Sanubari Teduh – 063 – Kekekalan dan Ketidakkekalan
Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi di waktu ini kita merasakan suasana yang sama. Meski sama-sama disebut pagi hari, namun waktu yang sama tak pernah kembali. Pagi hari ini bukanlah kemarin. Pagi hari esok juga tidak sama dengan pagi hari ini. Demikian pula, segala sesuatu di dunia ini telah mengalami proses perubahan— terbentuk, berlangsung, berubah, lenyap. Tubuh manusia juga mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Ini menunjukkan bahwa unsur-unsur pembentuk berproses dalam tingkatan yang sangat halus baik pada makhluk hidup maupun bukan. Dengan kata lain, mengalami prinsip kebenaran yang sama, terus terkena proses perubahan, tiada yang tidak berubah. Inilah ajaran Buddha pada kita. Namun, orang awam dan praktisi spiritual memiliki cara pandang yang berbeda. Orang awam tentu saja tidak menerima ajaran Buddha dan terus terjebak dalam kelahiran kembali. Mereka mengikuti pengaruh masyarakat dan tidak menerima ajaran Buddha.
Karena itu, mereka melekat pada berbagai fenomena di dunia. Mereka melekat pada pandangan kekekalan. Ketika Buddha mengajarkan ketidakkekalan, makhluk awam malah percaya pada kekekalan. Di dunia ini, adakah kebahagiaan sejati? Buddha juga mengajarkan kita bahwa karena tidak kekal, maka tiada sesuatu pun yang menjadi milik kita. Apa yang bisa membawa kesenangan? Pada zaman dahulu, Kaisar Ming dari Dinasti Tang memandang ke bawah dari Gunung Taishan dan melihat wilayah kekuasaannya yang luas serta pemandangan yang sangat indah. Ia pun bergumam, “Andaikan manusia tidak perlu mati, alangkah baiknya.” “Aku memiliki daerah kekuasaan yang luas.” “Jika aku dapat hidup abadi, daerah ini akan selamanya menjadi kekuasaanku.” Seorang menteri di sampingnya pun berkata, “Yang Mulia, jika manusia dapat hidup abadi, maka kaisar hari ini bukanlah Yang Mulia.” “Ah, benar juga.” Di dunia ini, semua orang mengalami kelahiran dan kematian. Pergantian penguasa adalah hal yang pasti terjadi karena demikianlah hukum alam. Sesungguhnya, apakah sungai, gunung, dan tanah bersifat kekal? Apakah semua itu akan selamanya sama? Saya yakin pemandangan yang dilihat Kaisar Ming di atas Gunung Taishan kini sudah berubah dan tidak lagi sama.
Jadi, kehidupan tidaklah kekal, dan segala sesuatu tidak selamanya indah. Tiada sesuatu pun yang tak akan berubah. Lalu apakah yang membawa kesenangan? Tidak ada. Namun, makhluk awam percaya sebaliknya. Mereka mencari kesenangan. Lihat, banyak yang menjalani pola hidup salah dan hanya bersenang-senang sepanjang malam tanpa pernah sadar. Betapa banyak orang tua yang mencemaskan anak-anak mereka. Betapa banyak istri yang mengkhawatirkan suami mereka. Demikianlah kegelapan batin makhluk awam. Meski memiliki keluarga yang bahagia dan orang tua yang sangat mengasihi mereka, namun para anak muda malah mudah terpengaruh kondisi luar. Mereka bergaul dengan beberapa teman, dan setelah terpengaruh, mereka mulai melupakan orang tua. Orang tua yang mengasihi mereka terus menanti, namun mereka lupa. Bahkan ada yang sudah berkeluarga, memiliki istri dan anak yang baik, namun masih pergi berselingkuh atau mencari kesenangan di luar.
Mereka melupakan keluarga di rumah. Dahulu, mereka amat mencintai pasangan. Setelah membangun keluarga dengan tidak mudah dan sudah mempunyai anak-anak yang baik, hanya dalam beberapa tahun, mereka mulai lupa akan segala harapan, cita-cita, dan kerja keras mereka dalam membangun keluarga. Mereka telah disesatkan oleh pengaruh kondisi luar dan tidak berpikir untuk pulang. Demikianlah mereka diliputi kegelapan batin. Apakah kebahagiaan yang sesungguhnya? Kehidupan yang damai, stabil, dan normal barulah kebahagiaan sesungguhnya di dunia. Namun, banyak orang menganggap kebahagiaan dapat ditemukan dengan mengumbar kesenangan. Jadi, sesungguhnya keluarga juga bukanlah yang dapat kita miliki selamanya. Apalagi, banyak orang menganggap kekayaan keluarga dapat bertahan selamanya, bahkan ada yang gemar mencari kesenangan di luar dan lupa diri. Kegelapan batinnya pun semakin tebal.
Inilah yang disebut makhluk awam. Mereka terbuai dalam kesenangan. Buddha sering mengingatkan kita tentang banyaknya penderitaan di dunia. Sungguh, jika kita membuka pandangan kita, terlihat begitu banyak orang yang menderita dan hidup dalam kekurangan materi maupun kekurangan kasih sayang. Banyak sekali. Banyak juga petani yang kekurangan air atau pabrik yang kekurangan listrik. Dalam kehidupan kita, bahkan masyarakat yang kaya pun//masih merasakan kekurangan. Kekurangan adalah penderitaan. Terlebih lagi,//negara-negara yang dilanda bencana baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia. Karena sering terlibat dalam kegiatan sosial melalui misi amal dan misi pengobatan, kita dapat sungguh-sungguh merenung. Setiap hari kita dapat mendengar banyaknya ratapan penderitaan. Betapa banyak orang di seluruh dunia yang kelaparan akibat kekeringan, betapa banyak orang yang hidup kekurangan dan yang miskin sekaligus sakit. Sungguh banyak. Lalu, di manakah kebahagiaan? Sesungguhnya, tidak ada. Begitu banyak bencana di dunia ini.
Karena itu, kita harus//selalu meningkatkan kewaspadaan dan tidak disesatkan oleh kondisi dunia maupun terbuai oleh godaan kesenangan duniawi. Berikutnya, tentang inti diri atau ”aku”, Buddha mengajarkan tentang “tanpa aku”. Manakah “aku” yang sesungguhnya? Apakah yang kemarin adalah “aku”? Ataukah yang besok barulah “aku”? Tubuh yang kita miliki ini senantiasa bermetabolisme dan berubah. Karena itu, kita mengalami lahir, tua,//sakit, dan mati. Anda yang dulu baru dilahirkan beberapa puluh tahun lalu, jika dilihat dalam foto,//apakah sama dengan yang sekarang? Lihatlah, foto bayi yang menangis saat lapar atau seorang anak kecil yang polos, apakah itu benar-benar kita? Setelah puluhan tahun berlalu, gambar di foto dengan kita yang sekarang sungguh berbeda. Bagaimanakah perubahan itu terjadi? Dari masa muda hingga masa tua, kapankah perubahan itu terjadi? Kita tidak menyadarinya. Sesungguhnya, kita berubah setiap detik. Perubahan ini tak pernah berhenti.
Selama kita adalah orang yang sehat, dan tubuh kita berada dalam keseimbangan, setiap saat kita akan mengalami metabolisme dan terus berproses. Jadi, inilah ketidakkekalan. Sesuatu yang terdekat dengan diri kita seperti kuku dan rambut sesungguhnya dapat kita rasakan. Dalam beberapa hari, kita dapat melihat bahwa kuku jari tangan dan kaki telah tumbuh menjadi lebih panjang tanpa kita sadari, dan harus kembali digunting. Rambut pun demikian. Proses perubahan ini tidak kita sadari. Jadi, di manakah “aku” yang sesungguhnya yang tidak pernah berubah? Karena tubuh ini senantiasa berubah mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa muda, setengah baya, hingga tua, lalu di manakah atau kapankah “aku” itu ada? Inilah “tanpa aku”. Setiap orang dilahirkan oleh ibu. Di Amerika Serikat, ada seorang ibu yang melahirkan bayi kembar enam. Setelah lahir, salah satunya meninggal dunia dan lima lainnya tumbuh sehat. Lima bersaudara ini lahir dari rahim yang sama, namun memiliki sifat yang berbeda-beda. Lihatlah, Sang ibu dan kelima anaknya memiliki pemikiran yang amat berbeda. Namun, bukankah kelima anak ini sama-sama berasal dari rahim sang ibu?
Namun, begitu pembelahan terjadi dan sel-sel mereka terus berkembang, maka seiring perkembangan ini, mereka menjadi semakin berbeda satu sama lain, sudah berbeda dari kondisi awal. Lalu, di manakah inti diri atau “aku” ini? RS Tzu Chi Hualien pernah memisahkan bayi kembar siam. Bayi kembar siam ini berasal dari Filipina. Mereka adalah anak dari seorang ibu muda yang baru pertama kali melahirkan. Kondisi ekonomi mereka amat sulit. Mereka tinggal di pedalaman. Sang ayah dinikahi oleh sang ibu. Begitulah tradisi di Filipina. Suami dinikahi terlebih dahulu, baru kemudian ia boleh membawa pulang istrinya. Pada akhirnya tetap pulang ke rumah suami, namun sang suami harus dinikahkan dan tinggal di rumah sang istri lebih dulu, baru boleh membawa pulang sang istri setelah beberapa waktu. Inilah tradisi mereka. Pasangan ini hidup di tengah kesulitan. Keluarga pasangan itu pun demikian.
Sang istri akhirnya mengandung dan melahirkan bayi kembar siam. Jika keluarga mereka adalah keluarga mampu, kembar siam ini dapat segera dibawa di RS untuk menjalani pemisahan. Namun, mereka tidak. Mereka tidak melakukan ini karena ekonomi keluarga yang sulit. Para relawan Tzu Chi di Filipina serta para anggota TIMA menemukan kasus ini. Amat sulit bagi insan Tzu Chi untuk menemukan tempat tinggal mereka. Sepasang orang tua ini pun sangat gembira saat mendengar kita ingin membantu. Namun, bagaimana mereka datang ke Taiwan? Kondisi ekonomi mereka sangat sulit. Insan Tzu Chi di Filipina mengadakan kontak dengan insan Tzu Chi Taiwan. Kita di Taiwan pun menunjukkan kepedulian. Asalkan mereka bersedia dibantu, maka kita akan membantunya.
Karena itu, kita amat bersyukur atas kerja sama Tzu Chi Taiwan dan Filipina. Dokter spesialis anak kita, dr. Peng beserta para kru Da Ai TV membawa mereka ke Taiwan. Bagaimanakah sesungguhnya kondisi keluarga mereka? Saat kru Da Ai TV berkunjung ke desa mereka, kendaraan mereka harus berhenti di suatu tempat karena di daerah pegunungan itu, sepanjang jalan banyak perampok. Jalan yang dilalui amat berbahaya. Di sana, insan Tzu Chi berusaha meminta bantuan warga setempat untuk menemukan dan melihat kondisi rumah mereka serta mewawancarai orang tua mereka. Kondisi keluarga mereka sungguh memprihatinkan. Kehidupan mereka sungguh sulit. Jadi, setelah melihat kasus ini kondisi kehidupannya amat sulit, kita pun berusaha membawa mereka ke Taiwan untuk dapat sungguh-sungguh merawat mereka dan membantu mereka menambah berat badan. Perut bayi kembar itu menempel. Setelah dipisahkan, organ dalamnya juga ada yang menempel. Selain harus organ dalamnya harus dibenahi, kulit manakah yang dapat digunakan//untuk menutup perut mereka?
Dengan kemajuan ilmu pengobatan, sejenis balon dipompakan di perut mereka untuk meregangkan kulit. Apakah itu cukup? Tidak cukup. Kita pun perlu memenuhi asupan gizi si kembar agar berat badan mereka bertambah karena sebelumnya mereka kekurangan gizi. Setelah dibawa ke Taiwan, kita harus memberi asupan gizi ekstra bagi mereka agar berat badan mereka meningkat. Suatu hari, di luar Aula Jing Si, aaya melihat sang ibu beserta si kembar. Mereka sangat menggemaskan, lebih lincah dan lucu dari sebelumnya. Kita mungkin berpikir karena mereka lahir sebagai kembar siam, maka pemikiran mereka juga sama, namun ternyata tidak. Sifat mereka berdua sangat berbeda. Yang satu sangat pendiam, sedangkan yang lainnya sangat suka bergerak. Keduanya tentu sungguh menggemaskan.
Saat kita mengulurkan tangan pada mereka, yang satu akan ikut mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan kita, sedangkan yang lainnya tidak. Begitu melihat orang, ia tidak bisa diam dan terus menggeliat. Meski mereka menempel satu sama lain, yang satu tetap suka menggeliat, sedangkan yang lainnya diam saja. Lihatlah, meski tubuh mereka menempel, namun di manakah “diri”? Ini sungguh menakjubkan. Kehidupan sungguh menakjubkan. Ada pula kasus kembar siam lain. Mereka adalah orang dewasa. Insan Tzu Chi telah beberapa kali//berkomunikasi dengan mereka. Sesungguhnya, dari foto mereka terlihat bahwa mereka hanya membutuhkan operasi sederhana. Namun, mereka memiliki pertimbangan sendiri, mungkin kesulitan finansial atau rasa takut.
Namun, masing-masing dari mereka tak akan luput dari proses lahir, tua, sakit, dan mati. Bagaimana jika salah satu jatuh sakit? Jika salah satu mengalami demam, yang lainnya harus bagaimana? Hal ini bukan tak pernah mereka alami. Jika yang satu menderita sakit perut, yang lain harus bagaimana? Tampaknya masalah kesehatan mereka semakin lama semakin banyak. Karena itu, saya berkata, “Jika salah satu meninggal lebih dulu dan yang lainnya meninggal belakangan, apa yang harus dilakukan jika mereka tidak dipisahkan?” Sudah saatnya melakukan operasi pemisahan. Melihat foto mereka, kemungkinan mereka berbagi saluran pembuangan.
Jadi, kakak beradik ini, yang satu bertanggung jawab buang air kecil, yang lain bertanggung jawab buang air besar. Ada dua orang dalam tubuh yang sama. Mereka berbagi satu tubuh yang sama. Karena berbagi organ tubuh yang sama, hidup mereka menjadi sangat sulit. Bagaimana cara menolong mereka? Dengan cinta kasih dan pelayanan medis, insan Tzu Chi di Filipina tidak menyerah dan terus membimbing mereka. Insan Tzu Chi mencoba memahami mereka, dan mereka berdua memiliki sifat yang berbeda. Insan Tzu Chi mengatakan bahwa dua orang ini telah hidup bersama selama lebih dari 30 tahun, namun memiliki pemikiran dan sifat berbeda. Yang satu amat pendiam dan gemar belajar, yang lain amat aktif namun tak suka belajar. Yang satu gemar mengenakan pakaian bermerk, sedangkan yang lain amat sederhana. Yang satu gemar bermain,//yang lain lebih pendiam. Intinya, perbedaan keduanya amat jelas. Saya juga mendengar Relawan Li berkata bahwa setelah memahami mereka lebih jauh, ternyata pada masa sekolah dahulu, yang satu sangat suka belajar dan sangat kutu buku, sedangkan yang lainnya tidak suka belajar.
Saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, yang suka belajar mendapat nilai tinggi, sedangkan yang lainnya tidak lulus. Lalu bagaimana? Ujian ini adalah ujian untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. tubuh yang lulus dan yang tidak lulus menempel. Bagaimana masalah ini diselesaikan? Akhirnya, sekolah memutuskan untuk menerima kedua-duanya. Jadi, yang lulus dan gemar belajar ini amat gembira, namun bayangkan, yang tidak gemar belajar juga terpaksa melanjutkan studi. Bayangkan betapa ia menderita. Meski hidup sebagai satu tubuh,//yang satu gemar belajar, sedangkan yang lainnya tidak, namun mereka tidak dapat dipisahkan. Sesungguhnya, di dalam tubuh ini, di manakah diri yang gemar belajar, dan di manakah diri yang tidak suka belajar? Ini membuat kita berpikir di manakah inti diri? Sungguh sulit dijelaskan. Saudara sekalian, Buddha mengatakan bahwa sesungguhnya tiada yang dapat disebut “aku”. Pun tiada yang suci dalam tubuh ini. Coba kalian pikirkan tentang tubuh ini. Saat kita berkunjung ke rumah sakit, coba renungkan tubuh siapakah yang suci dan bersih.
Terlebih jika kita mengamati ke dalam diri, sesungguhnya seberapa bersihkah tubuh kita? Tubuh kita juga tidaklah bersih. Kotoran yang kita buang setiap harinya sungguh berbau tidak sedap. Namun, jika pembuangan ini tidak lancar, maka akan menimbulkan penyakit. Lihatlah, hasil pembuangan ini sangat kotor dan akan menjadi penyakit jika tak dikeluarkan. Coba pikirkan, apakah tubuh manusia suci? Di tengah kebenaran akan tiadanya “aku” ini, makhluk awam malah melekat pada aku yang semu. makhluk awam malah melekat//pada aku yang semu. Karena itu, mereka sering berseteru. Perseteruan ini membawa malapetaka. Semua ini akibat pandangan keakuan. Tubuh yang tidak suci ini kita anggap sebagai sesuatu yang suci sehingga terus kita bela dan lekati. Dengan adanya tubuh ini, makhluk awam menciptakan banyak karma buruk. Demikianlah makhluk awam. Makhluk awam memiliki empat pandangan keliru. Empat pandangan keliru ini antara lain memandang yang tidak kekal sebagai kekal, memandang yang “bukan aku” sebagai “aku”, memandang kebahagiaan semu//sebagai kebahagiaan sejati, dan memandang yang tidak suci sebagai suci. Kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian merupakan kemelekatan yang keliru, disebut empat kekeliruan makhluk awam. Semoga semua dapat meresapi kebenaran dari empat hal yang sederhana ini. Ini adalah kebenaran sejati kehidupan. Mari semua senantiasa bersungguh-sungguh.