[ST-044] 千經萬論在於啟發慈悲 Membangkitkan Welas Asih _ Aspek Utama dalam Praktik Ajaran Buddha
-
by
- No Comments on [ST-044] 千經萬論在於啟發慈悲 Membangkitkan Welas Asih _ Aspek Utama dalam Praktik Ajaran Buddha
Para praktisi Saudara se-Dharma, Setiap hari kita (berkumpul untuk pertemuan ini) setiap hari kita berkata, Hari demi hari, rutinitas harian kita sama, maka rutinitas kehidupan kita setiap hari selalu sama. Kita melakukan hal yang sama setiap hari. ajaran Buddha yang kita diskusikan setiap hari Dan ajaran Buddha yang kita bahas pada intinya sama, seperti mereka kurang lebih pun sama, yaitu tentang kondisi di luar dan di dalam diri, tentang cara kita melihat kondisi luar dan cara mendengar suara hati nurani. Kondisi lingkungan luar kita yang baik ataupun buruk juga bergantung pada cara pandang kita. Ketika lingkungan eksternal Bila lingkungan luar kita baik dan menyenangkan, baik dan menyenangkan Kita tidak harus menjadi bagian dari mereka kita harus menjaga hati agar tidak terlarut dan jauh dari godaan mereka di dalamnya.
Pada kondisi yang berlawanan Sebaliknya, bila lingkungan luar buruk, kita harus menyesuaikan pola pikir kita kita pun harus mengendalikan pikiran maka kondisi buruk tidak berpengaruh pada kita agar tidak terpengaruh oleh keburukannya. Karena itu, dalam menghadapi kondisi luar, kita harus melakukan penyesuaian dalam batin. kita perlu menyesuaikan dalam diri kita Ini merupakan keterampilan yang Buddha menjarkan kita semua keterampilan diajarkan Buddha pada kita, bagaimana menyesuaikan pikiran sehingga kita dapat keterampilan untuk membuat tubuh dan pikiran selalu damai dalam jiwa dan raga memperoleh kedamaian dan ketenteraman. Inilah makanya kita harus selalu bersyukur Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur atas lingkungan sekitar dimana kita tinggal atas lingkungan sekitar tempat kita tinggal. Kita harus bersyukur bahwa karma baik hubungan sebab akibat Kita harus mensyukuri jodoh baik membawa kita bersama dengan semua orang sehingga kita seperti kita berbagi kecocokan yang sama, dapat bersatu hati, aspirasi yang sama, memiliki cita-cita yang sama, dan menjadi bagian komunitas spiritual yang sama dan menjadi bagian ladang pelatihan yang sama.
Kita seyogyanya sangat bersyukur atas segalanya Kita harus mensyukuri semua ini. Apa yang seharusnya lebih kita syukuri lagi Kita terutama harus bersyukur adalah karena kita berada dalam karena sama-sama menjadi bagian dari keluarga dari “Tiga Keagungan”— keluarga besar Tiga Permata, Buddha, Dharma, dan Sangha yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Jika lebih dari 2,000 tahun yang lalu, Buddha Berkat adanya Buddha yang pada lebih dari 2.000 tahun lalu tidak memilih jalan membina diri telah memilih jalan pelatihan diri ini dan menapakkan jejak untuk mencapai penerangan, dan membuka pintu menuju pencerahan agung, bagaimana kita dapat memahami maka kita kini dapat memahami begitu banyak prinsip banyak sekali kebenaran sejati atau mengetahui dunia luar sebagaimana adanya, dan dapat memilah kondisi lingkungan luar dan mengetahui batin kita? serta menyelami batin. Inilah yang harus kita syukuri terus Karena alasan inilah, kita harus senantiasa mengucap syukur pada Buddha.
Maka, Buddha mengajarkan kita, Buddha mengajarkan pada kita bagaimana mengurangi ketergantungan dan perusakan kita cara mengikis noda batin, maka kita dapat meninggalkan ketidaktahuan manusia menjadi kebijaksanaan dan mengubah ketidaktahuan jadi kebijaksanaan. Kita umat manusia tenggelam dalam ketidaktahuan. Umat awam selalu diliputi ketidaktahuan. Sejak kita mensyukuri ajaran Buddha, Setelah memiliki rasa syukur pada Buddha, (kita harus mencari ajaran Buddha) maka kita harus mendekati ajaran-Nya, dan setelah memahaminya, dan kemudian kita harus belajar dengan tulus dan ikhlas mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Buddha mengajarkan kita Buddha mengajarkan bahwa//yang terpenting adalah bahwa yang terpenting adalah kita Buddha mengajarkan bahwa yang terpenting adalah mendedikasikan diri kita untuk berjalan sesuai jalur kita harus membangun ikrar dengan sepenuh hati. Banyak cara untuk melakukan ini Ada banyak cara untuk membangun ikrar.
Kita pertama-tama harus Pertama-tama kita harus senantiasa meninggalkan materi dan hasrat duniawi Pertama-tama kita harus berpaling dari kemelekatan pada hal-hal duniawi Kemudian kita dapat terinspirasi untuk mencari jalan agar dapat membangkitkan tekad melatih diri Pikiran untuk mencari Jalan adalah Bodhicitta atau yang disebut Bodhicitta. Jika pikiran Bodhicitta dijalankan Jika Bodhicitta kita telah terbangkitkan, kita tidak akan jauh dari maka ajaran Buddha pun ajaran-ajaran Buddha dan Dharma akan senantiasa dekat dengan kita. Enam Paramita meliputi dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, kebijaksanaan; disebut juga Enam Kesempurnaan.
Sebelumnya, kita telah berbicara tentang pikiran dari Bodhicitta Sebelumnya kita telah membahas bahwa tidak terpisah dari Bodhicitta tak terpisahkan dari Enam Paramita. latihan Enam Paramita Kita berbicara sebelumnya Enam Paramita yang telah kita bahas (paramita berdana) antara lain berdana. Untuk memberikan dengan murah hati adalah langkah awal Berdana merupakan langkah awal kita dalam mempelajari jalan Buddha. Dalam banyak sutra dan perjanjian, Dalam banyak Sutra dan ajaran, tidakkah Buddha mengatakan kepada kita bukankah Buddha menyampaikan pada kita untuk menjalankan keprihatinan dalam hati kita? untuk membangkitkan hati yang welas asih? Semua orang di dunia ini mencari berkat dengan peruntungan baik berharap mendapatkan berkah dan kebahagiaan.
Jika kita dapat membuat orang lain lebih baik, Jika kita dapat membuat orang merasa gembira, kita akan bahagia kita pun ikut bahagia. Inilah artinya “mendatangkan kebahagiaan” Inilah yang disebut “memberikan kebahagiaan”. Dalam dunia ini, ada penderitaan yang tidak dapat dihindarkan Di dunia yang penuh dengan penderitaan ini, Jika kita dapat menjalankan tujuan untuk kepentingan orang lain jika kita dapat membangkitkan hati saat kita merasakan keprihatinan besar dan rasa empati., yang penuh empati dan welas asih merasakan penderitaan orang lain seperti penderitaan kita sendiri, dengan ikut merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan kita; dan lebih lanjut segera mengulurkan bantuan— jika kita dapat mengembangkan perasaan ini dan mengulurkan tangan untuk membantunya, inilah keprihatinan besar maka inilah yang disebut welas asih agung.
Dalam hidup, jika kita dapat membantu satu sama lain, Jika umat manusia dapat saling membantu, dunia ini akan diberkati dengan keberuntungan baik. maka dunia ini akan penuh dengan berkah. Oleh karena itu, pemberian sumbangan Karena itulah, berdana merupakan adalah langkah awal memberikan manfaat bagi orang lain langkah awal menciptakan berkah bagi orang lain. Makanya memberikan manfaat bagi orang lain, Meski disebut menciptakan berkah bagi orang lain, kita sebenarnya mengakumulasi penghargaan untuk diri kita sendiri sesungguhnya kita tengah memupuk pahala dalam proses bagi diri sendiri. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, akan memakan waktu lama untuk mengakumulasi dibutuhkan waktu yang sangat panjang semua penghargaan dan kebajikan (ke-Buddha-an) untuk menimbun pahala dan kebijaksanaan dan untuk mengeliminasi kekurangan yang tak terhingga agar segala noda batin dapat terkikis habis.
Maka, proses ini— Maka, dalam kehidupan di dunia fana ini melalui perbuatan baik dan menanamkan berkat— Maka dalam kehidupan di dunia fana ini adalah bagaimana kita umat manusia biasa kita perlu menciptakan lebih banyak berkah dapat dengan perlahan menjadi bijaksana untuk dapat meraih kebijaksanaan. Sebagai contoh, pada kesimbangan,, Bagaikan sebuah timbangan, jika satu sisi sedikit lebih berat jika salah satu sisi lebih berat, sisi lainnya akan lebih ringan berarti sisi lainnya lebih sedikit bobotnya. Jika kita memupuk lebih banyak penghargaan dan berkat, Jika berkah kita semakin banyak, akan sedikit setan (godaan jahat) berarti keburukan akan semakin berkurang.
Jika lebih banyak setan (godaan jahat), Dan jika keburukan banyak terjadi kita seharusnya utamakan lebih banyak berbuat baik maka kita harus segera menanam berkah. Kesimpulannya, Intinya, kita jelas perlu membedakan kebaikan dari setan kita harus bisa membedakan baik dan buruk Inilah cara bekerja kita untuk dan memahami cara mengurangi bencana bebas dari kemalangan dan bencana dan meningkatkan karma positif kita serta menambah karma baik kita. Maka, setelah mendengar ajaran-ajaran Buddha, kita seharusnya mendukung dan menyelesaikan itu sebaik-baiknya kita harus menerapkannya dengan sebaik-baiknya. Inilah yang disebut menjaga sila. Sebagaimana banyak cobaan di dunia ini, Di dunia ini ada banyak sekali kesulitan ketika salah memimpin, kita berkomitmen dengan tujuan setan, sehingga kita menciptakan karma buruk// karena diliputi pandangan keliru, dan membuat kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja ataupun tanpa sengaja melakukan kesalahan. Ini semua terjadi pada kehidupan kita sehari-hari Semua itu sering terjadi dalam keseharian kita.
Kita seharusnya bersyukur bahwa Sesungguhnya, kita harus bersyukur kita hidup dalam lingkungan yang tidak seperti itu dapat terlahir di lingkungan saat ini, Di dunia ini, banyak rayuan sebab di lingkungan lain, mungkin saja kita menjadi sangat mudah terjerumus. Oleh karena itu, kita perlu punya kekuatan Karenanya, kita perlu memiliki ketahanan mental. ketahanan dan terus bersabar Jika kita tidak memiliki ketahanan Jika kita tidak memiliki kesabaran dan ketahanan, dan terus bersabar, akan sulit menjalankan sila maka akan sulit untuk menjaga sila. Buddha mengajarkan kita untuk mengikuti sila-sila dan ajaran-ajaran mematuhi sila dan menjalankan ajaran dan mengatasi banyak hasrat dan hawa nafsu duniawi serta mengatasi berbagai godaan duniawi dengan kejernihan pikiran dengan ketahanan dan kesabaran. Jika kesabaran kita tak cukup kuat, mengontrol hawa nafsu tak cukup kuat, pada saat itu, kita benar-benar maka dalam kehidupan di dunia ini kehilangan pertimbangan kita kita dapat kehilangan akal sehat dan menghancurkan karakter kita dan merusak kualitas pelatihan diri kita.
Inilah akibat kurangnya kesabaran. Dalam kehidupan spriritual, jika kita tidak mempunyai Dalam hal pelatihan diri, ketrampilan untuk kesabaran, pengendalian emosi atau ketahanan kurangnya kesabaran kita akan menyakiti kehidupan kebijaksanaan spiritual kita juga dapat mengancam jiwa kebijaksanaan kita. Oleh karena itu, kesabaran, pengendalian emosi dan ketahanan— Sebuah kata “kesabaran” ini akan membantu kita untuk menyempurnakan kehidupan spiritual kita dapat menyempurnakan jiwa kebijaksanaan kita. Jika kita mempraktekan ini, dengan mengambil langkah mundur, Sementara dalam kehidupan sehari-hari kita akan menemukan dunia tiba-tiba menjadi lebih besar kesabaran berarti berbesar hati//hingga seluas-luasnya. Maka, kesabaran, ketahanan, pengendalian emosi— Jadi, kesabaran ini sangatlah penting untuk praktisi-praktisi di tempat sama-sama penting bagi umat perumah tangga dan juga praktisi-praktisi seminari maupun biarawan/wati.
Dari Paramita Enam, latihan Begitu pun dalam Enam Paramita, paramita kesabaran, ketahanan, pengendalian emosi yaitu enam latihan penyempurnaan diri, dan toleransi sangatlah penting kesabaran pun sangatlah penting. Kesabaran berarti mampu bertahan dalam kondisi yang amat sulit sekalipun. Dengan demikian, barulah hati dapat mencapai kemurnian, dan kita dapat berjalan di jalan pelatihan diri dengan keteguhan dan kegigihan. Lihat bagaimana spiritual Buddha bertumbuh Dalam proses pelatihan diri Buddha Dalam proses pelatihan diri Buddha, melalui tiga “asamkhyeya kalpas” untuk dilaluiNya Beliau melalui tiga asamkhyeya kalpa Ini sebenarnya tak terhingga, kalpa tak terhitung, yang juga berarti kalpa yang tak terukur.
Selama latihan pertumbuhan spiritual, Dalam pelatihan diri ini, apakah ketahanan tidak diperlukan? tidakkah selalu dibutuhkan ketahanan? Dalam kehidupanNya sebelumnya, Buddha di neraka Sebelum meraih pencerahan,// Buddha pernah datang ke neraka. Dia melanjutkan pertumbuhan spiritualNya disana Di sana pun Beliau tetap melatih diri. Bahkan sebelum mencapai ke-Buddha-an, Sebelum mencapai kebuddhaan, Dia telah berikrar pergi ke neraka Beliau pernah berikrar hendak ke neraka. Ketika di neraka, Sewaktu di neraka, Dia melihat orang yang lebih tua, yang, di luar umurnya, Beliau melihat orang yang sudah sangat tua pun masih harus menderita hukumannya tetap harus menjalani hukuman. Dia melihat orang yang lebih tua ini Beliau melihat seorang tua mengangkut kendaraan logamnya yang sudah terbakar menarik kereta yang sedang terbakar// hingga logamnya membara. Buddha tidak sampai hati menyaksikan Beliau tak sampai hati melihat Orang yang sudah lebih tua itu seorang yang usianya begitu lanjut yang hanya memiliki keyakinan sendiri dan sedikit kekuatan dan tubuhnya sudah rapuh yang hanya memiliki keyakinan sendiri dan sedikit kekuatan serta tak bertenaga, masih harus mengangkut kendaraannya yang terbakar namun harus menarik kereta yang amat berat serta dalam kondisi terbakar.
Kendaraan logam yg terbakar masih ditarik paksa Bagaimana kereta yang terbakar ini oleh seperti orang lebih tua akan dapat ditarik oleh seorang lanjut usia? Sang Buddha tidak sampai hati, Bodhisattva yang sedang melatih diri ini// tak sampai hati melihatnya, maka Dia cepat-cepat melangkah maju untuk membantu angkat maka ia pun segera maju ke depan kendaraan yang terbakar dari orang tua tadi untuk membantu orang tua itu menarik kereta. Ketika penjagga di neraka melihat, dia menarikNya Saat penjaga neraka melihat itu,// ia segera menariknya mundur dan berkata, “Anak muda, kamu tidak perlu berada di sini” “Anak muda, mengapa tanpa suatu sebab engkau datang ke sini “Disini, menarik kendaraan yang terbakar” dan bermaksud membantu menarik kereta?” “adalah bentuk hukuman” “Siksaan tersebut adalah bentuk hukuman.” “Orang yang lebih tua sedang menerima hukumannya” “Orang tua itu sedang menanggung akibat perbuatannya.” “Ketika masih hidup, dia sangat kejam dan galak”
“Di alam manusia, ia adalah seorang yang kejam, “Inilah yang tidak setan sudah lakukan yang tidak dia laksanakan” tak ada kejahatan yang tak dilakukannya.” “dan itulah sebabnya mengapa dia jatuh ke neraka” “Maka, saat ia terjatuh ke neraka, “untuk hukumannya yang sepantasnya” perbuatan jahatnya harus mendapat ganjaran.” “Maka, dia sekarang harus menarik kendaraan yang terbakar ini” “Maka, kini ia harus menarik kereta yang terbakar “Kendaraan yang terbakar ini adalah pengganti karmanya” hingga membara oleh api.” “Ini adalah buah karmanya, “h:anya dengan mengangkutnya” bila ia tak menariknya, “karma buruknya dapat terhapuskan” buah karma buruknya tak akan habis.” Pembangun spiritual menjawab: Pemuda yang sedang melatih diri itu menjawab, “Bukan karena pengganti karmanya, tetapi” “Melihat karmanya seperti itu, aku tak tega, “Saya tidak sampai hati melihatnya menderita” aku sedih dan tak sampai hati, “Saya bersedia menderita atas hukumannya” aku rela menggantikannya menjalani hukuman.”
Para penjaga neraka yang mendengar hal ini Semua penjaga neraka di sana semuanya sangat tersentuh dengan kasih yang dimilikinya merasa bahwa cinta kasih Bodhisattva ini sangatlah mengharukan. Kuasa setan yang berperan Sementara setan jahat yang bertugas menjaga di neraka bertugas membuat orang yang lebih tua ini berkeras bahwa orang tua ini harus dihukum menarik kendaraan, menarik kereta, tetapi sang Buddha menyatakan sebaliknya Bodhisattva ini berkeras untuk menggantikannya. Sedangkan, yang lainnya sedang dihukum Di sekitar itu, ada beberapa makhluk lain dan juga diawasi oleh kuasa setan yang juga sedang menjalani hukuman yang sama dan diawasi oleh penjaga neraka. Setelah mendengar kalimat Saat terdengar Bodhisattva ini berkata, “Saya bersedia menariknya untuk dia” “Aku bersedia menggantikannya menarik kereta, “dan menderita hukumannya” dan menjalani hukuman; “Walaupun dia bersalah atas perbuatannya,” meski ia memang melakukan banyak kesalahan, “Saya bersedia menderita menggantikannya” aku rela menggantikannya.”
Pada saat itu, yang lainnya dekat yang Pada saat itu api pada kendaraan lain juga sedang menarik kendaraan yang ditarik oleh terhukum muda maupun tua Untuk semuanya, yang muda dan tua, api membakar kendaraan mereka dalam sekejap pun padam. tiba-tiba padam Pada saat itu, rasa haru Pada saat itu dalam hati setan penjaga neraka bangkit dalam jiwa menghapus hukuman turut timbul perasaan tidak tega. Maka, secara tiba-tiba, Maka, dalam waktu sesaat, hukuman di neraka dengan kendaraan terbakar hukuman menarik kereta terbakar di neraka membuat api padam pun terhapuskan. Apinya telah padam, dan hukuman orang-orang tersebut dan hukuman di tempat tersebut juga dihentikan pun terhenti. Ini hanya satu cerita dari waktu ketika Ini hanyalah sepotong kisah ketika Buddha Buddha menjalani jejak pertumbuhan tengah menjalani pelatihan diri. Itulah mengapa ada perkataan: Karena itu, ada perkataan, “Jika saya tidak ke neraka, lalu siapa?” “Jika bukan saya yang pergi ke neraka,// siapakah yang bersedia melakukannya?” “Jika saya tidak ke neraka,” “Bila aku tidak bersedia ke neraka, “lalu siapa yang akan menyelamatkan semua penderitaan di neraka?” siapa yang menyelamatkan makhluk di sana?”
“Jika saya tidak kembali ke dunia Saha,” “Bila aku tidak kembali ke Dunia Saha, “siapa yang akan mentransformasikan dan menyelamatkan umat manusia?” siapa yang akan menyadarkan makhluk di sana?” Maka, Buddha Sakyamuni berikrar Karena itulah Buddha Sakyamuni bertekad dan berikrar untuk selalu tinggal di dalam 6 bidang untuk selalu datang kembali ke 6 alam. Dunia Saha adalah dunia dimana Dunia Saha adalah tanah titisan Buddha, Buddha Sakyamuni mengajarkan Dunia Saha adalah tempat-Nya beremanasi, tempat Beliau memberikan ajaran. Diperlukan ketahanan Beliau tentu membutuhkan kesabaran seperti ketahanan dibutuhkan untuk mengajar dan menginspirasi untuk terus mengajar dan menyadarkan kita. Bagaimanapun, “ketahanan” Bagaimana pun, kesabaran ini tidak mudah ditumbuhkan tidaklah mudah dikembangkan.
Kita semua mencoba menghindari penderitaan dan menginginkan berkat Setiap orang selalu berharap dapat// menjauh dari penderitaan dan mendapat berkah. seperti semua orang dalam meraih kebahagiaan Setiap orang pasti mengharapkan kebahagiaan. Siapa yang menginginkan pergi ke tempat penderitaan? Lantas siapakah yang bersedia pergi ke tempat yang penuh penderitaan? Hanya para Bodhisattva Hanya para Bodhisattva dan para Buddha dan hanya para Buddha yang bersedia melakukannya. Oleh karena itu, para Buddha dan Bodhisattva terus bereinkarnasi di antara makhluk-makhluk yang menderita terus datang ke alam penuh penderitaan ini dan hanya memungkinkan dengan adanya “ketahanan” dengan mengandalkan kekuatan kesabaran. Itulah mengapa ketahanan paling berkuasa Kekuatan kesabaran sangat luar biasa. Kita seharusnya mengetahui dalam dunia ini, Kita pun harus mengetahui bahwa Juga banyak kehidupan para bodhisattva di sekeliling kita ada banyak Bodhisattva dunia di sekitar kita pada saat ini. Jika Anda menonton program// tentang relawan daur ulang di Da Ai TV, para relawan yang bergantian, ada banyak sekali Bodhisattva dunia setiap hari, kamu akan melihat para bodhisattva hidup yang sangat menarik dikisahkan.
Di antara relawan-relawan yang lebih tua, Di antara para relawan lanjut usia itu ada Yu-nian, yangmana banyak dari kita tahu kita semua mengenal seorang nenek dari Caotun yang bernama Yu-nian. Dia adalah wanita tua dengan peruntungan yang sangat bagus Ia adalah seorang yang sangat beruntung. Anak lelakinya adalah seorang dokter Mantunya adalah seorang guru dan, dan menantunya seorang guru, cucu-cucunya sudah di perguruan tinggi sementara cucu-cucunya sudah jadi mahasiswa. Lingkungan sekitarnya sangatlah beruntung Ia sungguh seorang lansia yang penuh berkah. Bagaimanapun, dia tidak hanya menikmati keberuntungannya Namun,//ia tak hanya bersantai menikmati berkahnya. Dia berkata bahwa hanya dengan memberi seseorang diberkati Ia berkata bahwa//berkah sesungguhnya ada dalam bersumbangsih.
Dia masih mengabdikan dirinya untuk kegiatan-kegiatan Tzu Chi Karena itu, ia terus bersumbangsih dalam Tzu Chi. Pada hakekatnya, dengan kesabaran yang besar Sesungguhnya, berkah yang dinikmatinya saat ini dan perjuangan adalah buah dari ketahanan dan kesabarannya. bahwa dia sampai pada keadaanya saat ini Sebagai wanita muda, keluarganya miskin Ia bercerita bahwa saat muda, keluarganya miskin Anak-anaknya kurang gizi, dan anak-anaknya kurang gizi. hanya bubur nasi makanannya Sepanjang hari mereka hanya makan bubur Maka, semua anaknya kurang gizi sehingga semua anaknya menjadi kurang gizi. Mereka mengalami masa sulit membesarkan anak-anaknya Tak mudah baginya untuk//membesarkan anak-anaknya. Suaminya adalah pemahat Suaminya adalah seorang tukang kayu. Ketika ada sedikit nasi tersisa, Setiap kali bila hanya sedikit beras tersisa, dia memasak bubur nasi ia memasaknya menjadi sarapan bubur, Jika dia memasak sarapan pagi sebab jika ia tidak berbuat begitu, berarti akan kurang makan siangnya mereka tak punya apa pun untuk makan siang.
Jika suaminya melihat dia memasak Saat suaminya hendak makan sebelum bekerja bubur untuk sarapan pagi dan melihat bahwa sarapan pagi itu bubur nasi, dia menjadi marah dan memarahinya: maka suaminya akan memarahinya, “Tidakkah kamu tahu” “Tidak tahukah kamu bahwa “bahwa saya perlu meningkatkan kekuatan saya?” pekerjaanku butuh banyak tenaga, “Mengapa kamu masih memasak bubur?” kenapa hari ini makan bubur nasi lagi?” Dia tidak sampai hati untuk memberitahukan suaminya Ia tak sampai hati memberi tahu suaminya, bahwa jika dia tidak memasak bubur, “Jika pagi ini kita tak makan bubur nasi, tidak ada yang tersisa untuk makan siang tak ada lagi yang dimasak untuk makan siang.”
Maka, dia membiarkan suaminya memarahinya Karena rasa tidak tega ini, maka ia bersabar menerima kemarahan suaminya. Itulah bagaimana caranya bertahan hidup pada waktu itu Demikianlah ia melalui hari-harinya itu dengan penghasilan suaminya yang terbatas, dia dan anak-anaknya semua kurang gizi hingga semua anaknya kekurangan gizi Sangatlah susah membesarkan mereka dan harus dibesarkan dengan susah payah. Bagaimanapun, dia berikrar Namun, ia berikrar, tidak masalah seberapa susahnya, “Betapa pun sulitnya, dia melihat saya ingin semua anak saya mengenyam pendidikan.” masing-masing anaknya mengenyam pendidikan “Saya akan memberikan anak saya pendidikan yang terbaik” “Saya ingin kelak anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang terbaik “maka mereka dapat setara dengan yang lainnya dalam kehidupan bermasyarakat” agar mereka mendapat kedudukan setara dalam masyarakat.”
Jika mereka tidak mengenyam pendidikan , “Jika mereka tidak mengenyam pendidikan, tidak ada harapan untuk mereka kelak tidak ada harapan untuk mereka, Mereka akan menjadi seperti ayahnya dan akan menjadi seperti ayahnya yang harus menjadi buruh kasar yang berarti susah terus dan sulit untuk menanggung rumah tangga.” Makanya, dia berikrar (memberikan mereka pendidikan) Maka, ia pun membuat ikrar tersebut. Tidak lama setelahnya, suaminya meninggal Tak lama kemudian, suaminya meninggal. dan dia harus membesarkan anak-anaknya seorang diri Ia harus membesarkan anak-anaknya seorang diri Dengan tiba-tiba dan tiba-tiba kehilangan pencari nafkah keluarga. menjadi orang yang serba kekurangan uang, dia mengambil peran keduanya, sebagai ayah dan ibu Ia harus menjalankan peran ibu sekaligus ayah.
Dia harus mendukung keluarganya Dengan susah payah, ia bekerja mencari nafkah dan juga membesarkan anak-anaknya dan menyediakan pendidikan mereka serta membiayai pendidikan mereka. Kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan mereka saat itu. Bahkan ketika suaminya masih hidup, tidak ada beras untuk dimasak. Terlebih lagi setelah kematian suaminya, bagaimana ia membesarkan anak-anaknya? Bagaimana mereka bertahan hidup? Kita dapat membayangkan//kesulitan yang ia hadapi. Ia tetap menyekolahkan anaknya meski harus bekerja membanting tulang. Anak-anaknya juga sangat giat. Ketika masuk perguruan tinggi, mereka berkuliah sambil bekerja. Akhirnya, semua anaknya pun berhasil. Salah satu dari mereka menjadi dokter. Anaknya ini juga sangat berbakti pada ibunya. Sebagai ibu dari seorang dokter, ia dapat menikmati kehidupan yang baik, terlebih saat anaknya menjadi kepala RS. Namun, ia tidak pernah berpikir untuk bersenang-senang. Ketika anak-anaknya berhasil, ia mulai mengenal Tzu Chi dan mulai bergabung menjadi relawan Tzu Chi, menjadi komite, dan mengumpulkan donasi.
Ia tetap bekerja keras. Terutama, saat saya menyerukan daur ulang, ia merasa, “Benar, saat masih muda, saya bekerja keras hanya demi keluarga sendiri dengan harapan anak-anak bisa berhasil dan penerus kami dapat hidup bahagia.” “Saya tak pernah berpikir jika sumber daya alam habis kita gunakan, maka generasi penerus kita kelak akan mengalami hidup yang sulit.” “Kita seharusnya tidak hanya memikirkan anak cucu, melainkan juga generasi penerus mereka kelak.” Karena itu, ia mulai melakukan daur ulang. Dengan tangannya sendiri, ia mengumpulkan sampah untuk didaur ulang. Setelah gempa bumi 21 September 1999, ia melihat banyak sekolah yang roboh. Saya berkata bahwa pendidikan anak-anak adalah harapan masyarakat. Dahulu, saat hidup dalam kondisi sulit, ia tahu bahwa pendidikan adalah harapan. Ia berpikir, “Anak-anak saya, berkat kerja keras saya menyekolahkan mereka, kini baru bisa menjadi orang-orang yang berhasil dan penuh harapan.”
“Jadi, sungguh, semua anak harus mendapatkan pendidikan.” Melihat saya ingin membangun kembali//banyak sekolah dan menghadapi banyak kesulitan, ia pun mulai menanam sayuran. Ia yang sudah berusia lanjut merasa bahwa sumbangsihnya lewat daur ulang tidaklah cukup. Maka, ia mulai menanam sayur-sayuran. Saat matahari belum terbit, ia memetik sayuran dan menjualnya pagi-pagi sekali. Dengan memanggul keranjang di punggungnya, ia menjajakan sayur-mayur di Caotun. Inilah caranya menghasilkan uang untuk saya membangun sekolah-sekolah. Ketika semua sayuran terjual, ia memanggul keranjang kosong di punggungnya dan mulai mengumpulkan barang daur ulang. Beberapa orang yang tak mengenalnya bertanya, “Nenek, apa pekerjaan anakmu?” “Mengapa mereka membiarkanmu keluar sebelum matahari terbit untuk menjual sayur dan kemudian mengumpulkan sampah?”
Ia pun menjawab, “Saya sedang mengumpulkan berkah.” “Saya menciptakan berkah bagi masyarakat.” “Harapan masyarakat terletak di pundak semua orang.” Jika bertemu anak muda yang tidak paham, ia rela menghabiskan waktu untuk menjelaskan. “Barusan Anda bertanya pekerjaan anakku?” Ia pun menjelaskan siapa anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana dr. Xie tega membiarkanmu melakukan pekerjaan seperti ini?” Ia segera menjawab, “Anak dan menantu saya sangat berbakti.” “Bukan mereka tidak memberi saya makan.” “Bukan mereka tidak menyokong saya.” “Mereka sangat berbakti.” “Mereka menghidupi saya dengan sangat baik.” ≈Mereka mencukupi segala kebutuhan saya.” “Saya melakukan ini untuk masyarakat.” “Pertama, demi melindungi bumi.” “Karena itu, saya melakukan daur ulang.” “Selain itu, generasi penerus kalian anak-anak muda kelak juga harus kita sayangi.”
“Kita harus melindungi sumber daya alam, barulah generasi penerus dapat menikmatinya dan menggunakannya untuk bertahan hidup.” Ia mulai mendidik orang-orang. Ia berkata, “Saya menjual sayuran untuk menggalang dana// bagi bencana gempa 21 September 1999.” “Lihatlah, betapa banyak sekolah yang roboh.” “Pendidikan adalah harapan.” “Master ingin membangun sekolah.” “Beliau membutuhkan kekuatan banyak orang.” “Inilah mengapa saya menjual sayur pagi-pagi dan melakukan daur ulang setiap hari.” Anak-anak muda yang mendengarnya pun merasa malu, bahkan ada yang bertekad, “Nenek, saya akan membantumu.” “Biar kami yang pergi ke toko-toko dekat sini untuk mengumpulkan barang daur ulang.”
“Setelah terkumpul, akan saya serahkan padamu.” Lihatlah, ini yang disebut kesabaran. Kesabaran ini menimbulkan ketahanan, tahan akan cuaca dingin dan panas, tahan akan terpaan angin dan hujan. Ia pun harus menahan diri dengan mengurangi waktu tidur serta istirahatnya demi bersumbangsih. Ia harus menahan kesulitan dan rasa lelah. Inilah yang disebut kesabaran. Meski usianya sudah lanjut, ia tetap tahan dengan beban yang berat. Ia harus memiliki ketahanan untuk memikul tanggung jawab yang berat ini. Ini karena ia merasa bahwa di dunia ini semua orang memiliki tanggung jawab. Jadi, kita perlu bersumbangsih. Ibu tua ini berkata, “Melakukan daur ulang berarti juga menjaga tanah dan sumber air demi kebaikan generasi penerus.” “Dengan begitu, barulah semua orang// akan dipenuhi berkah.” Benar, lihatlah, ibu tua yang terlihat sederhana ini melewati banyak kesulitan di masa mudanya.
Kini, setelah anak-anaknya berhasil, ia masih tetap bersumbangsih. Bayangkan, bukankah ini merupakan kesabaran dan ketahanan? Tentu, anaknya juga pernah berbincang dengan saya. Saya berkata kepada anaknya, “dr. Xie, Anda sungguh luar biasa.” “Ibu Anda melakukan sumbangsih seperti itu, saat ada orang di daerah Anda yang mengatakan bahwa ibu Anda mengumpulkan sampah, bagaimana respon Anda?” Ia menjawab, “Awalnya saya tidak terima.” “Orang-orang mengira saya tidak berbakti.” “Saya pernah menyampaikan ini kepada ibu saya.” “Ibu saya menjawab, ‘Anakku, jika kamu benar-benar berbakti,// kamu hendaknya menerima keinginan saya. Ini baru benar-benar berbakti. Ini adalah harapan saya, saya ingin melakukan ini. Jika kamu membiarkan saya//melakukannya dengan sukacita berarti kamu telah berbakti.’” dr. Xie pun tak berani membantahnya.
“Ibu telah melakukan ini bertahun-tahun, tepatnya selama belasan tahun.” “Warga di daerah kami sudah mengetahuinya.” “Ketika bertemua saya, mereka akan berkata, ‘dr. Xie, Anda sangat beruntung, ibu Anda masih sangat sehat dan dapat bersumbangsih bagi Tzu Chi.’ ‘Setiap orang menyebutnya Bodhisattva tua, berarti Anda adalah anak Bodhisattva.’” dr. Xie melanjutkan, “Kini, saya bukan hanya tidak terganggu dengan apa yang ibu saya kerjakan, namun juga merasa bangga.” “Saya dapat dengan bangga mengatakan bahwa ibu saya adalah anggota komite Tzu Chi.” “Ibu saya sudah pergi memetik sayur sebelum matahari terbit, lalu pergi mengumpulkan barang daur ulang.” Ia berkata, “Saya bahkan mengubah garasi saya untuk dijadikan tempat ibu mendaur ulang.” “Saat memiliki waktu senggang, saya juga ikut membantu ibu.” Lihatlah, ibu dan anak ini saling mengerti dan saling memahami. Ini sungguh luar biasa. sebagai praktisi Buddhis, kita tidak harus berpikir jauh untuk menggantikan makhluk neraka menarik kereta api.
Buddha datang ke neraka dan melakukan itu karena Beliau mampu dan memiliki keterampilan serta ketahanan yang cukup. Karena itu, Buddha dapat berikrar untuk menggantikan penderitaan makhluk neraka. Namun, sesungguhnya, di alam manusia ini pun kita dapat melakukan banyak hal yang membawa manfaat bagi banyak orang, dan ini membutuhkan kesabaran dan ketahanan. Saudara sekalian, inilah Paramita kesabaran. Sungguh, saat hidup dalam kondisi baik, memiliki tekad untuk melakukan daur ulang sebenarnya tidaklah mudah. Namun, jika kondisi keluarga sangat sulit, melakukan daur ulang lebih tidak mudah. Lihatlah// program Da Ai TV tentang relawan daur ulang, di dalamnya terdapat kisah banyak orang yang meski hidup dalam kondisi sulit, tetap dapat bersumbangsih bagi Tzu Chi dan mengerti pentingnya melestarikan alam.
Meski mereka sendiri hidup sulit, namun melakukan daur ulang dengan sukacita. Setiap hari, kisah para relawan daur ulang ini selalu menjadi inspirasi bagi saya. Setiap kali menemui kesulitan, saya menyaksikan acara tersebut dan segala kerisauan saya pun hilang. Ketika melatih diri di dunia, kita harus sering melihat teladan orang lain. Ibu tua berusia sekitar 80 tahun yang anak-anaknya demikian berbakti mampu untuk teguh dalam bersumbangsih. Betapa indah kehidupannya. Untuk itu, kita semua harus senantiasa menjaga pikiran kita serta melatih kesabaran dan keuletan. Dengan demikian, barulah kita dapat terus maju dalam Jalan Bodhisattva yang lapang ini. Harap semua lebih bersungguh-sungguh.