Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 059 – Jalan Mulia Beruas Delapan Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari pasti memiliki titik awal. Awal dari setiap hari tersebut haruslah kita hargai dengan mensyukuri kehidupan yang kita miliki. Seperti yang Buddha ajarkan pada kita, hidup hanyalah sebatas tarikan napas. Jika dalam hidup ini kita dapat bernapas dengan lancar, dapat menarik dan mengembuskan napas dengan leluasa, berarti kita masih hidup dan sehat. Karena itu, saya sering berkata bahwa setiap pagi, saat bangun dan membuka mata, saya akan menggerak-gerakkan tangan dan kaki saya. Mendapati bahwa selain dapat bernapas leluasa, kaki dan tangan saya masih dapat digerakkan, saya pun merasa bersyukur bahwa hari ini masih sehat dan dapat memulai hari baru dalam hidup ini. Jadi, kita harus sungguh-sungguh memahami di mana letak nilai kehidupan. Buddha mengajar kita dengan tuntunan terampil penuh kesabaran. Noda batin makhluk hidup sangat banyak, dikatakan ada 84.000 jenis, bahkan tak terhingga, dibutuhkan metode yang tak terhingga pula untuk mengatasinya. Dapat kita lihat betapa kerasnya usaha Buddha membimbing semua makhluk.

Saudara sekalian, kita harus selalu bersyukur. Itulah sebabnya saya sering mengatakan, “Dharma bagaikan air.” Kekotoran batin yang begitu banyak ini// seperti noda. Dengan apa noda yang banyak ini dapat dibersihkan? Dengan air. Hanya air yang dapat membersihkan noda. Dengan apa noda batin makhluk hidup Dengan Dharma. Hanya Dharma yang dapat mengatasi// noda batin makhluk hidup. Karena itu, Buddha membabarkan banyak ajaran untuk mengatasi noda batin kita. Kita pun harus sungguh-sungguh menerima dan meyakini Dharma seperti pasien yang menerima pengobatan. (Ada teks) 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan meliputi Empat Landasan Perenungan, Empat Usaha Benar, Empat Landasan Keberhasilan, Lima Akar dan Lima Kekuatan, serta Tujuh Faktor Pencerahan. (Ada bentuk teks) Berikutnya adalah Jalan Mulia Beruas Delapan. Sejauh ini, kita telah membahas pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, dan perbuatan benar. Mengenai perbuatan benar, perbuatan sama dengan karma. Semua perbuatan kita adalah benih yang akan tertanam dalam kesadaran, yaitu benih yang akan tertanam//pada kesadaran kedelapan.

Dalam Sutra Bodhisattva Ksitigarbha juga dikatakan bahwa setiap ucapan maupun tindakan semuanya menciptakan karma. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa bahwa kita harus sadar dan mawas diri dalam menjaga setiap niat pikiran yang muncul dan perbuatan yang kita lakukan. Panjang pendeknya usia seseorang tidaklah penting, yang terpenting adalah dalam kehidupan sehari-hari apakah tubuh dan pikiran kita menciptakan karma baik ataukah karma buruk. Demikianlah, sepanjang kehidupan ini kita selalu menciptakan dan menumpuk karma. Mungkin dalam hidup kita mendapat banyak uang dan mempunyai banyak harta, namun itu semua tak dapat dibawa mati. Yang dapat kita bawa hanyalah// benih karma yang telah kita tanam. Benih karma itulah yang akan kita warisi. Jadi, terhadap karma ini, kita harus waspada dan takut— takut jika tanpa sengaja berbuat karma buruk, benih ini akan terus terbawa ke kehidupan berikutnya. Namun, kita harus sangat menghormati kekuatan karma ini, karena berkat kekuatan itu pula kita mempunyai kesempatan untuk terlahir sebagai manusia dan mengenal ajaran Buddha, hingga kita memperoleh kesempatan untuk menciptakan berkah.

Kita harus benar-benar menghormatinya. Dharma yang dibabarkan oleh Buddha dapat diwariskan sampai sekarang hingga kita dapat mempelajarinya. Untuk ini, kita pun harus menghormati kekuatan karma. Karena itu, setiap hari kita harus// mawas diri dan bersungguh-sungguh. Orang yang memiliki berkah memiliki kemampuan bersumbangsih yang besar. Sekelompok pengusaha di Indonesia memiliki akses untuk bertemu presiden sekaligus menghimpun kekuatan masyarakat. Dengan kekuatan ini, mereka bersumbangsih dan memengaruhi keseluruhan negara, karena cinta kasih sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan niat baik ini, yang memiliki kemampuan dan niat baik ini telah menghasilkan sebuah kekuatan besar. Inilah contoh pengaruh dari perbuatan. Bila tindakan kita benar dan bajik, maka kekuatan karma kita ini akan membawa berkah bagi banyak orang. Sebaliknya, jika tindakan menyimpang dilakukan oleh mayoritas orang, kekuatan karma yang tercipta juga sangat besar, dapat membawa kehancuran dan musibah bagi negara, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri.

Karena itu, perbuatan haruslah lurus dan benar. Kita semua harus bersungguh-sungguh. Berikutnya adalah “penghidupan benar”. Ini berkaitan dengan cara hidup kita. Demi mengejar kehidupan yang baik, banyak orang yang menciptakan karma buruk. Karena itu, dikatakan bahwa masalah terbesar bagi manusia adalah karena memiliki tubuh ini. Dengan adanya tubuh ini, manusia merasakan berbagai sensasi. Lahir dengan memiliki tubuh ini, ketika melihat bahwa orang lain memiliki nama baik, kekayaan, dan kedudukan adakalanya kita merasa iri hati dan menginginkan hal yang sama. Akibatnya, manusia melakukan banyak perbuatan yang adalakanya tidak benar. Semakin panjang kehidupan orang itu, karma buruk yang diciptakannya semakin banyak. Mata pencaharian yang tidak benar akan membuat seseorang semakin terjerumus. Ia akan jatuh dalam penghidupan yang keliru. Namun, jika kita meyakini ajaran Buddha, kita harus berpaling ke arah yang benar. Baik dalam hal mata pencaharian maupun dalam melakukan berbagai hal, kita harus selalu memilih jalan yang lurus. Ada orang mencari nafkah dengan menipu dsb, itu adalah perbuatan yang salah.

Bekerja keras demi memenuhi kebutuhan// memang baik, namun kita harus memilih pekerjaan// yang  lurus dan patut. Memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang benar atau usaha yang patut adalah jalan yang seharusnya kita pilih. Memilih jalan yang menyimpang// hanya demi mencari nafkah adalah suatu kesalahan besar. Penghidupan benar berarti dalam menyokong kehidupan kita ini, kita harus menggunakan cara yang benar// dan tidak melakukan pelanggaran. Ada orang yang hidup di tengah perjudian ataupun lotre, terus berharap bisa menang dan mendapat uang hingga kehilangan arah dalam hidupnya sendiri. Kehidupan seperti ini benar-benar sia-sia dan merugikan diri sendiri. Maka, kita harus menjalani kehidupan dengan benar dan lurus tanpa penyimpangan sedikit pun. Di dunia ini, ada yang umurnya sangat panjang ada juga yang sangat pendek. Jika ada yang mati muda, orang berkata, “Ia meninggal terlalu muda.” Sesungguhnya, kita harus memahami bahwa selalu ada orang yang meninggal//bahkan di usia lebih muda. Karena sangat mencintai hidupnya, ada orang yang ketika jatuh sakit menjadi sangat takut mati hingga tak dapat menerima kenyataan.

Ada sebuah Drama Da Ai tentang Rumah Sakit Tzu Chi Dalin yang mengisahkan kejadian nyata di rumah sakit. Ada berbagai macam pasien dengan beragam sifat dan penyakitnya, serta beragam kondisi hubungan mereka dengan keluarga. Namun, yang paling nyata terlihat adalah kebanyakan masyarakat pedesaan masih percaya takhayul. Jika sakit, mereka akan meminta petunjuk dewa. Kadang kala, si perantara memberi tahu, “Jangan menjalani operasi pada bulan ini,” “Jangan bepergian ke arah itu,” “Anda harus meminum obat ini untuk sembuh.” Obat yang dimaksud adalah abu dupa, air jimat, dan sebagainya. Akibatnya, sering kali saat yang tepat// bagi pengobatan menjadi tertunda. Di sana hal seperti ini sering terjadi. Anda dapat menemukan kasus-kasus demikian Bukan hanya di daerah pedesaan, hal ini juga dapat dijumpai di Hualien, dan bukan hanya di Hualien, saya rasa bahkan di setiap rumah sakit besar. Bahkan orang yang berpendidikan tinggi pun bisa jadi tidak memiliki pemahaman yang benar tentang hidup. Hanya demi mempertahankan kehidupan ini, mereka mengikuti berbagai cara takhayul dan tidak dapat menerima kondisi penyakit mereka sehingga pengobatan pun akhirnya tertunda. Banyak orang mengatakan, lebih baik bernasib baik daripada berusia panjang.

Nasib seperti apakah yang terbaik? Kehidupan di jalan yang benar, itulah nasib yang terbaik. Segala sesuatu tak akan dapat dibawa mati, hanya karma yang terus mengikuti. Dalam kehidupan ini, kita mengenal ajaran Buddha. Inilah berkah yang tertinggi. Setelah mengenal ajaran Buddha,// kita dapat mempraktikkannya secara nyata di dalam Jalan Bodhisattva, inilah kehidupan yang paling beruntung. Kita dapat mempraktikkan ajaran Buddha sehingga nilai kehidupan kita ini tidak hanya dirasakan oleh kita sendiri, melainkan dapat diperluas hingga dapat dirasakan oleh banyak orang, berguna bagi masyarakat, dan bagi negara. Inilah orang yang sungguh beruntung. Dapat berumur panjang tentu adalah hal yang baik, namun umur panjang yang tanpa makna juga tidaklah berguna. Buddha mengatakan pada kita bahwa makhluk awam selalu membedakan fase hidup. Setelah satu kehidupan ini berakhir, maka kita akan menjalani kehidupan berikutnya, dan setelah kehidupan berikut tersebut usai, akan dilanjutkan dengan kehidupan yang lain lagi. Oleh sebab itu, saya sering mengatakan, “Kelahiran adalah titik mula kematian, dan kematian adalah awal dari kelahiran.” Inilah yang dimaksud fase kehidupan, dilalui satu demi satu.

Saat satu tahap kehidupan dimulai, berarti pada beberapa puluh tahun kemudian, suatu hari kehidupan ini pasti akan berakhir. Dan di hari kehidupan ini berakhir, dapat dipastikan bahwa akan ada awal kehidupan yang lain. Karena itulah disebut tumimbal lahir, lahir dan mati, mati dan lahir kembali, berulang dan berulang lagi, menjadi satu siklus tanpa akhir. Siklus ini adalah hukum alam semesta, namun penderitaan yang timbul di dalamnya berasal dari noda batin kita sendiri. Karena itu, saya mengatakan bahwa orang bijak yang terbebas dari noda batin akan meninggal dengan damai, sementara yang merasa menderita justru orang terdekatnya yang tak rela melepas. Tetapi, jika orang yang ditinggalkan dapat melihat kematian dengan bijaksana dan menjadikannya kesempatan// untuk menyelami makna kehidupan serta merenungi ketidakkekalan hidup, maka setiap kali menyaksikan seseorang meninggal dunia, kita pun semakin menyadari sifat kehidupan yang tidak kekal ini. Inilah yang disebut kebijaksanaan.

Kita dapat melihat ketika orang yang terkenal, kaya, dan berkedudukan meninggal dunia, kaya, dan berberkedudukan meninggal dunia, adakah yang dapat dibawanya pergi? Tidak ada sesuatu pun yang dapat dibawa. Bukankah ini menunjukkan bahwa tiada yang dapat dibawa selain karma kita? Kita melihat banyak sekali orang berhati mulia yang mengabdikan hidup mereka untuk kepentingan banyak orang, dan meskipun mereka telah meninggal, banyak orang yang tetap mengenang budinya. Ada orang yang mengatakan, “Saya ingin menjalani hidup dengan meninggalkan kesan yang baik dan menjadi kenangan indah bagi orang lain.” Betapa indahnya! Contohnya seorang komite kita, Ci Ying. Begitu saya menyebut nama ini, saya yakin dalam benak setiap orang timbul ingatan tentang seorang Bodhisattva yang penuh energi, bersemangat, dan cantik. Tujuh tahun terakhir dalam kehidupannya sangatlah gemilang dan indah. Segala sesuatu membutuhkan sebab dan kondisi. Ada orang yang jodohnya matang ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, tetapi ada juga yang jodohnya baru matang ketika sedang mengalami kesulitan atau cobaan. Ci Ying termasuk yang menyadari kebenaran sejati kehidupan di saat mengalami penderitaan dalam hidupnya. Ia terjatuh dari atap rumahnya hingga tulang pinggul dan tulang lainnya patah.

Selama tiga bulan ia tak dapat bergerak. Kita dapat membayangkan betapa menderitanya ia pada masa itu. Pada waktu itu, kakak perempuannya di Taiwan yang sudah bergabung dengan Tzu Chi dan telah menjadi seorang komite Tzu Chi, seorang Bodhisattva Tzu Chi, segera berangkat ke Amerika Serikat ketika mendengar adik perempuannya terluka. Ia memberi Ci Ying kaset rekaman ceramah saya. Di sana, sembari merawat adiknya, ia menemaninya mendengarkan rekaman itu. Sebelum kejadian tersebut, saat Ci Ying masih sehat, kakaknya pernah mengajaknya untuk ikut dalam kegiatan Tzu Chi. Tetapi, Ci Ying selalu menjawab, “Kamu dapat mengikuti kegiatan Tzu Chi karena kamu punya waktu luang, kamu punya uang.” kamu punya uang,” dan banyak lagi alasan lain yang ia ungkapkan. Tetapi, pada masa sakit, ia baru menyadari bahwa waktu ketika orang masih dapat berbuat banyak sangatlah berharga. Kehidupan manusia tidaklah kekal. Hanya karena sedikit kelalaian, ia pun terluka dan didera rasa sakit yang hebat.

Dari kaset rekaman tersebut ia mendengar saya berkata, “Kalian semua memiliki keluarga dan karier, sementara saya tidak memiliki apa pun selain nyawa saya ini.” Perkataan itu membuatnya sadar bahwa ia memiliki keluarga dan usaha hingga seharusnya mampu untuk bersumbangsih. Namun, saya tidak mempunyai apa-apa. Saya hanya memiliki nyawa ini, sehingga saya hanya dapat memberikan hidup saya ini bagi semua makhluk. Setelah mendengar perkataan ini, ia tersadarkan dan dengan cepat meresapinya. Dokter memintanya beristirahat selama 6 bulan, tetapi dalam waktu 3 bulan, ia pulang ke Taiwan dan datang menemui saya. Sejak saat itu ia, suaminya, juga anak-anaknya sekeluarga bergabung dengan Tzu Chi dan berjalan di Jalan Bodhisattva. Kisah hidupnya sangat panjang bila diceritakan, tetapi saya telah meminta relawan kita untuk menyusun kisah hidupnya menjadi alur cerita yang baik dan memasukkannya dalam Kitab Sejarah Tzu Chi yang abadi. Meskipun telah meninggal, ia meninggal dengan penuh berkah.

Dalam 7 tahun terakhir di Tzu Chi, ia menciptakan banyak berkah. Sejak kembali dari Taiwan ke Amerika Serikat, ia bergabung dengan Tzu Chi di sana dan mengunjungi 15 negara// dalam misi bantuan internasional. Ia telah pergi ke 15 negara dengan warna kulit yang berbeda, suku bangsa yang berbeda, dan agama yang berbeda. Di 15 negara ini ia bersumbangsih dengan penuh sukacita, dan membangun jodoh baik serta menciptakan berkah. Saya yakin bahwa benih berkah ini telah tertanam dalam kesadaran kedelapannya dan berbuah dengan baik. Saya yakin dalam kehidupan berikutnya, ia akan dipenuhi berkah dan kebijaksanaan, dan segala harapannya akan terwujud. Dan kelak, ia pasti menjadi salah seorang Bodhisattva yang termuda. Kehidupannya kali ini di Jalan Bodhisattva akan berlangsung lebih lama, dan sejak terlahir di dunia, ia dapat menginspirasi kedua orang tuanya dan membawa manfaat bagi umat manusia.

Coba bayangkan, ia akan memulai kehidupan yang lebih baik, kita harus turut berbahagia baginya dan mendoakannya. Meskipun ia meninggal di umur 50 tahun, namun jiwa kebijaksanaannya tumbuh pesat dalam tujuh tahun terakhir masa hidupnya. Jiwa kebijaksanaannya tumbuh indah di Tzu Chi dan berkembang sempurna. Inilah makna kehidupan yang indah. Jadi, kita hendaknya merenungkan cara menciptakan kehidupan yang beruntung. Kehidupan yang beruntung tergantung pada perbuatan kita sendiri. Saya sering berkata, kehidupan yang panjang namun sangat sempit dan sangat dangkal tidaklah berguna, hanya menambah karma buruk. Kehidupan kita haruslah luas dan lapang. Tak hanya itu, kita juga harus membuatnya bermakna dalam dan memilki fondasi yang kokoh. Kita sungguh harus menyelami makna kehidupan kita yang sesungguhnya. Untuk itu, semua harus selalu bersungguh hati. Sulit terlahir sebagai manusia. Kini setelah terlahir sebagai manusia, jangan biarkan semata-mata demi bertahan hidup kita kehilangan hakikat sejati yang murni. Jadi, mengenai kehidupan, sebagai manusia,// harus kita gunakan sebaik-baiknya. Kita semua harus lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment