[ST-009] Misi Mempelajari Ajaran Buddha
Setiap hari, setiap saat, apakah kita semua telah menjaga hati dengan baik? Beberapa hari ini, kita terus membahas tentang “hati”. Kita harus senantiasa mengingatkan diri sendiri bahwa sungguh sulit terlahir sebagai manusia, lebih sulit lagi mendengar ajaran Buddha. Ajaran Buddha adalah Dharma.
Dharma bagaikan air. Air digunakan untuk membersihkan kotoran. Demikian pula, hati kita membutuhkan ajaran Buddha untuk membersihkan noda dalam batin. Tujuan dari melatih diri tak lain adalah mengikis noda batin kita agar kebijaksanaan kita yang murni dapat memancarkan sinarnya yang cemerlang. Inilah yang terpenting dalam belajar ajaran Buddha. Jadi, tindakan makhluk awam didasarkan pada kebodohan.
Inilah kegelapan batin yang membuat sinar cemerlang kebijaksanaan kita menjadi tertutupi. Kita bergaul dengan teman yang merugikan dan tidak bermanfaat. Maka dikatakan, bergaul dengan teman yang merugikan mempertebal noda batin yang mengacaukan pikiran. Karena ketidaktahuan akan hakikat sejati, kita bersikap congkak dan sesuka hati.
Makhluk awam bertindak bodoh karena kegelapan batin, bergaul dengan teman yang merugikan, sehingga mempertebal noda batin yang mengacaukan pikirannya. Disebabkan ketidaktahuan akan hakikat sejatinya, manusia bersikap congkak dan sesuka hati. ”Bersikap congkak dan sesuka hati” sebelumnya sudah pernah kita bahas. Sesuka hati berarti bertindak semaunya.
Jika pikiran kita tak terkendali dan semaunya, kita akan mudah bertindak sewenang-wenang. Kita mengandalkan berbagai kekuasaan sehingga mudah meremehkan orang lain. Bukan hanya itu, kita juga meremehkan mereka yang lebih tua. Zaman sekarang banyak anak muda yang tidak menghormati ataupun berbakti pada orang yang lebih tua. Adakalanya, ketika orang tua menyampaikan sesuatu padanya, mereka membalas dengan ringan, “Kalian sudah tua, tahu apa?” Ini termasuk sikap meremehkan orang tua. Sikap meremehkan orang tua ini merupakan sikap congkak dan sesuka hati.
Mereka merasa dirinya telah mengerti banyak tentang masyarakat dan orang tua sudah ketinggalan zaman, menganggap cara lama sudah tak sesuai lagi. Mereka berpandangan bahwa zaman sekarang sudah berbeda. Karenanya, mereka tak mau mendengarkan pendapat orang tua. Inilah sikap congkak dan sesuka hati. Mereka tak lagi menghormati orang tua sendiri. Orang-orang seperti ini telah terpengaruh teman-teman yang tidak baik sehingga memiliki kebiasaan buruk, bersikap congkak dan sesuka hati, sangat angkuh dan arogan. Jika pikiran tak terkendali dan semaunya, manusia akan mudah bersikap sewenang-wenang, meremehkan orang lain, serta memiliki sifat angkuh dan arogan. Inilah yang disebut sikap congkak dan sesuka hati.
Sikap tak mau mendengarkan nasihat orang tua merupakan tabiat yang sangat buruk. Dengan demikian, mereka pun tidak meyakini Buddha dan Bodhisattva. Jika mereka dinasihati bahwa, “Sebagai manusia, kita harus berkeyakinan, melaksanakan ibadah dan melakukan kebajikan,” kita akan mendengar mereka menjawab, “Untuk apa berbuat baik, saya tidak berbuat jahat saja sudah bagus.” “Untuk apa berbuat baik?” “Meyakini agama?” “Saya tak tahu apa itu agama (zongjiao).” “Yang saya tahu hanya tidur (shuijiao).” Orang-orang yang berkata demikian menunjukkan bahwa dirinya tak berkeyakinan.
Saya sering berkata, keyakinan sangat penting dalam kehidupan. Tak masalah apa pun agama yang Anda yakini, namun setiap orang perlu meyakini suatu agama (zongjiao). “Zong” berarti tujuan hidup manusia, “Jiao” berarti pendidikan kehidupan.
Dalam hidup ini, kita tak boleh meninggalkan ”tujuan dan pendidikan kehidupan” ini. Tentu, agama mengajarkan kebaikan pada manusia, mengajarkan manusia agar tidak memilih tujuan hidup yang salah. Kehidupan tanpa adanya tujuan, bagaikan kereta api tanpa lintasan rel. Karenanya, manusia membutuhkan agama. Dengan adanya arah dan tujuan, sama seperti kereta api yang memiliki rel, ia akan berjalan sesuai arah tanpa menyimpang.
Karenanya, tujuan hidup sangat dibutuhkan. Agama mengajarkan manusia berbuat baik. Manusia membutuhkan arah dan tujuan dalam hidup bagaikan kereta api yang membutuhkan rel agar dapat bergerak menuju arah yang benar. Tujuan dan arah ini terdapat dalam agama, yang membimbing kita ke jalan yang benar dan mengajarkan kita cara hidup yang benar.
Ada orang berkata, “Belajar sama seperti makan, tak mengenal batas usia.” Janganlah kita semua menganggap bahwa bila sudah tua maka tak perlu lagi belajar. Janganlah juga berpikir, “Saya berpendidikan tinggi, masihkah harus meyakini suatu agama?” “Apa lagi yang perlu saya pelajari?” “Pendidikan kehidupan?” “Sudah saya ketahui semuanya.” Sesungguhnya, sikap ini adalah salah.
Di dunia ini, yang harus kita pelajari sesungguhnya sangatlah banyak. Hingga hembusan nafas kita yang terakhir pun, yang harus dipelajari belum usai. Karenanya, janganlah kita bersikap congkak dan sesuka hati hanya karena telah membaca banyak buku dan menyaksikan banyak hal. Janganlah ada kecongkakan. Kita hendaknya meyakini agama. Agama apa pun itu, semua bertujuan membimbing manusia menuju ke jalan yang benar.
Penggalan Syair Pertobatan Air Samadhi berbunyi, “Tak meyakini para Buddha di sepuluh penjuru.” Kita harus tahu bahwa para Buddha dan Bodhisattva datang ke dunia untuk menyembuhkan penyakit semua makhluk. Ada orang yang akan bertanya, “Kalau begitu, apakah sama dengan dokter di RS?” Sesungguhnya, dokter di rumah sakit hanya menyembuhkan penyakit pada jasmani kita. Buddha adalah guru pembimbing semua makhluk. Selain menunjukkan kepada kita cara hidup dan perilaku yang sehat, juga membimbing kita ke arah batin yang sehat, memberi tahu kita tentang penyakit yang ada dalam batin. Penyakit batin ini lebih berbahaya daripada penyakit fisik. Karena jika batin berpenyakit, jika batin menyimpang, bukan hanya pada kehidupan ini, melainkan pada setiap kehidupan kita terus menimbun karma buruk sehingga di tiap kehidupan pula tanpa daya kita menerima buah karma. Sungguh menakutkan. Inilah akibat penyakit batin.
Buddha adalah guru pembimbing semua makhluk. Para Buddha dan Bodhisattva datang ke dunia untuk menyembuhkan penyakit semua makhluk dan membimbing mereka yang tersesat ke jalan yang benar. Ada sebuah berita yang membuat orang merasa sangat sedih yang membuat orang merasa sedih dan prihatin.
Di Amerika Serikat ada sebuah sekolah. Pagi hari saat semua akan menyantap sarapan, tiga sampai empat ratus siswa berkumpul bersama. Lalu seorang remaja yang baru berusia 14 tahun masuk ke ruangan itu dengan terburu-buru. Begitu melihat kepala sekolah, ia langsung mengeluarkan sepucuk pistol dan melepas dua tembakan ke dada kepala sekolah. Lalu, dengan sepucuk pistol yang lain, ia menembak kepalanya sendiri. Kepala sekolah dan anak ini, keduanya tewas.
Kejadian ini menggemparkan seluruh sekolah. Ternyata anak ini biasanya sangat pendiam. Dalam bergaul dengan teman sekolahnya, selalu orang lain yang memulai pembicaraan barulah ia akan menanggapi. Perilaku kesehariannya juga tak menunjukkan keganjilan. Namun, entah mengapa pada hari itu ia menembak kepala sekolah dan kemudian bunuh diri. Saat ditanyakan kepada para guru dan murid, tak ada yang tahu penyebabnya.
Ternyata, anak ini pada suatu hari membuka brankas ayah tirinya dan mengambil tiga pucuk pistol milik ayahnya. Ia terus membawa pistol ini bersamanya. Pada pagi itu, tanpa terduga ia membawa tiga pucuk pistol itu dengannya dan tiba-tiba melakukan hal yang menggemparkan seisi sekolah.
Sesungguhnya, ini bukan hanya menakutkan semua orang. Bagi ayah tiri dan ibunya, selain menyesalkan perbuatan anaknya, mereka juga merasa bersalah pada masyarakat dan pada sang kepala sekolah, terutama karena anak ini biasanya tak pernah berperilaku buruk. Ia tak suka bicara dan sangat pendiam. Hanya sifat ini satu-satunya kekurangan sang anak. Sesungguhnya masalah apakah yang membuatnya melakukan penembakan itu? Orang-orang pun kesulitan untuk menganalisa penyebab tindakannya ini.
Namun, jika dilihat dari sisi agama, hal ini tentunya disebabkan oleh kekuatan karma.Karma buruk membuat kegelapan batinnya bertambah. Pikirannya telah tertutup oleh selapis demi selapis kegelapan batin. Benih karma ini telah bertunas. Jika tidak, anak berusia 14 tahun yang polos dan telah duduk di bangku sekolah menengah dengan kehidupan yang lancar, memiliki dendam dan kebencian apa? Seluruh murid sekolah yang mengenal anak ini tak dapat menemukan alasan mengapa anak ini melakukan hal tersebut. Bukankah ini adalah akibat kekuatan karma? Karma buruknya berbuah. Mungkin kepala sekolah ini memiliki suatu jodoh buruk dengannya, sehingga ketika karma dan kondisi terpenuhi, mereka tak mampu melepaskan ikatan karma ini. Agama mengajarkan kita cara melepaskan ikatan karma buruk ini.
Jika kita memahami hukum karma, kita dapat giat berusaha untuk bertobat; bertobat atas karma dan jodoh buruk terdahulu. Ketika kebencian dan dendam muncul, kita harus sadar bahwa ini disebabkan oleh karma. Kita hendaknya selalu mawas diri, mengikis karma dengan menerimanya secara ikhlas dan tidak menciptakan karma buruk yang baru.
Ketika satu karma buruk berbuah, bersyukurlah karena timbunan karma buruk telah berkurang satu dan telah tertuntaskan. Menghadapi hidup dengan sikap seperti ini, itulah yang disebut mengikis karma buruk. Kita sering berbicara tentang mengikis karma. “Bertekad melenyapkan Tiga Rintangan.” Apa saja Tiga Rintangan itu? Kita memiliki ketamakan, kebencian, kebodohan. Kegelapan batin tersebut selalu merintangi kita dan membuat kita terus menciptakan karma buruk. Ditambah kemelekatan pada pandangan salah, sudah tentu kita terus berada dalam kegelapan. Orang yang terus diliputi kegelapan, ditambah lagi bahwa ia tak meyakini agama, akan terus melakukan perbuatan bodoh.
“Tiga Rintangan” merujuk pada rintangan karma, rintangan buah karma, rintangan noda batin. Mengikis karma dengan menerimanya secara ikhlas dan tidak menciptakan karma buruk baru. Jangan biarkan ketamakan, kebencian, kebodohan menutupi batin dan membuat kita terus melekat pada pandangan salah.
Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi tertulis, “Tidak meyakini para Buddha di sepuluh penjuru.” Sesungguhnya, jika kita meyakini Buddha yang merupakan tabib agung bagi dunia, Beliau dapat membimbing kita tentang kebenaran alam semesta dan empat fase dalam segala fenomena. Empat fase dalam segala fenomena mencakup pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran.
Buddha dapat secara terperinci menjelaskan pada kita soal ketidakkekalan hidup dan kerentanan segala materi di alam semesta. Kita pun akhirnya dapat memahami bahwa hal ini merupakan proses alami kehidupan. Kita dapat menyelami kebenaran dalam segala materi, yaitu pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran.
Buddha juga mengajarkan kepada kita bahwa tubuh fisik kita mengalami kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian agar kita memahami ini sebagai proses alamiah. Ada kelahiran, tentu ada usia tua, penyakit, dan kematian. Proses dalam kehidupan ini harus lebih kita pahami. Jika kita dapat memahaminya, kita tak akan cemas menghadapi hidup ataupun mati. Inilah peran Buddha yang merupakan tabib jasmani kita, dan juga tabib bagi batin kita. Batin kita diliputi banyak noda. Ada 84.000 jenis noda batin. Noda batin yang berjumlah 84.000 ini, bagaimana caranya agar terkikis satu demi satu? Kita harus meyakini semua yang Buddha ajarkan. Ajaran yang disampaikan Buddha
jika kita terima dengan sungguh-sungguh, kita akan memahami adanya 84.000 noda batin. Noda batin apa pun yang muncul dapat segera kita atasi dengan tepat. Jadi, kita harus meyakini Buddha sebagai tabib agung bagi kehidupan kita. Buddha adalah tabib agung semesta, tabib bagi jasmani dan batin kita. Beliau memberikan obat yang tepat dan sesuai untuk melenyapkan noda dan kegelapan batin. Orang-orang tadi tak hanya tak meyakini Buddha, namun juga Dharma yang mulia dan Sangha yang suci.
Sesungguhnya, Dharma adalah obat mujarab. Tadi saya mengatakan, dalam batin manusia terdapat 84.000 jenis penyakit. Delapan puluh empat ribu jenis penyakit ini masing-masing harus diobati dengan Dharma. Kita meyakini Buddha sebagaimana seorang pasien memercayai dokter. Dokter memeriksa kesehatan Anda dan mendiagnosis penyakit yang Anda derita. Ia kemudian menulis resep obat untuk Anda. Kita tentu harus meminum obatnya. Jika hanya menebus, namun tidak meminumnya, maka penyakit itu tidak akan sembuh.
Sama halnya jika kita meyakini Buddha, namun tidak menerima Dharma; mendengar Dharma, namun tak mempraktikkannya, dan tak mengikuti ajaran-Nya. Jika demikian, Dharma tak akan memberi manfaat pada kita. Karenanya, kita harus paham bahwa Dharma adalah obat yang mengobati penyakit. Jika kita tak meyakininya, sama halnya dengan tak mau meminum obat. Ditambah lagi kita tidak meyakini Sangha. Sangha bagai ibu yang merawat anaknya yang sakit. Karena Buddha telah meninggalkan dunia lebih dari 2.000 tahun lamanya, meski ajaran Buddha masih bertahan di dunia, namun siapa yang membimbing kita?
Yaitu mereka yang mengikuti jejak Buddha, bertekad untuk meninggalkan keluarga kecilnya dan masuk ke keluarga besar Buddha. Mereka ingin memikul misi Buddha menyelamatkan semua makhluk. Para anggota Sangha monastik ini sungguh-sungguh mengkaji ajaran Buddha, juga mempraktikkannya secara nyata dan hidup sesuai cara yang diajarkan Buddha, serta mengikuti jejak langkah Buddha.
Meski lebih dari 2.000 tahun telah berlalu, meski waktu dan tempat telah sangat berbeda, namun jejak langkah Buddha masih bertahan dan terus dijalankan. Para anggota Sangha monastik yang melatih diri dengan tekun bagaikan seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit. Banyak makhluk hidup yang menderita sakit dan tak tahu harus meminum obat apa. Kaum rohaniwan haruslah mendampingi dan merawat mereka, serta memberikan obat yang tepat. Inilah anggota Sangha, bagaikan ibu yang merawat anaknya yang sakit. Jadi, dalam melatih diri, kita harus memiliki tekad yang teguh dan memahami misi kita mendalamii ajaran Buddha.
Hormat dan yakinlah pada Buddha, Dharma, dan Sangha. Buddha adalah tabib agung semua makhluk. Dharma adalah obat penyembuh penyakit. Sangha bagaikan ibu yang merawat anaknya yang sakit. Kaum rohaniwan seperti kita harus menyelamatkan jiwa kebijaksanaan semua makhluk, karena batin makhluk hidup sedang sakit yang umumnya disebabkan oleh kegelapan batin.
Ini sungguh bagaikan virus zaman sekarang yang juga menyebar akibat ulah manusia. Meski dibedakan antara fisik dan batin, sesungguhnya segala penyakit bersumber dari batin. Para Buddha dan Bodhisattva kembali ke dunia dengan semangat welas asih dan keberanian untuk berdiri di garis depan bagai dokter yang dirinya sendiri berisiko terkena penyakit.
Sesungguhnya, Bodhisattva datang ke dunia Saha yang diliputi kekeruhan, mereka juga menghadapi kemungkinan untuk ikut diliputi kegelapan batin. Jadi, Bodhisattva maupun Arhat juga gentar akan hukum sebab akibat. Jika tidak hati-hati, kekuatan karma sangatlah menakutkan.
Jadi, Bodhisattva sungguh berani untuk datang ke dunia Saha yang keruh ini. untuk datang ke dunia Saha yang keruh ini. Jika kita meyakini Buddha dan memiliki Buddha di dalam hati, Buddha akan ada di hadapan kita dan tidak terpisah jauh dari kita. Karenanya, semua orang harus memiliki keyakinan; meyakini Buddha, Dharma, dan Sangha.
Buddha adalah tabib agung bagi semua makhluk. Dharma adalah obat bagi segala penyakit. Sangha bagaikan ibu yang penuh cinta kasih merawat dan menjaga anaknya yang sakit. Karenanya, kita harus memiliki rasa hormat dan keyakinan di dalam hati.