[ST-043] 無量功德智慧生 Bangkitnya Pahala Dan Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, apakah pikiran kita setiap harinya senantiasa terisi dengan niat baik? Saudara sekalian, jika memiliki niat baik, maka dalam // menghadapi orang, masalah, segala sesuatu, kita harus membawa manfaat bagi banyak orang dan membawa titik terang bagi masalah. Inilah niat bajik. Bukankah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha adalah untuk mempertahankan pikiran baik dan ketulusan yang tanpa noda? Karena itu, Buddha berharap kita sungguh-sungguh melatih diri hingga pikiran bebas dari kerisauan. Kerisauan adalah noda batin. Buddha juga berharap kita senantiasa mengembangkan cinta kasih, melindungi semua makhluk tanpa kecuali. Buddha membabarkan tentang cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin demi memberi kebahagiaan bagi semua makhluk. Melihat makhluk hidup menderita, Buddha berusaha melenyapkan derita mereka tanpa memikirkan kesulitan yang ada.
Jika semua makhluk memperoleh kebahagiaan dan memperoleh pembebasan, Buddha pun turut bersukacita, namun tetap memahami kekosongan tiga aspek dana, yakni tidak sombong karena dapat menolong, tidak memperhitungkan banyaknya sumbangsih, dan tidak melihat adanya orang yang ditolong. Beliau dapat melepas segalanya, termasuk pemikiran bahwa diri-Nya mampu melakukan ini dan itu. Inilah pikiran yang murni. Apakah kita setiap hari Apakah kita setiap hari telah menjaga kondisi pikiran seperti ini? Buddha ingin kita berpaling dari samsara, dan untuk itu kita harus//membangkitkan Bodhicitta. Jika kita tidak mengembangkan Bodhicitta, yang adalah pikiran yang sadar, dan hanya berbuat amal saja, “Mari lakukan, ini perbuatan baik, besar kecil harus dilakukan,” maka kelak yang kita dapat hanyalah kelahiran bahagia di alam manusia atau dewa.
Sepuluh kebajikan berbuah kelahiran di surga, sedangkan praktik lima sila berbuah//kelahiran di alam manusia. Semua ini hanya berbuah kelahiran di alam baik. Jadi, Buddha ingin kita maju selangkah//dengan membangkitkan Bodhicitta. Selain mengembangkan Bodhicitta dan mempraktikkan ajaran Buddha dalam keseharian, kita pun harus terus memupuk pahala dan kebijaksanaan dalam jangka waktu tak terhingga melalui setiap perbuatan kita. Inilah yang disebut “Terealisasi berkat akumulasi pahala dan kebijaksanaan tak terhingga.” Untuk merealisasikan tubuh Dharma, dibutuhkan akumulasi banyak pahala serta praktik Enam Paramita. Kita semua tahu tentang Enam Paramita, yakni Enam Kesempurnaan. Enam Paramita berarti Enam Kesempurnaan. Semua makhluk sungguh menderita — dan mempraktikkan ajaran-ajaran dalam kehidupan sehari-hari, apalagi kita harus terus-menerus Semua makhluk di enam alam sungguh menderita. Mungkin ada yang menjawab,// “Lahir di surga sangat bahagia.” Namun, ketika buah perbuatan baik habis, mereka tetap akan jatuh ke alam rendah. Alam-alam baik bukanlah alam yang kekal, melainkan tetap tidak kekal. Meski usia di alam surga sangat panjang, namun suatu saat pasti akan berakhir.
Jadi, kehidupan surgawi tidaklah abadi, apalagi kehidupan sebagai manusia. Sulit bagi manusia mencapai usia 100 tahun. Terlebih lagi, banyak hal tak terduga di sini. Jadi, inilah keadaan di enam alam. Terlebih lagi, di alam asura. Makhluk asura tersebar di lima alam lainnya. Bahkan di surga pun terdapat makhluk asura. Mereka menikmati berbagai kesenangan, namun tetap tidak merasa puas dan masih memelihara tabiat lama. Karena itu, mereka mudah untuk menjadi marah dan merasa benci. Tabiat buruk mereka belum lenyap. Meski mereka berada di alam surga, namun masih mungkin jatuh ke alam rendah. Apalagi di alam manusia ini. Dalam jangka hidup kurang dari seratus tahun, ada orang yang hidup penuh kenikmatan. Namun,//di alam manusia yang penuh kenikmatan ini juga terdapat banyak asura. Ini adalah asura di alam manusia. Ada orang yang dengan uang, kekuasaan, ketenaran, dan kedudukan membawa gangguan bagi masyarakat. Mereka adalah asura di alam manusia, kerap kali saling bertikai dan saling membenci, baik secara terbuka maupun terselubung. Inilah asura di alam manusia. Semakin besar kekayaannya, semakin tinggi kedudukannya, semakin tenar ia, maka ketika tabiat buruknya timbul, asura ini akan membawa kekacauan bagi masyarakat.
Jadi, baik di alam manusia maupun dewa, semuanya sama-sama menderita dan penuh bahaya. Dengan tabiat buruk ini, setelah berkah mereka habis,// mereka akan jatuh ke alam rendah. Karena hati mereka penuh dengan kebencian, maka mereka menimbun karma buruk melalui ucapan dan perbuatan. Jadi, setelah berkah mereka habis, giliran karma buruk yang berbuah sehingga mereka terlahir di tiga alam rendah— alam setan kelaparan, alam binatang, neraka— dan mengalami penderitaan yang tak terkira. Mungkin ada orang yang akan berkata, “Alam hewan memang terlihat, tetapi alam setan kelaparan apakah ada?” “Lalu bagaimana kondisi alam neraka?” Sesungguhnya, di alam manusia sendiri kondisi alam setan kelaparan dapat kita lihat. Jika kita memandang ke seluruh dunia, kita akan melihat bahwa di negara miskin, negara tertinggal, daerah terbelakang, daerah yang berperadaban rendah, atau di negara-negara yang tengah berperang, terdapat banyak bencana akibat ulah manusia yang menyebabkan kelaparan.
Banyak orang yang tak bisa mendapat makanan. Di Ethiopia, Tzu Chi pernah membantu sebuah wilayah. Kita membantu dalam menyediakan pengobatan dan air bersih. Di sana terjadi kekeringan. Karena itu, kita menggali sumur di sana dan membangun klinik kesehatan bagi warga di lebih dari 20 lokasi. Mereka di beberapa lokasi tersebut//memang sudah tertolong. Namun, berapa banyak tempat//yang dapat kita jangkau? Kita hanya menjangkau satu provinsi dengan beberapa kabupaten. Namun, masih banyak tempat yang belum dapat kita jangkau. Masih banyak tempat yang belum dapat merasakan uluran tangan kita. Sudah bertahun-tahun kondisi mereka tak kunjung membaik. Mereka masih kekurangan pangan dan kelaparan. Selain kemiskinan yang bertambah parah, kekeringan juga datang melanda.
Coba bayangkan kondisi mereka. Akibat peperangan, berapa banyak tempat tinggal yang hancur? Demi mengungsi ke tempat yang aman, berapa jauh jarak yang harus mereka tempuh? Mereka tak memiliki apa-apa, ditambah lagi dengan kekeringan yang melanda, coba bayangkan bagaimana kondisi di sana. Jadi, jika ingin melihat alam setan kelaparan, banyak tempat yang seperti itu di alam manusia. Begitu pula di Rwanda. Jika mengingatnya, kita sungguh tak sampai hati. Coba pikirkan kondisi mereka di tempat yang belum berkembang dan masih sangat terbelakang itu. Mereka tidak berpakaian, dan ketika musim dingin tiba, untuk menghangatkan tubuh, mereka melumuri tubuh mereka dengan minyak hewan lalu menutupinya dengan pasir. Setelah dilumuri oleh minyak hewan, mereka menutupi tubuh dengan pasir.
Jadi, sekujur tubuh dipenuhi minyak dan pasir. Inilah cara mereka menahan dingin. Lihatlah, mereka hidup di alam manusia ataukah di alam binatang? Mereka hidup di alam manusia ataukah alam setan kelaparan? Melihat cara hidup mereka, jika kita menggunakan cara pandang kita, maka mereka bagai berada di tiga alam rendah. Selain itu, di Ethiopia, insan Tzu Chi juga mengunjungi sebuah daerah. Rencananya, mereka ingin menyalurkan bantuan, namun peradaban di sana sungguh tertinggal. Selain berkebiasaan tidak berpakaian, mereka juga kelaparan akibat kekeringan. Bukan hanya makan daging hewan, mereka bahkan juga memakan manusia. Mereka terbiasa untuk membunuh orang begitu timbul rasa benci dan bahkan memakan dagingnya. Mereka sungguh terbelakang. Dan yang mereka miliki hanyalah senapan karena mereka gemar berburu. Mereka tak memiliki apa pun, tetapi semua dari mereka memiliki senapan yang tergantung di bahu mereka.
Pada saat itu, para anggota Tzu Cheng dan staf yayasan pergi bersama-sama untuk melihat apa yang dapat dilakukan, karena warga di sana hidup dalam kondisi sulit dan tak dapat berobat kala sakit. Jadi, kita bekerja sama dengan Dokter Lintas Batas. Mereka berpendapat kita harus menolong warga di sana dengan mendirikan klinik kesehatan. Inilah jalinan jodoh yang membuat kita sampai ke Ethiopia. Untuk memahami cara hidup mereka, para relawan menggunakan kamera untuk merekamnya sebagai laporan. Tanpa diduga, begitu para relawan mengangkat kamera foto dan video, penduduk asli mengangkat senapan mereka. Kondisi mereka sungguh terbelakang. Meski berada di alam manusia, namun penduduk di sana belum berkembang, minim peradaban, dan tidak mengerti tata krama maupun sikap saling menghormati. Mereka belum memahami hal ini. Ini tidak jauh berbeda dari neraka.
Orang-orang di sana saling membenci, bertikai, saling membunuh, bahkan memakan. Bukankah ini bagai kondisi di tiga alam rendah? Mereka yang lahir di sana, apakah mereka sendiri yang memilih? Tidak. Mereka terlahir di sana tanpa bisa menentukan sendiri. apa saja hal-hal yang berada di luar kendali kita? Karma. Benih-benih karma buruk terakumulasi akibat perbuatan buruk masa lampau. Makhluk hidup cenderung banyak berbuat jahat dan hanya sedikit berbuat baik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia ada yang lebih banyak berbuat jahat, ada pula yang lebih banyak berbuat baik. Semua ini akan tertanam menjadi benih karma. Jika benih yang buruk lebih banyak, maka kekuatan karma buruk pun lebih besar. Jadi, manusia terlahir mengikuti karmanya dan tak punya kendali atas kelahiran ini. Segala perbuatan manusia tiada satu pun yang bukan karma melalui pikiran, tiada satu pun yang bukan karma melalui tubuh. Jika menanam benih perbuatan buruk, berarti menciptakan karma buruk, dan akan menerima akibat buruk.
Jika menanam benih perbuatan baik, berarti menciptakan karma baik, dan akan menerima akibat baik. Manusia lahir sesuai karmanya, meninggal sesuai karmanya, tiada yang kuasa menentukannya. Lihatlah mereka yang terlahir di daerah yang minim peradaban dan terbelakang dengan bencana kekeringan yang sering terjadi, ditambah dengan bencana akibat ulah manusia seperti pertikaian dan peperangan. Bayangkan, kondisi manusia seperti ini, bukankah bagaikan di neraka? Bukankah bagaikan di tiga alam rendah? Oleh karena itu, sebagai praktisi Buddhis, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita. Buddha menginspirasi kita untuk melatih diri. Tekad melatih diri bukanlah semata-mata mencari kelahiran di alam manusia atau surga, dan bukan hanya takut akan tiga alam rendah. Bukan hanya itu.
Sesungguhnya, kita bahkan juga harus taku akan kelahiran di alam manusia dan surga, karena setelah berkah habis dinikmati, mudah bagi kita untuk jatuh ke alam rendah. Kehidupan manusia sungguh tidak kekal. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh membangkitkan Bodhicitta, yakni pikiran yang penuh kesadaran. Bodhi berarti sadar. Artinya, hakikat yang murni dalam diri kita harus dibangkitkan. Jadi, kita harus mempraktikkan Enam Paramita dan memupuk pahala kebajikan. Karena telah berjodoh dengan ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguh bertekad melatih diri. Enam Paramita adalah enam alat untuk menyeberangi lautan noda batin. Kita makhluk awam kerap kali diliputi noda batin yang bagaikan sungai ataupun laut yang berombak. Saat noda batin ini timbul, kita tak dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Noda batin ini membuat kita tersesat.
Karena itu, berbagai alat perlu digunakan untuk mengarungi ombak noda batin ini. Jika pikiran manusia tidak selaras dan pikiran sendiri tidak terkendali, maka ketika noda batin ini bangkit, kita sungguh tak dapat melihat kebenaran. Ini amat berbahaya. Karena itu, kita menggunakan Enam Paramita Enam Paramita adalah praktik Bodhisattva dalam menyelamatkan diri sendiri dan makhluk lain, memberi manfaat bagi diri sendiri menyadarkan diri sendiri dan makhluk lain. “Paramita” berasal dari bahasa Sanskerta yang diterjemahkan sebagai “menyeberang” dalam bahasa Mandarin. Dengan mengembangkan Enam Paramita, pasti dapat menyeberangi lautan noda batin, meninggalkan pantai kelahiran dan kematian menuju pantai kebahagiaan Nirvana.
Setelah Paramita dana,//yang kedua adalah disiplin moral. Kita semua tahu bahwa sila bertujuan untuk menghentikan kejahatan sila bertujuan untuk menghentikan keburukan dan mencegah kejahatan. Ketika pikiran buruk muncul saat kita menghadapi suatu masalah, saat batin ini mulai bergejolak, kita harus segera meningkatkan kewaspadaan. Bagi orang yang telah membangkitkan Bodhicitta, meski banyak masalah yang dihadapi, kita dapat segera meningkatkan kewaspadaan dan mencegah diri dari berbuat kejahatan. Ketika pikiran buruk timbul, kita akan mampu segera menghentikannya. Atau, meski sudah terlambat mencegahnya dan kesalahan telah dibuat, kita pun dapat segera bertobat. Memegang teguh sila berarti menghentikan keburukan dan mencegah kejahatan; ketika menghadapi kondisi yang buruk, dapat memiliki kewaspadaan; dan ketika melakukan kesalahan, dapat segera bertobat.
Dalam Sutra juga dikisahkan, pada berkalpa-kalpa yang lampau, ada seorang brahmana penganut ajaran luar. Saat itu ajaran Buddha belum ada, namun telah banyak kelompok yang berlatih sesuai aliran masing-masing. Mereka juga memiliki panduan moral (sila). Dan sila ini dipegang dengan sangat ketat. Brahmana ini adalah praktisi//yang teguh pada sila. Suatu hari, ia pergi keluar. Ia berjalan dari pagi hingga malam tanpa minum air sedikit pun karena tidak menemukan sumber air. Pada malam harinya, ia tiba di sebuah desa. Penduduk di sana tengah beristirahat. Brahmana ini melihat sebuah kolam yang berisi air. Ia pun berpikir, “Saat ini aku sangat membutuhkan air.” Ia pun segera meminum air di kolam itu. Setelah minum, tiba-tiba terpikir dalam benaknya, “Kolam ini pasti memiliki tuan.” “Jika benar begitu, maka saat ingin minum, aku harus meminta izin dan meminta sedikit airnya.” “Namun, aku tidak melihat ada orang, tidak meminta izin, dan langsung minum.” “Aku telah melanggar sila.” “Apa yang harus kulakukan?” Ia tak tahu di mana pemilik kolam tersebut. Akhirnya, ia menyerahkan diri kepada raja dan meminta raja menghukumnya.
Raja pun bertanya, “Kejahatan apa yang telah engkau lakukan?” Brahmana ini pun menceritakan kejadiannya. Raja merasa hal ini amat menggelikan. “Apa salahnya minum air?” “Kau tidak bersalah.” Namun, brahmana ini menjawab, “Ada, hatiku merasa bersalah.” “Nuraniku tak dapat menerima ini.” “Kolam itu pasti memiliki tuan, tetapi aku tak tahu di mana dia.” “Dan aku tahu bahwa di negeri ini, semuanya adalah milik Baginda.” “Karena itu, aku datang menyerahkan diri.” “Mohon Baginda menghukumku.” Raja merasa hal ini amat tak masuk akal. “Aku sudah bilang bahwa engkau tak bersalah.” “Engkau malah minta dihukum.” “Bagaimana aku harus menghukummu?” Raja pun merasa gusar dan berkata, “Baiklah, baiklah.” “Sekarang aku sedang sibuk.” Ia pun memanggil pangeran dan berkata, “Bawalah brahmana ini ke taman untuk menunggu sebentar.” “Nanti aku akan menyusul.” Pangeran pun membawa brahmana ini ke sebuah gazebo di taman. Pangeran berkata, “Tunggulah di sini.” Pangeran pun meninggalkannya. Sang raja amat sibuk. Hingga enam hari kemudian, tiba-tiba raja teringat brahmana itu. “Akhirnya, bagaimana ia mau pergi?” Raja bertanya pada pangeran. Pangeran menjawab, “Ayahanda memintaku membawanya ke taman, maka aku memintanya menunggu di gazebo, selanjutnya aku tidak tahu lagi.” Raja segera meminta pengawal untuk memeriksa, dan ternyata brahmana itu masih menunggu. Ia terus menunggu tanpa ada yang datang, sehingga tidak makan maupun minum. Selama enam hari, ia kekurangan air dan tubuhnya pun menjadi kurus kering, namun masih hidup. Setelah melihatnya, raja bertanya, “Mengapa engkau masih di sini?”
Ia menjawab, “Karena Baginda meminta pangeran untuk membawaku ke sini, maka aku harus menaatinya dan tetap menunggu di sini.” Raja merasa tak sampai hati dan tidak mengerti pemikiran brahmana ini. Raja pun berkata, “Anggaplah ini sebagai hukumanmu.” “Engkau tak perlu merasa bersalah lagi.” Raja pun segera meminta istrinya untuk menyiapkan berbagai hidangan. Ketika sang ratu melihat brahmana ini, ia pun merasa ceritanya amat konyol dan tak masuk akal. Ia berpikir, “Hanya karena minum air, mengapa harus menunggu di sini selama 6 hari?” Ia pun tertawa merasa hal ini tidak masuk akal. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha berkata,“Tahukah kalian?” “Raja yang tak sengaja berbuat salah itu kini adalah Aku, Buddha Sakyamuni.” “Karena itu, Aku harus menderita selama 6 tahun dan semakin lemah dari hari ke hari.”
“Aku harus kelaparan selama enam tahun.” “Pangeran yang membawa brahmana tersebut dan kemudian melupakannya kini adalah Rahula.” “Karena itu, ia harus berada dalam rahim selama enam tahun sebelum lahir.” “Istri raja yang menertawakan sang brahmana kini adalah Yasodhara.” Akibat pada kehidupan lampau Yasodhara menertawakan sang brahmana meski hanya tertawa kecil, maka ia harus mengandung 6 tahun lamanya sehingga ditertawakan dan dicemooh rakyat Kapilavastu. “Bagaimana bisa wanita mengandung//selama 6 tahun?” “Apa karena setelah Pangeran Siddhartha pergi, Putri Yasodhara tak lagi setia sehingga harus menerima hukuman?” Buddha berkata bahwa pikiran kita harus dijaga dengan baik karena hukum sebab akibat terus berlaku. Kadang kesalahan dilakukan dengan sengaja.
Ini disebut pelanggaran. Yang tidak disengaja disebut kekeliruan. Baik disengaja maupun tidak, semuanya menciptakan benih karma meski kesalahan yang kita lakukan kelihatannya tidak besar. Contohnya, karena membiarkan//brahmana menunggu 6 hari, Buddha harus kelaparan selama 6 tahun. Lihatlah, meski perbuatan ini tidak disengaja, Beliau tetap harus menderita selama 6 tahun. Sedangkan ratu yang menerrtawakan brahmana ini, lihatlah, harus menerima cemoohan, celaan, dan hinaan dari banyak orang yang membuatnya menderita. menjaga pikiran sangatlah penting. Saat berdana, janganlah kita hanya mengharapkan berkah// agar terlahir di alam-alam yang baik. Kita harus memahami kekosongan tiga aspek dana dan memberi dengan tanpa pamrih. Inilah tekad melatih diri.
Kita juga harus memegang teguh sila. Apa pun yang kita lakukan,//kita harus bertanggung jawab. Lihatlah, Rahula yang tidak bertanggung jawab dan sang raja yang kemudian lahir sebagai Buddha Sakyamuni, mereka harus menerima buah karma akibat// kesalahan yang tak disengaja di masa lampau. Lihat pula Putri Yasodhara, meski tak berniat jahat, dan hanya menertawakan sedikit, ia pun harus menerima buah karmanya. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, saat menghadapi orang maupun masalah, kita harus waspada terhadap pikiran sendiri. Intinya, sungguh-sungguhlah menjalankan sila, barulah fisik dan batin kita dapat tersucikan. Memegang teguh sila adalah dasar dalam praktik ajaran Buddha. Jika dapat senantiasa menjaga pikiran, maka pikiran buruk mudah untuk dilenyapkan.