Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 039 – 除滅三障的七種心(四) Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Keempat)

Saudara-saudara se-Dharma, apakah kita semua telah menjaga hati kita? Setiap hari, kita berbicara tentang rintangan noda batin dalam hati. Karena kita telah mengetahui bahwa noda batin ini merupakan rintangan bagi kita, maka bagaimana kita mengikisnya? Dengan penuh welas asih, //Buddha mengajarkan kita sederetan cara untuk mengikis noda batin, yakni Tujuh Kondisi Pikiran. Yang pertama adalah memiliki rasa malu. Kita harus selalu membangkitkan rasa malu. Berkalpa-kalpa yang lalu, Buddha juga adalah makhluk awam seperti kita. Namun, kini Buddha telah lama mencapai kebuddhaan, sedangkan kita masih berputar-putar dalam enam alam kehidupan. Karena itu, kita sepatutnya merasa malu. Kita harus senantiasa berintrospeksi dan selalu bersemangat. Hanya mereka yang memiliki rasa malu dapat bersemangat melatih diri. dapat benar-benar memahami kebenaran. Setelah menyelidiki makna kebenaran, seseorang akan lebih paham tentang noda batin, karma, dan buah karma.

Dengan begitu, rasa takut akan timbul. Kita harus takut akan noda dan kegelapan batin. Sebagai makhluk awam, kita benar-benar belum tercerahkan. Enam indra kita, saat bersentuhan dengan enam objek luar, mudah terpengaruh sehingga timbullah ketamakan, kebencian, kebodohan dalam batin. ketamakan, kebencian, kebodohan di dalam batin. Karena itu, kita harus selalu waspada. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada, Karena di dunia ini ada begitu banyak hal sebab di dunia ini ada begitu banyak hal yang dapat memengaruhi pikiran kita. Hanya dengan rasa takut, kita dapat bersemangat. Jadi, dikatakan, “Yang kedua adalah rasa takut.” “Sebagai makhluk awam, tubuh, ucapan, dan pikiran kerap kali berada dekat dengan kejahatan.” “Oleh karena hukum sebab akibat, maka setelah kehidupan ini berakhir, harus jatuh ke alam neraka, alam binatang, atau alam setan kelaparan dan mengalami penderitaan yang tak terhingga.”

“Sesungguhnya, ini amatlah menakutkan dan mengerikan.” Arti dari penggalan syair ini cukup jelas. Setelah kalian membacanya, kita akan memahami apa yang ingin disampaikan oleh syair ini. Kita harus mengetahui bahwa tubuh, ucapan, dan pikiran makhluk awam terus-menerus menciptakan karma. Karma buruk melalui tubuh adalah membunuh, mencuri, berbuat asusila. Karma buruk melalui ucapan adalah berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing, bertutur kata kasar. Karma buruk melalui pikiran adalah ketamakan, kebencian, kebodohan. Dari tiga saluran karma ini, terciptalah sepuluh kejahatan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, reaksi yang kita lakukan, semua terwujud melalui tindakan oleh tubuh, ucapan oleh mulut, dan timbulnya pikiran dalam batin kita. Semua ini tak akan terlepas dari keseharian kita. Jika kita menyimpang sedikit saja, kejahatan akan tercipta dengan mudah. Apalagi bagi makhluk awam, karma buruk lebih mudah tercipta daripada karma baik.

Manusia lebih banyak berbuat jahat daripada baik. Dalam berbicara, manusia lebih banyak berucap buruk daripada baik. Ketika sebersit pikiran timbul, di dalamnya lebih banyak pikiran egois daripada pengertian terhadap orang lain. Jadi, tindakan kita pada umumnya lebih mementingkan diri sendiri. “Aku cinta, aku benci, aku suka,// aku tidak suka.” Semuanya berpusat pada “aku”. Karena itu, kita bersikap diskriminatif. Ketika melihat seseorang yang tidak kita sukai, rasa benci akan timbul dalam hati kita. Namun, ketika melihat orang yang kita sukai, hati kita menjadi gembira. Sikap diskriminatif ini membawa penderitaan. Lihatlah, ketika ada rasa dendam dan benci, bagaimana kita memperlakukan orang lain? Bahkan terhadap orang yang kita sukai, kemelekatan akan menyebabkan kita merasa cemburu. Misalnya, kita berpikir, “Orang yang saya sukai sedang berbicara dengan orang yang lain, dan nampaknya ia lebih ramah pada orang lain.” Kita pun merasa tidak tahan. Bayangkan, betapa mudahnya dalam hubungan antarmanusia timbul pikiran yang tidak baik.

Apalagi dengan banyaknya nafsu keinginan, bayangkan betapa banyak// hal buruk yang dapat kita lakukan. Baik hal buruk melalui tubuh maupun ucapan, semuanya sangat mudah tercipta. Namun, kita semua tak menyadarinya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung berbuat jahat daripada berbuat baik. Karena itu, dikatakan bahwa kita// selalu dekat dengan kejahatan. Oleh sebab itu, dalam kitab suci dikatakan bahwa tubuh, ucapan, dan pikiran kita kerap kali berada dekat dengan kejahatan. Kita cenderung melakukan hal-hal buruk. Seperti inilah orang pada umumnya. Untuk melakukan sedikit kebajikan, sesungguhnya amat sulit. Karena itu, kita harus terus mengingatkan diri sendiri. Bahkan ada orang yang selalu melakukan kejahatan tanpa kebaikan, sementara yang lainnya lebih banyak berbuat kejahatan daripada kebaikan. Ada orang yang seumur hidupnya// selalu berbuat jahat dan tidak berbuat baik sedikit pun. Dengan begini, kita sering kali berada dekat kejahatan.

Sekali terjatuh dari alam manusia,// butuh ribuan kalpa untuk kembali. Jika kita terjatuh dari alam manusia, berarti setelah meninggal kita akan terlahir di alam neraka, binatang, atau setan kelaparan. Inilah yang harus kita takutkan. Yang kedua adalah rasa takut. Karena sebagai makhluk awam, karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran sering berdekatan dengan kejahatan, Oleh karena hukum sebab akibat, dan mengalami penderitaan yang tak terhingga. Sesungguhnya, ini amatlah menakutkan dan mengerikan. Di zaman Buddha dulu, Beliau sering kali mengajar sesuai kondisi yang ditemui. Suatu ketika Ananda dan Buddha Sakyamuni berjalan di pasar. Mereka melihat seorang tua menjual ikan dari berbagai ukuran. dalam berbagai ukuran.

Sebagian berukuran kecil dan digabungkan dalam satu tempat yang kecil. Yang besar juga digabungkan bersama. Di dalam guci, ikan-ikan kecil berjuang untuk hidup karena hanya ada sedikit air untuk banyak ikan. Sebagian tetap hidup, dan sebagian lagi sudah mati. Ikan-ikan besarnya pun masih bergerak. Namun, sambil menjajakan dagangannya, si penjual ikan juga meratapi penderitaannya. Buddha menghampiri orang tua itu dan berhenti untuk mendengarkan ratapannya serta memahami penderitaannya. Laki-laki tua itu berkata, “Mengapa dunia ini tidak adil terhadapku?” “Usaha ini mulanya dijalankan oleh putraku.” “Dialah yang menangkap dan menjual ikan.” “Entah mengapa putraku meninggal mendadak.” “Pada akhirnya akulah yang harus menjalankan usaha ini.” “Aku sudah tua, sungguh menderita.” Mendengar ratapan si laki-laki tua, Buddha pun tersenyum penuh simpati. Buddha pun tersenyum simpul penuh empati. Melihat ikan-ikan itu mencoba bertahan hidup, Buddha menggelengkan kepala dan sekali lagi tersenyum simpul penuh empati.

Ketika Buddha dan Ananda meninggalkan kota dan berjalan menuju sebuah desa, mereka melihat seekor babi// yang tertutup kotoran. Sang babi melintas di jalan, dan ketika melihat Buddha menghampiri, sang babi pun berjalan mendekat. Aroma tubuh sang babi amat tak sedap. Ketika Buddha melihat babi itu, Beliau kembali tersenyum simpul penuh empati. Ananda pun terus mengamati setiap gerak-gerik Buddha. Melihat ekspresi Buddha, Ananda mendekati Buddha dan bertanya sambil meneruskan perjalanan, “Yang Mulia Buddha, aku bingung dengan ekspresi wajah-Mu hari ini.” Buddha menjawab, ”Apa yang membuatmu bingung?” Ananda menjawab, “Yang Mulia, ekspresi wajah-Mu ini sama persis dengan saat di pasar tadi, ketika si laki-laki tua mengeluhkan masalahnya.” “Ekspresi di wajah-Mu seperti menampilkan ketidakberdayaan seperti menunjukkan ketidakberdayaan yang disertai dengan//senyuman simpul penuh empati.”

“Pasti ada sebabnya.” “Yang Mulia, sesungguhnya orang tua tadi memiliki jalinan karma apa?” “Kemudian aku melihat Yang Mulia melihat ikan-ikan itu dan kembali menggelengkan kepala dengan senyuman simpul penuh empati.” “Sesungguhnya jalinan karma apakah yang dimiliki ikan-ikan tadi?” ”Dan baru saja ketika melihat babi itu, Yang Mulia kembali menampakkan ekspresi serupa.” “Sesungguhnya mengapa tiga hal ini membuat Yang Mulia berekspresi demikian?” “Mohon Yang Mulia memberi petunjuk.” Buddha berkata, “Ya, semua ini adalah jalinan karma.” “Lihatlah laki-laki tua tadi, ia sudah tua dan renta.” “Lihatlah, ia sudah begitu tua, tubuhnya lemah dan renta.” “Namun, ia tetap harus mencari nafkah dengan menjual ikan di pasar.” “Kematian putranya yang tiba-tiba membuatnya begitu menderita, karena ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa putranya meninggal tiba-tiba.” “Terlebih lagi, ia juga meratapi kehidupannya sendiri.”

“Namun, ia tak pernah memikirkan bagaimana ia telah menangkapi ikan seumur hidup.” “Ikan yang hidup di air juga memiliki induk dan anak.” “Lihatlah, sekali jaring ditebar, ikan besar maupun kecil semuanya tertangkap.” “Ada yang kehilangan induk maupun anak.” “Saat mereka hidup bersama-sama di air, tiba-tiba mereka terpisah dari keluarga.” “Saat si laki-laki tua menangkap ikan, ia tidak pernah memikirkan bahwa ikan juga mempunyai kehidupan.” “Dengan jaringnya,// ia memisahkan banyak makhluk dari keluarganya.” “Kini saat putranya meninggal, ia terus meratapinya dan tak hentinya mengeluh.” “Ia tak sadar akan karma buruk yang dibuatnya dan tidak sadar bahwa ia telah membunuh dan memisahkan banyak hewan dari keluarga mereka.” “Ia tak menyadarinya.” “Yang ia rasakan hanyalah penderitaan akibat kehilangan putranya sendiri.” “Aku mengasihaninya, namun juga menyayangkan perbuatannya.” “Inilah mengapa Aku tersenyum simpul.” “Manusia banyak diliputi kebodohan batin.” “Kemudian Aku melihat ikan-ikan yang berada di dalam guci dengan hanya sedikit air.” “Lihatlah, usia terus berkurang seiring berlalunya hari.” “Bagaikan ikan kekurangan air,// kebahagiaan apa yang dikejar?”

“Dahulu ada sekelompok dewa yang hidup bebas di alam surga “Karena berkah yang ditanam di kehidupan lampau, maka mereka terlahir di alam surga.” “Ketika terlahir sebagai dewa, mereka dapat hidup dengan bebas dan hidup bagaikan kaisar.” “Aku melihat sebagian dari ikan-ikan itu sebelumnya terlahir sebagai dewa, namun kini mereka harus bertahan hidup di dalam guci dan memandangi-Ku.” “Mereka pernah terlahir sebagai dewa “Namun, kini mereka terkurung di dalam guci.” Ananda bertanya, “Bagaimana bisa begitu menakutkan?” “Mereka pernah hidup nyaman di surga, mengapa pada kehidupan berikutnya mereka langsung terlahir sebagai ikan di dalam guci, bahkan menunggu untuk dijual?” “Ia yang berbuat baik akan memperoleh berkah// dan terlahir di alam surga, namun ketika berkahnya habis, giliran akibat karma buruknya yang berbuah.” “Ini hanyalah sebuah permulaan.”

“Karma buruknya mengakibatkan ia terlahir sebagai ikan yang tertangkap dan dijual di pasar.” “Ini hanyalah sebuah awal dari penderitaan panjangnya di alam rendah.” “Kelak masih banyak derita yang menantinya.” Ananda merasa ini sungguh menakutkan. Bahkan jika seseorang telah//berbuat banyak kebajikan Bahkan walau seseorang telah banyak berbuat baik namun ketika semua berkah habis dinikmati, ia masih harus menerima buah karma buruknya. Dan ini barulah sebuah awal — mereka harus bertahan hidup dalam guci dan diperjualbelikan. Ini sungguh menakutkan. Ananda kembali bertanya, “Namun, Yang Mulia, ketika babi itu mendekati kita, aku melihat Yang Mulia memberi senyuman yang sama.” “Apakah sebabnya?” Buddha menjawab, “Ceritanya panjang.” “Berkalpa-kalpa yang lalu, ada dua orang pemuda di sebuah desa kecil.” “Seorang di antaranya menempuh jalan sesat.” “Ia melakukan guna-guna dan membuat racun untuk orang lain.” “Ia menggunakan ilmu gaib untuk membuat kumbang beracun saling bertarung dan mengambil racun dari yang menang untuk menyakiti orang lain.”

“Begitulah ia hidup di jalan sesat.” “Sebaliknya, pemuda satunya sangat gemar mendalami ajaran Buddha dan gemar berbuat baik serta berdana.” “Kedua pemuda ini berteman baik.” “Pemuda yang baik ini sering menasihati temannya yang sesat, ‘Kita harus memiliki keyakinan yang benar.’ “Ia mengajak temannya ini ‘Mari kita menemui menemui seorang bhiksu seorang bhiksu untuk mendengarkan beliau membabarkan Dharma untuk mendengar Dharma darinya.’ ‘Kita bisa belajar banyak kebenaran hidup.’” “Namun, temannya ini selalu menjawab bahwa ia tidak punya waktu.” “Jadi, yang satu berjalan di jalan benar, sementara yang lain berjalan menyimpang.” Demikianlah waktu berlalu. Mereka mulanya berteman baik, namun mereka mempunyai tujuan yang berbeda dan menempuh jalan yang berbeda, maka akhirnya mereka pun berpisah.

Yang satu melangkah di jalan yang benar dan giat melatih diri, sementara yang lain berjalan di jalan yang sesat dan terus memegang pandangan yang salah. Buddha berkata, “Ananda, tahukah engkau?” “Pemuda yang berlatih di jalan benar “Pemuda yang berlatih di jalan benar, menerima ajaran Buddha, waspada dalam berperilaku, dan menjalankan sila dengan teguh saat ini adalah Aku, Buddha Sakyamuni.” “Sejak saat itu dan seterusnya, Aku tak berani lengah dalam melatih diri, melainkan terus mencari kebenaran sejati dan menjalankan sila yang murni.” “Sementara pemuda yang lain tetap melangkah di jalan yang sesat dan makin terjerumus praktik dan pandangan salah.” “Karena itu, kini ia bukan hanya terlahir di alam binatang, melainkan terus berputar di tiga alam rendah.”

“Hingga kini ia belum terbebas dari alam binatang.” “Lihatlah, tubuhnya dipenuhi kotoran.” “Tak lama lagi, ia juga akan dijual dan disembelih.” “Ia telah menderita lama sekali tanpa mampu terbebas dari tiga alam rendah.” “Hari ini kami bertemu lagi.” “Meskipun ia terus mengikuti-Ku, namun tetap ada jarak yang besar antara kebuddhaan dan alam binatang.” “Semua ini berawal dari pilihan antara pandangan benar atau salah.” “Dan kini kedua jalan ini berbeda jauh sekali.” “Karena itu, Aku pun tak berdaya dan hanya tersenyum simpul.” “Aku tersenyum renyuh//melihat kebodohan makhluk hidup.” “Dari keenam alam, tiada satu pun yang kekal.” “Bahkan mereka yang terlahir di alam dewa akan tetap terlahir di alam-alam rendah setelah berkah mereka habis.” “Ada yang penderitaannya baru dimulai, ada pula yang sudah berlangsung lama.” “Semua berputar-putar  di 3 alam rendah.”

“Sebagian dari mereka kini masih terus menciptakan karma buruk.” “Ketika buah karma buruk mereka berbuah sedikit saja, mereka terus mengeluh tanpa henti.” “Demikianlah kebodohan makhluk hidup.” Mendengar penjelasan Buddha kepada Ananda tentang hal-hal yang mereka lihat saat berjalan melewati pasar dan desa, bukankah kita harus lebih waspada? Terhadap Ananda, kita pun harus senantiasa bersyukur. Selain bersyukur kepada Buddha, kita juga harus berterima kasih pada Ananda yang selalu mengamati Dharma dengan saksama. Melihat segala tindak-tanduk Buddha, Ananda mengerti bahwa segala sesuatu yang ditemui pasti mengandung kebenaran yang dalam. Ketika melihat raut wajah Buddha, Ananda segera memanfaatkan kesempatan untuk meminta petunjuk Buddha.

Karena itu, barulah Buddha menjelaskan makna di balik tiga senyum simpul-Nya. Setelah mendengar cerita ini, kini kita harus sungguh-sungguh waspada. Inilah mengapa kita harus takut akan konsekuensi setelah kita meninggal, karena tubuh, ucapan, dan pikiran kita sangat dekat dengan kejahatan; lebih banyak berbuat jahat daripada baik. Demikianlah adanya. Atau meski Anda berbuat lebih banyak kebajikan, namun lihatlah para dewa itu. Mereka memang dapat hidup bebas bagaikan kaisar dan merasakan berbagai kenikmatan. Meskipun sudah terlahir di surga berkat banyak perbuatan baik di masa lampau, namun ketika berkah ini habis, giliran karma buruk mereka yang berbuah dan menyebabkan mereka terlahir di alam rendah.

Jadi, meski kita banyak berbuat kebajikan dan dapat terlahir kembali di surga, namun karena kita juga pernah berbuat jahat walaupun sedikit, kita tetap dapat terlahir di alam rendah. Kedua pemuda tadi adalah teman. Pemuda yang berjalan di jalan benar telah berusaha membujuk temannya, “Kita hendaknya melangkah di jalan yang benar dan mendengarkan ajaran yang baik.” “Mari kita pahami lebih banyak ajaran kebajikan di dunia.” Meski mereka berteman baik, namun akhirnya memilih jalan masing-masing. Lihatlah, dalam hubungan antarmanusia, meski dalam hal perasaan cukup baik, namun setiap orang memiliki pemikiran berbeda. Setiap orang memiliki perilaku yang berbeda. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Inilah yang sering terjadi dalam hubungan antarmanusia sekarang ini. Kita mungkin memilih jalan yang sama dan bersama-sama melatih diri, namun selama proses pelatihan diri ini, perbuatan setiap orang dapat berbeda-beda.

Ada yang berlatih dengan penuh semangat, memahami sepuluh ketika diajarkan satu. Sementara bagi yang berkemampuan lebih tajam, dapat memahami seribu saat diajarkan satu. Meski baru mendengar sedikit, mereka dapat memahami banyak kebenaran. Inilah orang yang berkemampuan tajam. Ada pula orang berkemampuan sedang. Mereka setidaknya memahami 10 jika diajarkan 1. Kemudian, ada yang berkemampuan agak tumpul. Mereka hanya akan mengerti apa yang diajarkan. Namun, ada pula yang berkemampuan tumpul. Orang yang berkemampuan tumpul, meski mendengar ajaran, namun tak dapat menyerapnya ke dalam hati. Perilaku dan pola pikir mereka tidak berubah. Meski mereka berkata ingin melatih diri, namun pikiran mereka tetap menyimpang. Mereka telah kehilangan//pikiran dan pandangan benar sehingga tidak memiliki ucapan//dan perbuatan benar. Ini sering terjadi hanya karena// sebuah pikiran menyimpang. Jadi, dalam melatih diri, yang terpenting adalah//setelah memahami kebenaran, kita sungguh harus membangkitkan rasa takut. Benih karma yang ditanam pada saat ini akan membawa buah akibat di masa yang akan datang.

Segala pikiran dan perbuatan buruk yang timbul, tiada satu pun yang tidak menciptakan karma, tiada satu pun yang bukan kesalahan. Dalam setiap ucapan kita dan dalam setiap perbuatan kita, tiada yang tidak menciptakan karma. Karena kita makhluk awam lebih banyak memikirkan diri sendiri, maka ketika pikiran egois ini timbul, kita cenderung berbuat jahat daripada baik. Karena itu, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan karena jika terjatuh dari alam manusia, kita mungkin terlahir di tiga alam rendah. Ini adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Karena itu, harap semua senantiasa bersungguh hati. Ingatlah bahwa rasa malu dan rasa takut tidak boleh hilang dari dalam hati kita. Senantiasalah waspada.

Leave A Comment