Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 062 – Menyempurnakan Jasa dan Kebajikan

Menyempurnakan Jasa dan Kebajikan Saudara se-Dharma sekalian, pada pagi-pagi buta seperti ini, di saat yang hening seperti ini, terus terdengar burung-burung berkicau. Mendengar suara kicauan mereka, membuat saya bertanya dalam hati apakah burung-burung itu juga berdoa dan melakukan kebaktian pagi. Suara kicauan burung terdengar begitu alami dan murni. Kealamian dan kemurnian itu bersumber dari ketulusan hati mereka. Saat kita melakukan kebaktian pagi setiap hari, saya percaya bahwa hati setiap orang juga sangat tulus dan murni, dan ketulusan ini berasal dari lubuk hati. Dengan ketulusan dari lubuk hati, sesungguhnya apa yang kita harapkan dan doakan? Saya rasa setiap orang//memiliki harapan yang berbeda-beda. Begitulah manusia. Seharusnya hewan pun demikian. Semua makhluk seharusnya demikian adanya. Walaupun setiap orang memiliki keinginan dan menjalani arah kehidupan yang berbeda, namun kita semua di sini memiliki harapan dan arah yang sama. Kita semua adalah praktisi Buddhis, orang yang berlatih di jalan Buddha. Karena itu, arah tujuan kita seharusnya sama.

Yang kita cari adalah jalan Bodhi. Untuk itu, kita harus bertekad. Dengan demikian, barulah kita dapat berjalan dalam tekad dan jalan yang sama. Jadi, kita menjunjung Buddha, menghormati Dharma, dan mempraktikkannya. Inilah yang kita cari, karena ajaran Buddha membuat kita mampu memupuk pahala dan kebijaksanaan yang tak terhingga. Pahala yang tak terhingga berasal dari kerendahan hati dan perilaku penuh tata krama. Inilah karakter seorang praktisi spiritual. Inilah yang disebut jasa kebajikan. Jasa kebajikan ini timbul dari praktik Enam Paramita, Empat Pikiran Tanpa Batas, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Berkat berbagai jasa kebajikan dan kebijaksanaan inilah tubuh Tathagata terealisasi. Kita perlu mengumpulkan Enam Paramita, Empat Pikiran Tanpa Batas, Semua ini harus dipraktikkan dalam keseharian, ketika kita menghadapi orang dan masalah. Akumulasi jasa kebajikan ini akan membantu realisasi tubuh Dharma. Jadi, akumulasi pahala dan kebijaksanaan ini akan membawa realisasi tubuh Buddha.

Ketika berbicara mengenai pahala, sering dianggap bahwa pahala didapat ketika berdana. didapat lewat berdana. “Anda telah berbuat banyak, pahala Anda sungguh tak terhingga.” Sebenarnya, pahala yang sesungguhnya tergantung pada kondisi batin kita, apakah kita dapat merendahkan hati. Kesombongan orang timbul ketika mereka “memiliki”. Ketika memiliki kedudukan, mereka menjadi sombong. Ketika memiliki banyak harta dan berkedudukan, kesombongan mereka terus tumbuh. Ini sungguh menakutkan. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berlatih merendahkan hati. Semakin berkedudukan, terkenal, dan kaya, kita seharusnya semakin mengecilkan ego. Inilah yang dimaksud dengan rendah hati. Jadi, dikatakan bahwa//dapat berendah hati adalah jasa. Dalam menghadapi orang dan masalah, jika kita menjunjung kerendahan hati dan tata krama, maka dengan demikian, orang-orang akan menyukai kita. Mereka akan mengasihi dan menghormati kita. Inilah yang disebut “kebajikan”.

Dengan adanya pelatihan diri ke dalam batin dan memiliki tata krama terhadap orang lain, berarti kita tengah memupuk pahala kebajikan. Sifat bajik di dalam diri ini diperoleh dari pelatihan diri. Dengan ketekunan melatih ke dalam diri dan mempraktikkan sifat bajik ke luar, maka inilah yang disebut jasa kebajikan. Berhasil dalam pelatihan ke dalam dan mampu mempraktikkannya ke luar, inilah kebijaksanaan. Dikatakan, “Jasa kebajikan dan kebijaksanaan membangkitkan tubuh Tathagata.” Kita perlu mengembangkan keterampilan untuk mencapai kebijaksanaan, barulah dapat merealisasi tubuh Tathagata yang juga merupakan tubuh Dharma. “Mereka yang ingin merealisasi tubuh Dharma harus membangkitkan Bodhicitta.” Sama halnya, jika kita ingin merealisasi tubuh Dharma, kita harus menjalani hidup dengan bijaksana. Kita harus mulai dari membangkitkan Bodhicitta dan mencari pengetahuan menyeluruh. Pengetahuan menyeluruh adalah kebijaksanaan yang tajam.

Misalnya saat hujan, hanya dengan melihatnya saja, kita dapat mengetahui cakupan daerahnya, berapa tetes air yang tercurah, dan berapa luas tanah yang telah terbasahi. Inilah yang disebut kebijaksanaan tajam. Dengan ilmu pengetahuan masa kini, prakiraan cuaca harus bergantung pada alat ukur untuk mengetahui kadar kelembapan udara, luas cakupan daerah yang terpengaruh, dan tinggi rendahnya tingkat curah hujan, barulah peringatan dapat dikeluarkan. Meski prakiraan cuaca sangat tepat, namun ia bergantung pada alat. Ia bergantung pada peralatan untuk menganalisis, misalnya tentang kelembapan udara dan tingkat curah hujan. Pengetahuan ini bergantung pada peralatan.

Jika kita memiliki kebijaksanaan yang tajam, kita bahkan dapat mengetahui jumlah tetesan air hujan yang tercurah dan luas daratan yang terbasahi dengan tepat. Inilah yang disebut kebijaksanaan yang tajam. Artinya, tiada yang tidak diketahui. Di dunia ini, baik makhluk hidup maupun bukan, berwujud maupun tidak, semua dapat diketahui dan dipahami dengan jelas oleh mereka yang tercerahkan. Inilah yang disebut pengetahuan menyeluruh. Tentu saja, jika ingin dijelaskan, akan sangat banyak. Kebijaksanaan yang tajam ini memungkinkan kita memahami segala sesuatu di alam semesta tanpa kesalahan sedikit pun. Segala kebenaran dapat dipahami tanpa kesalahan, baik Dharma duniawi maupun adiduniawi. Inilah pengetahuan menyeluruh. Berikutnya, mengenai// kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian. Ini mungkin membutuhkan penjelasan panjang. Adakah yang kekal? Adakah kebahagiaan? Adakah aku atau diri yang kekal? Apakah dunia suci dan murni? Terdapat dua penjelasan yang berbeda bagi dua jenis makhluk. Yang pertama adalah makhluk awam. Makhluk awam meyakini empat corak tadi.

Namun, kita yang berlatih di jalan Buddha, setiap hari membahas tentang ketidakkekalan. Tidak kekal. Adakah sesuatu yang kekal di dunia? Tidak ada. Namun, makhluk awam selalu menganggap segala sesuatu dapat kekal adanya. Akibat pemikiran ini, mereka berusaha untuk terus memperoleh. “Saya ingin memperoleh lebih banyak harta, saya ingin kedudukan yang lebih tinggi, saya ingin reputasi yang semakin besar, dan saya juga ingin anak saya, cucu saya, cicit saya dari generasi ke generasi dapat mewarisi kekayaan ini.” Mereka menganggap semuanya kekal. Mereka tidak memahami ketidakkekalan. Karena itu, dalam kehidupan ini mereka terus berusaha mati-matian untuk mengejar lebih banyak.

Jadi, mengenai kekekalan, makhluk awam menganggapnya nyata. Mereka juga berharap perasaan bersifat kekal. Sebelum menikah, pasangan saling mencintai, berjanji untuk sehidup semati. Karena itu, mereka pun menikah. Mereka percaya perasaan mereka bersifat kekal. Setelah menikah, mereka memulai hidup baru, perlahan-lahan membangun keluarga dan melewati hidup bersama-sama. Kemudian, perbedaan pendapat pun mulai timbul dan membawa pada perselisihan. Sebelum menikah, mereka saling mencintai, berjanji untuk saling mencintai selamanya meski sampai lautan kering dan batuan lapuk. Mereka berusaha menyenangkan pasangan. Namun, setelah berkeluarga,  perbedaan pendapat mulai timbul. Terpaku pada masa lalu, mereka mengeluh, “Dulu kamu begitu baik terhadapku.” “Dulu kamu begitu mencintaiku.” “Dulu kamu sangat perhatian.” Ini semua sudah berlalu dan tak akan kembali.

Semakin Anda menginginkannya, hubungan perasaan akan semakin rusak, dan jarak keduanya akan semakin lebar. Hal ini mengarah pada perselingkuhan. Sebab dari penderitaan ini adalah berharap akan adanya sesuatu yang kekal. Segala sesuatu hakikatnya adalah tidak kekal, namun makhluk awam berpandangan keliru, memandang yang tidak kekal sebagai kekal. Betapa banyak perubahan di dunia, tak mungkin untuk dibabarkan satu per satu. Seperti contoh hubungan antarmanusia tadi, kita telah melihat bahwa ini ada sesuatu yang tidak kekal, namun makhluk awam melekat pada//konsep kekekalan.

Di bumi kita ini, kondisi apakah yang bertahan selamanya? Saya teringat tanah Griya Jing Si ini, dulunya adalah lahan yang tandus. Untuk menanam padi,//rumput liar di sini terlalu banyak, juga terlalu tandus untuk menanam tanaman lain. Tanah ini sangat tidak subur. Namun, lihat sekarang. Asalkan ada yang sungguh-sungguh menggarapnya, tanah di Griya Jing Si ini kini ditumbuhi berbagai tanaman yang subur dan rerumputan yang hijau. Pemandangannya sangat indah dan berbeda. Mengenai bangunan vihara kita, saat awal didirikan, kondisi kehidupan kita sangat sulit. Bisa membangun satu bangunan yang mencakup aula sekaligus tempat untuk tinggal, saya sudah sangat puas. Sebelumnya, kita tinggal di Vihara Pu Ming yang hanya dapat menampung beberapa orang. Di sana terdapat sebuah aula kecil. Saat akan mengadakan kebaktian Bhaisajyaguru, kita pun berpikir jika ada ruangan yang sedikit lebih besar, kita sudah sangat puas. Untuk itu, kita semua bekerja keras.

Ditambah bantuan dari ibu saya, kita akhirnya dapat membangun sebuah aula sebagai ruang puja sekaligus tempat tinggal. Saat itu kita pun merasa sangat puas. Kita pun mulai mengadakan retret tujuh hari. Sebuah bangunan kecil itu digunakan untuk berbagai fungsi. Dapat mengadakan retret di sana, kita pun sudah sangat puas dan gembira. Di suatu tahun, datang angin topan yang merusak genting yang masih baru itu. Jika melihat foto kondisi saat itu, keadaannya amat menyedihkan, karena saat itu tanah di sekeliling masih kosong. Saat itu, bangunan yang ada hanyalah griya kita. Tiba-tiba, saat angin topan bertiup, genting griya pun beterbangan. Melihat foto kondisi saat itu, dan mengenang perasaan saya saat itu, betapa puas dan gembiranya hati saya telah mewujudkan yang tidak ada menjadi ada. Meski tanah di luar masih harus disisakan untuk bercocok tanam dan griya di tengah ladang ini belum sepenuhnya memadai, namun saat itu kita sudah merasa puas. Tetapi, saat ini lahan di sekitar Griya Jing Si telah kita peroleh sebidang demi sebidang. Lahan Griya Jing Si sudah semakin luas, namun kini masih dirasa belum cukup.

Mungkin kita harus terus menambah lahan. Meski bangunan aula utama sudah lama, namun Griya Jing Si tetap terlihat baru, karena seiring berlalunya waktu, kebutuhan ruang semakin bertambah akibat bertambahnya jumlah orang. Karena itu, kita harus kembali membeli tanah di sekitar Griya sebagai perluasan. Semakin diperluas,//Griya Jing Si semakin berbeda. Dapatkah ini disebut kekal? Ini tetaplah ketidakkekalan. Seiring proses ini berjalan, setiap kali bangunan baru didirikan, dalam hati saya berkata, “Saya puas, begini sudah cukup.” Inilah ladang pelatihan praktisi spiritual. Mereka harus puas atas segala hal. Jika kebutuhan bertambah, Berusahalah mendayagunakan yang sudah ada. Jika jodoh dan kondisi memungkinkan, barulah kita membangun yang baru. Saat selesai membangun gedung baru, kita harus merasa puas dan cukup. Inilah sikap praktisi spiritual. Sedangkan orang pada umumnya, akan meruntuhkan gedung lama jika dirasa terlalu kecil dan kemudian membangun yang lebih besar serta lebih megah. Meski gedung itu cukup baik, namun saat melihat milik orang lain, mereka merasa milik sendiri tidak cukup baik. Pikiran membanding-bandingkan ini selamanya tak akan pernah terpuaskan.

Demikianlah pandangan makhluk awam. Mereka menganggap semua yang mereka miliki akan bertahan selamanya. Mereka tak sadar bahwa perubahan terus terjadi seperti contoh bangunan Griya Jing Si tadi. Jika kita dapat merasa puas dengan yang dimiliki dan bersyukur jika memperoleh lebih, selamanya kita akan merasakan kedamaian. Jika dapat menerima segala perubahan dunia, kita akan merasa tenang dan damai. Sesungguhnya, pegunungan, sungai, dan tanah juga mengalami ketidakkekalan. Di Lembah Bamiyan, Afganistan, pada 1.500 tahun yang lalu terdapat ukiran rupang Buddha setinggi 53 meter. Di sana juga terdapat banyak gua yang di dalamnya banyak terukir pahatan Buddha. Di seluruh gunung itu, terukir rupang Buddha setinggi 53 meter, ada juga yang memiliki tinggi 40-an meter dan 30-an meter.

Semuanya diukir di pegunungan tersebut. 1.500 tahun yang lalu, Jalur Sutra yang menghubungkan//Tiongkok dan Timur Tengah adalah jalur yang sangat ramai. Rute inilah yang harus dilalui untuk pergi dari satu negara ke negara lainnya. Daerah sekitar rute ini pun menjadi amat kaya. Lebih dari 1.500 tahun lalu, rute ini dikenal dengan nama Jalur Sutra. Banyak kitab yang kita baca saat ini dibawa oleh Mahabhiksu Xuan Zang, Banyak guru dari Tiongkok melewati Jalur Sutra ini untuk tiba di India dan mengambil banyak kitab suci. Dapat dikatakan bahwa 12 bagian Tripitaka, semuanya dibawa melalui rute tersebut, yang kini termasuk dalam wilayah Afganistan. Inilah kondisi lebih dari 1.500 tahun lalu. Ajaran Buddha dapat diterjemahkan dan berkembang di Tiongkok berkat peran dari Jalur Sutra ini.

Seiring berlalunya waktu, pahatan-pahatan pun lapuk dimakan zaman, ditambah lagi karena perusakan oleh manusia. Pada bulan Maret 2001, rupang Buddha raksasa yang tersisa telah diledakkan oleh Taliban. Kini, yang dapat kita lihat hanyalah gua-gua kosong. Lihatlah, adakah yang kekal di dunia? Daerah yang dahulu pernah mengalami kejayaan, kini telah menjadi daerah yang penuh pembunuhan, pertikaian, dan peperangan. Lihatlah, mulanya daerah ini adalah daerah yang damai dan penuh nilai keagamaan, namun setelah ribuan tahun berlalu, semuanya pun berubah. Saudara sekalian, inilah ketidakkekalan, namun makhluk awam percaya ada yang kekal. Karena itu, mereka terus berseteru dan mengakibatkan rusaknya alam. Bencana akibat ulah manusia dan bencana alam mengakibatkan kerusakan pada dunia ini. Inilah ketidakkekalan. Namun, makhluk awam menganggap yang tidak kekal sebagai kekal.

Akibatnya, mereka mengalami banyak penderitaan. Para praktisi Buddhis sekalian, kita harus selalu sadar akan ketidakkekalan. Dalam setiap waktu, pada setiap hal maupun benda, kita harus senantiasa waspada. Di dalam harus ada kerendahan hati,// di luar harus menunjukkan tata krama. kita harus menggunakan kebijaksanaan dalam memupuk manfaat pelatihan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kebajikan akan diperoleh. Harap semuanya lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment