Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 060 – Jalan Mulia Beruas Delapan Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu dengan cepat. Apakah kita sudah giat melatih diri seiring dengan berjalannya waktu? Janganlah lengah dalam kehidupan ini. Dalam membimbing kita, Buddha menggunakan metode pengelompokan agar kita dapat memahami dan lebih mudah mengingat ajaran Buddha, serta menggunakannya dalam kehidupan kita. Karena itu, dalam 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, Empat Landasan Perenungan, Empat Usaha Benar, Empat Landasan Keberhasilan, Lima Akar, Lima Kekuatan, Tujuh Faktor Pencerahan, dan Jalan Mulia Beruas Delapan, semuanya dikelompokkan secara jelas. Kita seharusnya dapat mengingat setiap istilah yang berisi ajaran tersebut. Karena sudah dikelompokkan, seharusnya lebih mudah untuk diingat. Kini kita membahas Jalan Mulia Beruas Delapan. Sebelumnya, kita telah membahas faktor ke-5, yakni “penghidupan benar”.

Kini kita akan membahas faktor yang ke-6, yakni “usaha benar”. Dalam hidup ini, kita sungguh harus berusaha karena detik demi detik terus berlalu, demikian juga dengan tubuh kita, tak hentinya mengalami proses metabolisme, proses di mana sel-sel tubuh kita selalu terbentuk dan mati. Sel-sel tubuh kita selalu beregenerasi, sama seperti waktu yang terus berlalu. Oleh karena itu, jalanilah hidup dengan tekun dan bersemangat seiring dengan berlalunya waktu. Tekun berarti fokus, semangat berarti terus maju dan tidak mundur. Namun, usaha yang tekun dan penuh semangat ini haruslah berada di jalan yang benar. Kita mungkin melangkah maju dengan cepat, namun jika arahnya melenceng sedikit saja, maka kita akan jauh tersesat. Jika arah tidak benar, dan langkah kita semakin cepat, maka kita akan semakin jauh menyimpang. Usaha ini pun menjadi tidak benar dan malah menjadi sesat.

Jadi, hal terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha adalah menghindari pandangan salah karena ia bisa menghalangi pikiran benar dan arah yang tepat. Oleh karena itu, kita harus menjaga agar arah kita tidak menyimpang. Arah hidup kita haruslah benar. Untuk itu, kita harus tekun dan bersemangat. Kita harus fokus dalam usaha kita dan tidak ternoda oleh pikiran kacau. Pikiran kacau adalah kekeruhan atau noda batin, suatu kondisi yang tidak murni. Melatih diri adalah hal yang sederhana, yakni selalu menjaga pikiran setiap saat agar tidak melenceng ataupun salah. Di dunia, kita harus bersikap baik terhadap orang, bekerja dengan penuh perhatian, dan menghargai apa yang kita miliki. Inilah pelatihan diri, suatu kehidupan yang amat sederhana. Seandainya dalam pikiran kita muncul kemelekatan terhadap sesuatu, maka itulah pikiran yang keliru, pikiran yang menyimpang.

Sebagai seorang praktisi, hendaknya tidak memiliki pikiran demikian. Terhadap yang bukan milik kita, hendaknya tidak timbul ketamakan atasnya. Itulah sikap kita terhadap benda materi, demikian juga seharusnya terhadap sesama. Dalam mencintai seseorang, kita harus menjaga norma, menjaga batasan-batasan tertentu. Jika kita melanggar norma, orang yang seharusnya kita cintai malah tidak kita cintai dengan tulus, justru mencintai yang tak seharusnya dicintai. Ini adalah perbuatan sesat, inilah pikiran sesat atau asusila. Lihat, betapa banyak pasangan suami istri yang tidak bahagia di dunia ini. Dulunya, pasangan ini saling mencintai dan lalu menikah secara sah. Awalnya, mereka saling menyukai dan jatuh cinta, lalu menikah. Namun, selang beberapa tahun, hati mereka mulai berubah dan berselingkuh. Akibat perselingkuhan, rumah tangga menjadi bermasalah. Perselingkuhan adalah perbuatan sesat. Jika mencintai yang tidak seharusnya dicintai dan tamak pada cinta yang tak seharusnya, ini akan membawa petaka bagi rumah tangga. Ini tidak benar dan disebut sesat.

Bukan hanya terhadap manusia, begitu pula dalam berbagai persoalan. Lihatlah berita di surat kabar setiap hari, kebanyakan adalah berita-berita gosip. Akibat pikiran yang menyimpang, orang-orang pun melakukan hal yang salah dan melanggar batas-batas norma. Itulah sebabnya mengapa banyak hal yang aneh yang tidak pantas malah menjadi berita di media atau buah bibir, terus menyebar, dibicarakan, bahkan dilebih-lebihkan. Baik gosip itu kenyataan maupun berita bohong, semuanya terjadi karena kelalaian kita. Ada kesalahan yang disengaja, ada yang tidak disengaja, namun semuanya//mengganggu ketenteraman masyarakat. Jika pikiran kita menyimpang, apa pun yang kita lakukan akan menjadi salah. Meski dilakukan dengan sungguh-sungguh, namun jika pikiran tidak benar, tetap akan menjadi penyimpangan. Sebuah penyimpangan kecil bisa membawa kita jauh tersesat. Oleh karena itu, dalam melatih diri, kita harus memiliki niat pikiran yang benar. Baik terhadap masalah, orang, ataupun materi, kita harus berhati tulus dan menjunjung norma. Menjalankan kewajiban kita dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan bentuk usaha dan semangat.

Yang terpenting, jauhi segala kejahatan. Untuk itu, kita harus menjaga pikiran kita. Kita juga harus memperbanyak kebajikan. Sepanjang hal tersebut benar, bermanfaat, dan berada pada arah yang benar, kita harus melangkah maju. Inilah yang dimaksud “usaha benar”. Selanjutnya adalah “perhatian benar”. Berperhatian benar berarti menjaga kondisi pikiran yang benar. Tadi kita membahas tentang usaha benar. Jika usaha tidak disertai perhatian benar, maka langkah kita akan menyimpang. Karena itu, kondisi pikiran amatlah penting dan kita harus memiliki pandangan yang benar. Kadang kala di dalam kehidupan, kita bisa berpikiran tidak benar, misalnya, hidup kita memang sudah begini, namun kita terus membandingkannya dengan orang lain, selalu mengejar standar hidup orang lain untuk diterapkan dalam hidup kita. Selamanya tidak pernah merasa puas. Apalagi sebagai makhluk awam, manusia selalu melihat ke atas. Inilah penyebab ketidakpuasan dalam hidup kita. Sesungguhnya, jika kita mengubah cara pandang, kita bisa merasa puas dengan yang kita miliki.

Jika kita melihat ke bawah, kita akan dapat merasa puas. Dalam kehidupan sehari-hari, dalam hubungan antarsesama, kita tak pernah merasa cukup jika melihat ke atas, namun sebaliknya jika mencoba melihat ke bawah. Misalnya, ketika orang yang paling kita cintai meninggal dunia di usia muda, kita pun bertanya-tanya mengapa begitu cepat, padahal ia adalah orang yang paling kita cintai. Tetapi, kita hendaknya ingat bahwa masih banyak yang meninggal di usia lebih muda, ada yang berusia panjang, ada pula yang pendek, semuanya berada di luar kendali kita. Jika kita memahami kenyataan hidup ini, seharusnya kita mengisi hidup ini selagi sehat, menghargai saat-saat bersama//dengan yang kita cintai, hidup bersatu hati, harmonis, saling mengasihi. Kita harus menyayangi satu sama lain.

Jika menunggu sampai sakit atau saat ajal menjemput baru mengungkapkan rasa cinta, itu akan sangat menyedihkan. Ada sebuah kisah dari Indonesia saat relawan misi budaya berkunjung ke Jakarta. Di kota metropolitan ini, menjulang gedung-gedung pencakar langit. Kota ini nampak sangat makmur. Namun, saat relawan berjalan melewati perlintasan kereta api, terlihat gubuk-gubuk tempat tinggal ilegal. Gubuk-gubuk ini berada di sisi rel kereta api. Kira-kira 1 meter jaraknya dari rel, warga mendirikan gubuk-gubuk tempat tinggal. Relawan kita berdiri di sana sekitar 10 menit. Belasan kereta api dengan cepat melintas di sana satu per satu. Suaranya pun begitu bising. Relawan kita berdiri di sana mengamati situasi. Tidak sampai 10 menit, sudah belasan kereta melintas. Rata-rata tidak sampai 1 menit, pasti ada satu kereta yang melintas. Mereka mencoba merasakan bagaimana seseorang bisa tinggal dan bertahan hidup di lingkungan seperti ini. Mereka benar-benar tinggal dan hidup di sana, siang malam tinggal di sana. Bahkan yang lebih tidak bisa dibayangkan, mereka tinggal tidak jauh dari rel, yakni kira-kira 1 meter dari rel.

Seperti yang kita ketahui, sisi rel biasanya ditutupi batu-batuan yang berupa serpihan-serpihan yang bentuknya kasar dan tajam. Bagaimana mereka tidur di sana? Dengan hanya beralaskan plastik tipis, mereka sudah bisa tidur. Coba kita bayangkan, orang zaman sekarang tidur di kasur pegas, atau di tempat kita melatih diri, paling tidak ada tikar tatami. Coba bayangkan, di sisi rel tersebut, di atas bebatuan kasar dan tajam yang hanya beralaskan plastik tipis, Kalau dibandingkan dengan kita, hidup mereka begitu menderita. Dibandingkan dengan mereka, kita jauh lebih beruntung. Selain itu, gubuk yang mereka sewa amat kecil, luasnya tidak lebih dari 10 meter persegi, namun dihuni oleh tiga keluarga. Tiga keluarga tinggal di dalam gubuk kecil yang luasnya tidak lebih dari 10 meter persegi. Bagaimana bisa? Mereka bergiliran tidur dalam 3 sif. Itulah sebabnya, di sana, saat larut malam kita bisa melihat anak-anak kecil sedang bermain dan menendang bola di luar. Ketika polisi berpatroli di sana dan bertanya mengapa mereka belum tidur dan masih bermain di luar rumah, mereka menjawab, “Belum tiba giliran kami untuk tidur, giliran kami adalah pukul 4 nanti.” Karena giliran tidur belum tiba, mereka pun bermain di luar.

Bagi kita, kedengarannya anak-anak ini santai saja menjawabnya, karena mereka memang sejak lahir terbiasa hidup di lingkungan yang demikian. Tetapi, sulit bagi kita untuk membayangkannya. Mereka yang bekerja di siang hari akan tidur di malam hari, sedangkan yang bekerja pada malam hari akan tidur di pagi hari. Dan giliran tidur ini harus diatur tepat sebanyak 3 sif. Orang dewasa hidup demikian, begitu pula dengan anak-anak. Anak-anak ini tidak bersekolah. Kebutuhan pokok saja sulit terpenuhi, bagaimana mereka bisa bersekolah? Setelah mendengar relawan menggambarkan pola hidup warga setempat, hati saya menjadi sedih. Bagaimana cara membantu mereka? Warga di sisi rel kereta itu sama sekali tidak mempunyai hak milik tanah. Terlebih lagi, mereka berkeras datang ke kota metropolitan untuk mengadu nasib. Mereka tidak punya kendaraan sehingga harus tinggal dekat kota dan memilih tinggal di sisi rel kereta sehingga memilih tinggal di sisi rel kereta yang begitu berbahaya.

Seperti yang kita dengar, setiap menitnya ada satu kereta yang lewat. Jarak mereka dari rel kereta kira-kira hanya satu meter. Mereka berlalu-lalang di atas rel, sungguh berbahaya. Tetapi, demikianlah kehidupan mereka, benar-benar memprihatinkan. Di sana ada beberapa pengusaha yang membawa serta istri mereka mengunjungi para warga kurang mampu ini, dan ada yang berkata kepada istrinya, “Jika kamu sedikit mengurangi membeli baju, maka uangnya bisa menghidupi orang-orang ini selama setengah tahun.” Para istri ini saling bertatapan dan bersama-sama menjawab, “Saya tahu maksudmu.” Ya, kita memang harus melihat langsung, baru bisa menyadari kenyataan yang ada. Di sini para istri ini langsung menyadari bahwa hanya dengan mengurangi membeli 1 stel baju, mereka sudah bisa membantu orang-orang itu selama setengah tahun. Mengapa harus saling membandingkan kekayaan? cara pikir kita harus benar, tidak perlu membanding-bandingkan. Membanding-bandingkan adalah penderitaan. Yang harus kita ketahui adalah bagaimana hidup secara wajar.

Kita harus senantiasa mengenal rasa puas. Selanjutnya adalah “konsentrasi benar”. Konsentrasi berarti pikiran kita harus teguh. Setelah memilih jalan hidup yang benar, jangan sampai pikiran ini goyah. Jika pikiran kita goyah, maka sayang sekali mengingat jalan ini sulit ditemukan. Jika pikiran kita goyah di jalan ini, maka kita akan dengan mudah meninggalkannya. Jadi, mengenai konsentrasi benar, umumnya orang menganggap konsentrasi benar hanyalah semata-mata duduk bermeditasi. Sesungguhnya, konsentrasi benar berarti menjaga keteguhan pikiran tidak membiarkan hal-hal duniawi yang mungkin tidak sesuai harapan menggoyahkan kemurnian pikiran kita; juga tidak membiarkan nafsu keinginan duniawi menggiring kita ke arah yang menyimpang. Para bijaksana zaman dahulu berkata, “Memikul kayu bakar, membawa air, dan segala aktivitas adalah Zen.” Konsentrasi meditatif seharusnya ada// dalam segala aktivitas sehari-hari. Jadi, jika kita semua dapat sungguh-sungguh memanfaatkan hidup kita ini untuk mempelajari ajaran Buddha sesuai dengan tahapan-tahapannya, maka saya rasa di Jalan Bodhisattva ini, setiap orang akan berjalan dengan mantap. Ada 37 faktor dalam mencapai pencerahan, yakni Empat Landasan Perenungan, Empat Landasan Keberhasilan, dan Jalan Mulia Beruas Delapan. Seluruhnya berjumlah 37 faktor.

Jika setiap faktor tersebut dapat kita pahami dengan jelas, dan kita hidup sesuai dengan norma, maka tekad kita dalam melatih diri akan kokoh. Jadi, di awal kita sudah membahas// Empat Sifat Luhur dan Enam Paramita. Empat Sifat Luhur kita tahu, disebut juga Empat Pikiran Tanpa Batas, yakni cinta, welas asih, sukacita, keseimbangan batin. Kita harus memiliki cinta kasih, juga harus memiliki welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Inilah Empat Pikiran Tanpa Batas. Sedangkan Enam Paramita meliputi dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Enam Paramita ini harus kita praktikkan. Jika ingin menjadi Bodhisattva, kita harus mengembangkan Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita. Inilah Bodhisattva. Kemudian,// 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan membantu kita//meneguhkan Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita yang kita kembangkan. Ke-37 faktor dan pedoman hidup ini berguna untuk membantu dan mendukung pencapaian kita. Dalam melatih Empat Pikiran Tanpa Batas//dan Enam Paramita, jika kita mampu mempraktikkan 37 faktor dan prinsip ini, kita pasti akan berhasil. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, kita harus bergembira melihat tubuh Buddha karena tubuh Buddha adalah tubuh Dharma.

Setiap orang pada hakikatnya memiliki tubuh Dharma yang sama dengan Buddha karena semua makhluk pada hakikatnya//setara dengan Buddha. Di mana letak kesetaraan itu? Di dalam hati. Setiap orang memiliki hati Buddha, yaitu hati yang murni. Tubuh Dharma yang suci adalah kebijaksanaan. Oleh karena itu, jika kita ingin mencapai tingkat kebijaksanaan murni ini dan mencapai tubuh Dharma seperti Buddha, maka 4 Pikiran Tanpa Batas dan 6 Paramita mutlak harus kita kembangkan secara bersamaan. Demikian pula dengan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Inilah yang disebut “Bergembira melihat tubuh Buddha”. Kita harus gembira, penuh bakti, dan hormat terhadap tubuh Buddha, karena tubuh Buddha adalah manifestasi tubuh Dharma, yaitu kebenaran. Ini terealisasi berkat// pahala dan kebijaksanaan yang tak terhingga yang merupakan buah dari praktik Enam Paramita, Empat Pikiran Tanpa Batas, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan.

Saudara sekalian, kita harus bersungguh-sungguh. Sesungguhnya, pelatihan diri sangat sederhana, tidak sulit sama sekali asalkan dalam kehidupan sehari-hari kita sungguh-sungguh membawa manfaat melalui tindakan dan ucapan kita, senantiasa sadar dalam segala ucapan, hanya mengatakan hal-hal yang bermanfaat, dan dalam melakukan segala sesuatu, juga senantiasa teguh pada arah yang benar. Jika kita bersungguh-sungguh dalam segala hal, maka segala perbuatan kita tak akan menyimpang. Jadi, marilah bersungguh-sungguh setiap saat.

Leave A Comment