Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 065 – Berjalan di Jalan Tengah dan Bersumbangsih Tanpa Pamrih

Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan sehari-hari kita terasa amat datar tanpa sesuatu yang khusus. Sesungguhnya, itu berarti kita//berada dalam kondisi sehat dan penuh berkah. Makhluk awam berpandangan keliru. Mereka menganggap segala sesuatu di dunia bersifat kekal, membahagiakan, nyata, dan suci. Mereka melekat pada keberadaan dan membuat banyak pembedaan terhadap segala sesuatu di dunia. Karena itu, muncullah konflik dan perselisihan. Demikianlah makhluk awam. Sedangkan di antara praktisi spiritual, para Sravaka dan Pratyekabuddha hanya mencari kesucian pribadi. Mereka telah menembus kebenaran dan menyadari bahwa reputasi, keuntungan, keinginan, dll, semuanya bersifat kosong dan tanpa inti. Karena semuanya kosong, mereka berpikir, “Karena semua bersifat kosong, apalah yang hendak dicapai.” Bagi mereka, segala sesuatu adalah kosong. Inilah kekeliruan dua kereta. Kemelekatan terhadap keberadaan maupun kekosongan tidaklah bermanfaat bagi kita yang berlatih di jalan Buddha.

Karena dengan kemelekatan itu, kita tak akan mencapai kebuddhaan. Meski kita telah bertekad dan membangun ikrar, selamanya kita tak akan mencapainya. Karena itu, setelah berikrar, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva. Untuk melakukannya, kita perlu terjun ke tengah-tengah masyarakat dan bersumbangsih bagi orang banyak. Oleh karena itu, kita harus bersumbangsih tanpa pamrih dan senantiasa mendedikasikan diri. Karena sadar bahwa kita harus tanpa pamrih, dan memang tiada yang perlu dicari, maka sumbangsih kita adalah tanpa ekspektasi. Dengan demikian, kita tak akan melekat pada kekosongan. Kita telah memahami bahwa praktik dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, kebijaksanaan, semuanya adalah demi semua makhluk. Karena itu, kita harus berdana. Jika memiliki kemampuan seperti harta, maka ketika melihat orang lain menderita, kita harus bersumbangsih dan berdana. Dalam berlatih di jalan Buddha, kita juga harus menjalankan sila yang ditetapkan oleh Buddha, menunaikan kewajiban kita dengan baik, serta menaati peraturan. Dengan begitu, kita tak akan menyimpang dan selalu sejalan dengan norma. kita harus menyayangi diri sendiri.

Menaati sila berarti menyayangi diri sendiri. Kita juga harus melatih kesabaran. Di dunia ini, di mana-mana terdapat banyak perangkap. Dalam hubungan antarmanusia, tidak semua yang kita dengar//adalah yang ingin kita dengar. Yang kita lihat pun tak selalu yang kita suka. Karena itu, kita harus melatih kesabaran. Apa pun yang kita dengar, lihat, atau masalah apa pun yang kita temui, kita harus melatih kesabaran. Selain kesabaran, kita pun harus maju dengan penuh semangat. Karena kita telah bertekad maka tekad yang telah kita buat ini haruslah teguh. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus menggenggam saat ini dan mempertahankan niat baik yang timbul. Setelah bertekad, kita perlu mempertahankannya selamanya, barulah tekad ini tidak akan goyah dan kita mampu berjalan di Jalan Bodhisattva dengan teguh. Inilah ketekunan dan semangat. Dengan empat Paramita pertama tadi, barulah pikiran kita dapat tenang dan teguh. Dengan begitu, barulah kebijaksanaan muncul. Semua ini adalah metode pelatihan. Hidup di dunia ini, kita harus terjun ke tengah-tengah masyarakat, barulah berkesempatan untuk benar-benar memahami ajaran Buddha. Jadi, dunia ini adalah ladang pelatihan kita. Semua orang adalah jodoh pendukung kita. Pelatihan diri membutuhkan jodoh pendukung. Jodoh pendukung ini ada yang sesuai harapan, ada pula yang tidak.

Di tengah kondisi yang sesuai harapan, kita harus memperteguh tekad dan tidak terbuai oleh kondisi ini, dan tidak terbuai dalam kondisi ini, sedangkan dalam kondisi tak sesuai harapan, kita juga harus tetap teguh dan senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Intinya, dalam kondisi apa pun, segala yang kita hadapi di masyarakat merupakan pendukung pencapaian kita, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Dengan demikian, segala kondisi itu tidak akan membuat pikiran kita bergejolak. Baik dalam kondisi gembira maupun menderita, kita tak akan terpengaruh. Meski kita melihat begitu banyak ketidakkekalan, dan dikatakan bahwa tiada kebahagiaan sejati, juga tiada yang disebut “aku” yang sejati, namun jika “aku” memang tidak ada, bagaimana kita melatih diri? “Aku” tetaplah ada, namun “aku” di sini adalah “aku” yang luas, yakni yang merupakan satu kesatuan dengan semua makhluk di dunia.

Karena itu, saya sering berkata, kita turut merasa sakit saat orang lain terluka dan merasa iba saat orang lain menderita. Jadi, ini semua juga tak lepas dari “aku”. Yang dapat bersumbangsih dan memahami penderitaan makhluk lain juga adalah “aku”, hanya saja kita tak melekat pada keakuan ini. Dengan begini, kita baru dapat berjalan di Jalan Tengah. Jika kita dapat mempelajari ajaran Buddha dan menjaga kejernihan hati, maka segala sesuatu juga akan terlihat jernih. Lihatlah para relawan di RS Tzu Chi. Meski harus berhadapan dengan pasien yang tubuhnya mungkin kotor dan tidak bersih, namun karena cinta kasih dalam hati mereka, para relawan tidak merasa takut, melainkan sangat penuh sukacita. Saya teringat seorang relawan suatu hari mengunjungi kamar pasien dan melihat seorang kakek yang sendirian. Tubuhnya sangat kotor, namun ia tak mengizinkan perawat//memandikannya.

Saat relawan ini mengetahui bahwa kakek ini tak mau dimandikan oleh perawat, ia pun mulai berbincang dengan sang kakek dan bersabar menahan bau dari tubuh sang kakek. Ia bersabar menghadapi kotornya tubuh kakek. Namun, dalam hati ia terus berpikir, “Jika saya peduli, saya harus sabar.” “Segala sesuatu di dunia ini pada dasarnya memang tidak bersih.” “Saya harus bersyukur, beruntung ada kakek ini yang menyadarkan saya akan ucapan Master bahwa tiada yang bersih dan murni di dunia ini.” “Kakek ini, lewat tubuhnya yang berbau tidak sedap dan sangat kotor, menunjukkan bahwa tiada yang bersih di dunia.” Melalui perenungan akan ketidaksucian ini, relawan ini menyadari kebenaran dari kehidupan. “Bukan hanya kakek yang bertubuh kotor, saya sendiri pun begitu.” Dengan pola pikir demikian, relawan ini terus bertahan. Kemudian, dengan penuh kesabaran ia berbincang dengan sang kakek.

Pada awalnya kakek ini tidak memedulikan semua orang. Namun, berkat kesabaran relawan itu, sang kakek bersedia menceritakan perjalanan hidup, kondisi keluarga, dan hubungannya dengan kerabat-kerabatnya. Kakek itu mengungkapkan isi hatinya. Melihat sang kakek bersedia terus menceritakan kondisi keluarganya, relawan ini mengambil kesempatan untuk berkata, “Kakek, di dunia ini tiada sesuatu pun yang patut menjadi sumber kerisauan.” “Membesarkan anak adalah kewajiban.” “Tak perlu terlalu dipikirkan.” “Kita harus memanfaatkan waktu saat ini agar semua orang merasakan sukacita saat melihat kita.” Ia bertanya, “Bagaimana caranya?” “Saya sendiri tidak bahagia, bagaimana bisa membuat orang lain bahagia? ” Relawan kita menjawab, “Jika Anda terlihat bahagia, dengan sendirinya ekspresi orang-orang juga akan sama seperti Anda.” “Apakah Anda senang melihat saya?” Kakek tersebut berkata, “Ya, karena Anda memahami perasaan saya dan begitu baik.” “Jadi, saya senang melihat Anda.” Relawan itu melanjutkan, “Kakek, banyak orang yang seperti saya.” “Mari saya bantu membersihkan badan Kakek, mencukur kumis Kakek, mencuci rambut Kakek, dan mengganti pakaian Kakek.” “Setelah bersih, jika ada orang yang ingin mengobrol, Kakek juga akan lebih rileks.” Setelah dibujuk dan setengah dipaksa, kakek itu pun akhirnya setuju, dan relawan itu segera mengajak relawan lain untuk bersama-sama membantu.

Mereka segera bergerak mengambil air, alat cukur, serta gunting. Mereka memotong dan merapikan rambutnya, mencukur kumisnya, serta mencuci wajahnya. Kemudian mereka berkata, “Rambut Kakek sudah begini rapi, sekalian saja Kakek mandi agar bisa berganti pakaian bersih.” Dengan rambut yang sudah dicuci dan digunting, kakek itu sungguh merasa segar. Kakek itu membiarkan para anggota komite dan Tzu Cheng memandikannya di kamar mandi. Setelah para anggota Tzu Cheng memandikannya dan membantunya berganti pakaian, ia pun kembali berbaring di ranjang. Tiba-tiba ia berkata, “Sepertinya saya…” Relawan kita kemudian bertanya pada kakek itu, “Kakek, Kakek ingin buang air?” “Tunggu, tunggu,” kata relawan itu. Namun sudah tidak sempat. Relawan itu memungut kotoran dengan tangannya. Saya bertanya padanya, “Saat itu apakah kamu tidak merasa jijik dan takut?” Ia berkata, “Master, saat itu saya segera mengalihkan pikiran saya seakan-akan itu bau kopi.” Lihatlah, sesungguhnya kotor atau bersih? Orang yang melatih diri akan menyadari bahwa tubuh manusia pada dasarnya tidaklah bersih. Tubuh siapakah yang benar-benar bersih? Tubuh setiap orang tidaklah bersih. Jika kita dapat mengubah pola pikir kita, bersumbangsih dengan cinta kasih, dan memberi perhatian bagi mereka yang tak memiliki sandaran, kita akan mendatangkan manfaat besar.

Intinya, dalam melatih diri, janganlah kita melekat pada pandangan kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian. Kita juga tidak boleh melekat pada pandangan ketidakkekalan, ketanpaakuan, ketidakbahagiaan, dan ketidaksucian. Dalam menghadapi kondisi dunia, kita harus menyelaraskan pikiran kita. Dalam menghadapi segala sesuatu, jangan sampai pikiran kita melekat. Inilah cara yang benar. Dengan demikian, kita akan dapat merealisasi “Sarvajna”. “Sarvajna” adalah bahasa Sanskerta yang berarti pengetahuan menyeluruh. Pengetahuan menyeluruh adalah kemampuan melihat kebenaran di balik segala sesuatu dengan cara berbeda dari orang pada umumnya. Pikiran makhluk awam masih terbelenggu oleh fenomena yang mereka temui, sehingga mereka tidak dapat melihat segala masalah dan objek dengan jelas. Jika dapat hidup harmonis dengan semua orang dan menyelesaikan masalah dengan baik, berarti kita telah sesuai dengan kebenaran. Saat hubungan antarmanusia dan masalah// ditangani dengan penuh keharmonisan, kita akan memahami prinsip kebenaran.

Jadi, jika dapat melihat jelas hakikat manusia, masalah, dan segala sesuatu, berarti kita dapat memahami kebenaran. Jadi, pengetahuan menyeluruh mencakup segala makhluk hidup maupun bukan, termasuk hewan maupun segala kondisi. Ini juga mencakup manusia dan semua makhluk yang bernyawa. Pengetahuan menyeluruh//mampu menembus semuanya. Di dunia ini, karena manusia memiliki perasaan, maka kita memiliki banyak noda batin. Karena memiliki perasaan, maka kegelapan batin semakin tebal. Buddha memiliki kebijaksanaan menyeluruh, mampu melihat hakikat perasaan ini serta dapat memahami sumber noda batin. Memahami semua ini, inilah yang disebut pengetahuan menyeluruh. Meski berada di tengah-tengah semua makhluk, Beliau telah menyadari kebenaran. Inilah pengetahuan menyeluruh. Untuk segala sesuatu di alam semesta, Buddha berkata bahwa semuanya mengalami empat fase, yakni pembentukan, kelangsungan,//kerusakan, kehancuran. Segala sesuatu yang bukan makhluk hidup juga mengalami proses ketidakkekalan. Kita telah membahas bahwa tiada yang kekal di dunia. Empat musim silih berganti, iklim dan waktu pun harus berjalan selaras. Inilah yang terjadi di alam semesta. Kita tahu bahwa musim terus berganti mengikuti berjalannya waktu. Tidak seorang pun mampu menghentikan waktu ataupun musim. Tidak mungkin.

Usia manusia pun tidak bisa dihentikan hingga kita dapat muda selamanya. Ini juga tidak mungkin. berarti memahami dengan jelas segala sesuatu. Pengetahuan Buddha melampaui segala sesuatu dan mampu menembus kebenaran alam semesta. Jadi, inilah yang harus kita pelajari, yakni bagaimana menenangkan pikiran agar tidak terpengaruh oleh kondisi luar dan tidak ternoda oleh hal-hal duniawi. Inilah yang perlu kita pelajari. Inilah Sarvajna, pengetahuan menyeluruh, kesempurnaan tertinggi dari para Buddha. kesempurnaan tertinggi dari para Buddha. kita harus mencapai pengetahuan menyeluruh. Baik hal-hal duniawi maupun adiduniawi, termasuk mengenai manusia, hal, materi, dll, semuanya harus mampu kita pahami. Inilah pengetahuan menyeluruh yang juga merupakan kebijaksanaan tertinggi dari para Buddha. Inilah yang disebut kebijaksanaan agung. Sarvajna adalah tujuan akhir pelatihan kita.

Saya senantiasa membahas tentang Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, serta 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Ajaran ini membantu makhluk awam menyeberangi lautan noda batin hingga mencapai pantai seberang yang murni. Saat kita mencapai pantai seberang, tujuan akhirnya adalah realisasi Sarvajna. Karena itu, dalam praktik ajaran Buddha, mutlak diperlukan tekad yang teguh. Dengan demikian, kita dapat “menyucikan tanah Buddha dan membantu pencapaian semua makhluk”. Jadi, untuk merealisasi Sarvajna ini, mulai saat ini juga kita harus tekun dan bersemangat. Kita sering mengatakan bahwa tujuan melatih diri adalah mencapai kebuddhaan. Ini dimulai dari menyucikan batin sendiri. Kita yang berada dalam tataran makhluk awam harus terlebih dahulu membangun tanah suci Buddha di dalam batin. Dengan demikian, barulah kelak kita bisa sungguh-sungguh merealisasi//tanah Buddha yang ideal. Jadi, untuk merealisasi tanah Buddha yang ideal, kita harus membantu pencapaian semua makhluk. Lihatlah Buddha Amitabha.

Di dalam Sutra dikatakan bahwa untuk merealisasikan tanah suci-Nya, Beliau membangun 48 ikrar agung. Sedangkan Buddha Sakyamuni terus kembali ke Dunia Saha atas dasar welas asih. Meski Dunia Saha penuh penderitaan dan diliputi lima kekeruhan, namun hakikat tanah suci dalam batin Buddha tetaplah murni. Buddha mampu membimbing makhluk secara luas di Dunia Saha ini karena dengan memiliki tanah suci yang murni dalam batin-Nya ini, Beliau tak hentinya kembali ke Dunia Saha untuk menghadapi serta membimbing semua makhluk. Banyak orang merasa bahagia saat mendengar atau melafalkan nama Buddha. Ini terus berlaku baik saat Buddha hidup//lebih dari 2.000 tahun lalu maupun di kemudian hari seperti sekarang ini. Meski tampaknya Buddha telah lama meninggalkan Dunia Saha, namun selama lebih dari 2.000 tahun ini, betapa banyak bhiksu agung nan luhur yang masih menjalankan ajaran Buddha dan senantiasa bersungguh-sungguh mewariskan ajaran Buddha sehingga banyak makhluk yang merasa bahagia hanya dengan mendengar ajaran Buddha. Ini karena Buddha telah menjalin jodoh baik dengan banyak makhluk. Karena itu, Buddha mampu menyelamatkan banyak makhluk hanya dengan nama-Nya. Sebagian telah memperoleh pencapaian.

Ada pula yang sedang dalam proses berlatih, namun masih ada juga yang belum terbimbing. Banyak pula makhluk yang telah terbimbing. Setelah mendengar Dharma dan bersukacita, mereka mempraktikkannya sekaligus membimbing orang lain. Bahkan ada pula yang baru mengenal Dharma dan memperoleh sukacita, lantas segera bertekad untuk berjalan di Jalan Bodhisattva. Inilah orang-orang yang sedang dalam proses berlatih. Ada juga yang belum mengenal ajaran Buddha. Kita harus bertekad dan berikrar untuk menginspirasi dan membimbing mereka. Untuk itu, kita harus mengandalkan keluhuran Buddha yang telah menjalin jodoh baik dengan semua makhluk. Karena itu, banyak makhluk merasakan sukacita saat mendengar nama Buddha. kita harus selalu ingat akan Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, dan Jika hakikat kekekalan, kebahagiaan,//aku, dan kesucian telah kita pahami dengan jelas, dan kita telah mencapai pengetahuan menyeluruh, maka kita akan merealisasi tanah Buddha dan membantu pencapaian semua makhluk. Saudara sekalian, dalam praktik ajaran Buddha, kita harus bertekad dan berikrar.

Meski memakan waktu lama untuk membahasnya, namun sesungguhnya ini amat sederhana. Intinya adalah memegang teguh ajaran Buddha, mempraktikkannya secara nyata, dan terjun ke tengah-tengah masyarakat. Kita harus bersumbangsih dengan semangat cinta kasih tanpa pamrih. Sesederhana itu. Saya sering mengatakan bahwa mengasihi diri sendiri adalah wujud balas budi. Kita sering membahas pentingnya//membalas budi Buddha, budi orang tua, dan budi semua makhluk. Kita ingin membalas budi, namun jika tidak mengasihi diri sendiri, kita akan melanggar banyak sila dan norma. Buddha merasa iba terhadap semua makhluk yang terus terombang-ambing dalam derita kelahiran kembali. Buddha sungguh tak sampai hati. Jika kita tidak mengasihi diri sendiri, orang tua kita dalam kehidupan ini juga akan mengkhawatirkan kita. Inilah satu-satunya kekhawatiran orang tua. Baik secara fisik maupun batin, jika kita melakukan penyimpangan sehingga dalam masyarakat kita tak dapat berhubungan baik dengan orang, maka ini pun menjadi kekhawatiran orang tua. Jadi, mengasihi diri sendiri adalah wujud balas budi terhadap orang tua, juga wujud balas budi terhadap Tiga Permata. Kita harus mengasihi diri sendiri baru bisa membalas budi semua makhluk. Ini karena semua makhluk juga pernah menjadi orang tua atau anak kita dalam berbagai kehidupan lampau.

Jadi, kita seharusnya menyadari bahwa semua makhluk adalah orang tua kita— jika bukan dalam kehidupan ini, mungkin dalam kehidupan lampau, atau mungkin dalam kehidupan berikutnya. Ini semua tergantung jalinan jodoh yang kita buat dengan mereka di enam alam. Jadi, terhadap semua makhluk, kita harus memandang mereka bagai orang tua. Dengan begitu, kita akan mampu bersumbangsih dengan ikhlas bagi mereka. Ini juga termasuk balas budi— balas budi masa lampau, kini, dan masa depan. Kita juga harus membalas budi bumi pertiwi. Lihatlah di kolong langit ini, kita yang tinggal di bumi ini, bagaimana dapat hidup sehat dan nyaman? Hal pertama yang diperlukan setiap hari//adalah air. Untuk bernapas, kita memerlukan udara. Segala sesuatu, termasuk tanaman pangan, sangatlah berjasa bagi kita.

Seperti yang sering kita katakan, bencana alam bermula dari ulah manusia. Manusia berulah karena tidak mengasihi diri sendiri, tidak menghargai segala sesuatu yang ada. Akibatnya, terciptalah lingkaran keburukan. Lingkaran keburukan ini berawal dari manusia yang tidak mengasihi diri sendiri. Sesungguhnya, ini amat sederhana. Asalkan dapat mengasihi diri sendiri, kita dapat membalas banyak budi luhur dan mampu mengembangkan spritualitas. Jadi, saat bersumbangsih, kita harus bersyukur, bersyukur atas jalinan jodoh yang ada hingga kita mampu bersumbangsih. Kita sungguh harus bersyukur. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengasihi diri sendiri dan bersumbangsih, berarti kita tengah membalas budi dan bersyukur. Dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah sulit untuk memahami//pengetahuan menyeluruh. Saudara sekalian, kita harus lebih bersungguh-sungguh. Dalam memahami kekekalan, kebahagiaan,//aku, dan kesucian, kita semua harus lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment