[ST-008] Memberi Manfaat Bagi Orang Lain adalah Bagi Pencapaian Diri Sendiri
Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan manusia bagaikan mimpi. Ada orang yang bermimpi indah, dan mereka pun hidup dalam mimpi itu. Kehidupannya berlalu begitu saja. Ada pula orang yang bermimpi buruk. Menghadapi kehidupan yang seperti ini, mereka tak tahu bagaimana tersadar dari mimpi. Kehidupan sungguh bagaikan mimpi, kita tak kuasa mengendalikannya.
Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita berharap dapat belajar untuk mengetahui cara menerima mimpi ini, tidak tersesat di dalamnya, dan dapat tersadar dari mimpi tersebut serta mengingatnya dengan jelas setelah sadar. Jika itu adalah mimpi yang indah, kita harus memahami cara menciptakan kondisi indah itu dalam pikiran kita agar kelak benar-benar menjadi kenyataan. Dan kalaupun itu adalah mimpi buruk, kita tetap harus mengingatnya dan mengambilnya sebagai pelajaran untuk introspeksi diri.
Meski mimpi hanyalah ilusi, namun dapat menggambarkan kehidupan. Contohnya, hari kemarin telah berlalu. Keinginan untuk kembali ke saat kemarin adalah hal yang tidak mungkin terpenuhi. Namun, apakah kita telah berintrospeksi atas hal-hal yang kita lakukan kemarin? Mungkin kemarin terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Di antara orang-orang yang kita temui, mungkin ada yang merasa tidak senang dengan kelakuan kita. Apakah dalam interaksi antarmanusia kita pernah mengintrospeksi perilaku kita? Kehidupan manusia bagaikan mimpi.
Namun, setiap saat kita harus tetap mengintrospeksi diri dengan sungguh-sungguh karena kita semua adalah makhluk awam. Makhluk awam bertindak bodoh karena diliputi kegelapan batin. Makhluk awam melewati hari-hari dalam buaian mimpi dan tak mampu mengendalikan diri. Sesungguhnya ini sangat disayangkan. Kita sering berkata, “Sungguh sulit terlahir sebagai manusia, lebih sulit lagi berkesempatan mendengar Dharma.” Kita yang telah dapat terlahir sebagai manusia, mengapa tak segera memanfaatkan waktu dan tubuh jasmani ini? Meskipun jasmani ini hanyalah perpaduan 4 unsur dan kehidupan ini tidaklah kekal, mengapa kita tak dapat sebaik mungkin memanfaatkan waktu saat ini dan menggunakan tubuh yang terbentuk dari perpaduan 4 unsur ini untuk segera belajar memahami kehidupan?
Tubuh jasmani kita berasal dari unsur tanah, air, api, angin yang berpadu. Meski tidak kekal dan bersifat khayal, jika ia dimanfaatkan sebaik-baiknya, kita dapat mencapai buah pencerahan tertinggi. Bagaimana mengubah kebodohan menjadi kebijaksanaan? Semua orang dapat berkata, “Tanpa kesulitan, kebijaksanaan tak akan tumbuh.” Guna mengubah kebodohan menjadi kebijaksanaan, kita harus terjun dan menyelami segala permasalahan manusia di dunia, perasaan dalam hubungan antarmanusia, dan berbagai hal maupun peristiwa di dunia. Jika kita hanya mendengar dan membacanya melalui buku-buku, yang kita peroleh hanyalah pengetahuan umum. Saat menghadapi suatu masalah, kita tetap akan bertindak bodoh. Pemikiran dan tindakan kita tetap menunjukkan ketidaktahuan dan kebodohan. Sungguh disayangkan bahwa makhluk awam yang berkesempatan terlahir sebagai manusia tak dapat memanfaatkan waktu dalam hidupnya.
Oleh karena itu, kegelapan batinnya semakin bertambah selapis demi selapis, dan pikirannya pun semakin kacau, hingga tak dapat membedakan baik atau buruk, dan terus berbuat salah saat menghadapi masalah. Karena diliputi banyak kesalahan, dengan sendirinya ia memilih bergaul dengan teman yang merugikan. Ketika orang baik berbicara dengannya, ia malah menjauh. Ia merasa takut dan tak berani mendekat. Ia malah merasa nyaman dengan teman yang buruk dan terus mengikuti mereka. Semakin banyak kesalahan, semakin kacau pikirannya. Banyak orang yang semakin risau setelah semakin banyak melakukan kesalahan. Dan, pikirannya pun menjadi semakin kacau. Ketika noda batin mengacaukan pikirannya, ia menjadi tak sadar akan hakikat sejatinya, bersikap congkak dan sesuka hati.
Inilah akibat ketidaktahuan akan hakikat sejatinya. Kita sering berkata, hakikat sejati yang dimiliki setiap orang pada dasarnya sangatlah murni, sama dengan Buddha. Namun, karena noda batin mengacaukan pikiran, hakikat sejati yang dimiliki setiap orang ini tertutupi. Karena ketidaktahuan, manusia dengan sendirinya bertindak sesuka hati. Artinya, kita bertindak semaunya sesuai kehendak kita sendiri tanpa pengendalian diri sedikit pun. Makhluk awam bertindak bodoh karena kegelapan batin, bergaul dengan teman yang merugikan, sehingga mempertebal noda batin yang mengacaukan pikirannya.
Disebabkan ketidaktahuan akan hakikat sejatinya, manusia bersikap congkak dan sesuka hati. Manusia tentu harus menunaikan kewajiban, mematuhi peraturan dan juga ketentuan. Sama seperti kereta yang hendak bergerak maju, ia membutuhkan lintasan rel. Jika ada yang tidak beres dengan relnya, kereta tersebut akan menghadapi bahaya. Demikian pula halnya, manusia harus mematuhi peraturan dan ketentuan. Jika pikiran kita menyimpang, maka kehidupan akan terancam.
Hidup yang dijalani dengan semaunya seperti ini ibarat yang sering dikatakan bahwa menyimpang sedikit saja, akan tersesat jauh. Sedikit saja arah hidup kita menyimpang, kehidupan kita akan benar-benar tersesat. Kita tak lagi menjalani hidup sebagaimana manusia, melainkan menjadi tak jauh berbeda dengan hewan. Karenanya, sering dikatakan bahwa pikiran kita tidak boleh dibiarkan semaunya. Yang lebih menakutkan adalah kecongkakan, merasa diri kita masih muda, merasa memiliki kekuatan, merasa memiliki uang, kekuasaan, nama baik, reputasi, dan sebagainya.
Mungkin di masa kecil kita dimanja orang tua atau mengandalkan kekuatan teman-teman. Orang seperti ini telah bertindak semaunya tanpa jalur yang benar dalam hidupnya. Ia tak mau menerima bimbingan dari orang baik, hanya mengandalkan kekuatan tanpa mematuhi aturan. Manusia yang bersikap sesuka hati seperti ini sangatlah mengkhawatirkan. Perbuatan buruk ini akan menjadi kebiasaan. Bersikap sesuka hati, mengandalkan kekayaan, kekuasaan, dan nama baik, bertindak mengikuti nafsu keinginan. Kehidupan dengan sikap sesuka hati ini sesungguhnya akan menciptakan sebab penderitaan di masa depan. Saya sering mengatakan kepada semua orang, umumnya orang-orang berkata, “Hati orang berbeda-beda, seperti wajahnya.” Saya katakan bahwa itu tidaklah benar. Seharusnya dikatakan, “Tabiat orang berbeda-beda, seperti wajahnya.” Manusia pada dasarnya bersifat bajik.
Hati kita semua pada dasarnya bajik. Hati nurani sama dengan nilai kebenaran dan begitu pula sebaliknya. Artinya, antara hati kita dan kebenaran hakiki pada dasarnya selaras. Karenanya dikatakan, hati sama dengan kebenaran, dan begitu pula sebaliknya. Kebenaran di sini bermakna hakikat yang sejati. Jika demikian, mengapa dikatakan hati orang berbeda-beda? Ini semua dikarenakan adanya tabiat. Meskipun setiap manusia pada dasarnya bajik, namun tabiatnya berbeda-beda.
Hakikat manusia sesungguhnya sama dengan hakikat Buddha. Hakikat dari hati, Buddha, dan semua makhluk tidaklah berbeda. Setiap orang memiliki hakikat yang sama. Hanya saja karena terpengaruh oleh lingkungan, mungkin di kehidupan ini atau mungkin di kehidupan lampau, dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya, kita telah menimbun banyak noda batin. Ada orang yang sejak dilahirkan, kondisi keluarganya tidak baik, namun ia tetap bersifat bajik dan tidak terpengaruh lingkungan. Orang yang seperti ini pun ada dan jumlahnya tidak sedikit. Tak peduli kondisi apapun yang dihadapi, kita tetap dapatmeneguhkan tekad dan berusaha dengan giat menciptakan kehidupan yang cemerlang.
Di Maye, Tiongkok ada seorang guru, Ma Wenzhong. Semasa kecilnya, ia hidup dalam keluarga tidak mampu di tengah kondisi masyarakat yang tidak stabil. Ia mengidap sebuah penyakit.
Hingga pada usia 14 tahun, tubuhnya bukan bertambah kuat, tetapi perlahan-lahan justru semakin lemah. Seluruh ototnya tak bertenaga. Tetapi, ia terlihat begitu giat dan sangat bersemangat. Ia memperoleh peringkat pertama dalam ujian masuk SMA se-kabupaten. Namun, ia menduduki peringkat pertama karena di sana hanya sedikit orang yang dapat bersekolah. Kemudian, orang-orang merasa bahwa orang yang memiliki fisik seperti dia akan sia-sia saja jika bersekolah.
Jadi, mereka terus membujuknya dengan segala cara. agar bersedia melepaskan bangku yang diraihnya dan memberikannya pada orang lain. Seseorang yang sangat gemar belajar, sangat berkeinginan untuk maju, dan dengan susah payah meraih peringkat pertama, kini diminta melepaskan bangku sekolah. Tentu saja ini membuatnya amat sedih. Tetapi, karena sifat dasarnya yang bajik, ia pun mempertimbangkannya dan dalam ketidakberdayaan akhirnya bersedia melepaskan kesempatannya.
Walau begitu, ia sendiri tetap giat belajar. Di desanya, ada banyak keluarga yang tidak mampu seperti keluarganya. Orang tua tak mampu menyekolahkan anak mereka. Anak-anak pun kehilangan harapan. Mereka hidup dengan liar dan melewati keseharian tanpa arah. Ada juga yang kondisi keluarganya cukup baik, saat orang tua memintanya bersekolah, anak itu malah bersikap seperti raja kecil, sangat sewenang-wenang.
Guru Ma ini, memiliki kesadaran bahwa anak-anak tak dapat dibiarkan tumbuh liar. Jika manusia tidak bersekolah dan tidak mengerti apa pun, kehidupan mereka akan sia-sia. Karenanya, ia tak sampai hati melihat anak-anak di desanya tak berkesempatan sekolah. Melihat tingkah laku anak-anak itu, ia pun khawatir jika tabiat buruk itu terus bertumbuh, maka akan membawa masalah bagi desa tersebut.
Karenanya, ia berusaha keras. Ia berharap agar anak-anak dari keluarga kurang mampu ini mendapat kesempatan untuk belajar, dan agar anak-anak yang bermasalah dan bersikap sesuka hati itu perlahan dapat ia dekati. Untuk mewujudkan ini, beruntung ia memiliki ayah yang baik yang selalu mendukungnya, menjadi pilar dan tembok penyangga baginya. Seperti pepatah “ kebijaksanaan sebagai pilar, cinta kasih sebagai tembok”, ayahnya menjadi pilar dan tembok baginya, senantiasa mendukungnya, dan juga mendampinginya. Ayahnya sangat bersungguh-sungguh.
Pada siang hari, ia bekerja sebagai buruh, dan pada malam hari ia mengangkut tanah perlahan-lahan satu demi satu gerobak. Setelah terkumpul banyak, dengan tangannya sendiri, ia mencetak tanah sepotong demi sepotong dan menjemurnya hingga menjadi batu bata. Ayahnya ini sungguh mulia. Akhirnya, mereka berhasil membangun sekolah. Meski sangat sederhana, sekolah ini tetap membuka kesempatan bagi anak-anak untuk belajar. Tetapi, adakah murid yang datang?\
Guru Ma pun mulai membuka pendaftaran. Orang-orang di desa itu merasa takut bahwa penyakit Guru Ma dapat menular. Karena itu, tidak ada yang mau memercayakan anaknya. Ada juga yang tak mampu membayar uang sekolah yang hanya beberapa yuan. Guru Ma hanyalah pemuda berusia belasan tahun. Ia membawa fisiknya yang tak leluasa ke sana kemari dengan kursi. Sungguh sulit baginya bergerak dengan kursi itu. Bahkan bergerak sedikit saja sudah sulit. Meski hanya berjarak satu inci, tetap merupakan gerakan yang sulit baginya.
Namun, tekadnya tetap besar. Ia tampak mendatangi rumah demi rumah untuk membujuk para orang tua. Ada yang mengatakan, “Saya tak punya uang untuk menyekolahkannya.” “Saya tidak mampu membayar uang sekolah.” Guru Ma mengatakan, “Tidak apa-apa.” “Asalkan Anda mengizinkannya bersekolah, saya tak akan memungut biaya.” “Tetapi, tak ada biaya untuk membeli alat tulis.” “Tidak apa-apa.” “Saya akan berusaha menyediakannya.” Apakah kemudian mereka menyekolahkan anaknya? Tidak. Mereka takut. Mereka takut anaknya tertular penyakit Guru Ma.
Guru Ma menghadapi banyak kesulitan berat. Namun, hal ini tak membuatnya putus asa. Akhirnya, 8 anak mulai bersekolah. Anak yang kurang mampu benar-benar tak dipungut biaya. Anak-anak yang bermasalah dibimbingnya dengan penuh kesabaran, cinta kasih, dan kebijaksanaan. Ketika anak-anak didiknya ini, ikut ujian masuk sekolah menengah se-kabupaten, 6 dari 8 muridnya berhasil lulus dengan hasil yang baik. Usahanya selama beberapa tahun akhirnya membuahkan hasil. Surat kabar pun mulai memberitakannya. Warga desa itu juga mulai menaruh kepercayaan terhadap Guru Ma. Anak-anak yang bersekolah semakin banyak. Ia mengajar lebih dari 30 orang anak dan semuanya lulus dalam ujian kecuali satu orang anak.
Kisah ini pun semakin menggemparkan. Nama Guru Ma semakin dikenal sejak saat itu. Karena namanya semakin dikenal, sebuah jodoh baik terkondisi untuk berbuah. Seorang wanita yang datang dari jauh bertemu dengannya dan mereka kemudian menikah. Kekuatan jalinan jodoh sungguh tak terbayangkan.
Guru Ma dan Guru Gu berjuang bersama dengan giat. Harapan akhir mereka adalah memperluas sekolah mereka agar seperti sekolah pada umumnya supaya seluruh anak di desa itu memiliki kesempatan untuk bersekolah. Harapan ini pun diwujudkan oleh Tzu Chi. Ketika mendengar kisahnya, saya sangat tersentuh. sehingga meminta insan Tzu Chi di Shanghai untuk secara khusus mengunjunginya. Setelah menyurvei, mereka melaporkan kasus ini. Melihat laporannya, saya sangat tersentuh. Oleh sebab itu, harapan Guru Ma ini harus kita bantu wujudkan.
Jadi, kita memutuskan untuk membangun sekolah ini. Pembangunannya pun telah rampung. Guru Ma dan istrinya terlihat sangat bersyukur dan tersentuh. Mereka bersedia berbagi kisah hidup mereka. Kru Da Ai TV mengunjungi rumah mereka untuk meliput kisah mereka. Kisah nyata kehidupan manusia ini membuat kita semakin tersentuh. Dalam kehidupan manusia, ada orang yang bagai bermimpi indah, ada juga yang memiliki kehidupan yang berliku dan sangat keras.
Tetapi, di jalan berliku dan penuh perjuangan ini, ia tidak kehilangan arah hidupnya. Karenanya, saya sering berkata, Manusia tak boleh menjalani hidup dengan semaunya. Tubuh fisik yang sehat ini, sebagai orang yang tak kurang suatu apa pun, jika tidak kita manfaatkan dengan baik, sungguh sangat disayangkan. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya kehidupan sebagai manusia yang sulit diperoleh. Genggamlah arah kehidupan. Piculah diri sendiri hingga akhirnya mampu menyadari kebenaran, banyak menolong, dan memberi manfaat bagi orang lain, yang juga menjadi pencapaian bagi diri sendiri.
Jadi, manusia tak boleh menjalani hidup semaunya atau bersikap congkak dan sesuka hati. Jangan berpikir, “Saya masih muda dan kuat, bisa menunggu sampai besok atau tahun depan.” Janganlah seperti itu. Janganlah kita sia-siakan waktu sedetik pun dalam memanfaatkan kehidupan kita ini untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha, serta bersumbangsih dalam masyarakat. “Tanpa kesulitan, kebijaksanaan takkan bertumbuh.” Dalam hidup bermasyarakat, kita dapat memperoleh banyak kebijaksanaan.
Saudara sekalian, setiap saat selalulah bersungguh-sungguh.