[ST-025] 去無明 除煩惱 證菩提 Mengikis Kegelapan Serta Noda Batin, Mencapai Pencerahan
Saudara se-Dharma sekalian, hati kita pada dasarnya adalah murni dan suci, penuh dengan kebijaksanaan. Hanya saja kegelapan batin menyelubunginya sehingga kebijaksanaan kita menjadi tertutup. Kondisi dunia luar membuat dalam hati kita timbul banyak pemikiran menyimpang. Adanya kontak dengan dunia luar memunculkan kebencian, ketamakan, kebodohan. Ketika ketamakan muncul, ia akan membawa kita ke arah karma buruk. Ketika kebencian timbul, kita dapat melukai orang lain dan juga diri sendiri. Inilah akibat kebencian. Sesungguhnya, baik ketamakan maupun kebencian, kebanyakan berasal dari kebodohan. Kebodohan adalah kegelapan batin yang sesungguhnya. Orang seperti ini ditemui dalam kondisi yang bukan baik maupun buruk, yang kelihatannya biasa-biasa saja.
Ia tidak dikatakan jahat, tak membunuh, mencuri, atau berbuat asusila. Dikatakan baik pun tidak. Ia juga tidak berbuat kebajikan seperti berdana maupun membantu orang lain. Ia merasa dapat menjaga diri saja sudah cukup, untuk apa menambah persoalan? Mereka hanya mau mengurus diri sendiri. jika mereka benar-benar dapat mengurus diri dengan baik, minimal mereka tak menciptakan karma buruk. Namun, jika sebaliknya, mereka akan mudah terpengaruh lingkungan dan mudah menyimpang, maka meski tidak terang-terangan berlaku buruk, namun kebiasaan kecil juga dapat menumpuk sedikit demi sedikit tanpa disadari dan dapat mendatangkan masalah besar. Kebodohan adalah akar kegelapan batin. Ia menutupi hakikat yang murni dan membuat pikiran kita mudah berubah-ubah mengikuti pengaruh dunia luar sehingga timbullah banyak noda batin. Seperti seorang pemilik kedai mi. Entah mengapa, ia terjangkit SARS.
Ketika ditanya apakah ia pernah bepergian atau berlibur ke luar negeri, ia menjawab tidak. Ia juga tak pernah pergi ke daerah wabah. Atau mungkin ada kerabat dari luar negeri yang ia temui? Ternyata juga tidak. Mengapa ia bisa terjangkit SARS Lalu mengapa ia bisa terjangkit SARS dan meninggal tidak lama setelahnya? Ada kemungkinan ketika berjualan mi, ia tertular oleh pelanggannya. Usahanya berjalan lancar. Mungkin saja di tengah ramainya usaha, ada pelanggan yang membawa virus ini sehingga tanpa sadar telah menularinya. Saat gejalanya timbul, ia langsung dirawat di rumah sakit. Tentu para dokter dan perawat di garis depan segera menanganinya. Karena diketahui sebagai kasus SARS, maka para tenaga medis menerimanya dengan peralatan antisipasi lengkap. Setelah pasien ini meninggal, dokter yang menanganinya baik-baik saja, namun ia seharusnya tetap menjalani karantina.
Tetapi, karena merasa telah melakukan antisipasi yang baik dan dirinya baik-baik saja, ia pun memanfaatkan masa istirahat dengan tidak menjalani karantina dan malah berwisata ke Jepang. Ketika di Jepang, ia terserang demam dan segera pulang ke Taiwan. Ia pun segera dirawat di rumah sakit. Ia diyakini telah terjangkit SARS, terlebih karena pernah merawat pasien SARS. Berita ini pun segera dikirim ke Jepang. Jepang menjadi gempar, dan pemerintah segera melakukan penyemprotan.
Mereka pun terus mencari orang-orang yang sempat mengalami kontak dengan dokter ini. Ini sempat menimbulkan kepanikan dan kekacauan di Jepang. Lihat, setiap orang seharusnya menyayangi diri. Meski para dokter berada di garis depan dan kita sungguh harus menghargai dan menghormati mereka, tetapi mereka sendiri juga harus menyayangi diri. Semua orang harus mematuhi peraturan yang ada. Jangan karena merasa tidak ada masalah, lalu menyepelekan peraturan sehingga membawa masalah bagi orang lain, apalagi hingga luar negeri. Semua ini berbahaya bagi negara kita, bagi masyarakat di negara lain, maupun bagi kehidupan kita sendiri. Ini juga adalah hal yang sangat tak bijaksana. Inilah perbuatan yang didasari kebodohan. Ia bukan sengaja melakukannya. Ia mungkin tidak takut terhadap virus karena telah banyak merawat pasien. Hanya saja, kita tetap harus mematuhi peraturan.
Kini di tengah masyarakat luas ada ancaman besar berupa virus-virus yang tak kasat mata ini. Kita tak tahu di mana mereka berada. Kita tentu harus rendah hati. Kita harus menyadari keterbatasan diri kita dan mematuhi peraturan yang berlaku. Inilah perilaku yang bijaksana. Kita hendaknya tahu bahwa penyakit masuk melalui mulut. Apa yang membuat penyakit masuk melalui mulut? Makanan yang kita makan, terutama daging hewan. Semua makhluk yang punya kesadaran memiliki benih kebuddhaan. Semua hewan juga ingin hidup dan takut mati. Mereka juga memiliki fisik, darah, dan daging.
Mereka juga memiliki nyawa yang berharga. Namun, mulut manusia sangat tamak, demi kenikmatan sesaat, telah memakan begitu banyak hewan. Di masa Buddha hidup, meski Beliau makan dari persembahan umat, namun Beliau tetap menyerukan kepada manusia untuk menghargai nyawa dan kehidupan. Karena itu, Buddha memberi tahu kita bahwa semua makhluk memiliki benih kebuddhaan, dan memberi tahu kita bahwa semua makhluk terus berputar di enam alam kehidupan. Kita kelak bisa saja terlahir di alam hewan. Maka dari itu, hewan sesungguhnya sama dengan kita, hanya wujud fisiknya saja yang berbeda. Begitulah, semua makhluk diliputi kebodohan. Kebodohan akan membuat manusia tidak dapat melihat jelas kebenaran hidup, bahkan membawa pada pandangan salah. Suatu kali, di zaman Buddha dulu, ada seorang raja. Ia mengadakan kurban bagi seluruh negeri. Dalam upacara itu banyak hewan yang dibunuh.
Ketika Buddha mengetahuinya, Beliau bertanya kepada sang raja apa tujuan upacara itu hingga harus mengambil demikian banyak kurban. Raja pun menjawab, “Ibuku berulang tahun.” “Sulit bagi manusia mencapai usia 70 tahun, karena itu aku mengadakan upacara besar berharap beliau panjang umur.” “Karena itulah, perlu banyak hewan kurban untuk upacara.” Buddha berkata kepadanya, “Engkau sungguh berbakti, berniat mendoakan ibumu panjang umur dan penuh berkah.” “Tetapi pikirkanlah, engkau menanam benih karma pembunuhan dan mengambil nyawa banyak makhluk.” “Kehidupan mereka baru berlangsung sebentar, dan engkau telah membunuh mereka.” “Ini adalah benih sebab pendeknya usia, bagaimana mungkin bisa menghasilkan buah umur yang panjang bagi ibumu?” “Pembunuhan berarti memperpendek usia, bukan sebaliknya.” Sang raja mendengarnya dan menyadari kebenaran tersebut. Demi ulang tahun sang ibu, raja hendak membunuh begitu banyak makhluk, berarti semua makhluk ini dibunuh demi sang ibu, sehingga sang ibu juga turut menerima buahnya.
Setelah mendengar penjelasan Buddha, sang raja pun menyadari kesalahannya dan membatalkan upacara kurban tersebut. Ini terjadi di zaman Buddha. Buddha menjelaskan kepada raja waktu itu bahwa bila mengharapkan usia panjang dan kesehatan, bukan hanya dengan tidak membunuh, melainkan juga dengan melepas makhluk hidup. Di RS Tzu Chi Dalin, ada seorang relawan yang memiliki kisah serupa. Ada seorang nenek yang berusia 100 tahun. Anak cucunya semua sangat berbakti. Mereka merasa usia 100 tahun sulit dicapai dan merupakan pencapaian dalam kehidupan. Para kerabatnya menganggap ini adalah hal luar biasa dan berkata, ”Di rumah kalian ada seorang yang tahun ini mencapai usia ke-100, kalian harus membuat perayaan ultah baginya.” Anak cucunya pun berpendapat sama dan sepakat untuk merayakannya. Mereka pun mempersiapkan perayaan ultah nenek. Anak cucunya sangat banyak, mereka ingin merayakan ultah sang nenek. Namun, tak disangka, sang nenek tiba-tiba terjatuh sehingga dirawat di Rumah Sakit Tzu Chi. Anak cucunya sangat cemas dan khawatir karena mereka sangat berbakti. Mereka merasa bahwa semasa muda sang nenek sangat menderita, harus bekerja keras membesarkan anak. Kini anak-anak laki-laki dan perempuannya berpenghidupan lebih baik setelah berkeluarga dan berhasil dalam karier. Kini saatnya sang nenek menikmati hidupnya.
Apalagi jarang ada orang mencapai usia 100. Dengan rasa sayang dan bakti, anak cucunya merawat sang nenek dengan baik. Sungguh tak disangka hanya karena terjatuh, ia lalu harus dirawat di rumah sakit. Jadi, anak cucunya secara bergantian menjaganya. Suatu hari, mereka bertemu seorang relawan. Saat relawan ini berbicang dengan mereka, anak-anaknya bercerita tentang masa lalu sang nenek. Orang zaman dahulu hidup dalam kesulitan. Ketahanan seorang wanita sungguh kuat. Kisah hidup sang nenek sungguh membuat orang tersentuh. Selang beberapa hari, kondisi sang nenek mulai membaik dan anak cucunya pun merasa tenang.
Dalam percakapan, tak sengaja mereka berkata, “Nanti bila ibu sudah keluar dari rumah sakit, maka perayaan ultahnya yang ke-100 harus dipersiapkan lebih sungguh-sungguh.” Relawan Tzu Chi pun berkata, “Benar, ulang tahun ke-100 nenek memang patut dirayakan.” “Bagaimana kalian hendak merayakannya?” Mereka berkata, “Biasanya dalam perayaan besar harus menyembelih hewan.” “Anggota keluarga kami sangat banyak, begitu pula dengan kerabat lainnya.” “Ibu kami sangat baik terhadap orang lain, temannya pun banyak.” “Jadi, kami akan mengundang banyak orang.” “Nanti kami juga akan mengundang kalian.” “Dalam masa-masa ini, kalian telah menjaga kami dengan baik.” “Kalian sangat baik.” Relawan Tzu Chi itu pun berkata, “Benar, luar biasa nenek mencapai usia ke-100, perayaan harus diadakan.” “Nanti kalian harus mengundang kami, tetapi kami semua vegetarian.” Mereka berkata, “Tak masalah, jika kalian adalah vegetarian, kami bisa menyediakan menu vegetarian khusus untuk kalian.” Relawan itu pun mulai berbicara, “Sikap anak cucu yang berbakti sungguh baik, tetapi guru kami berkata bahwa untuk memperpanjang usia, kita harus melepaskan makhluk hidup, tidak dengan membunuhnya.” “Ketahuilah, membunuh makhluk hidup berarti menghilangkan satu nyawa.” “Membunuh seekor hewan berarti menghilangkan satu nyawa, dalam perayaan entah berapa nyawa yang hilang.” “Untuk memohon panjang usia, kita malah membunuh makhluk lain.” “Karma buruk dari membunuh ini akan turut membebani ibumu.” “Ibumu akan ikut menanggungnya, karena hewan-hewan itu dibunuh untuknya.” Setelah anak cucunya mendengarnya, mereka menjadi bimbang.
Relawan itu pun terus meyakinkan mereka, “Apakah kita tidak pernah mendengar bahwa tukang jagal hewan tak akan membunuh jika kita tak membeli daging? Seorang relawan Tzu Chi mengatakan ini.” “Untuk merayakan ulang tahun ibu kalian, kalian membunuh begitu banyak hewan,” relawan itu terus menasihati. Mereka bertanya, “Lalu kami harus bagaimana?” “Ibu saya mencapai usia 100, ini adalah hal yang langka. Orang pada umumnya menganggap ini penting.” “Sebentar lagi adalah perayaan Waisak, kalian hendaknya berpantang untuk ibu kalian.” “Berpantang di sini berarti bervegetarian.” “Semua orang hendaknya bervegetarian dan berdoa dengan penuh ketulusan semoga ibu kalian panjang umur.” “Jika tidak, maka seperti yang orang-orang katakan, sewaktu merayakan ulang tahun berarti kita melaporkan usia kita kepada raja neraka, dan ini malah tidak baik.” “Lebih baik tidak dirayakan.” “Anak cucu hendaknya bervegetarian dan jasanya dilimpahkan kepada ibu kalian.” Menurut mereka ini ada benarnya. “Tetapi, kerabat kami sangat banyak, mungkin harus dibicarakan dulu.” “Lalu, jika kami tidak merayakan, entah apakah ibu akan kecewa.” Relawan itu menjawab, “Tak masalah.” “Biar saya yang bicara kepada ibu kalian.” “Anda bicarakanlah dengan sanak keluarga.”
Beberapa hari kemudian, peringatan Waisak pun berlangsung. Mereka kakak beradik mencari relawan tersebut dan bertanya apa perbuatan mereka sudah benar. Relawan itu menjawab, “Sangat baik.” “Kalian semua sangat tulus bervegetarian demi ibu beberapa hari ini.” “Peringatan Waisak akan dilangsungkan, kondisi ibumu juga sudah membaik.” “Sebaiknya kita juga mengajaknya datang.” “Nanti akan ada banyak orang.” “Mereka semua akan turut mendoakan ibumu.” “Ketulusan kalian ditambah dengan doa orang-orang ini, pasti membawa banyak berkah bagi ibumu.” Mereka sangat senang mendengarnya. Sang nenek pun berkata, “Begitu boleh juga.” “Kita tidak perlu membuat perayaan.” Lihatlah, segalanya menjadi baik. Saat upacara Waisak diadakan di RS Tzu Chi Dalin, semua anak cucunya beserta para kerabat dan tetangga datang mendampingi sang nenek untuk melakukan pemandian rupang Buddha. Mereka semua sangat gembira. Lihatlah, ini juga tindakan bijaksana.
Tadinya, demi merayakan ultah ke-100, mereka ingin mengundang semua kerabat dan entah harus menyembelih berapa banyak hewan. Dengan kebijaksanaan relawan Tzu Chi yang memanfaatkan jalinan jodoh ini, begitu banyak nyawa telah terselamatkan dan banyak orang juga terinspirasi. Mereka kini dapat mengerti dan bervegetarian demi rasa bakti dan doa terhadap sang nenek. Sang nenek pun sangat bahagia. Inilah yang dikatakan bijaksana. Saya selalu berkata bahwa yang paling mengkhawatirkan adalah kebodohan, kegelapan batin, dan ketidaktahuan. Karena itu, kita hendaknya senantiasa menjaga hati dan pikiran, serta berusaha melenyapkan kegelapan batin berusaha melenyapkan kegelapan batin dan mengikis ketidaktahuan dengan segera, berupaya membuat cahaya batin kita segera terpancar keluar. Ketika sedikit kegelapan batin lenyap dan sedikit noda batin terkikis, saat itulah kebijaksanaan bertambah. Intinya, makan hanyalah proses memasukkan makanan ke dalam mulut.
Begitu makanan ditelan ke dalam perut, makanan itu pun segera menjadi kotoran. Lihat, banyak orang yang gemar makan di restoran demi mencari hidangan lezat yang harganya mahal, ditambah dengan minum minuman keras, dll. Setelah mabuk karena terlalu banyak minum, ditambah banyak makanan yang dimakan, ada yang kemudian menjadi muntah. Apa yang kemudian mereka muntahkan? Sungguh menakutkan, sangat menjijikkan dan sangat kotor. Terlebih lagi, pada tubuh hewan, baik dari kulit luarnya hingga ke organ dalamnya yang tidak terlihat oleh mata terdapat banyak kuman dan bakteri. Maka, jika kita memiliki kebijaksanaan, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya, makan hanyalah untuk bertahan hidup dan menjaga kesehatan kita. Jika tak membunuh makhluk hidup dan bervegetarian, kita tetap akan kenyang sekaligus dapat mengembangkan cinta kasih. Sambil menyelam minum air. Inilah kebijaksanaan. Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana jika bervegetarian sekali sehari? Karena tiga kali sehari terlalu berat.” Ini disebut kebodohan. Benar, inilah kebodohan batin.
Kebodohan batin ini dapat membawa kita untuk melakukan kesalahan yang tak masuk akal. Banyak karma buruk kolektif semua makhluk yang tercipta dari hal yang tak masuk akal dan akhirnya terhimpun menjadi semakin besar. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita hendaknya senantiasa bersungguh-sungguh.