruti orang tua.
Jika demikian, akan dianggap anak tak berbakti. Dianggap tidak berbakti, meski sesungguhnya cukup berbakti. Jika menunggu hingga orang tua marah, maka menyesal pun sudah terlambat. Karenanya, sering dikatakan, “Anak ingin berbakti namun orang tua telah tiada.” Hal ini sungguh merupakan penyesalan. Jika sebagai manusia dapat segera mengungkapkan rasa bakti, maka tak akan ada penyesalan dalam hidup kita. Jadi, sebagai praktisi Buddhis kita harus meyakini dan menghormati Tiga Permata, serta berbakti kepada orang tua. Inilah kewajiban kita sebagai praktisi Buddhis. Harap semua orang lebih bersungguh-sungguh.