Sanubari Teduh

[ST-050] Menjalankan Tzu Chi dengan Empat Pikiran Tanpa Batas

Saudara se-Dharma sekalian, ketika kita duduk bermeditasi. apakah dapat mencapai keadaan yang hening? Sesungguhnya, keheningan ini hanyalah ilusi dan bukan kondisi sebenarnya. Ketika kita duduk bermeditasi di sini, alam semesta dan segala isinya tetap terus berproses tanpa henti, bahkan tubuh fisik kita sendiri pun terus mengalami metabolisme, tidak pernah berhenti berproses. Jadi, segala sesuatu di dunia ini senantiasa mengalami perubahan. Lalu bagaimana kita dapat mencapai keheningan? Untuk itu, kita perlu memahami kebenaran dan memahami ajaran Buddha; memahami bahwa segala sesuatu tidak kekal serta memahami bahwa hakikat kebuddhaan adalah murni dan tak pernah berubah. Kita harus memahami bahwa hakikat sejati ini tidak pernah berubah, tidak timbul dan tidak lenyap. Hanya hakikat sejati inilah yang tidak berubah, sedangkan semua yang berkondisi selalu berubah. Ini harus kita pahami. Buddha membimbing kita untuk kembali pada hakikat sejati– mengajarkan kita bagaimana agar di tengah perubahan dan keduniawian ini kita dapat mencapai kondisi batin yang hening dan kembali pada hakikat sejati yang tak berubah. Inilah kebenaran sejati yang kita cari.

Untuk itu, dengan welas asih-Nya yang tak pernah berubah, Buddha tak pernah meninggalkan Dunia Saha dan terus-menerus kembali ke dunia untuk membimbing semua makhluk. Karena itu, saya terus membahas cara melenyapkan pikiran duniawi dan kembali pada hakikat sejati yang murni dan sama dengan Buddha. Ada banyak metode untuk itu. Di samping Enam Paramita, masih ada Empat Pikiran Tanpa Batas. Sebelumnya, kita telah membahas tentang cinta kasih agung tanpa penyesalan, welas asih agung tanpa keluh kesah, dan sukacita agung tanpa kerisauan. Tiga dari Empat Pikiran Tanpa Batas ini, demikian pula, harus dikembangkan dalam menghadapi segala sesuatu di dunia dan dalam menyelesaikan segala permasalahan agar tiada perselisihan antarsesama, tiada masalah yang membawa perselisihan, tiada pertikaian yang terjadi di dunia, dan semua orang dapat hidup damai tanpa menambah kegelapan dan noda batin sehingga semua makhluk berbahagia dan terbebas dari penderitaan. Inilah ajaran Buddha kepada kita. Jadi, kita harus menggunakan cinta kasih yang tanpa penyesalan untuk // menciptakan berkah bagi semua makhluk. Demikian pula, untuk menanam berkah bagi semua makhluk tanpa penyesalan, kita harus memiliki hati yang tanpa pamrih. Jadi, hendaknya senantiasa bebas dari penyesalan.

Melihat banyaknya makhluk yang menderita, kita harus melenyapkan penderitaan mereka dengan bersumbangsih semaksimal mungkin tanpa keluh kesah sedikit pun. Di tengah semua makhluk, kita harus selalu memiliki hati yang penuh sukacita dan bersumbangsih dengan sukarela. Setelah melakukannya, kita merasakan sukacita. Inilah sukacita tanpa kerisauan. Ini semua datang dari sumbangsih yang didasari keseimbangan batin tanpa pamrih, yakni bagaimana dalam setiap sumbangsih kita, baik dalam membawa kebahagiaan, maupun melenyapkan penderitaan, hati kita tetap diliputi keikhlasan. Baik menderita maupun bahagia, kita tetap bersumbangsih dengan sukarela. Selain sukarela, batin kita harus seimbang, memiliki niat yang tulus dan murni, tidak berpikir, “Saya bisa menolong orang,” atau “Orang itu sudah saya tolong,” atau “Saya sudah menolong sekian banyak orang dan memberikan sekian banyak materi.”

Pikiran ini tak boleh ada dalam hati kita. Inilah yang disebut niat yang murni. Kita telah membahas banyak ajaran. Bagaimana agar semua orang memahaminya? Selain membahas teori-teori, kita harus mengambil contoh nyata, barulah dapat benar-benar memahaminya. Karena itu, saya sering berkata, jika hubungan antarmanusia//dan segala sesuatu berjalan harmonis, berarti kita selaras dengan prinsip kebenaran. Jadi, teori dan prinsip kebenaran tidaklah terpisah dari kehidupan nyata. Untuk menyelesaikan segala masalah dengan baik dan mencapai keharmonisan antarsesama, kita harus kembali pada prinsip kebenaran. Ketika kita mempelajari ajaran Buddha, kita tahu bahwa Buddha pun membabarkan Dharma dengan contoh nyata.

Jadi, baik menciptakan berkah dengan cinta kasih tanpa penyesalan maupun melenyapkan penderitaan dengan welas asih tanpa keluh kesah, semua ini pun harus dijelaskan dari sisi manusia dan perkara umum. Demikian pula dengan sukacita. Setelah melakukan sesuatu, hendaknya kita tidak menyesal ataupun risau. Kita harus senantiasa bersukacita. Lihatlah para insan Tzu Chi. Mereka semua bersumbangsih dengan sukacita. Jika melihat kondisi masyarakat sekarang ini, Kita akan menemukan banyak kisah menyentuh. Lihatlah program Da Ai TV yang mengangkat kisah para relawan daur ulang. Melihatnya, rasa hormat akan timbul dalam hati kita dan kita akan dapat berintrospeksi, “Apa yang kita cari selama ini?” Para relawan ini amat tegar, sederhana, dan penuh keikhlasan, Setiap hari bersumbangsih dengan sukacita. Kebanyakan dari mereka memiliki kondisi hidup yang kurang baik. Suatu hari, saya menyaksikan sebuah episode acara ini yang menceritakan kisah Tuan Gu dari utara. Ia adalah Tzu Cheng sekaligus komite Tzu Chi.

Semua anggota keluarganya adalah insan Tzu Chi. Ia adalah seorang relawan daur ulang. Kru Da Ai TV mempelajari kisahnya untuk mencari tahu bagaimana perasaannya dalam berkontribusi di Tzu Chi. Para kru datang ke rumahnya pagi-pagi untuk melihat rutinitasnya di pagi hari. Relawan Gu pun berkata, “Dari kecil hingga sekarang saya sudah terbiasa bekerja kasar.” “Saya tidak berpendidikan tinggi dan tidak mengenal huruf.” “Waktu kecil saya tidak dapat bersekolah.” Mengapa tidak bersekolah? Ia berkata, “Saat berusia 3 tahun, orang tua menjual saya seharga 300 dolar NT.” Beberapa tahun kemudian, ayah kandungnya menjenguknya. Melihat ayahnya berjalan menjauh, ia pun mengejarnya. Setelah terus mengejar, ayahnya pun berkata, “Kamu telah menjadi anak orang lain.” Ibunya juga mengatakan hal yang sama. “Anak yang dijual sudah menjadi milik orang.” “Rumahmu di sana, bukan di sini.” “Cepat pulang sana.” Ia sangat kecewa dan kembali ke rumah orang tua angkatnya. Ia bercerita bahwa setiap hari ia harus bekerja di sawah dan mengerjakan banyak hal. Begitulah ia tumbuh dewasa.

Kemudian, ia pun menikah. Namun, kondisi kehidupannya masih sama seperti dulu. Akhirnya, ia bersama istrinya memutuskan untuk pindah ke utara untuk bekerja di pelabuhan dan diupah sesuai jumlah barang yang mereka angkut. Waktu itu mereka diupah 3 atau 5 dolar NT per barang, tergantung berat masing-masing barang. Inilah cara mereka bertahan hidup. Namun, mereka sangat giat. Untuk menopang keluarga, mereka berdua bekerja sebagai buruh dan menggabungkan upah mereka. Begitulah cara mereka menafkahi keluarga. Anak-anaknya amat penurut. Kini suami istri ini sudah lanjut usia, anak-anaknya pun sudah dewasa. Mereka pun mulai bersumbangsih di Tzu Chi dengan sangat giat. Selain menjadi Tzu Cheng dan komite, Relawan Gu juga melakukan daur ulang. Namun, ia merasa sumbangsihnya belum cukup, dan bertekad menyumbangkan 1 juta dolar NT. Namun, untuk mewujudkan tekad ini, dari mana ia harus mendapatkan uang? Ia harus bekerja keras mengumpulkannya. Ia berkata, “Aneh, sejak saya bertekad, dagangan di pasar sangat laris.” “Pekerjaan saya juga sangat lancar.”

“Jadi, saya sudah menyelesaikan donasi untuk satu komisaris kehormatan.” “Sekarang mulai menyumbang yang kedua.” Melihat kondisi kehidupannya, dengan usia yang sudah lanjut dan putra-putrinya yang sudah dewasa serta telah mapan dalam usaha, ia sendiri tetap mengandalkan kekuatannya untuk melakukan yang ingin ia lakukan. Ia dan istrinya bergabung di Tzu Chi. Ketika putra-putrinya diwawancarai, terlihat bahwa mereka amat berbakti. Mereka berkata, “Sesungguhnya ayah dan ibu//tidak perlu melakukan itu, namun mereka bahagia.” “Melihat mereka bersumbangsih di Tzu Chi dengan begitu gembira, maka apa pun yang mereka lakukan, kami akan tetap mendukung.” “Asalkan mereka sehat sudah cukup.” “Asalkan mereka bahagia sudah cukup.” Adakalanya putra-putinya pun akan ikut menjadi relawan di Tzu Chi. Terlebih lagi istrinya, ia juga seorang anggota komite.

Lihatlah, kehidupan seperti ini, inilah sukacita, sukacita tanpa kerisauan. Meski hidup sederhana, dan sejak kecil hingga dewasa harus mengandalkan otot untuk bekerja, namun terhadap kondisi keluarga dan perjalanan hidupnya, ia tidak menganggapnya sebagai penderitaan. Ia sungguh menghadapi banyak kesulitan, namun tidak merasa menderita, karena hatinya amat terbuka dan mampu menerima kondisi yang dihadapi. Inilah yang disebut mengikuti jalinan jodoh. Sadar bahwa karmalah yang menentukan ia lahir dalam keluarga miskin yang menjualnya, ia pun menerimanya dengan ikhlas. Orang tuanya mengatakan padanya, “Kami telah menjualmu.” “Rumahmu bukan di sini.” “Rumahmu di sana.” Ia pun patuh dan pulang. Ia juga patuh kepada orang tua angkatnya. Setelah melewati perjalanan seperti ini, kini seharusnya ia dapat menikmati hidup. Namun, ia tetap bersumbangsih di Tzu Chi. Ia gembira karena tubuhnya masih sehat sehingga dapat bergabung dalam barisan Tzu Cheng. Di sana ia memiliki banyak saudara. Ia mengatakan bahwa ia sangat gembira menjadi bagian dari keluarga besar Tzu Chi. Ia merasa keluarganya ini sangat besar hingga meliputi seluruh dunia.

Karena itu, setiap hari ia selalu bahagia. Ia ikhlas bersumbangsih//dengan hati penuh sukacita. Melihat kehidupan Relawan Gu ini, meski dari sisi ekonomi ia tidak kaya, namun dari sisi batin ia sangat kaya. Selain kaya secara batin, ia juga memiliki anak-anak dan istri yang baik. Karena itu, kehidupannya juga kaya. Ia bukan kaya dari segi materi, namun kaya dari segi makna kehidupan, kaya dari segi batin, dan kaya akan cinta kasih keluarga. Jadi, dalam hidup ini, jika kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan menerima kondisi yang kita hadapi, maka tidak akan merasa menderita. Ini karena kita memiliki sukacita di hati. Banyak pula orang//yang kaya secara materi sekaligus batin. Selain kaya dari segi materi, batin mereka juga kaya akan cinta kasih. Dalam dunia Tzu Chi, kita dapat melihat di seluruh dunia banyak relawan yang di mana pun mereka tinggal dan betapa pun berhasilnya usaha mereka, mereka tetap memiliki cinta kasih dan menebarkan benih Tzu Chi. Lihatlah para pengusaha dari Indonesia.

Mereka memiliki usaha yang sangat besar. Setiap perusahaan mereka memiliki ratusan ribu karyawan. Para pemilik perusahaan besar ini telah mengemban misi Tzu Chi di Indonesia dan telah melakukan banyak hal dalam waktu singkat. Benih Tzu Chi yang pertama di Indonesia juga berasal dari Taiwan. Kini ia juga merupakan anggota komite. Mulanya ia bukanlah seorang anggota komite, melainkan seorang ibu rumah tangga biasa. Saat kembali ke Taiwan, ia mengenal Tzu Chi. Ia melihat Tzu Chi membawa pengaruh positif bagi masyarakat Taiwan. Tzu Chi banyak membantu warga kurang mampu dan juga dapat segera bergerak memberi bantuan saat bencana terjadi. Ia merasa masyarakat Indonesia sangat membutuhkan organisasi seperti ini. Karena itu, ia pun bertekad untuk membawa semangat Tzu Chi ke Indonesia.

Ia sungguh-sungguh berusaha untuk menggugah hati orang satu per satu. Ia pun mengumpulkan beberapa ibu rumah tangga dan mulai menjalankan misi Tzu Chi. Para ibu rumah tangga ini bagaikan petani yang menggarap lahan dan menanam benih. Mereka telah menggugah banyak orang termasuk para pengusaha setempat sehingga turut menyumbangkan dana untuk kegiatan amal. Melihat mereka bekerja dengan sukacita, para pengusaha pun mulai terjun langsung. Setelah terjun langsung dalam kegiatan, mereka baru tahu betapa bahagianya jika dapat berbuat baik dengan tangan sendiri. Mereka bahkan menyadari bahwa menolong orang sesungguhnya juga menolong diri sendiri. Lambat laun, semakin banyak pengusaha yang bergabung. Contohnya, pascabencana banjir di Jakarta, setelah mengetahui kondisi setempat dengan bencana yang cukup besar, saya melihat bahwa dibutuhkan kekuatan besar.

Karena itu, saya mengundang para pengusaha ini untuk datang ke Taiwan. Saya berbicara tidak lama dengan mereka. Namun, mereka mendengarkannya. Saya sungguh-sungguh meminta pada mereka, dan mereka menerimanya. Sebelum bertolak, mereka berkata, “Master, program 5P yang Master ajukan bukan masalah.” “Kami pasti merealisasikannya.” Mereka pun pulang ke Indonesia dan segera memulai perencanaan. Mereka mulai melakukan penyedotan air banjir agar warga yang kebanjiran dapat kembali beraktivitas dan dapat segera tinggal dalam kondisi yang kering. Selain melakukan penyedotan, para pengusaha menggerakkan karyawan mereka untuk turut membantu insan Tzu Chi. Para pengusaha menggerakkan karyawan mereka. Pemerintah pun menggerakkan personel militer untuk membersihkan daerah bencana. Setelah proses penyedotan dilakukan dan hampir selesai, pembersihan sampah pun mulai dilakukan.

Bahkan warga setempat pun tersentuh. Mereka berinisiatif untuk membantu proses pembersihan. Setelah penyedotan selesai dan sampah-sampah dibersihkan, penyemprotan kuman penyakit pun dilakukan. Setelah itu, lingkungan di sana menjadi lebih bersih dan menjadi lebih layak dihuni. Namun, semua ini belum selesai. Karena banjir menggenangi daerah itu//selama sebulan, maka warga di sana hidup di tengah lingkungan yang tercemar. Penyakit pun sulit dihindari. Karena itu, baksos pengobatan pun diadakan. Saya sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi dari 8 negara yang bekerja sama dalam baksos ini. Para dokter dan tenaga medis lainnya datang dari 8 negara yang berbeda untuk melayani lebih dari 10.000 warga.

Kemudian, kita merencanakan pembangunan tempat tinggal permanen agar warga beserta generasi penerusnya tak perlu lagi tinggal di bangunan ilegal yang kondisinya begitu kotor dan tidak sehat. Untuk mengatasi masalah dari akarnya, satu-satunya cara adalah merelokasi mereka di suatu lahan yang dekat dengan kota agar mereka dapat hidup mandiri. Inilah menenteramkan raga//dan memulihkan kehidupan. Selain mengobati fisik mereka, kita juga memberikan tempat tinggal agar mereka dapat mencari nafkah dengan penuh sukacita dan lebih leluasa serta memperoleh kehidupan yang stabil. Inilah yang disebut menenteramkan raga. Selain itu, mereka juga dapat menjalani kehidupan yang stabil. Mereka dapat hidup mandiri dan tenteram. atas sumbangsih para pengusaha bagi negara dan masyarakat.

Sumbangsih mereka membawa dampak positif. Mereka memiliki akses ke pemerintah, juga dapat menolong masyarakat kecil. Dengan demikian, di sana telah tercipta himpunan kekuatan cinta kasih yang besar. Kini Perumahan Cinta Kasih telah berdiri. Kita juga telah melihat insan Tzu Chi mengadakan penyaluran 2.000 ton beras kepada lebih dari 70.000 keluarga bertempat di Perumahan Cinta Kasih. Kita juga telah melihat kondisi Perumahan Cinta Kasih, bangunannya sungguh menggugah hati orang. Ini adalah berkat sumbangsih mereka yang kaya secara materi sekaligus batin. Jadi, dalam dunia Tzu Chi, ada yang kaya maupun miskin secara materi, namun semuanya kaya secara batin. Semua yang kita lakukan adalah demi mengetuk mereka yang kaya materi//namun miskin secara batin atapun yang miskin materi sekaligus batin. Kita bersumbangsih dan terus menyerukan kepada masyarakat// untuk turut peduli. Bahkan banyak insan Tzu Chi yang memberi teladan nyata untuk membimbing mereka yang mampu untuk membantu yang kurang mampu.

Dengan begitu, cinta kasih setiap orang sedikit demi sedikit mulai terbangkitkan. Semakin banyak orang yang rela bersumbangsih sehingga kekuatan yang penuh sukacita ini dapat membantu orang yang membutuhkan. Semua orang dapat hidup dengan sukacita dan bebas dari kerisauan selama dapat menerima kondisi yang dihadapi dan mengikuti jalinan jodoh. Dengan bersumbangsih semaksimal mungkin, setiap hari kita akan merasakan sukacita. Hari terus berganti dan waktu terus berlalu, namun aktivitas kita tak pernah berhenti. Jadi, untuk mencapai keheningan sangatlah sulit. Namun, yang terpenting adalah senantiasa berdiam dalam hakikat sejati. Jadi, dalam praktik cinta kasih, welas asih, dan sukacita, yang terpenting adalah keseimbangan batin. Dengan keseimbangan batin, kita akan memandang setara semua makhluk. Dalam menunaikan kewajiban, kita tak pernah merasa telah berjasa besar karena tiada yang perlu dibanggakan.

Tidak ada. Dengan demikian, setiap hari kita akan bebas dari kerisauan dan ketakutan. Dengan sendirinya, kita akan terbebas//dari pandangan salah dan noda batin. Inilah yang harus kita pelajari//saat mempelajari ajaran Buddha. Saudara sekalian, dalam melakukan segala aktivitas dan bersumbangsih bagi orang lain, batin kita setiap hari harus tetap jernih dan bebas dari noda batin. Jika kita terus melekat dan menghitung jasa yang telah kita lakukan, ini juga termasuk noda batin.

Setelah bersumbangsih, janganlah kita melekat. Inilah yang disebut keseimbangan batin, keseimbangan batin tanpa batas. Semua ini disebut Empat Pikiran Tanpa Batas– cinta kasih tanpa batas,//welas asih tanpa batas, sukacita tanpa batas,//keseimbangan batin tanpa batas. Ini berarti batin kita harus bebas dari penyesalan,//keluh kesah, kerisauan, dan pamrih. Keadaan batin tanpa pamrih adalah yang tertinggi. “Orang yang tanpa pamrih berarti berbudi luhur.” jika kita dapat bersumbangsih tanpa pamrih, lambat laun kita akan dapat maju dari tingkatan makhluk awam dan semakin dekat dengan tingkat kesucian. Jadi, harap semua orang memerhatikan kondisi batin masing-masing dalam keseharian. Bersungguh-sungguhlah selalu.

Leave A Comment