[ST-026] 以智慧對治心靈病毒 Mengobati Penyakit Batin dengan Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, kerisauan di dalam batin harus ada saatnya untuk ditenangkan. Jika kemarin sibuk bekerja seharian, betapa pun banyak dan rumitnya masalah yang dihadapi, setelah beristirahat di malam hari, kita hendaknya melepaskan segala kerisauan dan masalah yang ada kemarin. Inilah kondisi batin saya. Entah apakah kondisi batin kalian juga demikian. Inilah yang harus dilakukan dalam melatih diri. Meski baru satu menit yang lalu terjadi hal yang tidak diinginkan, namun setelah berlalu, kita harus berusaha melepaskan kerisauan dan ketidakbahagiaan itu. Apalagi untuk hal yang terjadi kemarin atau pada waktu yang sudah lama berlalu, kita tidak seharusnya terus menyimpan kerisauan itu di dalam hati. Inilah yang harus kita latih. Pada kesempatan yang lalu kita telah membahas, Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun akibat kelalaian melalui enam indra; muncul akibat pikiran salah dari dalam batin atau akibat kemelekatan akan kondisi luar.
Demikianlah sepuluh kejahatan tumbuh. “Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran atau akibat kemelekatan akan kondisi luar.” “Demikianlah sepuluh kejahatan tumbuh.” Kondisi luar apa pun dapat menodai batin kita sehingga akibat pengaruh luar ini, di dalam batin kita timbullah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Begitu pikiran yang penuh tiga racun ini timbul, tindakan dan ucapan kita bisa mengarah pada pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, dusta, ucapan kosong, pergunjingan, dan perkataan kasar. Tujuh perbuatan buruk ini berasal dari ketamakan, kebencian, kebodohan dalam pikiran kita. Ini telah kita bahas sebelumnya. Ini membawa kita pada sepuluh karma buruk. Ini yang membawa kita pada sepuluh kejahatan.
Sepuluh kejahatan meliputi: Karma buruk melalui tubuh: Pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila Karma buruk melalui ucapan: Kata-kata kasar, dusta, kata-kata kosong, pergunjingan Karma buruk melalui pikiran: Ketamakan, kebencian, kebodohan Sepuluh kejahatan ini hanyalah pengelompokan secara umum yang sesungguhnya bila dipilah lagi, dapat dirinci menjadi lebih banyak jenis kejahatan. Karma buruk bukan hanya ada 10 jenis. Dalam kitab suci dikatakan, “Demikianlah sepuluh kejahatan tumbuh dan menghasilkan 84.000 kekotoran.” Timbulnya 84.000 kekotoran ini dimulai dari ketika batin ternoda, terjadilah 10 kejahatan.
Dari akumulasi 10 kejahatan ini, terciptalah semakin banyak jenis kejahatan hingga perbuatan jahat yang dilakukan terus bertambah dan menghasilkan 84.000 kekotoran. Kekotoran ini sama dengan noda batin. Noda batin terus bertambah. Dari tiga menjadi sepuluh, dari sepuluh menjadi 84.000. Sesungguhnya, angka 84.000 ini ingin menunjukkan jumlah yang sangat besar. Di India kuno, untuk menyatakan jumlah yang sangat banyak, digunakan sebuah angka, yakni angka 84.000. Seperti dalam Sutra Ksitigarbha, disebutkan angka 84.000 kalpa dan 84.000 butiran pasir Sungai Gangga. Angka 84.000 ini kerap digunakan.
Saya sering berkata bahwa noda batin bagaikan virus penyakit batin. Sejak pertama kali Buddha membabarkan Dharma hingga saat ini, lebih dari 2.000 tahun telah berlalu. Zaman terus berubah, ilmu pengetahuan pun terus berkembang. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, ajaran Buddha semakin terbukti kebenarannya. Ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran ajaran Buddha. Buddha pernah membabarkan tiga racun batin maupun lima racun. Tiga racun meliputi ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Sedangkan lima racun adalah tiga di atas ditambah kesombongan dan keraguan. Ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Tiga racun: Ketamakan, kebencian kebodohan Lima racun: Ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan Inilah noda batin manusia.
Saat noda batin ini muncul, kita akan menciptakan banyak karma buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Ada orang sengaja melakukan pelanggaran, ada orang yang tak sengaja melakukan kesalahan. Kesalahan seperti ini pun dapat membawa kerisauan bagi kita. Meski kesalahan ini dilakukan tanpa sengaja, namun kerisauannya akan tinggal dalam hati kita. Contohnya, ada perkataan yang tak seharusnya kita ucapkan, tetapi ucapan itu serta-merta keluar. Setelah ucapan itu keluar, hati kita masih tak mau bertobat dan tak mengakui kesalahan, padahal kita jelas tahu bahwa kita telah salah berucap. “Sudah terlanjur salah bicara, jadi sekarang harus bagaimana?” Begitulah batin kita terus merasa risau. Kerisauan ini terus berputar di dalam hati, namun tidak diutarakan keluar dengan berkata, “Saya telah ceroboh, perkataan saya benar-benar tidak pantas.” Kadang, setelah kita salah berucap, timbul banyak kerisauan.
Pada saat itu pula, noda batin kita pun terus-menerus bertambah. Begitulah kita manusia, ada yang melakukan kesalahan dengan sengaja, ada pula yang tanpa sengaja. Karena itui, noda batin dan karma buruk pun terus bertambah. Inilah makhluk awam. Semua karma buruk yang berawal dari pikiran ini terus-menerus kita ciptakan. Karena itu, Buddha memberi tahu kita, virus penyakit batin ada tiga atau lima. Kini saya sering berpikir, virus ini bukankah sama dengan virus penyakit yang ada saat ini? Kita sering membahas penyakit batin. Mengapa batin dapat didera penyakit? Karena noda batin yang terakumulasi dan terus menumpuk, maka timbullah penyakit batin. Inilah yang disebut diliputi noda batin atau diselimuti virus penyakit batin. Lihatlah, kini virus penyakit semakin menyebar.
Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang dan penelitian yang terus dilakukan, kita dapat mengetahui asal mula berkembangnya virus penyakit, dalam tubuh seseorang, sesungguhnya ada berapa banyak bakteri, bagaimana cara mereka bermutasi, dan berubah menjadi penyakit apa. Kuman dari hewan yang menjangkiti manusia, entah akan menghasilkan penyakit apa. Virus hanyalah benda yang sangat kecil, namun dapat menyebar dan berkembang cepat. Sebelumnya, kita pernah mendengar bahkan air liur kita saja yang meski hanya setetes, jika diamati, mengandung ratusan juta bibit penyakit. Ketika berbicara, betapa banyak bakteri yang keluar dan tak terlihat yang tadinya tersimpan dalam air liur kita. Saat kita bicara, bakteri-bakteri itu ikut keluar dengan napas kita. Meski tak kasat mata, kuman-kuman yang berukuran mikro ini akan keluar saat kita membuka mulut bersama dengan air liur kita, seperti gelembung yang beterbangan. Lihatlah, dengan hanya membuka mulut, banyak sekali kuman penyakit dapat tersebar. Ini penjelasan dari sisi mikroorganisme.
Noda batin kita yang sangat halus, bukankah sama dengan kuman penyakit tadi? Jadi, bagaimana cara kita mengantisipasinya agar tak terserang penyakit? Bagaimana cara agar kita sehat lahir batin? Semua dimulai dari pikiran. Seperti saat penyakit SARS mewabah, cara terbaik adalah jika ada yang sakit, para kerabat hendaknya menjaga jarak agar tak ikut tertular olehnya. Jika ada yang mengalami demam dan diduga terkena penyakit ini, segeralah dikarantina. Orang yang pernah mengalami kontak dengannya juga segera dikarantina. Jika ternyata ia benar terserang wabah, maka penyakitnya tak akan kembali menular kepada orang lain. Jika orang lain tertular, kemungkinan ia juga akan menularkannya lagi. Mari gunakan analogi ini untuk merefleksikan pelatihan diri kita. Jika pikiran kita dipenuhi virus batin, yakni ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, maka kita pun dapat memengaruhi orang lain.
Pola pikir orang lain akan ikut terjangkit virus batin kita. Lihatlah, dalam hubungan antarmanusia, jika kita sering bergaul dengan orang yang gemar bergosip, maka dalam waktu singkat kita pun akan terpengaruh dan menjadi biang gosip. Jika kita berada bersama orang-orang yang baik dan bijaksana, jika kita sering bersama dengan mereka, bersama dengan orang-orang bijaksana ini, maka segala gosip akan berhenti. di mana biang gosip bertemu orang bijaksana, Ketika gosip sampai kepada mereka yang memiliki kebijaksanaan, maka perlahan mereka akan mengajarkan kita untuk berpengertian dan memaafkan. Mereka juga mengajarkan kita berpuas diri dan bersyukur. Inilah yang disebut orang bijak. Dengan sendirinya, ketamakan, kebencian, dan kebodohan kita akan terkikis habis. Dalam batin kita hendaknya tiada penyakit batin, lima racun, atau tiga racun ini. Sering bergaul dengan teman-teman yang bijak dan mengikis lima racun dengan kebijaksanaan, maka tidak akan menjadi penyebar virus batin.
Dalam kehidupan manusia, kita harus tahu bahwa saat terjangkit penyakit, kemungkinan terburuk adalah meninggal setelah beberapa hari. Dari segi fisik, jika meninggal setelah sakit beberapa hari, maka penderitaannya berakhir saat itu juga. Namun, penyakit batin tak akan berakhir dalam satu kehidupan saja. Penyakit batin yang terdiri atas ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan ini mengakumulasi banyak sekali karma buruk. Kelak saat meninggal, segala sesuatu tak terbawa kecuali karma yang terus mengikuti. Penyakit dan noda batin ini akan terus berkembang dalam pikiran kita, dan menjadi berapa banyak? 84.000. Noda batin terus terakumulasi dan terbawa dari kehidupan ke kehidupan. Jadi, Buddha mengatakan kepada kita bahwa masa ini adalah masa kemunduran Dharma.
Pada masa ini, dunia diliputi kekeruhan. Artinya, Dharma tak lagi mendapat tempat dalam hati manusia. Orang-orang pasti merasa, “Benarkah begitu?” Kini sangat mudah untuk membaca kitab suci. Kitab suci kini beredar luas, bahkan bukan hanya dalam bentuk cetak, kini dengan menggunakan sebuah komputer, hanya dalam bentuk sekeping CD, Sutra apa pun yang ingin kita baca atau terminologi apa yang ingin kita cari, semua bisa kita temukan dengan cepat dan mudah. Memang sungguh mudah. Namun, apakah kita sepenuh hati menghormatinya? Kitab yang dicetak di atas kertas sudah sangat memadai dan telah tersebar luas. Perkembangan teknologi membawa kepraktisan hingga Anda bisa membawa kitab suci ke mana pun hanya dengan sekeping CD, dan kita dapat mempelajarinya di mana saja.
Namun, apa yang kita lakukan? Kita hanya menjadikannya sebagai alat. Kita menggunakan Dharma hanya sebagai alat untuk menunjukkan pada semua orang, “Tahukah kalian berapa banyak yang kuketahui?” Sesungguhnya, dari sekian banyak yang diketahui, berapa banyak yang telah dipraktikkan? Berapa yang benar-benar dapat dipraktikkan? Inilah maksud dari Dharma tak lagi berada dalam hati manusia. Kita sering membahas tentang pelatihan diri. Apakah pelatihan diri kita sudah sesuai aturan, sesuai dengan disiplin yang ditetapkan? Baik umat awam dengan lima sila dan praktik sepuluh kebajikan maupun para bhiksu/bhiksuni dengan Vinaya, apakah kita telah menjalankan pelatihan diri dengan baik? Apakah kita telah menjalankan tata krama dan menjaga moralitas? Semua itu hanya diri sendiri yang paling tahu. Mereka yang sadar, akan segera mengintrospeksi diri dan mengubah kebiasaan buruknya.
Dengan begitu, masih belum terlambat. Ini berarti kita menemukan obat bagi penyakit batin, yakni Dharma. Jika Dharma bersemayam di hati kita, betapa pun banyaknya noda batin kita di masa lalu, sedikit demi sedikit Dharma tetap akan meresap ke dalam hati kita. Jika pengaruh dunia luar dapat merasuk ke hati, apakah Dharma tidak bisa meresap barang sedikit saja? Hati kita mudah menerima gosip dan tercemar oleh noda batin. Entah gosip tersebut benar atau tidak, kita telah menciptakan banyak noda batin karenanya. Kita sering mendengar pepatah yang berbunyi, “Satu orang berbicara omong kosong, puluhan ribu orang menganggapnya benar.” Hanya dengan adanya satu orang yang mengucapkan suatu hal yang tidak jelas, berita itu akan menjadi kabar burung dan meracuni serta merisaukan banyak orang. Inilah noda batin yang membuat manusia tak dapat melihat jelas. Karena itu, tanpa disadari, kesalahan pun terjadi. Kemudian, kesalahan ini dengan cepat menjadi kabar burung. Jadi, setelah mempelajari ajaran Buddha, kita hendaknya melihat dunia luar sebagaimana adanya, dan setelah berlalu, tiada yang perlu dilekati di dalam hati.
Namun, ada sesuatu yang sangat penting dan harus senantiasa meresap ke dalam hati, yakni air Dharma. Dharma bagaikan embun manis yang membersihkan noda batin kita. Jika setiap pagi kita dapat bangun dengan pikiran yang jernih, dan entah kita mendengar lantunan lalu mendengar suara lantunan Sutra ataupun membaca Sutra, dan jika kita dapat sungguh-sungguh menyerap maknanya ke dalam hati, maka hari itu pikiran kita akan semakin jernih dan dapat senantiasa berintrospeksi serta menguatkan kembali tekad kita untuk dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Inilah cara air Dharma mengobati penyakit batin kita.
Jika kita tidak sungguh-sungguh menggunakan air Dharma untuk mengobati penyakit batin, maka penyakit ini akan terus berkembang dari kehidupan ke kehidupan dan benih karma buruk akan semakin banyak. Karma buruk kolektif semua makhluk tercipta karena karma buruk Anda dan karma buruk saya semakin bertambah. Noda batin yang semakin bertambah dan saling berkaitan, dan saling berkaitan ini, membuat karma buruk pun semakin berkembang dan menyebar seperti virus. Virus ini berkembang semakin banyak dan bermutasi sehingga penyakit menjadi semakin mematikan. kesombongan, dan keraguan bagaikan virus yang menyerang pikiran manusia dan membawa 84.000 noda batin. Hanya dengan menyerap air Dharma ke dalam hati, barulah virus ini dapat dibersihkan. Jika melihat angka 84.000 noda batin, kita hendaknya berpikir mungkinkah yang dimaksud Buddha pada saat itu adalah bahwa setiap orang, pada setiap hari dan setiap detik batinnya selalu diliputi noda yang terus bertambah.
Jika benar demikian, Saudara sekalian, kita harus sadar dan waspada akan setiap pikiran kita yang muncul dalam setiap detik. Karena itu, saya sering berkata, “Genggamlah saat ini dan pertahankanlah niat baik.” Inilah cara mengobati penyakit batin. Jika sebelumnya setiap hari dan setiap detik kita menciptakan noda batin, maka kini setelah memasuki pelatihan diri, kita hendaknya memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan hal yang perlu dilakukan dan mengubah kesalahan yang ada. Untuk dapat mengubah pola pikir, kita harus memiliki tekad yang teguh. Jika setelah bertekad, kita dapat memegang tekad ini dengan teguh, maka niat buruk tak akan timbul. Jadi, satu-satunya cara menghindari virus batin adalah senantiasa menjaga pikiran dengan baik, seperti yang saya katakan di awal. Dharma harus meresap ke dalam hati sedikit demi sedikit. Dengan demikian, barulah kita akan selalu diliputi kebahagiaan dalam Dharma. Jadi, senantiasalah bersungguh-sungguh.