Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 061 – Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari sepertinya saya mengatakan hal yang sama. Meskipun yang saya katakan sama setiap hari, entah apakah kalian sudah menyerapnya. Apakah kalian sudah mengingatnya? Kebenaran apa//yang sesungguhnya saya sampaikan, apakah kalian sudah menanamnya di dalam hati dan mempraktikkannya dalam keseharian? Apakah kalian sudah menjalankannya? Jika kita dapat menyerapnya ke dalam hati, maka kita akan mendapatkan pengetahuan hidup. Jika kita menjalankannya, maka jiwa kebijaksanaan kita akan bertumbuh. Jika kita tidak mengingat ajaran tersebut, maka kita tidak akan mampu memahami pengetahuan itu, apalagi mengembangkan kebijaksanaan. Dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus bersandar pada Dharma dan mengikuti bimbingan Buddha sesuai dengan urutan dan tahapannya, menggenggam waktu untuk mempraktikkannya.

Oleh karena itu, dalam Syair Pertobatan dibahas tentang pengembangan Bodhicitta. Kita telah memahami dalam Sutra dikatakan kita harus bergembira melihat tubuh Buddha. Karena tengah berlatih di jalan Buddha, kita harus membangkitkan rasa suka terhadap Buddha. Tubuh Buddha sama dengan tubuh Dharma. Terhadap kebijaksanaan//dan tubuh Dharma dari Buddha, kita harus menumbuhkan rasa hormat, kegembiraan, dan keinginan mencari. Mencari. Makhluk awam umumnya mencari dan mengejar kemasyhuran dan kekayaan, sedangkan praktisi Buddhis mencari kebenaran ajaran Buddha. Karena itu, kita juga harus mencari rasa gembira ini. Tubuh Buddha adalah tubuh Dharma, yang dicapai berkat kebijaksanaan dan jasa kebajikan yang tak terhingga. Saudara sekalian, menurut saya ini sangatlah penting. Dalam mencari ajaran Buddha, jika kita mengabaikan pencarian kebijaksanaan dan jasa kebajikan tak terhingga, maka tiada lagi yang perlu kita pelajari.

Oleh karena itu, kita harus mengembangkan kebijaksanaan dan pahala yang tak terhingga. kebijaksanaan dan jasa kebajikan tak terhingga. Lalu apakah yang harus dikembangkan? Yakni Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita, ditambah 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. 4 Pikiran Tanpa Batas sangatlah sederhana. Setiap orang di Tzu Chi memahaminya. Setiap orang mengembangkan 4 Sifat Luhur ini dengan tekun dan bersemangat, karena di dunia Tzu Chi, 4 Pikiran Tanpa Batas ini dikembangkan menjadi Empat Misi Utama. Contohnya, misi amal sosial. Bukankah Buddha mengajari kita berdana? Berdana dan memberi bantuan adalah cinta kasih. Mengembangkan cinta kasih tanpa batas melalui proses memberi bantuan dan berdana ini memang sangat tidak mudah, karena kita harus mendidik mereka yang mampu untuk membantu yang kurang mampu.

Jika kita tidak mendidik mereka, bagaimana kita bisa bersumbangsih bagi orang-orang yang membutuhkan? Di dunia ini harus ada orang-orang yang membangkitkan cinta kasihnya dan mendanakan kekayaan mereka. Dengan penggalangan dana ini, barulah kita dapat menjalankan misi amal sosial. Apalagi, banyak orang mampu di dunia ini yang malah tidak bahagia, cemas, dan menderita— takut kehilangan apa yang mereka miliki. Mengenai rasa cemas, khawatir, dan takut kehilangan ini, semakin tinggi kedudukan, reputasi, dan semakin banyak kekayaan seseorang, maka ketakutannya pun semakin besar. Lihatlah, perusahaan-perusahaan besar, toko-toko besar, atau rumah-rumah mewah, semua memiliki penjaga keamanan. Di setiap pos penting, selain penjaga keamanan, sekarang juga sudah ada kamera pengintai yang mengawasi setiap sudut. Ini karena rasa takut. Orang yang memiliki, takut kehilangan, yang tak memiliki, tidak perlu takut kehilangan. Teringat saat saya//mengunjungi warga tidak mampu. Sesampainya di desa itu, saat tiba rumahnya, terlihat pintu rumah terbuka lebar. Saat kami memanggil, “Apakah ada orang di dalam?” Tidak ada yang menjawab.

Tetangga pun keluar dan bertanya, “Guru, Anda mencari pemilik rumah?” Saya menjawab, “Benar.” “Ke mana mereka? Apakah pergi jauh?” Tetangga itu menjawab, “Jauh sekali, mereka pergi ke Kota Hualien.” Saya berkata, “Tetapi, pintu rumahnya terbuka.” Ia kemudian menjawab, “Di dalam sudah tidak ada apa-apa.” “Mereka begitu miskin,//setan saja tak berani masuk, apalagi pencuri.” Lihatlah, begitu bebas. Saat pergi keluar, pintu rumah pun tidak perlu dikunci. Jadi, mereka tidak takut kehilangan, sama sekali tidak cemas atau khawatir barang-barang mereka dicuri, karena memang tidak memiliki apa-apa. Kalaupun ada, itu pun sudah usang. Siapa yang mau mencuri barang usang? Sebaliknya, orang kaya harus memiliki penjaga keamanan dan kamera pengintai, keluar masuk rumah selalu diawasi. Coba pikirkan, menderitakah orang yang “memiliki”? Takut kehilangan tentu menderita. Sebaliknya, sebagian orang pada umumnya setiap hari sibuk bekerja menjalankan usaha ilegal, penyeludupan, dll, penuh risiko dan bahaya. Demi apakah mereka melakukan semua ini? Tidak lain adalah untuk “memperoleh”.

Karena itu, mereka menghalalkan segala cara, melakukan hal-hal yang melawan hukum, mengabaikan hati nurani, hanya demi mengejar keinginan. Namun, apa yang sebenarnya didapatkan dan apa pula yang hilang? Makhluk awam tidak bisa memahami bahwa reputasi dan materi tidaklah kekal. Karena itu, mereka terus merisaukan// perihal “memperoleh” dan “kehilangan”. Bahkan ada orang yang membanting tulang dan memeras keringat serta takut tidak punya pekerjaan yang baik. Ini juga termasuk merisaukan hal “memperoleh”. Saat pekerjaan hari ini selesai, mereka risau apakah besok masih ada pekerjaan. Mereka pun merasa khawatir. Jadi, memikirkan “memperoleh” dan “kehilangan” juga membawa kerisauan. Karena itu, kita tidak semata-mata mendidik mereka yang mampu secara materi, tetapi juga mereka yang kurang mampu, yang batinnya dirundung kekhawatiran. Kita dapat menginspirasi mereka bahwa tanpa uang, mereka bisa menyumbangkan tenaga dan bersama-sama melakukan kebajikan.

Di Tzu Chi, kita bisa melihat banyak orang yang kaya secara materi sekaligus batin, dan yang minim materi namun kaya secara batin. Setiap menonton program Da Ai TV//tentang relawan daur ulang, saya merasa sangat gembira. Lihatlah, mereka sungguh dapat bersumbangsih. Mereka dapat melindungi bumi, mengubah sampah menjadi emas, mengubah emas menjadi aliran jernih, dan menjalin jodoh dengan semua makhluk. Ajaran ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Asalkan orang-orang menonton Da Ai TV, kemelut di hati akan terbuka dengan sendirinya hingga dapat sungguh-sungguh merasa gembira. Bagi yang hidupnya tidak bahagia, dapat menjadi bahagia. Para relawan daur ulang ini belum tentu kondisi kehidupannya sangat baik, namun mereka rela bersumbangsih. Ada yang kesehatannya kurang baik, namun tetap bersedia menahan sakit. Meski harus menahan sakit dan hidup dalam kondisi sulit, mereka masih menyisihkan waktu untuk melakukan daur ulang. Lihatlah, meskipun hidup kekurangan, meskipun kesehatan mereka kurang baik, namun mereka tetap bersumbangsih dan memperoleh sukacita yang besar.

Inilah cinta kasih, “mendidik orang menjadi kaya” lewat pintu amal, membangkitkan cinta kasih di hati setiap orang. Yang dimaksud dengan “mendidik menjadi kaya” bukanlah kaya secara materi, melainkan membangkitkan cinta kasih di dalam hati setiap orang, agar semua sadar dirinya mampu bersumbangsih. Ada yang bersumbangsih dalam bentuk uang, ada pula yang dalam bentuk tenaga sehingga semua orang bisa merasakan dan bersukacita. Inilah pendidikan cinta kasih. Welas asih berarti melenyapkan penderitaan. Penderitaan terberat manusia adalah penyakit. Karena itu, Tzu Chi memiliki misi pengobatan. Lihatlah pasien yang sakit, betapa menderitanya mereka. Sangat menderita. Tetapi, dengan adanya pengobatan yang baik dan tim medis yang baik, maka penderitaan pasien dapat diatasi. Di RS Tzu Chi Hualien ada sebuah kisah. Ada pemuda berusia 31 tahun di Taidong yang tiba-tiba meninggal dunia. Keluarganya bersedia mendonorkan organnya. Mulanya, mereka ingin mendonorkannya ke RS Universitas Nasional Taiwan di Taipei. Namun, saat itu tidak ada penerbangan. RS Universitas Nasional Taiwan. menghubungi RS Tzu Chi Hualien dan menanyakan apakah RS Tzu Chi membutuhkan organ tubuh tersebut.

Karena dari Taipei mereka tak dapat//mengambilnya langsung ke Taidong, maka jika RS Tzu Chi membutuhkan organ itu, kita diharap mengambilnya sendiri ke Taidong. Begitu mendapatkan informasi ini, kita segera mencari pasien-pasien yang memenuhi syarat menerima organ tubuh ini. Kita menemukan seorang pasien di Taichung yang berusia 40-an tahun. Ia membutuhkan pencangkokan hati. Golongan darahnya sama dengan sang donor. Kita pun segera menghubungi pasien tersebut, yakni Bapak Zhang. Sudah bertahun-tahun ia menderita sakit lever dan telah mencari donor hati ke mana-mana. Ia sudah mendaftar di pusat-pusat dan lembaga-lembaga medis, termasuk Rumah Sakit Tzu Chi. Kebetulan beberapa hari itu,//ia mengalami pembengkakan karena perutnya dipenuhi cairan. Ia baru pulang dari RS di wilayah selatan saat menerima telepon dari dokter kita yang bertanya apakah bersedia menerima donor. Ia sangat gembira dan langsung setuju, dan segera terbang ke Hualien.

Meskipun cuaca saat itu kurang bersahabat, ia tetap bersedia karena ini adalah kesempatan yang langka. Karena ia bersedia, maka saat ia bersiap untuk datang ke Hualien, dokter kita dari RS Tzu Chi di sini segera menuju Taidong guna mengambil organ tersebut. Ia harus turun tangan melakukan pembedahan untuk mengambil organ hati dari donor yang telah meninggal dunia ini. Perjalanan pulang-pergi antara Taidong dan Hualien memakan waktu sekitar 7 jam, ditambah lagi ia harus turun tangan melakukan pembedahan untuk mengambil organ. Dapat kita bayangkan berapa banyak waktu yang harus dihabiskan. Setelah kembali, pasien juga sudah tiba di RS Tzu Chi. Dokter pun merasa gembira dan segera meminta pasien masuk ruang bedah. Operasi itu berlangsung sekitar 20 jam. Organ hati donor berusia 30-an tahun ini berkondisi amat baik, dan dicangkokkan ke dalam tubuh resipien yang berumur hampir 50 tahun. Organ hati yang rusak pun diangkat dan warnanya sudah menjadi hitam.

Organ hati yang sehat pun dicangkokkan. Meskipun operasi berjalan hampir 20 jam, namun berjalan dengan lancar dan sukses. Pasien pun dibawa ke ruang perawatan intensif. Satu hari berikutnya, selang yang terpasang pada tubuhnya sudah dicabut satu demi satu. Karena organ hatinya sudah diganti, ginjalnya juga sudah berfungsi normal, sehingga kotorannya juga sudah normal, maka selang yang terpasang pada tubuhnya pun boleh dicabut satu demi satu. 2 atau 3 hari kemudian, ia sudah keluar dari ruang perawatan intensif. Ia sangat gembira dan pulih dengan cepat. Setelah dirawat sekitar 1 minggu, seharusnya ia sudah boleh pulang, namun karena rumahnya jauh dari Hualien, harus menempuh jarak dari timur ke barat melewati Barisan Pegunungan Tengah, naka dokter menyarankan, “Karena rumah Tuan jauh, dan harus kembali menjalani kontrol, lebih baik Tuan tinggal di Hualien//selama beberapa waktu.” Bapak Zhang sangat berterima kasih. Ia berkata bahwa selain berterima kasih atas fasilitas rumah sakit kita yang begitu baik, ia juga berterima kasih kepada tim medis yang telah berjuang menyelamatkan hidupnya.

 Kemudian ia mengetahui bahwa tubuhnya telah menerima transfusi lebih dari sepuluh ribu cc darah. Ia mengatakan, jika satu orang donor mendonorkan 250 cc darah, maka untuk 10 ribu cc darah dibutuhkan paling sedikit 40 donor. Ia mengatakan bahwa begitu banyak orang yang mendonorkan darah untuknya, mungkin saja orang yang berpapasan dengannya di jalan adalah yang pernah menjadi donor baginya. adalah yang pernah menjadi donor baginya. Sungguh, dalam hubungan antarmanusia, banyak kisah serupa tentang kesalingterkaitan. “Mungkin dalam tubuh saya mengalir darah Anda, atau dalam tubuh Anda ada sumsum tulang saya.” Dengan kemajuan ilmu kedokteran, kita bisa menggunakan fasilitas dan peralatan yang baik, ditambah praktisi medis dan dokter yang baik, kita bisa segera menyelamatkan nyawa orang.

Jadi, pengobatan bisa menyelamatkan hidup. Kadang kala, menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan satu keluarga. Saya juga melihat ibu dari Tuan Zhang ini. Setelah putranya menjalani operasi, ia membawa banyak koper kemari karena berencana untuk mendampingi putranya dan akan menginap beberapa waktu. Sesampainya di RS Tzu Chi, ia melihat anaknya sudah bisa berbicara dengannya, artinya kondisi tubuhnya sangat baik. Ketika dokter mengatakan bahwa seminggu lagi ia sudah diperbolehkan pulang, ibunya tidak percaya dan berkata, “Lihat, saya sudah membawa banyak barang dan bersiap-siap untuk tinggal di sini menemani dan merawat putra saya.” “Ternyata begitu cepat ia sudah boleh pulang.” “Kalau begitu, saya ingin jalan-jalan keliling Hualien.” “Karena sudah terlanjur datang ke Hualien, saya ingin melihat-lihat sebelum pulang.” Ibunya sudah tenang. Hati ibunya sudah tenang. Tuan Zhang juga punya istri dan anak. Ia sendiri bekerja di sebuah lembaga pengobatan.

Ia masih bisa berkontribusi bagi masyarakat. Untuk meningkatkan nilai kehidupan, dibutuhkan banyak jalinan jodoh dan kondisi. Misi pengobatan kita bertujuan untuk//menyelamatkan kehidupan dan melenyapkan penderitaan. Untuk itu, dibutuhkan cinta kasih banyak orang. Sukacita agung diwakili oleh misi budaya. Lihatlah, kini budaya humanis telah berkembang lewat media cetak maupun elektronik dan tersebar ke seluruh dunia. Setiap hari, meski berada di Taiwan,//kita dapat melihat seluruh dunia lewat berita yang kita peroleh di televisi. Dan apa yang kita lakukan di Taiwan juga dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Saya sering mendengar banyak orang yang mengalami banyak kesulitan dan kerisauan, bahkan berkeinginan mengakhiri hidup, namun setelah menonton Da Ai TV, mereka tiba-tiba sadar lalu bergabung dengan Tzu Chi. Kemudian mereka mulai bersumbangsih, dan kini mereka sangat bersukacita. Kisah-kisah demikian sangatlah banyak dan terus disiarkan. Semua adalah demi menginspirasi banyak orang untuk mengubah kerisauan menjadi kebahagiaan dan kedamaian.

Inilah misi budaya humanis Tzu Chi. Mengenai misi pendidikan, kita melihat satu demi satu anak tumbuh dan meraih keberhasilan. Harapan masyarakat terletak pada pendidikan. Masa depan individu pun demikian. Baik keluarga, masyarakat, maupun individu membutuhkan pendidikan. Pendidikan memerlukan keseimbangan batin. Sungguh, pendidikan adalah hal yang sulit. Empat misi Tzu Chi mencakup semangat cinta kasih, welas asih,//sukacita, keseimbangan batin. Empat sifat luhur ini haruslah tanpa batas. Karena itu, disebut Empat Pikiran Tanpa Batas. Kita harus memiliki cinta kasih tanpa batas, welas asih tanpa batas, sukacita tanpa batas, dan keseimbangan batin tanpa batas. Dengan Empat Pikiran Tanpa Batas ini kita mempraktikkan Enam Paramita, yaitu dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita merupakan jalan benar yang harus dipraktikkan dalam mempelajari Jalan Bodhisattva. Jalan benar ini adalah jalan utama yang harus kita praktikkan. Kita pernah membahas tentang Enam Paramita dan praktik berbagai kebajikan. Enam Paramita antara lain dana, disiplin moral, kesabaran, semangat. Banyak metode yang mendukung kita mengembangkan Enam Paramita. Enam Paramita dapat berkembang menjadi berbagai praktik kebajikan. Seluruh ajaran Buddha tak lepas dari Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita.

Jika setiap hari kita mengembangkan Empat Pikiran Tanpa Batas dan mempraktikkan Enam Paramita, maka dengan demikian, saya percaya bahwa seluruh ajaran dan Sutra telah tercakup di dalamnya. Mempelajari ajaran Buddha,//tidak perlu mempelajari hal yang rumit. Sesungguhnya, ajaran yang sederhana sekalipun, jika didukung dengan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, tekad kita melatih diri akan teguh. Dalam menghadapi segala kondisi,//manusia, dan masalah, 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan ini hendaknya kita gunakan untuk//meningkatkan kewaspadaan. Jika kita bisa melaksanakannya, maka Jalan Bodhisattva ini tidak akan sulit dilalui.

Jadi, dalam berlatih sesuai ajaran Buddha, kita harus menggunakan pikiran yang sederhana dan keyakinan yang murni untuk menerima dan mempraktikkan ajaran. Kita harus menerima dan melaksanakan ajaran dengan pikiran sederhana dan keyakinan murni. Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Meski saya terus mengulangnya, namun coba kalian renungkan, apakah ajaran yang telah terus diulang ini telah kita praktikkan dalam keseharian. Harap kita semua lebih bersungguh-sungguh setiap saat.

Leave A Comment