Sanubari Teduh

[ST-040] 除滅三障的七種心(五) Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Kelima)

Saudara Se-Dharma sekalian, pada saat fajar, burung-burung bernyanyi dan serangga-serangga mengerik dengan selaras. Ini adalah saat yang paling tenteram dan saat yang terbaik untuk membina diri. Dalam mempelajari ajaran Buddha, meski berada di lingkungan yang sangat nyaman, meski berada di lingkungan yang sangat nyaman, kita tetap harus berintrospeksi dan mawas diri. Kita harus sering membangkitkan rasa malu. Dengan memiliki rasa malu, kita dapat menyadari ketidakkekalan hidup. Kemudian kita perlu mempunyai rasa takut. Apabila kita tidak merasa takut, dan tidak gentar akan buah karma, kita akan melalui hari dengan sia-sia tanpa dorongan untuk tekun melatih diri. Maka, kita tidak boleh lengah dan harus melalui hari dengan langkah mantap, karena hidup tidaklah kekal. Dengan menyadari ketidakkekalan hidup, maka kita harus memiliki rasa takut. Sesungguhnya, dalam hidup yang singkat ini, jika tubuh, ucapan, dan pikiran kita tidak dijaga dengan hati-hati maka terciptalah karma buruk. Kondisi pendukung terciptanya karma buruk sering menggoda dan memancing kita.

Jika kita tergoda, maka setelah kehidupan ini, kita dapat jatuh ke alam neraka, setan kelaparan, atau alam binatang untuk waktu yang sangat lama. Hal ini sungguh mengerikan. Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus maju selangkah dan berpaling. Jika kita dapat memiliki rasa takut bahwa kelahiran kembali di enam alam sungguh menakutkan, bahwa sebagai makhluk awam kita mudah membuat kesalahan dan kekeliruan, maka kita harus sungguh-sungguh berpaling. maka kita harus sungguh-sungguh rela melepas. Karena ini adalah suatu tempat yang tidak kekal yang penuh jebakan agar kita membuat karma buruk yang berat, maka kita harus segera meninggalkannya. Yang ketiga adalah hati yang berpaling. Ketika mengamati kelahiran dan kematian, yang terlihat hanyalah ketidakkekalan, penderitaan, kekosongan, ketanpaakuan, serta ilusi yang tidak bersih. Bagaikan gelembung di air yang cepat timbul dan cepat lenyap, bagaikan roda pedati yang terus berputar, kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, delapan jenis penderitaan terus menyiksa tanpa berhenti sejenak pun.

Semua yang ada di sini hendaknya mengamati bahwa dari ujung kepala hingga ujung kaki terdapat 36 bagian, yaitu rambut, bulu, kuku, gigi, tahi mata, air mata, lendir hidung, air liur, daki, keringat, air seni dan tinja, kulit, kulit ari, darah, otot, urat, pembuluh, tulang, sumsum, lemak, daging, otak, selaput, limpa, ginjal, jantung, paru-paru, hati, empedu, usus, lambung, dahak cokelat dan putih, serta dua organ lain dekat limpa. Demikianlah kotoran mengalir di sembilan lubang. Karena itu, Sutra-Sutra menyatakan bahwa tubuh ini adalah sarang penderitaan, dan semuanya bersifat tidak bersih. Adakah orang bijaksana yang menemukan kebahagiaan dalam tubuh? Kelahiran kembali membawa berbagai penderitaan, karenanya sungguh menjijikkan. Penggalan syair berikut berbunyi, “Yang ketiga adalah berpaling.” “Ketika mengamati kelahiran dan kematian, yang terlihat hanyalah ketidakkekalan,// serta ilusi yang tidak bersih.” “Bagaikan gelembung di air yang tanpa berhenti sejenak pun.” “Semua yang ada di sini hendaknya mengamati bahwa// daki, keringat, air seni dan tinja,// kulit, kulit ari, darah, otot, urat, pembuluh, tulang, sumsum, lemak, daging, otak, selaput, limpa, ginjal, jantung, paru-paru, hati, empedu, usus, lambung, dahak cokelat dan putih, serta dua organ lain dekat limpa.”

“Demikianlah kotoran mengalir di 9 lubang.” “Karena itu, Sutra-Sutra menyatakan bahwa dan semuanya bersifat tidak bersih.” “Adakah orang bijaksana// yang menemukan kebahagiaan dalam tubuh?” “Kelahiran kembali membawa//berbagai penderitaan, karenanya sungguh menjijikkan.” Bila melihat kembali syair ini, yang ke-3 dari 7 Kondisi Pikiran adalah berpaling. Setelah melafalkan syair ini, tentunya kita semua dapat mengerti dan memahaminya. Namun, meski dapat memahami artinya, sangatlah sulit untuk sungguh-sungguh menyadarinya. Semua orang yang kita temui, siapa pun itu, pada wajahnya terdapat tujuh lubang, pada tubuhnya terdapat tungkai kaki dan tangan hanya dibedakan dengan gemuk, kurus, tinggi, ataupun pendek.

Namun, kita harus menyadari meski dari tampak luar setiap orang memiliki tujuh lubang di wajah, namun bentuk wajahnya tidaklah sama. Begitu juga bentuk tubuh kita, ada yang tinggi, pendek, gemuk, atau kurus. Namun, ada persamaan yang dapat ditemui dari ujung kepala hingga telapak kaki yangi harus sering kita renungkan. Sesungguhnya, bagi setiap orang, tubuh adalah sesuatu yang berada paling dekat. Sesuatu yang paling dekat dengan seseorang adalah tubuhnya sendiri. Tubuh ini, dari ujung kepala hingga telapak kaki, kira-kira terdiri atas 36 bagian. Mulai dari rambut, kulit, kuku, hingga organ bagian dalam, keseluruhannya kira-kira ada 36 jenis. Semua ini terbungkus di bawah lapisan kulit yang menutupi tubuh, kita tak pernah tahu betapa kotor di dalamnya. Di bagian mana pun, bila kulit terkelupas, maka akan berdarah. Sungguh menakutkan dan menyeramkan.

Semua orang pun sama, terbungkus dalam selapis kulit yang menutupi organ seperti urat, tulang, daging di sebelah bawahnya. Jika kulit itu rusak, maka kuman penyakit dari luar tubuh akan masuk sehingga kuman dan virus akan bersekutu dan kadang akibatnya tidak dapat disembuhkan. Kita dapat mengingat kembali hari pertama beroperasinya Rumah Sakit Tzu Chi Dalin. Kita menyediakan pelayanan medis secara gratis untuk beberapa hari pertama,  dan pada hari pertama, juga pasien pertama yang datang berobat adalah seorang nenek tua. Ketika nenek tua ini diantar dengan ambulans, dari tubuhnya tercium bau tidak enak. Dokter segera menanganinya. Kakinya terbungkus lapisan demi lapisan perban yang sudah sangat kotor.

Dokter menggunting perban yang membungkus kakinya itu dan di dalamnya terlihat obat rumput tradisional dan di dalamnya terlihat obat rumput tradisional. Ketika rumput-rumputan ini disingkirkan, terlihat bahwa kakinya telah bernanah. Saat dokter memecahkan luka nanah ini, di dalamnya sudah penuh belatung. Luka ini sangat bau, penuh darah, nanah, dan juga belatung. Saya ingat hari itu, ketika saya mengunjungi ruang gawat darurat, kebetulan dokter//sedang mengeluarkan belatungnya, terdengar perawat mengatakan, “Masih ada satu di sini, masih satu di sini.” Maka, dokter dengan cekatan dan hati-hati menjepit keluar belatung itu satu per satu. Di ruang operasi itu terlihat sebuah piring kaca yang di atasnya telah penuh dengan puluhan belatung.

Di dekat daging yang telah membusuk itu terus terdengar perawat berkata, “Di sini masih ada.” “Di sana juga ada.” Lihatlah, manusia, sewaktu terbungkus oleh kulit, kita tidak menyadari bahwa di dalamnya terdapat banyak hal yang kotor. Ketika kulit itu sobek dan membusuk, maka dapat tumbuh belatung dan berbau busuk. Bau yang paling busuk di dunia ini adalah bau tubuh manusia yang telah membusuk. Ini mengingatkan saya pada saat kita pergi mengunjungi para fakir miskin di Hengchun. Karena para fakir miskin di Hengchun tinggal pada jarak yang berjauhan, ketika kita tiba di Checheng, hari mulai gelap. Saat penduduk desa tersebut melihat kedatangan para relawan Tzu Chi, mereka tahu rumah mana yang akan dikunjungi dan mereka menuntun perjalanan dengan cepat menuju sebuah rumah kecil yang bobrok. Lalu seorang warga mulai memanggil dari pintu karena mereka tidak berani masuk ke dalam.

Namun, sewaktu mereka mengajak kita ke samping rumah, tercium bau busuk yang sangat tajam. Penduduk yang di luar terus memanggil orang yang di dalam, “Bapak!” “Master dari Tzu Chi telah datang untuk menjengukmu.” Pada saat itu, hari telah petang. Cahaya lampu rumah itu sangat suram dan redup dan tercium pula bau busuk. Sekelompok dari kami masuk, para komite dari utara Taiwan ikut bersama saya dan banyak di antaranya yang keluar lagi. Di dalam rumah, selain sorot lampunya suram, hawanya sangat pengap dan bau. Dari manakah bau busuk ini berasal? Rupanya ada seseorang yang terduduk di pinggiran ranjang. Kakinya menggantung di sisi ranjang. Kita bertanya padanya, “Mengapa Anda seperti ini?” “Tubuh Anda begitu kurus.” “Ada apa dengan tubuh Anda?” Maka, ia pun menunjuk kakinya. Saat kita mengamati dengan lebih jelas dan mengambil bangku untuk menyandarkan kakinya, ternyata telapak kakinya sudah berbentuk seperti sebuah bunga, lukanya menganga seperti kelopak yang mekar.

Mengapa bisa seperti ini? Ia mengidap kanker di telapak kakinya. Suatu kali, saat ia sedang bekerja di kebun, kakinya tertusuk oleh sesuatu. Karena dianggap hanya luka biasa, maka ia sekadar mengoleskan salep ke lukanya. Sejak itu lukanya terus bernanah. Kemudian, ketika diperiksakan ke dokter, dokter mendiagnosis bahwa ia terkena kanker. Lihatlah, sebuah luka kecil akibat sedikit goresan di kulit yang kemudian terinfeksi kuman, setelah dibiarkan terlalu lama, dokter pun mendiagnosisnya sebagai kanker. Baunya sangat tidak sedap. Dan penyakit ini telah menyebar ke bagian-bagian lain tubuhnya hingga ke paru-parunya. Ia begitu kurus, tinggal kulit membalut tulang. Gambaran ini memberi saya kesan sangat dalam. Pada masa yang lebih awal lagi, ketika perhimpunan bakti amal ini baru berdiri, saya secara pribadi ikut mengunjungi kasus yang ditangani Tzu Chi di Hualien.

Saya ingat saat itu di Desa Shoufeng, ada sebuah keluarga. Sang kepala keluarga baru berumur 40-an tahun. Ia memiliki 4 anak dan juga seorang istri. Istrinya baru menjelang usia 40 tahun. Dalam formulir yang kita terima, tertulis sepasang suami istri berusia 40-an yang menghidupi empat orang anaknya, kesulitan apa yang mereka hadapi? Maka, kita pun mengunjungi mereka. Hari itu kita berangkat sekitar pukul 5 sore, saat semua orang yang bekerja di sawah bersiap-siap pulang ke rumah. Meski kita pergi saat hari sudah petang dan kebetulan sedang musim panas, ketika tiba di lokasi, terlihat gubuk jerami yang pintunya sedikit terbuka. Maka, kita pun mulai memanggil, “Apa ada orang di dalam rumah?” Dari dalam terdengar jawaban, “Ada, silakan masuk.” “Dorong saja pintunya dan masuklah.”

Maka, kita pun mendorong pintunya dan masuk. Di luar masih sangat terang, karena musim panas, pukul 5 sore masih terang. Tetapi, begitu sampai di dalam, kondisinya sangat gelap. “Mengapa di dalam begitu gelap?” Orang di dalam rumah itu pun berkata, “Di atas kepala kalian ada lampu, kalian dapat menggapai untuk menyalakannya.” Benar saja, ketika kita menggapai, ada bola lampu tergantung di langit-langit. Setelah diputar sedikit, lampu itu pun menyala. Setelah lampu menyala, cahayanya tetap remang-remang. Terlihatlah sesosok manusia yang terbaring di ranjang dekat dinding pintu. Melihat ia terbaring di atas ranjang bambunya, sungguh membuat hati saya pilu. Saya segera berjalan menghampiri ranjangnya dan bertanya, “Apa yang terjadi pada Anda?” Ia berkata,// “Seluruh tubuh saya tak dapat digerakkan.” “Mengapa tidak dapat digerakkan?” “Sudah berapa lama?” “Sudah empat atau lima tahun.” “Apa yang terjadi?” “Saya jatuh ketika sedang bekerja.” “Tulang belakang saya terluka// dan kini seluruh tubuh menjadi lumpuh.” “Kini saya hanya dapat menggerakkan kepala, bagian lainnya tidak dapat bergerak lagi.” Salah satu relawan komite berseru, “Wah, tikus itu besar sekali.” Saya pun melihatnya.

Di manakah tikus itu? Tikus itu ada di kaki orang itu, sedang menggigiti kakinya. Tampaknya tikus itu memakan kakinya hingga menjadi begitu gemuk. Orang itu sudah tidak dapat merasakan kakinya, dan tikus itu entah sudah berapa lama menggerogoti daging di kakinya. Saat kita coba mengusir tikus itu, ia tetap tidak takut dan tidak mau pergi. Mungkin sebelumnya si tikus tidak pernah diusir. Melihat hal seperti ini, sungguh menyayat hati. Tubuh kita ini, kala sehat ada kulit yang membungkusnya hingga terlihat bersih. Setiap hari kita membersihkannya, dan bagi umat perumah tangga, rambut juga sering dicuci dan disisir. Bila dilihat sungguh indah. bahwa apa yang terbungkus di balik kulit itu ada banyak sekali hal yang kotor.

Pada suatu hari wakil kepala RS Tzu Chi Dalin, dr. Chien dalam waktu 5 menit menjelaskan bagaimana penyakit masuk ke tubuh manusia. Penjelasannya sangat sederhana. Ia berkata bahwa dalam tubuh seseorang paling sedikit 600 jenis kuman penyakit. Terutama di perut dan usus, terdapat lebih dari 100 triliun bakteri baik. Ia bertanya, “Seberapa besar 100 triliun itu?” Sulit dijelaskan. Jika dijelaskan dengan satuan berat, bobotnya sekitar satu kilogram bakteri. Begitulah di dalam tubuh seorang manusia. Bakteri berukuran sangat kecil hingga tak dapat dilihat dengan mata telanjang dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Lihatlah, pada seorang manusia terdapat lebih dari 600 jenis kuman penyakit, dan setidaknya 100 triliun bakteri baik. Bila semua kuman dan bakteri yang tak terlihat ini digabungkan menjadi satu lalu ditimbang, beratnya dapat melebihi satu kilogram. Lihatlah tubuh kita ini. Tubuh kita memerlukan adanya bakteri. Triliunan bakteri ini berguna Triliunan bakteri ini berguna untuk membantu proses metabolisme tubuh, menyerap nutrisi, dan mencerna sari makanan. Kita memerlukan adanya bakteri baik ini di dalam tubuh kita.

Tetapi, di antara begitu banyak bakteri baik ini, terdapat lebih dari 600 jenis kuman penyakit. Namun, adakalanya bakteri baik dan kuman ini saling menyerang dan berkonflik. Buddha mengajarkan bahwa tubuh kita merupakan perpaduan Empat Unsur. Tubuh kita terbentuk dari 4 unsur: tanah, air, api, dan angin. Jika 4 elemen ini mencapai keselarasan, tubuh kita pun sehat. Berbicara tentang bakteri dalam tubuh kita, terdapat bakteri yang baik dan jahat. Apabila mereka berada pada titik keseimbangan, kita akan menjadi sehat. Sebaliknya, bila bakteri ini tidak selaras dan saling berkonflik satu sama lain, bakteri yang jahat menyerang yang baik, maka penyakit mulai berkembang di tubuh. Saudara sekalian, kita semua mengetahui masih ada bakteri yang berasal dari luar tubuh. Mulanya, kuman ini hanya ada di tubuh binatang, namun sekarang kuman penyakit ini terus-menerus menyerang tubuh manusia.

Sering dijelaskan oleh para dokter bahwa virus sesungguhnya tidak bernyawa, namun tetap ada. Ketika menempel pada sel hidup, ia menjadi aktif dan menyebabkan penyakit. Fenomena ini sangat kompleks. Tubuh manusia yang kita lihat terbungkus dari kepala hingga ujung jari kaki. Sesungguhnya, yang terbungkus ini terdiri atas urat, tulang, darah, daging, otak, limpa, lambung, dan organ-organ lain, keseluruhannya ada 36 bagian. Renungkanlah, bila bagian-bagian ini dapat berfungsi dengan selaras, orang tersebut menjadi sehat. Namun, ketika ada virus yang menyerang atau ada infeksi dari luar, maka terjadilah tumbuhnya belatung, bernanah, tumbuh kanker, dan sebagainya hingga tubuh menjadi sakit dan mengeluarkan bau yang sangat busuk. Walaupun tubuh dalam keadaan sehat, kita tetap selalu mengeluarkan kotoran melalui sembilan lubang tubuh. Selain tujuh lubang pada kepala, ada dua lubang lagi untuk buang air besar-kecil yang keduanya sama-sama kotor.

Maka, Buddha berharap kita lebih sungguh-sungguh. Penggalan syair ini memang cukup panjang. Semua itu menjelaskan betapa kotor dan tidak bersihnya tubuh kita ini, bahwa terdapat banyak bakteri di dalamnya, termasuk kuman penyakit maupun bakteri yang bermanfaat. Secara menyeluruh, jumlahnya ada triliunan, dan tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Yang dapat kita amati adalah bahwa kotoran mengalir keluar melalui sembilan lubang. Lihatlah, apa lagi yang patut dilekati dari tubuh ini sehingga menimbulkan// keserakahan, kebencian, dan kebodohan, serta membawa perselisihan dan perhitungan? Kita harus tahu betapa tubuh ini menjijikkan dan tak patut untuk dilekati.

Maka, kita harus mengintrospeksi diri dan merasa takut akan ketidakkekalan hidup. Kita harus memanfaatkan tubuh ini dengan baik, menjadikannya sarana melatih diri. Untuk melatih diri ke arah kebenaran, kita harus memanfaatkan tubuh ini. Dengan keberadaan tubuh ini, kita dapat melihat segala fenomena dalam kehidupan sehingga tekad kita dapat terbangkitkan. Tubuh berasal dari Empat Unsur dan lima faktor pembentuk kehidupan yang berpadu tanpa adanya inti. Jika dapat memanfaatkan tubuh ini sebagai sarana pelatihan, membina diri ke arah kebenaran hakiki dengan tubuh fana ini, maka inilah yang disebut melatih diri. Jika melekat pada tubuh fisik ini, maka akan menciptakan karma buruk. Semua manusia, masalah, ataupun segala sesuatu yang kita temui dalam kehidupan di dunia ini dapat membuat kita menyadari kebenaran. Maka, dengan tubuh fana ini,// kita dapat memahami kebenaran sejati.

Kita harus merawat tubuh ini dengan baik kita harus merawat tubuh ini agar tetap bugar dan sehat, namun jangan terlalu melekat padanya. Sikap melekat pada tubuh// akan menciptakan karma buruk, sementara menjaga tubuh agar tetap sehat akan mendukung pelatihan diri. Saudara se-Dharma, kita harus menyayangi diri sendiri terlebih dahulu, barulah mengerti cara mengasihi orang lain. Cinta janganlah disertai ketamakan. Kita harus memperluas cinta kasih kita untuk mencintai diri sendiri dan orang lain. Janganlah kita tamak pada tubuh ini. Tubuh ini sesungguhnya amat menjijikkan, tak layak dibanggakan ataupun dilekati. Namun, karena sudah terlahir dengan tubuh ini, kita tetap harus menjaga dan menyayanginya serta menghargai kehiudupan ini, memanfaatkannya untuk berlatih dalam Dharma, dan menjadikannya sarana pelatihan diri. sarana memparktikkan kebenaran. Janganlah tamak dan melekat padanya, namun harus memanfaatkannya dengan baik. Saya sering berkata bahwa kita hanya memiliki hak pakai atas hidup ini, bukan hak untuk memilikinya. Tak mudah untuk terlahir sebagai manusia. Demi tubuh ini, kita harus makan dan tidur serta mencukupi kebutuhannya. Jadi, jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik untuk melatih diri, hidup ini pun akan menjadi sia-sia. Maka, mari kita semua bersungguh-sungguh// untuk memahami kebenaran ini.

Leave A Comment