Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 064 – Kekekalan, Kebahagian, Aku, Kesucian

Saudara se-Dharma sekalian, saat kita sedang duduk dengan tenang, pernahkah merasakan bahwa pagi dan malam silih berganti tanpa henti, dan waktu terus berjalan? Pagi dan malam sambung-menyambung. Pergantian ini berlangsung siang-malam Pergantian siang dan malam ini terus berjalan seiring bergulirnya waktu. Jadi, adakah saat yang kekal di dunia? Semuanya sungguh tidak kekal. Semua makhluk hidup, waktu, dan cuaca di dunia berpadu dengan sangat tepat dan sesuai. Inilah yang disebut keselarasan. Waktu, musim, siang dan malam bergulir dengan begitu alami. Sesungguhnya keselarasan yang ada di alam semesta ini juga perlu ada pada setiap individu. Bagi setiap manusia, tubuhnya masing-masing merupakan sebuah semesta, yaitu dunia mikro pada tubuhnya sendiri. Dan dunia tubuh kita ini juga mengalami hal yang sama, tak henti-hentinya berproses dan berubah.

Jika semua dalam diri kita berpadu selaras, maka tubuh pun menjadi sangat sehat dan akan berproses mengikuti jangka waktunya. Tubuh fisik ini juga memiliki unsur waktu. Semua unsur dalam tubuh kita harus dapat berpadu dengan sesuai terhadap unsur waktunya. .Kondisi itulah yang disebut sehat. Sebaliknya, jika segalanya tak berpadu serasi, maka kita akan jatuh sakit. Kondisi sehat dan selaras ini, semuanya terdapat dalam rentang proses lahir, tua, sakit, dan mati, sama dengan perpaduan unsur di alam semesta yang juga mengalami fase terbentuk, berlangsung, rusak, hancur. Meski begitu, kita harus benar-benar menjaga tubuh agar segalanya berjalan selaras. Meski tubuh berproses mengikuti hukum alam, kita tetap harus sering memerhatikan agar unsur-unsur di dalamnya tetap selaras.

Karena itu, Buddha sering mengajarkan pada kita tentang hakikat kekekalan, kebahagiaan, inti diri, kesucian. Mengenai paham kekekalan, Buddha sebaliknya mengajarkan ketidakkekalan. Contohnya, tubuh kita ini. Dalam melewati hari demi hari, sesungguhnya adakah tubuh yang sama ini mengalami perubahan? Ada. Misalnya, tubuh kita yang sekarang berumur sekian puluh tahun, tentu sudah berbeda dengan tubuh semasa muda saat berusia 20-an tahun. Dari luar pun sudah tampak berbeda. Tubuh pada umur 20-an juga berbeda dengan saat berusia belasan tahun atau berumur tujuh, delapan tahun. Tidak sama lagi. Sama-sama disebut tubuh, tetapi tubuh kita ini terus mengalami proses metabolisme. Karena itulah kita harus mengerti hukum ketidakkekalan, bahwa sejak kita lahir sampai sekarang, pada alam semesta ini, juga pada tubuh kita sendiri tiada hari tanpa perubahan. Setiap harinya selalu berubah. Namun, makhluk awam justru menganggap ketidakkekalan, ilusi, dan perubahan ini sebagai kekekalan, sebagai kenyataan, dan keabadian. Karena inilah, dikatakan bahwa pemahaman terbalik terhadap kekekalan adalah pandangan makhluk awam. (Ada teks) Di dunia, adakah hal dapat disebut kebahagiaan? Sebenarnya tidak ada. Bila dipikirkan dengan jernih, sesungguhnya manusia hanya mengikuti kondisi senang, marah, sedih, dan gembira di luar.

Tidak ada kebahagiaan yang sesungguhnya ataupun sukacita sejati dalam hati kita. Setiap hari, dengan melihat dunia luar dan menerima segenap pengaruhnya, maka suasana hati kita terus berubah mengikuti kondisi tersebut dan semua ini bukanlah kebahagiaan sejati, karena segala hal di dunia ini selalu diliputi rasa senang, marah, sedih, dan gembira. Inilah hal-hal duniawi. Namun, makhluk awam tidak mengerti, akibat kemelekatan, mereka tetap bersikeras bahwa terdapat kebahagiaan. Mengenai ketanpaakuan, sungguh tiada “aku”. Demikianlah yang dikatakan oleh Buddha. Jika kita merenungkannya baik-baik, memang sungguh tiada aku. Di saat yang manakah “aku” ada? Bahkan di antara tubuh kita, apakah kepala ini yang disebut aku? Apakah kaki? Ataukah tangan? Ataukah mata? Atau mulut? Masing-masing bagian itu memiliki nama sendiri. Jika kita menyebut setiap bagian itu sebagai aku, maka akan menjadi kacau. “Aku” hanyalah sebutan bagi perpaduan bagian-bagian tubuh, namun setiap bagian tetap berdiri sendiri.

Seperti bumi ini, Taiwan adalah Taiwan, Tiongkok Daratan adalah Tiongkok Daratan, Amerika Serikat adalah Amerika Serikat, tetapi semua itu memiliki sebuah nama bersama, yaitu Bumi. Kita semua bersama-sama hidup di atas bumi ini. Bumi adalah dunia tempat kita hidup, nama umum tempat kita menggantungkan hidup. Bagi seorang manusia, berapa luas area bumi yang dapat ditempatinya? Saya sering berkata, setiap orang hanya memiliki sebuah mulut, berapa banyak nasi dan makanan yang dapat dimakannya? Tidak mungkin semua dimakan sendiri. Manusia harus mengikuti kodrat alami bahwa jumlah yang dibutuhkan tidaklah banyak. Hanya demi kesenangan sang aku, berapa banyak baju yang bisa dipakai sekaligus? Pada saat yang sama, bisa tidur di berapa kasur? Sesungguhnya seberapa besarkah “aku” ini? Benda-benda di dunia, seberapa banyakkah yang harus kita miliki? Inilah makhluk awam. Sesungguhnya, kita sangatlah kecil, namun kita malah ingin//menampilkan kebesaran diri, bahwa “aku” sangatlah besar. Sesungguhnya, setelah merenungi “aku” secara mendalam, tidak ada satu pun wujud “aku” yang sejati. Tidak ada. Buddha mengajarkan pada kita, makhluk awam melekat pada “aku” yang semu, sehingga menyebabkan timbulnya banyak kerisauan dan penderitaan.

Bencana dan kerusuhan akibat ulah manusia, bukankah tidak lain dikarenakan “keakuan”? Buddha pun mengatakan bahwa tiada yang suci, namun kita bersikeras bahwa segalanya suci. Lihatlah, alam manusia sungguh tidak bersih. Jika kita melihat para relawan daur ulang, kita pun akan melihat begitu banyak sampah dan sumber daya yang dapat didaur ulang. Sumber daya itu kebanyakan berkondisi kotor dan tidak dapat digunakan. Mengapa bisa begitu banyak jumlahnya? Bila kita melihat barang-barang ini saat kita menyukainya, kondisinya semua masih sangat bersih sehingga kita membeli dan membawanya pulang. Tetapi, beberapa lama kemudian barang-barang itu pun menjadi sampah. Dari barang yang kita gunakan sehari-hari kita dapat melihat ketidakkekalan. Begitu pun tubuh kita sendiri. Bila direnungkan baik-baik, 9 lubang tubuh sering mengalirkan kotoran. Pada tubuh seorang manusia terdapat 9 lubang. Perhatikanlah, di wajah saja sudah terdapat 7 lubang, ditambah 2 lubang lagi// untuk buang air kecil dan besar. Lihatlah, apa yang dikeluarkan dari dalam tubuh ini sangatlah kotor. Jadi, apakah ada yang bersih? Bila mencoba berkeliling di rumah sakit, Anda akan dapat lebih memahami hal ini. Jadi, tubuh ini saja sudah tidak bersih.

Demi tubuh yang tidak bersih ini, makhluk awam justru telah menciptakan banyak karma buruk. Demikianlah makhluk awam, menganggap yang tidak kekal sebagai kekal, melekat pada kebahagiaan yang semu, melekat pada keakuan di tengah ketanpaakuan, menganggap suci segala yang tidak suci. Inilah empat kekeliruan makhluk awam. Selain itu, ada// “empat kekeliruan dari dua kereta”. Dua kereta adalah// Sravakayana dan Pratyekayana. Sravaka muncul semasa Buddha masih hidup. Dengan telinganya sendiri, ia mendengar Buddha membabarkan Dharma. Setelah mendengar Dharma,// ia tersadarkan dan menjadi paham. Inilah yang disebut Sravaka, mereka yang memahami kebenaran// setelah mendengar Dharma dari Buddha. Metode pencapaian ini disebut Sravakayana. Pratyekabuddha adalah ia yang memahami 12 rangkaian sebab-akibat dengan memerhatikan fenomena dunia luar. Dari pergantian empat musim, ia mengamati proses yang berlangsung pada alam dan merenungkan 12 rangkaian sebab-akibat. Ia tidak lahir di masa Buddha masih hidup. Ia menggunakan kebijaksanaannya sendiri untuk mengamati pergantian empat musim, musim semi, panas, gugur, dan dingin, serta perubahan segala sesuatu di dunia.

Ia berusaha memahaminya. Ia mengamati proses// lahir, tua, sakit, dan mati pada manusia, juga memahami bahwa manusia mengalami proses lahir, tua, sakit, dan mati yang termasuk 12 rangkaian sebab-akibat. Di dalam lingkaran kelahiran kembali ini, ia mencapai kesadaran. Inilah Pratyekabuddha. Sravaka berpedoman pada apa yang dibabarkan Buddha untuk memahami Empat Kebenaran Mulia. Inilah Sravaka. Pratyeka berpedoman pada pergantian musim dan perubahan segala sesuatu di alam semesta untuk memahami 12 rangkaian sebab-akibat. Karena itu, ia disebut “yang tercerahkan sendiri”. Sravaka dan Pratyekabuddha, bagi makhluk awam, mereka adalah orang suci karena mereka memahami kebenaran. Namun, pemahaman mereka masih diliputi kemelekatan. Melekat pada hal apa? Melekat pada “tiada”. Buddha mengajarkan kita tentang jalan tengah, tak melekat pada kekosongan maupun keberadaan. Makhluk awam melekat pada keberadaan, sedangkan dua kereta melekat pada kekosongan. Buddha memberi tahu kita tentang kondisi keheningan Nirvana.

Jika dapat memahami ajaran Buddha, maka kondisi batin kita akan menyatu dengan Nirvana yang hening ini. Inilah kesejatian. Jadi, kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian yang sejati ada dalam kemurnian Nirvana ini. Namun, dua kereta melekat pada kekosongan. Karena itu, saat mempelajari Dharma, pasti ada rintangan, yaitu kemelekatan. Praktisi Sravakayana melekat pada kekosongan sehingga menutup diri dari dunia luar demi mengembangkan kesucian pribadi, dan bukan demi membantu orang lain. Buddha ingin kita tetap di jalan tengah. Kita harus memahami ketidakkekalan. Setelah memahami ketidakkekalan, kita akan dapat melihat jelas hakikat segala hal dan tak akan melekat pada hal duniawi. maka kita tak akan melekat pada hal duniawi. Misalnya, saya membaca sebuah surat dari Malaysia yang melaporkan sekelompok orang Tiongkok yang menyelundupkan orang ke negara lain, yaitu secara diam-diam memasukkan orang ke negara lain. Orang ini juga sering disebut sebagai perantara.

Saat akan memberi perantaraan, mereka berkata,// “Biar saya yang mengurus segala perantaraan, cukup berikan 50 ribu yuan agar saya dapat membantu Anda mengurus// surat untuk ke luar negeri dan membantu Anda memperoleh pekerjaan.” “Dengan begitu, di tempat itu nanti Anda bisa mencari nafkah dengan tenang, tetapi Anda harus membayar uang itu di muka.” Ada orang yang memercayainya. Di Tiongkok, orang yang hidup kekurangan biasanya bekerja setaraf buruh kasar, dan memang hidup sangat miskin. Bagi mereka, 50 ribu yuan sangatlah besar. Para petani di sana hanya memperoleh beberapa yuan per hari. Pikirkanlah, untuk mendapatkan 50 ribu yuan, tentu harus berutang, menjual sapi, atau menjual hasil panen. Nilai itu besar sekali. Mereka harus pelan-pelan mengumpulkannya. Hasilnya, banyak dari mereka yang dikirim ke Malaysia. Awalnya memang mereka mendapat pekerjaan sebagai buruh atau pembantu. Setelah bekerja selama 3 bulan, mereka hanya menerima gaji 1 bulan lebih, sekitar seribu ringgit. Bekerja 3 bulan hanya menerima 1 bulan gaji, sementara setelah lewat 3 bulan, mereka pun menjadi imigran gelap sehingga tidak lagi mendapat gaji, malah harus menghindari pemeriksaan polisi. Karena itu, bila sewaktu bekerja mereka mendengar ada pemeriksaan atau ada polisi yang datang, mereka akan cepat-cepat lari. Kadang mereka harus sembunyi di semak-semak hingga seluruh tubuh mereka penuh luka. Meski demikian, mereka tak berdaya.

Kalaupun ingin pulang, tidaklah mungkin karena mereka sudah tidak punya uang. Mereka menjadi imigran gelap di sana// dan juga tidak memiliki pekerjaan. Kalaupun dapat bekerja, gajinya sangat kecil, kadang bahkan tidak mendapat gaji. Para buruh ini akhirnya menjadi gelandangan. Di mana ada proyek pembangunan, di sanalah mereka bersembunyi sekaligus bekerja. Mereka bekerja sambil bersembunyi. Hingga suatu kali, para pekerja asing ini berkumpul bersama di sebuah desa kecil. Kelompok pekerja asing ini, selain datang dari Tiongkok, juga ada dari Indonesia, dan tempat lainnya, termasuk pula Filipina. Jadi, para buruh ilegal ini berkumpul di suatu tempat hingga menjadi permukiman pekerja asing. Kabar ini didengar dan diekspos oleh wartawan. Setelah insan Tzu Chi membaca kabar ini, mereka bertanya pada wartawan itu lokasi desa ini. Wartawan itu pun membawa insan Tzu Chi ke desa para buruh ilegal ini. Sungguh memprihatinkan. Tiada tempat tinggal, makanan, dan pekerjaan. Mereka hanya makan mi instan, bahkan ada yang tidak mampu makan mi instan.

Para insan Tzu Chi tidak tega melihatnya, sehingga mereka segera kembali lagi ke desa itu untuk memberikan barang kebutuhan seperti beras, minyak, garam, sayuran, buah, dll. Dalam waktu yang singkat, mereka kembali dengan membawa banyak barang. Para buruh ilegal ini sangat berterima kasih. Sudah lama mereka tidak melihat beras putih, tidak makan sayuran, apalagi buah-buahan. Kita dapat membayangkan kondisi waktu itu, pasti penuh sukacita dan penuh rasa syukur. Sejak saat itu, beberapa hari sekali, insan Tzu Chi pergi ke sana untuk mengantarkan bantuan agar kehidupan mereka sehari-hari bisa tenang. Bila ada dari mereka yang bersedia pulang ke negeri asalnya, insan Tzu Chi membantu biayanya dan membantu mengurus dokumen agar mereka bisa pulang. Dengan demikian, ada 30 orang lebih yang pulang bersama-sama ke Tiongkok. Dari sana mereka menulis surat untuk mengucapkan terima kasih pada yayasan ini. Saat mereka menanyakan nama insan Tzu Chi, semua menjawab, “Kami bernama Tzu Chi.” Setiap orang mempunyai nama yang sama, yaitu Tzu Chi. Insan Tzu Chi juga menjelaskan bahwa Tzu Chi berasal dari Taiwan, mengenalkan filosofi saya, dan menceritakan apa yang dikerjakan Tzu Chi di seluruh dunia. “Jika kalian bertanya pada kami siapa nama kami, maka nama kami adalah Tzu Chi.”

Jadi, setelah para buruh dari Tiongkok ini kembali ke negaranya, mereka menulis sebuah surat ucapan terima kasih. Saya pun sangat terharu membacanya. Saudara sekalian, selain para buruh dari Tiongkok, ada pula dari Indonesia, Filipina, dan banyak negara lain, sebagaimana di Taiwan juga terdapat banyak pekerja dari luar negeri yang disebut tenaga kerja asing. Kehidupan mereka di negeri asalnya sungguh sangat menderita. Mengapa mereka harus datang// untuk menderita di sini? Karena yang tidak benar dianggapnya benar. Di dunia terdapat sindikat seperti ini. Sindikat penipu ini memasang perangkap duniawi. Namun, para orang miskin berpikir, “Asalkan saya bisa sampai di sana, saya akan terbebas selamanya.” “Di sana saya bisa mendapatkan banyak uang.” Tetapi lihatlah, setelah kembali ke negaranya,// mereka masih harus mencari uang untuk melunasi utang 50 ribu yuan. Karena itu, dalam surat mereka menulis bahwa setelah kembali, mereka harus bekerja keras untuk melunasi utang pada waktu itu. di dunia ini ada begitu banyak keterbalikan. Lebih baik menjadi buruh di negeri sendiri, jikapun harus menderita, juga di negeri sendiri. Asalkan berusaha, pasti dapat meraih kebahagiaan, setidaknya bisa merasakan kebahagiaan keluarga. Tetapi, mereka malah pergi mengejarnya.

Apa yang mereka kejar? Kekekalan, kebahagiaan, keakuan, kesucian— menganggap ada yang kekal, membawa sukacita, memiliki “aku”, dan suci. Ia bersikeras bahwa segala sesuatu benar-benar ada dan nyata. Karena itu, ia pun berutang dan bersedia menderita. Sementara ada sekelompok insan// yang mengagumkan, mereka bernama Tzu Chi. Lihatlah,//mereka tidak mengatasnamakan diri sendiri, melainkan mengaku bernama Tzu Chi. Mereka bertindak sangat cepat. Pada hari yang sama setelah melihat kondisi buruh ilegal yang sangat memprihatinkan, mereka langsung pergi untuk membebaskan penderitaan para buruh ini. Lihatlah, bukankah ini adalah kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian? Karena hati mereka begitu bersih, mereka pun menganggap segala masalah di dunia sebagai masalah mereka.

Karena itu, bila hendak menyebut “aku”, haruslah “aku” yang luas. Kondisi “aku” yang luas ini adalah tingkat Bodhisattva. Ia telah menghapus 4 kekeliruan makhluk awam, juga empat kekeliruan dari dua kereta; menembus dualisme kekosongan dan keberadaan. Kedua hal tersebut, bila digabung// akan menjadi delapan kekeliruan. Kedua kereta melekat pada kekosongan, sehingga mereka berpendapat tiada kekekalan, kebahagiaan, aku, kesucian. Kondisi Nirvana mereka anggap sebagai ketiadaan. Yang mereka lakukan hanyalah melatih diri masing-masing. Tujuan pelatihan diri mereka adalah memurnikan diri sendiri. Karena itu, mereka tak mengejar tingkatan Buddha dan Bodhisattva, sebab bagi mereka semua itu tidak ada. “Adakah tingkatan yang lebih tinggi?” “Adakah tingkatan yang lebih tinggi?” “Tidak ada.” Jadi, mereka melekat pada kekosongan.

Makhluk awam menganggap semuanya nyata, sehingga demi mengejar segalanya, mereka banyak menderita. Bodhisattva tidak mengharapkan imbalan. “Karena melihat makhluk hidup menderita, maka aku bersumbangsih, hati pun menjadi tenteram, dan bersukacita.” Ketenteraman hati dan rasa sukacita ini adalah kondisi hati Bodhisattva. Apakah termasuk “ada”? Ya, ada. Setiap kali kita bersumbangsih tanpa mengharapkan apa pun, yang didapat hanyalah hati yang bersukacita. Jadi, Bodhisattva harus menghapus delapan kekeliruan. Delapan kekeliruan yang dimaksud adalah pandangan keliru makhluk awam dan dua kereta, yakni 4 kekeliruan atas keberadaan dan 4 kekeliruan atas kekosongan. Sesungguhnya, semua berkenaan dengan kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian. Jadi, harap kita semua setiap hari senantiasa mawas diri. Waktu tak hentinya berlalu, siang dan malam silih berganti. Waktu dan cuaca tak pernah bertahan selamanya. Begitu pula dengan tubuh kita. Harap semua senantiasa bersungguh-sungguh.

Leave A Comment