Sanubari Teduh

[ST-048] Membangun Ikrar Agung dan Mengembangkan Enam Paramita

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita harus memiliki rasa syukur, bersyukur atas keselamatan yang ada. Keselamatan merupakan berkah. Berkah tentu harus disyukuri. Buddha sering mengingatkan kita bahwa dunia tidaklah kekal dan bumi rentan. Hidup di tengah ketidakkekalan dan bumi yang rentan ini, keselamatan yang ada setiap harinya sudah sepatutnya senantiasa kita syukuri. Karena menyadari ketidakkekalan, maka setelah terlahir sebagai manusia, kita harus segera melatih diri di jalan Buddha dengan semangat. Kita harus bersyukur atas bimbingan Buddha yang penuh kebijaksanaan yang membuat kita menyadari ketidakkekalan hidup semua makhluk dan kerentanan bumi. Kehidupan hanyalah sebatas tarikan napas. Ketika dapat bernapas dengan bebas, bergerak dengan leluasa, berpikir dengan cermat, dan hidup dengan tenteram, kita harus selalu ingat akan ketidakkekalan. Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Buddha telah membabarkan kepada kita tentang ketidakkekalan hidup. Kita harus memahami akar dari kelahiran dan kematian. Akar dari lingkaran kelahiran kembali adalah kegelapan batin. Lapis demi lapis kegelapan batin ini membawa kita pada enam alam kehidupan– alam dewa, manusia, neraka, setan kelaparan, binatang, dan asura.

Kelahiran di enam alam ini sesungguhnya tidak dapat kita kendalikan dan penuh dengan penderitaan. Penderitaan ini bermula dari kegelapan batin. Setelah mengetahui penyebabnya, bagaimana kita melenyapkan kegelapan batin ini sehingga dapat kembali pada hakikat sejati yang sama dengan Buddha? Buddha membabarkannya dengan rinci. Kemampuan setiap makhluk berbeda-beda. Karena itu, Buddha menggunakan berbagai cara untuk mengobati berbagai noda batin. Namun, semua cara mengatasi noda batin ini tak lepas dari Tujuh Kondisi Pikiran. Kita telah membahas tentang membangkitkan Bodhicitta. Mengenai Bodhicitta, dijelaskan tentang bagaimana kita menapaki Jalan Bodhi. Jalan Bodhi adalah jalan menuju pencerahan. Bagaimana agar kita dapat berjalan di jalan ini dengan mantap dan terus maju dengan sepenuh hati tanpa pernah berhenti maupun tersesat?

Dibutuhkan keteguhan tekad. Jadi, Buddha berusaha untuk membuat kita memiliki tekad melatih diri yang teguh dalam Jalan Bodhi yang lurus ini. Untuk berjalan di Jalan Bodhisattva, Buddha mengajarkan kepada kita untuk berlatih berbagai metode yang tak terlepas dari Enam Paramita, yakni dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Di antara semuanya ini, dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, dan konsentrasi berkenaan dengan perbuatan fisik kita. Sedangkan kebijaksanaan bersifat abstrak, berkenaan dengan cara menemukan kembali hakikat sejati kita. Kita harus memulainya dengan//membangkitkan pengetahuan nurani. Dalam kehidupan sehari-hari, makhluk awam lebih sering menghadapi orang dan banyak hal dengan pengetahuan umum.

Apa yang kita tahu dan mengerti disebut pengetahuan umum. Kita mungkin banyak tahu, namun yang dipelajari makhluk awam hanyalah hal-hal duniawi yang berhubungan dengan benar dan salah dalam hubungan antarmanusia. Inilah yang disebut pengetahuan umum. Namun, pengetahuan nurani amatlah penting. Meski pengetahuan nurani ini juga//adalah hasil dari belajar, ia memungkinkan orang membedakan baik dan buruk. Yang benar hendaknya kita pelajari, dan yang salah kita hindari. Inilah pengetahuan nurani. Nurani berkaitan dengan hal-hal baik. Yang harus kita ketahui//adalah hal-hal yang baik. Hal-hal yang baik ini harus kita pelajari dengan sungguh-sungguh. Ketika melihat hal-hal yang tidak baik, Saya sering mengatakan, “Dalam kelompok yang terdiri atas tiga orang pasti dapat menemukan guru.” “Teladani segala sifat baiknya, ambillah pelajaran dari sifat buruknya.” Kata-kata ini menggambarkan pengetahuan nurani.

Kita harus meneladani kebaikan orang lain dan mengambil pelajaran dari keburukannya. Melihat perilaku orang lain, kita harus berintrospeksi, “Apakah kita melakukan hal serupa?” Jika kita juga memiliki tabiat buruk, maka saat melihat keburukan orang lain, kita hendaknya memetik pelajaran. Kita harus senantiasa berintrospeksi dan mengingatkan diri sendiri. Kita harus mengambil keburukan orang lain sebagai bahan introspeksi diri. Saudara sekalian,//kita harus mengubah pengetahuan menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Ini bagaikan jalan yang harus kita tapaki. Jika kita memiliki jalinan jodoh baik dan bertemu dengan mitra-mitra yang baik, maka kita harus sungguh-sungguh berjalan mengikuti langkah mereka. Dengan pengetahuan nurani kita, kita dapat menyadari bahwa ternyata amatlah sulit untuk bertemu ajaran Buddha.

Saat mendengar ajaran Buddha, kita hendaknya tak hanya mendengarkan, namun juga harus bersemangat mengikuti langkah para Buddha dan Bodhisattva. Untuk itu, kita tentu harus mempelajari caranya. Cara itu adalah dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kehidupan sebagai makhluk awam sering disebut “pantai ini”. Kita makhluk awam hidup di sini dengan hanya mengandalkan pengetahuan umum. dengan hanya mengandalkan pengetahuan. Dalam interaksi antarsesama, noda batin meliputi batin makhluk awam sehingga mereka banyak melakukan kesalahan. Kesalahan yang disengaja disebut pelanggaran, yang tak disengaja disebut kekeliruan. Inilah makhluk awam di “pantai ini”, belum tercerahkan. Kini, kita telah mengetahui bahwa sulit terlahir sebagai manusia, sulit pula bertemu ajaran Buddha. Jika tidak mencerahkan diri sendiri//pada kehidupan ini, maka kapankah baru akan tercerahkan? Untuk itu, kita harus mulai menggunakan cara.

Terdapat enam macam cara. Enam cara ini akan menyeberangkan kita dari “pantai ini” menuju “pantai seberang”. Enam cara ini adalah alat untuk menyeberang. Jadi “pantai ini” adalah tingkat awam, sedangkan “pantai seberang” adalah kesucian. Namun, di antara keduanya ada aliran keruh yang disebut sungai noda batin. Mengenai noda batin ini, setelah kita memahaminya, kita harus berusaha menyeberanginya. Karena telah menyadari adanya noda batin ini, Menyadari adanya noda batin ini, maka untuk menyeberang dari kondisi awam ke tingkatan orang suci, perjalanannya sangatlah sulit. Karena itu, disebut pelatihan diri. Untuk melatih diri, kita harus belajar melepas dan memberi. Di dunia ini, siapa yang tidak memiliki keinginan? Siapa yang tidak melekat pada yang dicintai? Untuk dapat berdana, kita harus mampu melepas. Kita harus dapat merelakan. Selain itu, kita harus melatih diri di jalan yang benar. Untuk itu, kita harus mematuhi sila sehingga tak akan melakukan kesalahan baik melalui tubuh maupun pikiran. Inilah mengapa kita harus menaati sila.

Diperlukan juga adanya kegigihan untuk menahan godaan hasrat dari luar yang dapat membuat kita berjalan menyimpang. Jadi, juga dibutuhkan daya tahan untuk menahan godaan dari luar. Tentu saja, kita harus memiliki daya tahan dan mampu bersabar. Pelatihan diri juga dilakukan di alam manusia, di tengah banyaknya penderitaan dan derasnya hawa nafsu. Agar hati kita tak tergoyahkan//dan perilaku kita tetap lurus, dibutuhkan daya tahan dan kesabaran. Selanjutnya, kita harus memiliki semangat. Dunia dipenuhi nafsu dan kemelekatan Dunia dipenuhi kemelekatan dan nafsu yang dapat membelenggu kita. Untuk meninggalkan keluarga dan melepaskan keduniawian saja tidak mudah. Bagi kita yang memilih hidup membiara, namun juga terjun ke masyarakat, tekad kita tidak boleh goyah, tak tega melihat makhluk lain menderita, berusaha terbebas dari kemelekatan.

Jika tak cukup bersemangat, kita pasti akan menghadapi banyak hambatan untuk terus maju melatih diri. Karena itu, kita harus memiliki semangat. Selain memiliki semangat, kita juga harus memiliki keteguhan pikiran. Keteguhan pikiran adalah perhatian benar. Hanya dengan perhatian benar, pikiran kita tidak akan tergoyahkan. Saudara sekalian, kalimat “hati yang hening dan jernih serta tekad yang luas dan luhur teguh tak tergoyahkan selama berkalpa-kalpa yang tak terhingga” berasal dari Sutra Makna Tanpa Batas. Jika kita semua dapat memahami Sutra ini, maka tekad kita pasti akan teguh. Tekad melatih diri yang teguh akan membangkitkan kebijaksanaan kita. Ini lebih dari sekadar memahami jalan yang harus ditempuh dalam melatih diri.

Jadi, untuk menyeberangi sungai noda batin, sesungguhnya amatlah sulit. Dalam perjalanan dari keduniawian//menuju kesucian, saat kita maju selangkah demi selangkah, kita harus terus mengingatkan diri sendiri. Jadi, noda batin bagaikan arus yang deras atau ombak yang besar. Jika kita tidak menggunakan alat yang baik, Jika kita tidak menggunakan alat yang benar, yakni Enam Paramita, maka akan sulit menyeberangi arus deras ini. Pepatah kuno mengatakan, “Arus deras sungai kemelekatan cinta menciptakan ombak besar lautan penderitaan.” Kalimat ini menggambarkan arus deras sungai noda batin di antara tepi keduniawian dan tepi kesucian. Jadi, melatih diri adalah mengikis noda batin secara bertahap dan terus-menerus. Ikrar luhur kita bagaikan perahu. Kita harus mengembangkan ikrar agung. Saya sering mengatakan bahwa kita harus//bertekad dan berikrar.

Dengan bertekad, kita baru dapat semakin dekat dengan ajaran Buddha. Dengan membangun ikrar dan meneguhkan tekad, barulah kita dapat menggunakan Enam Paramita untuk menyeberangi sungai noda batin. Jika memiliki keteguhan tekad dan berada di atas “perahu” ikrar agung, kita akan mencapai pencerahan. Dengan menyeberangi sungai noda batin, makhluk awam akan tiba pada “pantai seberang”. Karena itu, enam metode ini disebut “Paramita”. “Paramita” dapat diterjemahkan sebagai “menyeberang” atau berarti tiba di pantai seberang. Artinya, kita harus menggunakan enam metode ini untuk menyeberangi arus sungai noda batin hingga tiba pada kesucian.

Jadi, Enam Paramita adalah alat terbaik bagi praktisi. Mempelajari ajaran Buddha berarti meneladani Buddha. Untuk itu, kita harus bertekad dan berikrar. Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus berjalan di Jalan Bodhisattva. Jalan Bodhisattva tak lepas dari praktik Enam Paramita. Enam Paramita meliputi Semua ini adalah alat bagi kita untuk menyeberangi sungai noda batin, juga merupakan kekuatan. Semuanya harus kita pegang teguh. adalah alat untuk memupuk kebajikan. Selain Enam paramita, yang juga penting dalam memupuk pahala adalah cinta kasih, welas asih, sukacita,//dan keseimbangan batin. kita pun harus mengembangkan empat hal ini, yang disebut Empat Pikiran Tanpa Batas. Enam Paramita dan Empat Pikiran Tanpa Batas harus dikembangkan. Cinta kasih bukanlah semata-mata cinta kasih.

Kita harus memiliki cinta kasih agung yang tanpa penyesalan. Mengenai welas asih, yakni welas asih agung yang tanpa keluh kesah. Selanjutnya, sukacita yang tanpa kerisauan dan keseimbangan batin agung, yakni keikhlasan yang tanpa pamrih. Saudara sekalian, Empat Pikiran Tanpa Batas ini sudah sering kita bahas. Namun, hanya membahas dan mengetahui saja tidaklah cukup. Kita harus mempraktikkannya secara nyata. Cinta kasih harus bebas dari penyesalan. Cinta kasih adalah memberi kebahagiaan bagi semua makhluk. Buddha iba melihat penderitaan semua makhluk dan berharap semua makhluk terbebas dari derita serta memperoleh kebahagiaan. Demi memberi kebahagiaan bagi semua makhluk, para Buddha tak peduli akan segala kesulitan, senantiasa kembali ke dunia//atas dasar cinta kasih untuk membimbing semua makhluk. Contoh yang lebih sederhana adalah Empat Misi Tzu Chi.

Misi amal mengandung cinta kasih. Cinta kasih agung. Lihatlah insan Tzu Chi di seluruh dunia. Mereka sungguh membuat orang//kagum dan hormat. Rumah Sakit Tzu Chi Hualien memiliki sebuah kehangatan, kebahagiaan, serta penuh nilai-nilai pendidikan, yakni pendidikan kehidupan. Suatu saat, di rumah sakit kita terdapat kasus bayi kembar siam. Bayi kembar siam ini berasal dari Filipina. Insan Tzu Chi Filipina menemukan kasus ini dalam baksos kesehatan. Sebelumnya, mereka juga menemukan sepasang bayi kembar siam yang baru lahir. Para dokter dari Taiwan berangkat ke Filipina, dan kemudian menemukan kembali kasus lain, yakni sepasang bayi kembar siam yang telah berusia 7 bulan. Setelah mengevaluasi kondisi mereka, para dokter memutuskan untuk mengoperasi mereka di Hualien.

Begitu orang tuanya setuju, segala prosedur pun mulai dijalankan. Insan Tzu Chi mempelajari kondisi keluarganya. Keluarga mereka hidup di tengah kondisi sulit. Jika dengan kereta api, dari Manila diperlukan waktu 5 hingga 6 jam untuk tiba di desa tempat mereka tinggal. Untuk tiba ke rumah keluarga itu, masih harus berjalan kaki beberapa jam. Di jalan pun ada banyak perampok. Insan Tzu Chi harus menghadapi bahaya ini demi memahami kondisi keluarga tersebut. Kondisinya benar-benar sulit. Jadi, kita bertekad membawa kedua bayi ini untuk menjalani operasi di Hualien. Karena berat kedua bayi ini kurang akibat kekurangan gizi, maka para dokter harus//merawat mereka terlebih dahulu. Terutama, sebelum operasi pemisahan dilakukan, para dokter harus menumbuhkan kulit perut pada kedua bayi itu agar ketika dipisahkan, keduanya memiliki kulit perut yang cukup. Untuk itu, diperlukan waktu yang panjang.

Kepala Sekolah Yang membawa murid-murid SD Tzu Chi berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk si kembar. Ini adalah sebuah pendidikan kehidupan, yakni dengan membawa anak-anak berinteraksi langsung dengan kedua bayi ini. Saya bahagia saat membaca buku harian mereka. Terlebih lagi, di antara para murid, ada sepasang saudara kembar duduk di kelas 1. Melihat si kembar siam, mereka mulai berinteraksi dengan bahasa anak-anak yang menggemaskan. Anak-anak juga memiliki banyak pertanyaan yang ditanyakan pada ibu sang bayi. Sang ibu pun menyatakan banyak terima kasih kepada Tzu Chi. Para relawan membawanya ke kantin di lantai 3 untuk mencicipi kopi dan kue.

Mereka semua amat gembira. Selain kepala sekolah dan anak-anaknya yang mendapat pelajaran berharga, ada pula seorang guru bahasa Inggris. Karena sang ibu hanya bisa berbahasa Inggris, maka guru inilah yang mendampingi//selama anak-anak berkunjung. Anak-anak yang duduk di kelas tiga juga dapat berbahasa Inggris dan lancar berkomunikasi dengan sang ibu. Selain itu, ada pula kepala RS dan wakilnya. Mereka juga mendampingi si kembar siam beserta ibu mereka. Murid-murid ini datang didampingi para dokter, kepala sekolah, dan para guru untuk berinteraksi dengan//si kembar siam dan keluarganya. Ketika kepala sekolah melihat sang ibu kesulitan menggendong si kembar siam, beliau pun membantu menggendongnya bagai nenek menggendong cucu. Sungguh penuh suasana kekeluargaan.

Melihatnya, Wakil Kepala RS Zhang juga ingin menggendong kedua bayi itu. Ia mengambil mereka dari tangan kepala sekolah dan menggendongnya bagai ayah seraya mengira-ngira berat mereka, “Ya, sudah lebih berat.” Ia pun tersenyum bahagia karena ia adalah ahli bedah yang bertanggung jawab untuk memisahkan dua kembar siam ini. Karena itu, saat menggendong sang bayi dan merasakan beratnya sudah bertambah, ia pun merasa bahagia. Kepala rumah sakit juga berkata, “Mari, biar saya menggendongnya juga.” Ia pun menggendong si kembar. Kedua bayi kembar ini pun sangat gembira, terutama ketika semua orang mencicipi kopi dan kue bersama-sama. Anak-anak SD Tzu Chi amat perhatian. Mereka bertanya kepada kepala RS dan wakilnya, “Apakah si kembar boleh makan kue?” Para dokter pun menjawab boleh.

Maka, sebelum mengambil kue untuk diri sendiri, anak-anak menyuapi si kembar terlebih dahulu. Yang satu amat penurut, setiap kali diberi potongan kue, ia langsung membuka mulut dan memakannya dengan gembira. Sedangkan yang lainnya lebih sulit. Ketika diberikan sepotong kue, ia pasti menangkapnya dengan tangan sehingga anak-anak tak dapat langsung menyuapinya. Tangannya amat lincah. Jadi, meski mereka adalah kembar siam, pikiran mereka tidaklah sama. yang lainnya lebih sulit dikendalikan. Seorang siswa bertanya pada sang ibu, “Apakah mereka bisa bertengkar?” Sang ibu pun menjawab, “Bisa, mereka bisa saling mencakar, juga bisa berebut makanan.” “Mereka bisa bertengkar, sangat nakal.” Semua ini adalah pendidikan kehidupan, cinta kasih agung tanpa penyesalan. Ini adalah estafet cinta kasih.

Insan Tzu Chi Taiwan menjalankan misi amal bagi sebuah kasus pasien yang diterima insan Tzu Chi Filipina. Insan Tzu Chi membawanya pulang ke Taiwan untuk dirawat oleh tim medis yang penuh kasih. Sungguh tiada penyesalan sama sekali. Saya sangat bersyukur dan sungguh merasa tersentuh. Banyak hal yang patut disyukuri dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada keselarasan antarmanusia, maka dunia ini pun menjadi sangat indah. Keselarasan amatlah penting. Keselarasan dalam segala sesuatu adalah sumber ketenteraman bagi dunia. Keselarasan antarsesama manusia berarti keharmonisan masyarakat.

Jika fisik dan batin selaras, maka kita akan sehat lahir dan batin. Jadi, keselarasan amatlah penting. Karena itu, kita harus senantiasa bersyukur. Dengan memiliki cinta kasih agung, selamanya kita tak akan menyesal. Untuk menjalankan misi amal, setiap orang harus bersatu hati, harmonis, dan saling mengasihi dalam bersumbangsih. Dengan demikian, kesulitan apa pun yang dihadapi, kita tidak akan menyesal. Jadi, ingatlah, juga dibutuhkan Empat Pikiran Tanpa Batas. Salah satunya, cinta kasih tanpa penyesalan. Harap semua lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment