[ST-007] Menunaikan Kewajiban dan Memegang Teguh Moralitas
Kehidupan sungguh tidak kekal. Dunia dilanda banyak bencana. Bencana-bencana ini, baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia, jika direnungkan baik-baik, semua bermula dari pikiran manusia. Jadi, manusialah yang mendatangkan bencana. Karena manusia yang menyebabkan semua itu, bukankah semua orang harus berintrospeksi?
Kita sungguh harus berintrospeksi. Beberapa hari lalu kita telah membahas bahwa Buddha berkata, “Semua makhluk diliputi kekeruhan tebal.” “Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran?” “Siapa yang tak pernah melakukan kekeliruan?” Buddha berkata bahwa semua makhluk, dari kehidupan ke kehidupan terus-menerus diliputi kegelapan batin.
Adakah yang berani mengatakan bahwa dirinya suci dan tak pernah melakukan kesalahan? Karena kegelapan batinlah, meski melakukan kesalahan, kita tak menyadarinya. Seperti dalam kehidupan kita sehari-hari, ketika penyakit telah menjangkiti tubuh, kita tidak menyadarinya. Hanya dengan melalui pemeriksaan medis yang menggunakan teknologi modern, penyakit baru dapat didiagnosis lebih awal.
Namun, ini semua tergantung pada diri kita yang harus sadar untuk segera memeriksakan diri. Inilah yang disebut orang-orang masa kini sebagai pemeriksaan kesehatan. Meski merasa sehat-sehat saja dan tidak merasa terjangkiti penyakit, kita tetap perlu ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Kini, ilmu kedokteran sangat maju, peralatan medis pun sangat canggih. Tapi, banyak orang tidak memerhatikan kesehatan hingga suatu hari didapati bahwa tumor telah bersarang di tubuhnya entah sejak berapa lama. Kondisi penyakitnya sudah parah saat ditemukan dan sudah terlambat untuk diobati.
Demikianlah kehidupan jasmaniah kita. Bagaimana dengan jiwa kebijaksanaan kita? Kita harus meyakini bahwa kita memiliki hakikat kebuddhaan yang sama dengan Buddha. Hanya saja kegelapan batin berlapis-lapis menutupi batin kita. Semakin tertutupi, batin kita semakin gelap, dan semakin sulit bagi kita untuk menemukan hakikat sejati diri kita yang murni dan paling bernilai.
Karenanya, sebagai manusia, janganlah kita bersikap congkak dan mengatakan, “Saya tak pernah berbuat kesalahan seumur hidup, tetapi mengapa terjadi begitu banyak hal-hal yang tidak diinginkan?” Janganlah berpikir demikian. Dalam hidup ini, kita merasa tak pernah berbuat salah, tetapi mungkin di kehidupan lampau kita melakukan banyak kesalahan. Atau mungkin pada kehidupan ini kita tidak menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan.
Ketika menghadapi orang maupun masalah, tindakan kita mungkin telah keliru, hanya saja kita tidak menyadarinya. Kebanyakan orang menganggap dirinya tak bersalah. Tetapi, Buddha mengatakan kepada kita bahwa karena kegelapan batin, maka semua makhluk terus terlahir di enam alam kehidupan. Siapa berani berkata ia luput dari kesalahan? Dalam enam alam kehidupan, semua makhluk diliputi kekeruhan berlapis-lapis. Siapa yang tak pernah melakukan pelanggaran? Siapa yang tak pernah melakukan kekeliruan? Pelanggaran adalah kesalahan yang disengaja.
Ini adalah sebuah kejahatan. Jelas-jelas tahu dirinya bersalah dan orang lain benar, tetapi ia malah mencari cara agar orang lain dihukum atau mengalami penderitaan. Dengan demikian, ia baru merasa puas. Orang seperti inilah yang disebut melakukan pelanggaran, yaitu kesalahan yang disengaja untuk mencelakai orang. Banyak juga orang yang tak sengaja melakukan kesalahan. Kesalahan yang tidak disengaja ini disebut kekeliruan. Arti dari kekeliruan adalah kesalahan yang tidak disengaja. Jadi, janganlah kita mengatakan, “Saya tidak pernah melakukan kesalahan.” Pasti pernah. Sengaja maupun tidak, tetaplah kesalahan.
Buddha berkata, “Makhluk awam bertindak bodoh karena kegelapan batin.” Beginilah makhluk awam. Makhluk awam diliputi kebodohan, tak menyadari apa yang mereka lakukan, sehingga terus diliputi kegelapan batin. Kita memiliki hakikat kebuddhaan yang sama dengan Buddha. Namun, karena diliputi oleh ketamakan, kebencian, kebodohan, dan kegelapan batin lainnya, kita melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak sehingga terus-menerus terlahir di enam alam kehidupan dan sulit untuk mencapai kebebasan.
Saya pernah melihat sebuah berita. Di Amerika Serikat, ada seorang nenek berusia 73 tahun yang diperkosa oleh seseorang. Pihak kepolisian setempat sangat menaruh perhatian pada kasus ini. Karenanya, selama beberapa bulan mereka berusaha keras menyelidikinya. Akhirnya, pelaku berhasil ditemukan. Ternyata ia adalah remaja berusia 15 tahun. Remaja berusia 15 tahun ini bukan baru pertama melakukan tindak kriminal. Ia memiliki banyak catatan kriminal. Karenanya, kepolisian Amerika Serikat menjatuhkan hukuman setingkat orang dewasa terhadap anak remaja ini karena bukan baru sekali ia melakukan tindak kriminal. Ia mengulanginya berkali-kali.
Bagi anak di bawah umur, tuntutannya lebih ringan. Bagi orang dewasa, tuntutannya akan lebih berat. Inilah yang terjadi dalam masyarakat masa kini. Meskipun ini terjadi jauh di Amerika Serikat, kaum muda zaman sekarang sungguh mengkhawatirkan. Dalam masyarakat sekitar kita, kita sering mendengar dan juga melihat tindakan kaum muda yang diliputi kegelapan batin. Ini adalah akibat benih karma yang mereka bawa dari kehidupan lampau. Benih karma buruk ini sungguh menakutkan.
Coba bayangkan, anak berusia 15 tahun sering terlibat kriminal. Bukankah ini merupakan tabiat buruk? Tabiat buruk ini dibawa dari kehidupan lampau. Masih di Amerika Serikat, ada seorang anak berusia 13 tahun yang ketika baru berumur 13 bulan sudah mampu memecahkan soal matematika.
Saya sering mendengar siswa-siswi berkata bahwa pelajaran tersulit adalah matematika. Di luar dugaan, seorang anak berumur 13 bulan mampu menyelesaikan soal matematika. Pada usia 2 tahun, ia dapat mengoreksi tata bahasa dalam karya tulis sesuai kaidah bahasa Inggris. Saat itu ia baru berusia 2 tahun. Tak heran jika pada usia 13 tahun ia telah meraih dua gelar sarjana. Ia memiliki cita-cita. Cita-citanya adalah menjadi presiden AS. Lihatlah, di usia 13 tahun, ia telah memiliki tekad dan kepandaian yang begitu tinggi.
Ia terlahir dengan kecerdasan seperti ini. Bukankah ini karena batinnya tidak ternoda? Buddha memiliki hakikat yang tak ternoda, sehingga kebijaksanaan-Nya bersifat transenden. Kita sebagai makhluk awam telah ternoda sehingga harus belajar lagi ketika terlahir kembali. Pernahkah kalian bertanya-tanya, mengapa semua makhluk yang terlahir harus belajar lagi dari awal? Ini berlaku bagi manusia pada umumnya.
Lihatlah, di pusat penitipan lansia di RS Tzu Chi ada sekelompok orang yang berusia lanjut yang ingatannya sudah melemah. Hal-hal dalam kehidupannya, perlahan-lahan terlupakan ketika sudah tua. Jika kita meminta mereka bercerita tentang kisah mereka di masa kecil, mereka masih mengingatnya. Tetapi, dengan siapa baru saja bicara, mereka sudah lupa. Apalagi tentang kejadian kemarin, 2 hari lalu, maupun di tahun-tahun belakangan ini, mereka sudah lupa. Bahkan jika saat ini Anda ada di hadapan mereka dan bercerita tentang diri Anda, mereka akan menyahut, “Oh.” Tetapi, berselang sebentar, mereka akan lupa siapa Anda dan juga siapa nama Anda. Mereka tidak mengenal Anda. Lihatlah, sebagai manusia, dalam satu kehidupan ini saja, betapa banyak kerisauan yang kita miliki sehingga menutupi pikiran kita. Apalagi dari satu kehidupan ke kehidupan lain, noda batin kita semakin tebal dan menakutkan.
Tetapi anak berusia 13 tahun di Amerika Serikat itu dapat meraih dua gelar sarjana dan memecahkan soal matematika di usia 13 bulan. Dapat dikatakan bahwa hakikat sejatinya tidak ternoda oleh kekotoran batin, sehingga ketika lahir, ia tak perlu belajar ulang dan dapat memahami banyak hal tanpa guru. Seiring pertumbuhannya, kecerdasannya melampaui kebanyakan orang.
Semoga anak ini dapat terus mempertahankan ketajaman kecerdasannya dan berjalan di arah hidup yang baik, dan berjalan di arah hidup yang baik, serta tidak kehilangan rasa cinta kasih.
Jika kelak ia benar-benar menjadi presiden, ia akan menjadi seperti Raja Cakravartin, yang tidak hanya memiliki kebijaksanaan, tetapi juga penuh cinta kasih, mencintai rakyat dan negaranya. Saya yakin ia akan mendatangkan berkah bagi umat manusia. Namun, ada berapa orang di dunia yang sepertinya? Sangat sedikit.
Sebaliknya, yang kita dengar kebanyakan tentang kaum muda yang merisaukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah pola pikirnya. Ini dikarenakan mereka diliputi kegelapan batin. Karena kegelapan batin, manusia bergaul dengan teman yang merugikan sehingga mempertebal noda batin yang mengacaukan pikirannya. Ia bergaul dengan teman yang merugikan. Ketika teman yang baik datang, ia tak suka. Ia tak berjodoh dengan orang yang baik. Orang-orang baik tak dapat memengaruhinya. Namun, ketika datang orang jahat, ia merasa senang bersama mereka dan mengikuti arah yang salah.
Menjalin hubungan dengan teman yang merugikan sungguh mengkhawatirkan. Kaum muda di zaman sekarang, begitu banyak yang kebut-kebutan di jalan, mengonsumsi narkoba, maupun menjadi anggota geng. Kaum muda seperti ini menjadi masalah yang mengkhawatirkan. Ini semua akibat kegelapan batin.
Di masa lampau, mereka banyak menjalin jodoh buruk sehingga jalan kehidupannya mengarah pada teman-teman yang buruk. Dengan begitu, timbullah noda batin yang mengacaukan pikirannya. Noda batin yang mengacaukan pikiran ini juga sangat mengkhawatirkan.Jika dalam keluarga terdapat anak seperti ini, akan menjadi sangat menderita.
Saya melihat sebuah berita di surat kabar tentang seorang paruh baya yang kehilangan pekerjaan. Ia sangat risau dan cemas karenanya. Dulu, ia tak berusaha meningkatkan keterampilan. Kini, ketika mengalami kesulitan hidup, tak ada yang mau mempekerjakannya. Setelah kehilangan pekerjaan, setiap hari ia merasa gelisah. Ia menyalahkan orang tuanya tidak mendidiknya. Ayahnya pun tak mau disalahkan, dan berkata “Waktu kecil, ketika dididik, kamu tidak mau dengar, malah bergaul dengan teman-teman yang buruk.” “Kami memintamu belajar yang rajin, kamu malah bermalas-malasan.” “Kini, saat harus bergantung pada diri sendiri, kamu justru menyalahkan orang tua.” “Apakah ini tindakan yang benar?” Sang ayah dan anak akhirnya bertengkar. Tak lama kemudian, sang ayah ditemukan berlumuran darah. Ia tewas. Anaknya menjadi tersangka utama. Inilah berita di masyarakat. Melihat berita ini di surat kabar, sangatlah menyedihkan. Inilah akibat noda batin yang mengacaukan pikiran, sehingga moralitas manusia menjadi hilang.
Inilah sebabnya kita membutuhkan agama, membutuhkan ajaran Buddha untuk senantiasa mengingatkan kita agar kembali pada hakikat sejati yang pada mulanya kita miliki. Sesungguhnya, dari manakah kita berasal? Kita harus sungguh-sungguh menemukan kembali hakikat sejati kita. Untuk itu, kita harus mempelajari ajaran Buddha agar noda batin tak mengacaukan pikiran kita.
Jadi, dikatakan, “Disebabkan ketidaktahuan akan hakikat sejatinya, manusia bersikap congkak dan sesuka hati.” Jika noda batin mengacaukan pikiran kita, meski hakikat sejati kita sangat cemerlang, kita tetap akan kehilangan arah dan tak akan mampu menemukan hakikat diri ini.
Inilah ketidaktahuan. Pikiran yang terganggu noda batin harus senantiasa diingatkan dengan ajaran Buddha. Dengan terus-menerus melatih sikap dan perilaku yang benar, barulah kita dapat kembali pada hakikat sejati yang cemerlang. Ketidaktahuan mengakibatkan manusia bersikap congkak dan sesuka hati. Artinya, mereka bertindak semaunya. Dengan demikian, mereka tak mau menunaikan kewajiban sebagai manusia dan hanya melakukan hal-hal yang diinginkan. Inilah yang disebut bertindak sesuka hati. Mereka tidak menjaga hati dengan baik dan sangat ceroboh. Mereka berpikir dirinya selalu benar dan orang lain salah.
Dengan bersikap congkak dan sesuka hati, tabiat buruk akan terpupuk perlahan-lahan. Mereka senantiasa melakukan perbuatan buruk dan tak mau mendengar nasihat orang lain. Karenanya, tabiat buruk akan terus terakumulasi. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana membenahi kembali batin kita, menunaikan kewajiban kita sebagai manusia, dan memegang teguh moralitas.
Jika kita dapat memegang teguh moralitas dan menunaikan kewajiban diri sendiri, kita dapat lebih mudah menemukan kembali hakikat sejati kita. Jika kita tidak menunaikan kewajiban, akan semakin sulit untuk menemukan kembali hakikat sejati ini. Mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha adalah belajar membenahi batin, menunaikan kewajiban sebagai manusia, dan memegang teguh moralitas. Dengan demikian barulah dapat maju selangkah untuk menemukan kembali hakikat sejati kita yang murni.
Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha bertujuan menemukan kembali hakikat sejati dan menjaga hakikat sejati ini. Lihatlah, bukankah sungguh mengagumkan? Anak berusia 13 bulan dapat memecahkan soal matematika. Di usia 2 tahun, ia mampu mengoreksi tata bahasa. Sebagai orang awam, meski belajar seumur hidup, kita bisa lupa pelajaran yang lalu, masih juga tak mau tekun belajar. Anak ini meraih gelar sarjana di usia 13 tahun.
Hadirin, sifat murni dan penuh kebijaksanaan ini, sesungguhnya dimiliki semua orang. Namun, jika pikiran menyimpang dan diliputi kegelapan batin, lihatlah, anak berusia 14 atau 15 tahun pun dapat melakukan pelanggaran berat. Meski belum dewasa, ia harus diadili sebagai orang dewasa. Lihatlah betapa berat pelanggarannya, betapa besar kesalahannya.
Sesungguhnya, semua ini merupakan tabiat buruk. Tabiat buruk ini terus-menerus dilakukan. Akibatnya, dalam hidup ini ia semakin diliputi kebodohan dan kegelapan batin sehingga melakukan banyak kesalahan. Ketika seseorang kehilangan moralitas, ia tentu tak dapat menunaikan kewajibannya. Karenanya, kita semua hendaknya berusaha menemukan kembali hakikat sejati kita. Dimulai dari menjaga hati dengan baik, barulah kita dapat menemukan kembali hakikat diri. Kita harus menjaga pikiran dengan baik.