[ST-047] 圓融六度成就佛道 Menyempurnakan Enam Paramita dan Mencapai Kebuddhaan
Saudara se-Dharma sekalian, saat berada dalam kondisi batin yang hening dan jernih seperti ini, apakah tekad kita dapat luas dan luhur? Sulit untuk terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha. Kita semua hendaknya bertekad dan berikrar. Kita semua telah berikrar saat bertekad mempelajari ajaran Buddha. Namun, apakah ikrar yang luhur ini tetap dipegang teguh tanpa goyah? Sering dikatakan, “Jika dapat memegang teguh tekad awal, pasti dapat mencapai kebuddhaan.” Setelah kita bertekad, apakah tekad ini tetap teguh selamanya? Apakah tekad awal kita masih tetap bertahan? Jika ya, kita pasti dapat mencapai kebuddhaan, karena tujuan mempelajari ajaran Buddha adalah untuk mencapai kebuddhaan. Berlatih dalam ajaran Buddha tidaklah mudah. Sesungguhnya, bukan tidak mudah. Ini menjadi tidak mudah karena kita sulit untuk menjaga tekad awal. Jika sulit untuk mempertahankan tekad awal, kita akan sulit untuk mencapai kebuddhaan.
Jika kita mampu menjaga tekad awal, mempelajari ajaran Buddha pun menjadi mudah. Buddha memberi kita metode yang jelas agar kita tahu akar penyebab kejatuhan semua makhluk dan cara untuk mencabut akar penyebab kejatuhan ini. Buddha menggunakan berbagai cara//untuk membimbing kita. Jadi, Buddha mengibaratkan Dharma bagaikan air. Pikiran semua makhluk telah tercemar oleh banyak noda sehingga kehilangan arah dan terjerumus. Jika ingin memperoleh pembebasan, kita harus melenyapkan kegelapan batin kita secara menyeluruh. Untuk itu, diperlukan air. Air itu adalah Dharma. Sesungguhnya, bagaimana cara membersihkan batin? Selain memiliki air, kita juga harus memiliki keterampilan dan metode. Karena itu, Buddha membabarkan metode ini bagi kita. Kita harus menggunakan Tujuh Kondisi Pikiran. Salah satunya adalah membangkitkna Bodhicitta. Dan dalam pembabaran tentang Bodhicitta ini, dijelaskan berbagai metode yang lebih rinci.
Jadi, Buddha mengatakan kepada kita bahwa terdapat banyak metode yang jumlahnya tak terhingga dan tak lepas dari praktik Enam Paramita. Sebelumnya kita sudah membahas tentang Enam Paramita, antara lain dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi. Konsentrasi meditatif harus tetap ada dalam kehidupan sehari-hari. Bukan ketika di pagi hari yang tenang kita melakukan kebaktian dan duduk meditasi, maka itu baru disebut bermeditasi. Bukan. Meditasi harus dilakukan dalam segala aktivitas sehari-hari, baik saat memikul kayu bakar, mengambil air, dalam setiap tindakan maupun ucapan kita; baik saat minum maupun makan, semua aktivitas ini adalah Zen. Tadi saya telah mengatakan bahwa tekad awal harus terus dipertahankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang disebut Zen. Zen adalah perhatian benar. Jadi, kita semua harus menjaga pikiran dengan baik. Dana, sila, kesabaran, dan semangat adalah prakti kebajikan melalui tindakan. Untuk berdana, juga dibutuhkan tekad.
Melihat makhluk yang menderita, kita harus berinisiatif untuk bersumbangsih karena merasa tak sampai hati. Kita harus memberi kebahagiaan//dan melenyapkan penderitaan. Kegiatan berdana ini membawa manfaat bagi umat manusia. Ini adalah kebajikan lewat tubuh. Menjalankan sila pun demikian. Kita mendisiplinkan tubuh kita agar tak berbuat kesalahan. Kesabaran juga dipraktikkan// dalam menghadapi sesama dan masalah. Begitu banyak masalah antarmanusia yang memerlukan kesabaran kita. Namun, kita bukan hanya harus bersabar, menahan serta menutup diri. Tidak, kita harus bersemangat. Semua aktivitas duniawi ini berkaitan dengan tubuh. Semua tindakan bajik yang dilakukan termasuk dalam kebajikan melalui tubuh. Selanjutnya adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan berkaitan dengan pandangan dan pemikiran kita. Sesungguhnya, jika ditilik lebih dalam, kebijaksanaan adalah hakikat sejati yang murni dari setiap orang. Jika hakikat murni ini tidak tercemar, maka segala perbuatan kita tidak akan menyimpang. Jadi, yang terpenting dalam hidup manusia adalah kebijaksanaan.
Kebijaksanaan mendukung pencapaian batin. Kebijaksanaan menyempurnakan berkah kita. Kebijaksanaan dapat mencegah kita dari penyimpangan dan kesalahan dalam kehidupan. Semua ini membutuhkan kebijaksanaan. Jadi, kebijaksanaan ini tak boleh lepas dari keseharian kita. Pelatihan diri harus dijalankan dari kehidupan ke kehidupan. Kehidupan fisik memiliki batas dan suatu saat akan berakhir, namun jiwa kebijaksanaan akan terus ada selamanya. Kita harus menjaga jiwa kebijaksanaan ini. Enam Paramita harus dikembangkan ketika kita melatih diri di dunia ini. Bagaimana kita harus berdana, juga dilatih di dunia ini. Dana, sila, kesabaran, semangat, dan konsentrasi, semuanya harus dilatih di dunia ini. Inilah yang disebut tahap pelatihan. Karena di masa lalu kita menanam benih sebab, maka buah akibat yang kita terima hari ini harus kita terima dengan sukacita.
Sebab yang kita tanam di masa lampau//akan berbuah di masa kini. Namun, pada kehidupan ini kita harus waspada demi masa depan. Segala benih yang kita tanam di kehidupan ini akan berbuah di masa depan. Mungkin dahulu batin kita penuh noda sehingga melakukan banyak penyimpangan. Maka, di kehidupan sekarang banyak masalah yang harus kita hadapi. Ini sangat menakutkan. Ini semua karena pikiran kita sering terpengaruh kondisi luar. Kini, dengan adanya jalinan jodoh istimewa untuk bertemu ajaran Buddha, kita harus segera memanfaatkan jodoh ini untuk sungguh-sungguh melatih diri dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan ini, baik dana, sila, kesabaran, semangat, maupun konsentrasi harus kita jadikan latihan untuk menanam benih bagi kelanjutan pelatihan kita di masa depan. Dengan begitu, kita akan tahu jelas//cara menghadapi kematian dan bertekad untuk kembali. Dalam melakukan segala sesuatu, kita tak akan tersesat. Sebelumnya, saya pernah bercerita tentang Relawan Fan dari Xinzhu. Ia pernah mengalami kecelakaan dan orang-orang pesimis akan keadaannya, bahkan telah mempersiapkan pembacaan doa. Namun, kesadarannya masih tajam. Ia terus mengingatkan diri sendiri, “Saya tak boleh meninggalkan Tzu Chi atau meninggalkan Master begitu saja.”
Lihatlah, ia sadar sepenuhnya dan tak bimbang sedikit pun. Saat melihat insan Tzu Chi berkumpul di samping tempat tidurnya, ia pun menuliskan, “Waktu saya belum tiba, tidak perlu mengatur pembacaan doa.” Lihatlah, keteguhannya ini adalah benih. Ia memanfaatkan hidupnya untuk melatih diri. Melatih diri sangatlah penting. Setiap hari kita harus bersyukur. Dapat hidup di lingkungan seperti ini, kita harus memanfaatkannya dengan baik. Karena itu, kebijaksanaan amat penting. Meski kebijaksanaan ini terkesan abstrak, namun ia dapat menentukan apakah hidup kita akan berhasil atau gagal. Ketika kebijaksanaan timbul, jalan kehidupan kita tidak akan salah. Selain itu, pelatihan dalam jalan Buddha yang lapang dan lurus ini akan kita lalui dengan lancar. Jika kebijaksanaan tenggelam dan kegelapan batin timbul, kehidupan kita akan terancam bahaya. Mari kita ambil contoh seorang penerima bantuan di Kota Kluang, Malaysia. Di Kluang ada sekelompok insan Tzu Chi, di antaranya adalah Relawan Wang Cheng-yao. Relawan Wang begitu sungguh-sungguh membimbing sekelompok insan Tzu Chi yang sangat berdedikasi. Pada awal tahun 2000, mereka menerima sebuah kasus. Setelah menerima kasus ini, mereka segera mencari rumah keluarga ini.
Sesampainya di sana, para relawan sungguh terkejut. Kondisi rumahnya cukup baik, namun dari dua orang yang tinggal di dalamnya, di antaranya adalah seorang ibu tua yang telah berusia 78 tahun dengan kondisi lemah dan menderita sakit. Ia mengidap asma dan penyakit jantung. Singkat kata, ia adalah orang tua yang sangat kasihan. Bahkan ia juga memiliki tekanan darah tinggi, juga tak leluasa untuk bergerak. Ketika para relawan tiba di rumahnya, dari luar kondisi rumah itu biasa saja, tetapi bahkan sebelum masuk ke dalam, sudah tercium aroma tidak sedap. Saat masuk, kondisinya lebih menakutkan. Di dalam rumah itu sangat gelap. Selain berbau tak sedap, juga kotor dan gelap. Ibu tua ini berada di ruang tamu. Ketika melihat lebih ke dalam, ada yang membuat para relawan ketakutan. Mereka tahu ia pasti manusia, namun mereka merasa ia seperti hantu. Orang itu berbaring di kamar tidur. Ternyata ia adalah putra ibu tua tadi. Ia telah berusia 50 tahun.
Ia masih tergolong dalam usia produktif, namun mengapa ia seperti itu? Rambutnya berantakan, dan tak ada sehelai benang pun di tubuhnya. Ia duduk atas di tempat tidur, yang terlihat di sekelilingnya adalah sampah, puntung rokok, botol minuman keras, dan kotak rokok. Semua menumpuk hampir setinggi tempat tidur. Ia membuang semuanya sembarangan. Serangga dan kecoa pun bertebaran di lantai. Jika kondisinya seperti itu, pantas saja para relawan mencium bau tak sedap dari kejauhan. Terlebih lagi, orang ini sudah lima hingga enam tahun menutup diri seperti itu. Ia tidak mengenakan pakaian, tidak mencukur rambut, dan tidak memotong kuku. Ia benar-benar tak berpakaian. Ibunya pun tak mampu menasihatinya.
Selama lima hingga enam tahun ini, bukan hanya tak dapat dinasihati ibunya, ia bahkan juga memaksa ibunya utuk membelikan rokok dan arak. Sesungguhnya, masalah apa yang membuatnya begitu putus asa? Ternyata, Nenek Huang ini memiliki dua orang putra dan seorang putri. Putra tertuanya meninggalkan rumah dan melepas tanggung jawab terhadap ibunya. Tiada yang tahu keberadaannya. Putra keduanya mulanya adalah seorang teknisi air dan listrik, sangat pandai dan berpengetahuan, menguasai bahasa Inggris dan Mandarin. Namun, kepandaian ini juga membuatnya jatuh. Saat berusia paruh baya, ia terpengaruh kebiasaan yang buruk. Ia bahkan mengonsumsi narkoba hingga harus menjual semua kekayaannya.
Akhirnya, ia pun ditangkap dan dikirim ke panti rehabilitasi. Beberapa tahun kemudian, meski telah lepas dari pengaruh narkoba, namun ia mengalami gangguan psikologis, tidak lagi normal seperti sedia kala. Sepulangnya ke rumah, kehidupannya sudah tak seperti orang pada umumnya. Ia menutup diri dan membiarkan dirinya tak berpakaian, tak mencukur rambut, dan tak memotong kuku. Bayangkan, selama beberapa tahun, ia membiarkan rambutnya kotor dan berantakan. Ia pun tinggal dalam kondisi yang kotor. Dapat kita bayangkan, rambutnya amat panjang dan berantakan, kukunya mencapai panjang 25 sentimeter, tumbuh melengkung dan kotor. Coba kalian bayangkan, betapa kotor dan bau kondisinya, terutama air seni dan fesesnya. Ibunya menderita tekanan darah tinggi, penyakit asma, serta penyakit jantung. Ia tak dapat membersihkan rumah. Adakalanya, sang putra memaksanya untuk membelikan minuman keras dan rokok. Bagaimana ia mencari uang? Ia mengumpulkan barang bekas.
Karena itu, rumahnya penuh barang bekas, apalagi tak pernah dibersihkan, terlebih lagi putranya hidup seperti itu. Lihatlah, bagaimana keluarga ini bertahan? Insan Tzu Chi bertekad tak meninggalkan mereka dan mencari cara untuk dapat membersihkan tubuh sang putra sekaligus merapikan rumahnya. Namun, setiap kali datang ke sana, putra ibu tua ini selalu menghalangi. Ia sangat pandai bicara dan berdebat. Setiap kali pergi ke sana, insan Tzu Chi harus menahan bau yang tidak sedap dan berada di sana untuk berbicara kepadanya seraya membimbingnya. Mereka datang dengan penuh harapan, namun pulang dengan rasa kecewa. Putra ibu tua ini tetap tidak mengizinkan orang lain membersihkan rumahnya.
Para tetangga pun tak bisa berbuat apa-apa. Bukan hanya insan Tzu Chi yang tak dapat menahan bau dan kotornya rumah tersebut. Sesungguhnya, para tetangga pun telah menahan diri selama bertahun-tahun. Karena itu, setiap kali insan Tzu Chi datang, para tetangga juga sangat berharap mereka berhasil membersihkan rumah keluarga itu. Tetapi, insan Tzu Chi hanya dapat memberi bantuan kepada ibu tua ini serta merawatnya, namun belum bisa berbuat lebih jauh. Hingga pada tahun 2001, tepatnya setelah ibu tua ini dirawat insan Tzu Chi selama kurang lebih setahun, kondisi penyakitnya semakin memburuk. Selain menderita asma, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung, punggungnya pun dipenuhi barah. Karena itu, insan Tzu Chi membawa ibu tua ini ke RS untuk dirawat.
Kita merawat ibu ini selama lebih dari enam bulan. Mereka juga memerhatikan putranya karena yang dikhawatirkan ibu ini hanyalah putranya. Ia berharap putranya dapat kembali hidup normal. Tetapi, selama 6 bulan terakhir hidupnya ini, sang ibu belum dapat melihat perubahan cara hidup putranya. Ia pun meminta insan Tzu Chi untuk merawat putranya ini dan mencoba untuk mengubahnya agar kembali hidup normal. Inilah harapan terakhir ibu itu. Ia pun meninggal pada awal tahun 2002. Insan Tzu Chi jugalah yang mengatur// pemakaman ibu tua ini. Setelah selesai mengurus pemakaman ibu tua ini, insan Tzu Chi mulai sering mengunjungi putranya. Mungkin meninggalnya ibu tua ini menjadi suatu pukulan bagi putranya.
Karena itu, setelah enam bulan berlalu, suatu hari, ia tiba-tiba berkata pada insan Tzu Chi, “Kalian boleh mencukur rambut saya, memotong kuku, dan membersihkan rumah saya.” Mendengar ini, Relawan Wang sangat gembira. Ia segera mengumpulkan relawan yang berjumlah 16 orang dan bersiap-siap membersihkan rumahnya, mencukur rambutnya, dan memotong kukunya. Semua relawan telah bersiap-siap. Namun, ketika relawan datang ke rumahnya, ia berubah pikiran dan berkata, “Tidak usah, lain kali saja.” Namun, kali ini para relawan tidak menyerah. Dengan tegas sekaligus lembut, mereka mengenakan masker, sarung tangan, dan sepatu bot. Mereka mengeluarkan barang-barang, membuang yang kotor, dan membersihkan meja sembahyang. Mereka bahkan menemukan banyak kaleng. Apa isi kaleng-kaleng itu? Air seni dan kotoran, dan mereka membuang semuanya.
Beberapa relawan menghampiri Tuan Chen ini. Mereka menghampirinya dan mulai membantunya memotong rambut. Bahkan gunting besar sulit memotongnya, apalagi gunting kecil biasa. Hanya untuk memotong rambutnya, diperlukan waktu beberapa jam. Rambutnya harus dipotong perlahan. Bahkan gunting-gunting yang tajam pun menjadi tumpul dan tak dapat digunakan lagi. Namun, selama ada tekad, akan ada kekuatan. Akhirnya, rambutnya berhasil dirapikan. Kuku-kukunya yang panjang hampir 25 sentimeter sudah melengkung dan juga sulit dipotong, namun akhirnya juga berhasil dipotong. Setelah rambutnya dirapikan, tiba-tiba ia berkata, “Wah, saya merasa kepala saya menjadi ringan.” Mendengar kata-kata tersebut, para relawan Tzu Chi sungguh gembira. Insan Tzu Chi bertemu keluarga ini sudah lebih dari tiga tahun. Tuan Chen ini sudah menutup diri selama hampir 6 tahun.
Namun, setelah menemukan kasus ini, 3 tahun sudah insan Tzu Chi mendampinginya. Yang dinanti insan Tzu Chi selama 3 tahun ini adalah ungkapan seperti itu. Itu juga merupakan harapan ibunya. Jadi, ketika mendengar ia berkata, “Wah, saya merasa kepala saya menjadi ringan,” insan Tzu Chi merasa bahwa selama lebih dari 3 tahun ini, kata-kata inilah yang mereka nantikan. Ia merasa bebannya terangkat. Setelah dimandikan dan rambutnya dirapikan, terlihat bahwa ternyata ia cukup gagah dan berpenampilan baik. Insan Tzu Chi datang membersihkan rumahnya//di akhir bulan April. Pada tanggal 27 April itu, harapan mereka pun akhirnya tercapai. Harapan terakhir ibunya pun terkabul. Bagi keluarga ini, insan Tzu Chi membersihkan rumahnya hingga menjadi seperti baru. Mereka juga merapikan penampilan Tuan Chen hingga kembali seperti manusia normal. Langkah insan Tzu Chi selanjutnya adalah mendampingi dan membimbingnya, karena ia telah menutup diri cukup lama. Insan Tzu Chi harus membantunya kembali terjun dan mengembangkan potensinya di masyarakat.
Dahulu, ia memiliki keterampilan. Ia harus dibimbing//untuk mengembangkannya kembali. Kini ia baru berusia 50 tahun, dan seharusnya masih dapat berkarya. Jadi, insan Tzu Chi tidak semata-mata harus memberi bantuan materi atau hanya menjaga sila masing-masing untuk dapat membantu Tuan Chen ini. Mereka juga tidak hanya harus bersabar terhadap kondisi yang kotor maupun terhadap sikapnya, atau hanya mendampingi sang ibu//dengan penuh cinta kasih. Bukan hanya itu. Jika hanya begitu,//kita tak akan dapat membantu orang. Dibutuhkan dana, sila, kesabaran, dan semangat yang pantang menyerah terhadap kasus ini. Mereka bersabar selama lebih dari 3 tahun. Mereka pun harus mengembangkan cinta kasih yang murni dari lubuk hati, yang memandang semua makhluk adalah setara dan tiada yang patut dibiarkan tersesat. Karena itu, mereka terus membimbing, mendampingi, serta menghiburnya. Akhirnya, harapan ibu tua ini pun tercapai.
Sayangnya, ia tak sempat melihat putranya kembali hidup layaknya manusia normal. Inilah yang agak disesalkan. Namun, saya yakin ibu ini tetap mengetahuinya dan turut berbahagia. Ia seharusnya juga sudah terlahir kembali. Di masa-masa terakhir hidupnya, ibu ini telah menerima kasih sayang insan Tzu Chi. Selama dirawat di rumah sakit, keluarga yang menangani semua prosedurnya adalah insan Tzu Chi. Selama beberapa waktu ini, insan Tzu Chi yang mendampinginya//dengan penuh cinta kasih telah menjadi bagaikan keluarga baginya.
Karena itu, pihak RS//mengisi kolom keluarga pada formulirnya dengan nama insan Tzu Chi. Saya percaya ibu tua ini mendengarkan pesan insan Tzu Chi untuk segera terlahir kembali menjadi orang yang dapat membantu orang lain. Lihatlah, untuk melakukan semua ini diperlukan lima Paramita yang pertama ditambah dengan kebijaksanaan. Lima Paramita yang pertama adalah dana, sila, kesabaran, semangat, dan konsentrasi. Kelimanya berkaitan dengan perbuatan jasmaniah. Namun, kebijaksanaan berkaitan dengan pikiran yang hening dan jernih serta tekad yang luas dan luhur. Tekad yang luhur ini harus dipegang teguh tanpa tergoyahkan. Keteguhan dalam bersumbangsih inilah yang disebut kebijaksanaan. Saudara sekalian, dalam berlatih ajaran Buddha, kita harus memegang teguh tekad awal, barulah dapat mencapai kebuddhaan. Para Bodhisattva dari Malaysia ini telah mampu menjaga keteguhan tekad. Semoga tekad ini dapat terus teguh hingga selamanya. Untuk itu, senantiasalah bersungguh-sungguh.