Sanubari Teduh

[ST-049] Membangun Dunia Yang Murni dan Penuh Cinta Kasih

Saudara se-Dharma sekalian, pada saat ini, semua orang seharusnya berada dalam kondisi yang jernih lahir batin. Setiap hari kita membahas tentang cara mengendalikan pikiran kita. Saya percaya semua orang di sini perlahan-lahan telah dapat memahami cara menaklukkan pikiran, di saat yang sama juga berusaha untuk benar-benar menaklukkan pikiran ini. Untuk itu, kita harus selalu berintrospeksi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap apa pun. Tutur kata, perilaku, serta cara kita menghadapi masalah harus senantiasa kita perhatikan. Saya rasa kalian semua sudah mengerti metode-metode ini. Semuanya tidak terlepas dari Enam Paramita dan tak tak lepas dari pengembangan Bodhicitta. Karena telah berkeinginan untuk melatih diri, maka dalam menghadapi segala sesuatu kita harus senantiasa bertekad, tidak melekat terhadap materi, bersemangat menghadapi segala masalah, dan memperlakukan orang dengan penuh kasih. Ini adalah prinsip dasar kita sebagai manusia dan sebagai praktisi.

Sebelumnya kita pernah membahas bahwa Enam Paramita juga berarti “menyeberang” atau “tiba di pantai seberang”. Saat masih berada di tataran makhluk awam ini, kita menggunakan metode ajaran Buddha untuk menyeberangi sungai noda batin hingga tiba pada tingkat kesucian. Metode ini merupakan alat untuk menyeberangi sungai noda batin Hingga tiba di “pantai seberang”, yakni tingkat kesucian. Inilah Enam Paramita. Selain Enam Paramita, diperlukan juga Empat Pikiran Tanpa Batas. Empat Pikiran Tanpa Batas ini, dalam badan misi pendidikan Tzu Chi maupun dalam segala kegiatan Tzu Chi, dapat terlihat dengan jelas. Cinta kasih, welas asih,//sukacita, keseimbangan batin. Inilah Empat Pikiran Tanpa Batas. Cinta kasih tanpa batas,//welas asih tanpa batas, sukacita tanpa batas,//keseimbangan batin tanpa batas.

Cinta kasih agung tanpa penyesalan. Untuk membawa kebahagiaan bagi banyak orang, kita harus memiliki kegigihan yang teguh dalam bersumbangsih bagi masyarakat. Meski banyak kesulitan yang dihadapi, namun dapat membawa berkah bagi banyak orang, maka selamanya kita tidak akan menyesal. Ketika Buddha masih melatih diri, Beliau pernah terlahir sebagai orang tua yang sangat peduli pada kaum papa. Beliau rela memberikan seluruh hartanya demi membantu kaum papa, bahkan menjual tanah kepunyaannya untuk menolong orang. Cinta kasih agung ini menggetarkan langit.

Namun, ada seorang raja dewa yang merasa takut. Ia takut bahwa dengan cinta kasih dan sumbangsih seperti itu, orang tua ini kelak akan terlahir di alam surga dan menggantikan kedudukannya. Karena itu, raja dewa ini ingin merusak semangat cinta kasih orang tua tadi. Maka, ia mengutus seorang dewa dan memintanya, “Temui orang tua itu dan katakan padanya bahwa perbuatan memberi akan membawa ketidakberuntungan baginya.” Dewa yang diutus ini pun benar-benar muncul di alam manusia dan berkata kepada orang tua ini, “Dengan banyak memberi seperti itu, akan membawa ketidakberuntungan bagimu.” “Ketidakberuntungan apa?” Tanya orang tua ini. Sang dewa menjawab, “Kelak engkau akan terlahir di neraka.” “Mengapa?” Tanya orang tua itu lagi. “Karena kaum papa ini sedang menerima buah karma buruk mereka.”

“Mereka sudah sepatutnya menderita.” “Ini adalah hukum karma.” “Mereka harus tunduk pada hukum karma.” “Sebaliknya, engkau menolong mereka, berarti melawan hukum karma.” “Karena itu, engkau akan terlahir di neraka.” Orang tua itu bertanya, “Benarkah?” “Benar,” jawab sang dewa. “Aku akan membawamu melihat neraka.” Di sana terlihat banyak makhluk yang tengah menjalani siksaan. Orang tua ini pun bertanya, “Mereka yang menderita akibat siksaan ini, apakah semuanya gemar berdana?” “Mereka semua telah melawan hukum karma, maka terlahir di neraka.” Orang tua ini lebih jauh bertanya, “Lalu bagaimana dengan mereka yang ditolong?” “Setelah menderita di alam manusia dan mendapat bantuanku, kelak di mana mereka akan lahir?” “Mereka akan terlahir di alam surga.” Orang tua ini amat gembira mendengarnya dan berkata, “Kalau begitu, biarlah diriku sendiri menderita di neraka, asalkan mereka semua dapat terlahir di surga.”

“Inilah harapanku.” “Saya rela dan bahagia.” Lihatlah keteguhan hatinya. Meski ditakut-takuti, pikirannya tidak goyah sedikit pun, tekadnya tetap teguh. “Jika orang-orang yang aku bantu dapat terlahir di surga kelak, maka aku sendiri menderita di neraka pun tidak akan menyesal.” Karena ketulusan hatinya ini, sang raja dewa pun tersentuh. Sumbangsihnya yang tanpa pamrih sungguh bagaikan seorang Bodhisattva. Karena itu, sang raja dewa muncul dan bersujud di hadapannya. Sang dewa berkata, “Mulanya aku takut jika engkau menanam begitu banyak berkah, kelak kau akan merebut kedudukanku di surga.” “Kini kutahu kau bukan ingin lahir di surga.” Orang tua ini menjawab, “Aku tidak berharap terlahir di surga.”

“Tekadku adalah mencapai kebuddhaan.” “Semoga kelak aku dapat melampaui keduniawian dan mencapai kebuddhaan.” Dari cerita ini kita dapat memahami bahwa cinta kasih agung adalah tanpa penyesalan. Selamanya tidak akan menyesal. Sebagai anggota komite maupun Tzu Cheng, mungkin banyak menerima kritikan orang, “Untuk apa bersumbangsih di Tzu Chi?” “Kalian melawan hukum karma.” “Kalian hanya tahu menciptakan berkah.” Ada juga orang yang berkata, “Kalian tidak mengembangkan kebijaksanaan.” Ada pula yang mengatakan, “Orang-orang yang hidup menderita sedang menerima buah karma mereka.” “Jika kalian menolong mereka, Ternyata, di dunia ini sekarang masih banyak orang yang berwatak sama dengan orang-orang di zaman Buddha dulu, saat Beliau masih melatih diri.

Untunglah, tekad insan Tzu Chi cukup teguh. Beruntung, tekad insan Tzu Chi cukup teguh. mereka tetap bahagia dalam bersumbangsih. Inilah keteguhan tekad insan Tzu Chi. Dalam jalan Tzu Chi ini, mereka tak peduli apa yang dikatakan orang. Meski banyak orang mengatakan kita tak patut membantu orang yang menerima buah karma atau banyak pula orang yang mengatakan kita hanya menanam berkah namun tidak mengembangkan kebijaksanaan, insan Tzu Chi tetap teguh dalam pelatihan diri. Apa pun yang orang katakan, selama kita berada pada arah yang benar, kita pasti tidak akan menyesal. Inilah cinta kasih agung tanpa penyesalan. Welas asih agung adalah tanpa keluh kesah. Empat misi Tzu Chi mencakup semangat cinta kasih dan welas asih. Cinta kasih diwakili oleh misi amal. Selama kita menjalankan misi amal dimulai dari Taiwan hingga ke seluruh dunia, kita tidak pernah menyesal.

Welas asih berarti melenyapkan penderitaan. Untuk melenyapkan penderitaan semua makhluk, dibutuhkan banyak energi fisik dan batin. Ini adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Namun, apakah semua ini selalu membuat kita semua gembira? Belum tentu. Sebagai contoh, kita membangun RS atas dasar welas asih, karena tiada yang lebih membuat orang menderita//daripada penyakit. Apa pun status sosial seseorang dan bagaimana pun kondisi ekonominya, begitu ia jatuh sakit, akan tetap menderita. Jadi, demi melenyapkan penderitaan, kita membangun rumah sakit. Misi kesehatan ini tentu menghadapi banyak kesulitan, terutama saat proses pembangunan berlangsung. Namun, RS Tzu Chi saat ini, baik di Hualien, Dalin, Guanshan, maupun Yuli, juga menghadapi tekanan yang besar, karena untuk menyelamatkan nyawa,//setiap detik amat berharga. Kehidupan amatlah berharga. Terlebih lagi, dalam masyarakat masa kini, banyak orang membawa pasien ke rumah sakit dengan harapan pasien dapat segera sembuh.

Tidak ada ruang bagi kesalahan. Pepatah mengatakan, “Bahkan tabib terhebat pun tak dapat menghidupkan orang mati.” Namun, kini kondisinya lebih sulit. Selain segera berusaha menyelamatkan pasien dan berlomba dengan waktu, juga harus menghadapi keluarganya. Dalam masyarkat masa kini, yang paling ditakutkan semua institusi medis adalah perselisihan dengan keluarga pasien. Ini sangat umum terjadi di Taiwan. Namun, masyarakat tetap membutuhkan RS. Sarana pengobatan tidak boleh tidak ada. Dalam kehidupan ini, manusia manakah yang luput dari sakit? Sakit amatlah menderita, terlebih lagi//ketidakkekalan yang datang seketika. Dalam masyarakat sering terjadi kecelakaan. Bagaimana mungkin sarana medis diabaikan? Mana boleh dalam masyarakat tiada tempat untuk menyelamatkan kehidupan? Meski bekerja sebagai tenaga medis sungguh memakan tenaga dan harus menghadapi banyak kesulitan, namun kita tetap tidak berkeluh kesah. Saudara sekalian, kita tahu bahwa pekerjaan tenaga medis sungguh penuh dengan kesulitan.

Ada seorang Tuan Zhang dari Taiwan Tengah. Bertahun-tahun ia mengidap penyakit lever. Dokter menyarankannya menjalani cangkok hati. Karena itu, ia mendaftarkan diri di berbagai pusat medis dari utara sampai selatan Taiwan untuk menemukan donor. Suatu hari, cairan memenuhi rongga perutnya, maka ia pun pergi ke daerah selatan untuk menerima injeksi protein. Setibanya di rumah, ia menerima kabar dari RS Tzu Chi di Hualien bahwa ditemukan donor hati yang sesuai baginya. Pihak RS pun memintanya datang. Mendengarnya, ia sangat gembira. Pada akhir bulan Maret, ia baru menjalani pemeriksaan di RS Tzu Chi dan mendaftarkan diri untuk mencari donor. Tanpa diduga, pada 31 Mei, sepulangnya ia dari daerah selatan setelah menerima injeksi protein dan dirawat selama beberapa hari, pada saat itu ia langsung menerima telepon dari RS Tzu Chi. Ia tentu amat gembira dan tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia pun langsung menyatakan kesediaan dan bergegas datang ke RS Tzu Chi.

Lalu bagaimana dengan tim medis kita? dr. Li Ming-zhe dari RS Tzu Chi, setelah memberi kabar kepada pasien, segera berangkat ke Taidong. Di sana terdapat seorang pasien yang baru berusia sekitar 30 tahun dan telah divonis mati otak. RS Mackay menginformasikan kepada kita bahwa keluarga pasien bersedia mendonorkan organnya, dan bahwa jika RS Tzu Chi membutuhkannya, dapat segera datang mengambil ke sana. Selain organ hati, masih ada sepasang kornea. dr. Li amat gembira menerima kabar ini. Tuan Zhang pun bersedia menjalani pencangkokan. Untuk itu, dr. Li bergegas ke Taidong untuk melihat pasien yang telah divonis mati otak ini dan mengambil organ tubuh dari sang donor tersebut. Sekembalinya ke Hualien, hari sudah malam. Jadi, setelah kamar bedah disiapkan, pasien mulai ditangani pada dini hari. Prosedur operasi ini baru selesai sekitar pukul 8 atau 9 malam.

Operasi itu berjalan lancar. Pasien pun dikirim ke ruang perawatan intensif, dan keesokan harinya, semua selang di tubuh pasien sudah dicabut satu demi satu. Setelah 4 hari di ruang perawatan intensif, ia dipindahkan ke kamar biasa. Masa pemulihannya sangat cepat. Setelah 8–9 hari ia seharusnya boleh pulang, tetapi setelah mempertimbangkan bahwa ia masih harus menjalani pemeriksaan berkala, maka ia disarankan untuk tinggal lebih lama, dan baru pulang setelah 2 kali pemeriksaan yang akan dilakukan dalam seminggu. Selama berada di rumah sakit, ia sudah bisa bergerak dengan leluasa. Para relawan yang melihatnya mengatakan bahwa ia tidak terlihat seperti orang yang baru menjalani cangkok hati.

Tidak terlihat. Sejak pindah dari ICU ke kamar biasa, ia pulih dengan cepat dan segera dapat beranjak dari tempat tidur. Ia dapat bergerak leluasa dan wajahnya pun terlihat cerah, tidak terlihat seperti pasien cangkok hati. Ibu Tuan Zhang ini sangat khawatir mengingat cangkok hati adalah operasi besar. Ia telah menyiapkan banyak barang keperluan untuk menemani putranya di rumah sakit. Entah berapa lama. Namun, tak disangka, 4 hari kemudian putranya telah dipindahkan ke kamar biasa dan dapat bergerak dengan leluasa. Ibunya sangat gembira. Ia berkata, “Setelah melihat-lihat pemandangan Hualien, saya akan pulang saya akan pulang dan mengatakan kepada semua orang betapa baiknya para dokter dan perawat di sini.”

“Para relawan juga sangat baik.” Ibu ini pun pulang ke kampungnya. Ini adalah sebuah contoh. Tuan Zhang ini baru berusia sekitar 40 tahun dan bekerja di sektor publik. Ia berkontribusi bagi masyarakat, negara, dan keluarganya. Ia hidup bersama ibu, istri, dan anak-anaknya. Seorang yang masih tergolong usia produktif ini harus menahan derita penyakit bertahun-tahun. Ia telah mencari donor dari utara, tengah, selatan, hingga wilayah timur Taiwan dengan harapan dapat menemukan penolong yang dapat melenyapkan deritanya. Kita sungguh bersyukur di dunia ini masih ada orang yang rela mendonorkan organ tubuhnya. Inilah cinta kasih. Selama bertahun-tahun, kita telah mensosialisasikan pendonoran organ dan terus berusaha membimbing semua orang untuk membangkitkan cinta kasih.

Manusia hanya memiliki hak guna atas tubuh ini, tidak memiliki hak milik atasnya. Karena itu, tiada yang patut dilekati. Kini banyak orang yang rela mendonorkan organ. Ada pasien yang membutuhkan, ada orang yang rela menjadi donor, dan ada tim medis yang bekerja keras. Lihatlah, dr. Li harus berangkat dari Hualien ke Taidong demi mengambil organ, pun harus menghabiskan waktu beberapa jam. Pulang-pergi memerlukan sekitar 7 jam, sungguh melelahkan. Ditambah waktu untuk memasuki ruang operasi sampai operasi selesai pada malam hari, seluruhnya mencapai lebih dari 30 jam. Mulai dari perjalanan mengambil organ hingga proses operasi selesai dibutuhkan lebih dari 30 jam lamanya.

Selain itu, di ruang operasi, ia tidak bekerja sendirian. Diperlukan adanya tim medis yang membantu. Lihatlah, mereka bekerja begitu keras. Setelah berhasil menolong sang pasien, kita tidak melihat ataupun mendengar mereka mengeluh sulit atau lelah. Setiap kali menjalankan operasi besar, tim medis harus bekerja keras, namun karena memiliki tekad, mereka berkontribusi dengan semangat misi. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa tim medis menggunakan kehidupan mereka untuk menyelami kehidupan pasien. Mereka sungguh luar biasa.

Karena itu, saya sering menyebut para dokter dengan sebutan “Tabib Agung”. Mereka bagaikan Buddha hidup. Selain para dokter bedah, masih ada ahli anestesi dan para perawat serta dokter pembantu lainnya yang bekerja sama. Kita semua tahu bahwa para Buddha dan Bodhisattva hidup ini para Buddha dan Bodhisattva hidup ini tidak menghiraukan berbagai kesulitan demi menyelamatkan nyawa pasien. Dapat kita bayangkan, mereka harus berdiri selama 10–20 jam dengan mata yang terus tertuju pada meja operasi untuk membedah pasien. Lihatlah, tim medis ini mencurahkan hampir 20 jam untuk itu. Ini belum termasuk perjalanan mengambil organ ke Taidong. Ini hanya proses operasinya saja. Lihatlah, setelah pencangkokan selesai dan pasien diperbolehkan pulang, keluarganya sangat gembira. Satu sumber daya masyarakat pun pulih. Semua ini terlaksana berkat tim medis yang menjalankan operasi.

Para tenaga medis yang bagaikan Buddha hidup dan Bodhisattva hidup ini tidak mencari ketenaran. Mereka tidak membanggakan prestasi mereka atau menyebutkan siapa yang berjasa melakukan ini dan itu. Tidak. Bukankah ini welas asih tanpa keluh kesah? Meski harus bekerja keras, mereka tidak mengeluh sedikit pun. Pemikiran mereka cukup sederhana. Jika operasi berhasil, mereka turut bahagia. Inilah letak makna yang sesungguhnya. Mereka hanya berharap operasi berhasil sehingga pasien dapat pulih kembali, kembali berkarya bagi masyarakat dan menyokong keluarga. Hanya inilah harapan para tenaga medis. Meski harus menghadapi banyak kesulitan, mereka tidak pernah mengeluh. Adakalanya anggota keluarga pasien menumpahkan kekesalan pada mereka, namun mereka tetap tidak mengeluh. Mereka mencurahkan pikiran untuk turut menanggung beban batin keluarga pasien.

Namun, mereka tetap berkontribusi. Lihatlah, sumbangsih tim medis sungguh tidak habis diceritakan. Mereka sungguh bagaikan//Buddha dan Bodhisattva hidup. Karena itu, saya sungguh bersyukur. Kita pun memiliki relawan rumah sakit. Mereka dapat mewakili saya berterima kasih kepada para tenaga medis dan juga menyampaikan rasa hormat pasien kepada para dokter dan perawat.

Inilah peran para relawan. Saya sungguh bersyukur dengan banyaknya orang yang bersedia mengembangkan cinta kasih dan welas asih. Dengan cinta kasih dan welas asih, kita dapat memberi kebahagiaan//dan melenyapkan penderitaan. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi dunia yang murni dan penuh cinta kasih. Dengan cinta kasih dan welas asih, kita dapat membangun dunia yang murni tanpa noda. Inilah yang kita harapkan untuk terus disebarluaskan tanpa henti dengan penuh semangat. Akhir kata, cinta kasih, welas asih, sukacita,//keseimbangan batin disebut Empat Pikiran Tanpa Batas– cinta kasih tanpa batas,welas asih tanpa batas… Cinta kasih agung tanpa penyesalan, welas asih agung tanpa keluh kesah. Harap semua lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment