Sanubari Teduh – 066 – Memandang Setara Semua Makhluk
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita menjalani kehidupan dengan pikiran yang tenang dan seimbang. Ini adalah berkah yang perlu dihargai. Jika kita dapat melewati hari-hari dengan tenang dan damai, berarti kita sungguh penuh berkah. Hari-hari yang damai adalah berkah . Buddha mengajarkan kita untuk selalu mempertahankan keseimbangan batin. Kita telah membahas tentang hakikat kekekalan, kebahagiaan, aku, kesucian, serta Sarvajna atau pengetahuan menyeluruh. Tingkatan pelatihan seperti ini melampaui tataran makhluk awam yang melekat pada kekekalan, kebahagiaan, keakuan, dan kesucian semu. Inilah pandangan makhluk awam. Selain itu, juga melampaui pandangan para Sravaka dan Pratyekabuddha yang melekat pada kekosongan dan hanya berlatih demi pembebasan pribadi. Buddha mengajarkan kita tentang Jalan Tengah dan tetap berada di tengah-tengah semua makhluk dengan batin yang damai, tidak terpengaruh oleh berbagai nafsu keinginan tidak murni makhluk awam. Terlebih lagi, kita dapat terjun ke masyarakat untuk membebaskan makhluk dari penderitaan. Untuk itu, dibutuhkan pengetahuan menyeluruh seperti Buddha.
Tujuan pelatihan kita tak lain adalah pengetahuan menyeluruh atau buah kebijaksanaan dari kebuddhaan. Inilah yang harus berusaha kita capai. Jadi, buah Sarvajna adalah tingkatan kebuddhaan yang juga merupakan pengetahuan menyeluruh. Jika memiliki pengetahuan menyeluruh, seseorang akan melewati setiap harinya dengan damai dan bersahaja. Jika dapat mencapai kondisi ini, kita dapat “menyucikan tanah Buddha” dan membantu pencapaian semua makhluk. Jika kita dapat memahami segala sesuatu di alam semesta, tidak lagi timbul pikiran buruk dalam interaksi antarsesama, barulah kita dapat menjalin banyak jodoh baik dengan semua makhluk. Dengan demikian, kita dapat menyucikan batin semua makhluk. Inilah yang sering kita bahas— menyucikan dunia ini dan menciptakan tanah suci di sini. Kita selalu berharap untuk dapat menciptakan tanah suci di dunia ini. Kapankah ini akan terealisasi? Hanya ketika hati semua makhluk telah disucikan, dunia ini akan menjadi tanah suci dan semua makhluk akan mencapai pencerahan. Tentu saja, dalam mengembangkan Bodhicitta, kita perlu mengikhlaskan tubuh, nyawa, dan harta tanpa rasa kikir.
Banyak orang akan berkata bahwa kesehatan adalah sebuah berkah; kesehatan fisik adalah kekayaan tak ternilai. Benar. Dengan adanya kesehatan, kita tak perlu khawatir akan kekayaan materi. Kekayaan terbaik adalah tubuh kita. Kesehatan kita merupakan sumber kekayaan, karena dengan demikian, kita mampu mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup tanpa ada kesulitan. Selain, tubuh, nyawa, dan materi, ada pula kekayaan berupa kebijaksanaan. Sehat secara fisik dan spiritual adalah yang paling membahagiakan, tidak kekurangan apa pun. Selain sehat secara fisik, kita juga perlu memiliki kebijaksanaan. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita akan memiliki kemampuan menolong orang lain. Dengan kebijaksanaan, kita bisa membantu orang. Janganlah kita bersifat kikir. Enam Paramita dan Empat Pikiran Tanpa Batas telah kita bahas sebelumnya. Inilah langkah mengembangkan Bodhicitta. Buddha mengajarkan kita bahwa untuk mengembangkan Bodhicitta, kita perlu memenuhi beberapa syarat. Selanjutnya, kelima adalah// memandang setara semua makhluk. Memandang setara semua makhluk berarti membangkitkan cinta dan welas asih terhadap semua makhluk tanpa membedakan orang lain dan diri sendiri. Bait ini dan yang sebelumnya memiliki makna yang sama.
Namun, di sini ditekankan bahwa terhadap semua makhluk, kita harus belajar//memandang setara kerabat dan musuh, sedangkan kalimat sebelumnya mengajarkan kita cara bersumbangsih sebagai wujud praktik Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, dan mengikhlaskan tubuh, nyawa, dan harta. Kalimat selanjutnya adalah cara menghadapi orang dan masalah. Kita harus memperlakukan orang dengan setara. Memandang setara kerabat dan musuh berarti memiliki cinta dan welas asih terhadap semua makhluk. Kita harus memiliki cinta dan welas asih// bahkan terhadap orang yang tak kita kenal, berharap mereka semua berbahagia. Inilah cinta kasih agung—memberi kebahagiaan. Jika kita memiliki cinta dan welas asih, berarti kita berharap semua orang bahagia. Cinta kasih adalah memberi kebahagiaan, welas asih adalah melenyapkan penderitaan. Welas asih agung adalah merasa senasib dengan semua makhluk; saat orang terluka, kita turut merasa sakit, saat orang menderita, kita turut merasa iba. Inilah pandangan kesalingterkaitan.
Jadi, terhadap semua makhluk, kita harus memiliki cinta dan welas asih, tidak membedakan diri sendiri dan orang lain. Jangan membedakan orang lain dan diri sendiri— “dia”, “aku”. Sikap membeda-bedakan, membanding-bandingkan, dan memisahkan antara “dia”dan “aku”— “dia” adalah orang lain, “aku” adalah diri sendiri— akan mudah menimbulkan konflik. Karena pembedaan-pembedaan inilah dunia dipenuhi konflik. Karena itu, Buddha terus membimbing kita untuk tidak membeda-bedakan dan tidak saling berselisih. Perselisihan pasti membawa perseteruan. Maka, selanjutnya dikatakan, “Apakah sebabnya?” Karena jika membedakan antara yang dibenci dan dikasihi, itu adalah sikap diskriminatif. Dengan adanya sikap diskriminatif,// timbullah kemelekatan terhadap wujud. Jika kita melihat seseorang dan merasa benci, maka akan timbul diskriminasi dalam pikiran kita. Musuh dan kerabat pasti kita perlakukan beda. Jika kita tidak memiliki keseimbangan batin, maka kita akan membedakan yang dikasihi dengan yang tidak dikasihi. Kita akan membedakan semua ini.
Pikiran kita akan penuh diskriminasi. Dengan begitu, kita akan melekat pada wujud. Sebelumnya kita telah membahas bahwa kita hendaknya tidak melekat pada wujud. Jangan melekat pada keberadaan//maupun kekosongan, jangan melekat pada hubungan kerabat maupun musuh. Jika kita mulai melekat pada wujud, maka akan menimbulkan masalah. Maka dikatakan, “Akibat kemelekatan pada wujud, timbullah berbagai noda batin.” Artinya, jika kita penuh kemelekatan, maka berbagai noda batin akan timbul dan membawa pada terciptanya karma buruk. Akibat benih karma buruk ini, datanglah buah akibat buruk. Saat dibicarakan, setiap orang mungkin merasa sangat sederhana. Rangkaian urutannya memang sederhana, namun praktiknya bukanlah hal mudah. Pada titik ini, bagaimana cara memandang setara semua orang? Pertama, terhadap semua laki-laki, kita harus menganggap mereka sebagai ayah, sedangkan terhadap perempuan yang berumur, kita menganggap mereka sebagai ibu. Bagi yang sepantaran dengan kita, kita harus menganggap mereka sebagai saudara.
Jika kita memperlakukan orang bagai saudara ataupun bagaikan orang tua sendiri, akankah masih ada perbedaan? Tidak akan ada lagi. Dalam hal ini, kita juga harus membangkitkan tiga kondisi hati. Pertama adalah hati yang seimbang. Tadi sudah saya katakan bahwa hati yang seimbang tidak melekat, tak membedakan yang dibenci dengan yang dikasihi, dan tidak memiliki pikiran diskriminatif. Hanya dengan menganggap orang//sebagai orang tua Hanya dengan menganggap orang sebagai orang tua ataupun saudara sendirilah kita baru bisa tidak membedakan mereka. Inilah hati yang seimbang. Yang kedua adalah hati yang berbakti. Jika setiap orang adalah orang tua kita, bukankah kita harus berbakti kepada mereka? Bakti adalah kewajiban pokok sebagai manusia. Kita tentu masih ingat dalam Sutra Bakti Seorang Anak dikisahkan saat Buddha melihat seonggok tulang, Beliau memberi hormat. Ananda pun bertanya mengapa. Buddha lalu menjawab, “Lihatlah tumpukan tulang-tulang putih ini.” “Ketahuilah, tumpukan tulang-tulang putih ini adalah milik orang tua-Ku di berbagai kehidupan lampau.” Dari sini dapat kita renungkan bahwa banyak makhluk pernah menjadi orang tua kita.
Menurut ajaran Buddha, kehidupan kali ini hanyalah satu periode kecil. Setelah kita meninggal,//kehidupan akan terus berlanjut. Kita akan terus terlahir kembali di dunia ini. Bayangkan betapa banyak makhluk//yang pernah menjadi orang tua kita. Saat suatu makhluk terlahir kembali, apakah kita dapat menjamin bahwa makhluk itu tak pernah menjadi orang tua kita? Kita harus menganggap mereka semua sebagai orang tua kita di kehidupan lampau. Terhadap seonggok tulang saja, Buddha bersikap begitu penuh hormat, maka terlebih lagi kita harus menganggap semua orang yang kita temui sebagai orang tua kita pada kehidupan lampau. Mereka harus kita perlakukan dengan hormat. Mungkin mereka juga akan menjadi//orang tua kita di kehidupan berikutnya. Karena itu, kini kita harus sungguh-sungguh menjalin jodoh baik dengan mereka. Inilah yang seharusnya kita lakukan. Jadi, kita harus memiliki hati yang berbakti. Ketiga adalah hati penuh cinta dan welas asih. Ini berarti berharap semua makhluk berbahagia dan tidak tega melihat mereka menderita. Jadi, kita harus selalu memiliki cinta dan welas asih. Hati penuh cinta dan welas asih merupakan harapan terbesar Buddha pada kita, juga merupakan inti ajaran Buddha. Karena itu, kita harus memiliki hati seperti ini dalam memperlakukan semua makhluk. Dengan demikian, barulah kita tidak akan membedakan. Inilah cara untuk melenyapkan kemelekatan dan pikiran diskriminatif kita.
Jadi, janganlah noda batin dan kemelekatan ada dalam batin kita. Saat noda batin timbul, berbagai karma buruk dapat tercipta. Biasanya, saat membaca Sutra, kita dapat memahami isinya, namun untuk benar-benar mempraktikkannya, bukanlah hal yang mudah. Memandang setara semua makhluk bukanlah hal yang mudah dilakukan. Namun, jika dapat melakukannya, kita akan selalu diliputi kebahagiaan. Karena semua makhluk menyokong hidup kita, Karena semua makhluk menyokong hidup kita, maka kita harus memandang setara semuanya. Terhadap segala sesuatu di dunia, kita hendaknya tidak melekat. Jika tidak melekat terhadap segala sesuatu, maka kita akan bebas dari noda batin. Kita dapat melihat banyak contoh di Tzu Chi. Para insan Tzu Chi atau Bodhisattva dunia sungguh menampilkan keteladanan yang dapat kita pelajari. Suatu hari, di Kawasan Industri Wugu terjadi sebuah kebakaran di sebuah pabrik mainan ekspor. Kebetulan pabrik itu baru tutup. Sang pemilik dan istrinya tengah pergi keluar bersama. Ke manakah mereka pergi? Ternyata mereka berdua adalah insan Tzu Chi. Ke manakah suami istri Relawan Lin ini pergi? Setelah menutup pabriknya hari itu, mereka mulai berkegiatan di Tzu Chi. Mereka pergi mengumpulkan dana amal dan telah meninggalkan pabrik. Di dalam pabrik masih ada orang tua mereka, seorang adik, serta tiga sampai empat pekerja, sementara suami istri ini sudah keluar. Apa penyebab kebakaran ini? Tidak ada yang tahu.
Namun, setelah mendengar siaran berita tentang terjadinya kebakaran di Kawasan Wugu, suami istri ini pun segera pulang. Saat mereka kembali, sudah ada 38 mobil pemadam kebakaran//yang berusaha memadamkan api. Namun, bangunan mereka sudah terbakar. Saat kembali, mereka hanya bertanya, “Apakah semua orang selamat?” “Ya,” jawab orang-orang. “Untunglah, terima kasih!” Mereka sama sekali tidak panik. Mereka sangat tenang. Melihat semua orang selamat, mereka sudah sangat bersyukur. Semua orang heran melihat mereka begitu tenang dan terus mengucapkan terima kasih. Setelah kejadian itu, ia berkata bahwa pertama ia bersyukur semua orang selamat. Kedua, ia harus berterima kasih kepada para petugas pemadam kebakaran yang telah berusaha memadamkan api dengan menempuh bahaya. Karena itu, ia berterima kasih. Ketiga, ia berterima kasih pada insan Tzu Chi. Ketika berita kebakaran menyebar, insan Tzu Chi di daerah sekitar pun datang untuk memberikan penghiburan agar orang-orang tidak takut dan dapat menenangkan hati.
Jadi, ia berterima kasih kepada para insan Tzu Chi yang selalu mendampingi. Ia sungguh bersyukur. Keempat, Ia berterima kasih kepada karyawannya karena semua karyawannya menyatakan siap bekerja keras untuk membangun kembali pabrik itu. Untuk itu, ia merasa harus berterima kasih. Lalu, ia juga bersyukur kebakaran ini tidak sampai menjalar ke pabrik orang lain dan semua orang selamat. Yang terbakar hanya pabriknya sendiri. Karena itu, ia sangat bersyukur. Berbagai hal yang patut disyukuri ini bermunculan dalam benaknya. Karena itulah ia dapat tetap tenang. Saat itu, yang ada dalam pikirannya adalah, “Sudah terbakar ya sudah,// tak perlu diperhitungkan lagi.” “Tak perlu menghitung berapa kerugian saya.” “Jangan memikirkan berapa banyak yang hilang atau berapa banyak kerugian.” “Pikirkan saja yang masih saya miliki, jangan memikirkan berapa yang hilang.” Ia mampu segera menerapkan ajaran saya. Ia tidak memikirkan kerugian yang diderita, melainkan hanya memikirkan yang masih dimiliki. Hanya inilah pemikirannya saat melihat pabriknya terbakar dan melihat 38 mobil pemadam memadamkan api.
Api akhirnya padam, namun bahan mainan dalam pabriknya begitu banyak dan bertumpuk-tumpuk. Meski api terlihat sudah padam, namun karena banyaknya tumpukan barang, maka begitu angin bertiup, api pun kembali berkobar. Kebakaran yang kedua pun terjadi dan menyebabkan kerugian lebih besar. Pemadam kebakaran pun kembali datang// dan memadamkan api. Tak lama, kebakaran kembali terjadi. Secara keseluruhan, dibutuhkan 36 jam untuk benar-benar memadamkan api. Selama tiga hari tersebut, beberapa orang merasa heran bagaimana ia dapat tetap tenang. Kemudian, ia berbagi tentang lima hal yang patut ia syukuri dan pikiran yang ada di benaknya tentang tidak menghitung kerugian dan hanya menghitung yang masih dimiliki. Cara ini mampu menenangkan hatinya. Yang lebih luar biasa, ia bercerita bahwa sebagai penggalang dana, istrinya baru saja mengumpulkan dana ratusan ribu dolar NT dalam bentuk tunai maupun cek dan menyerahkan kepadanya//bersama buku donasi. Ia menaruh semuanya di dalam pabrik bersama dengan kartu komite dan sertifikat komisaris kehormatannya. Semuanya berjumlah belasan lembar. Ia berkata bahwa// sertifikat komisaris kehormatannya terbakar.
Meski begitu, ia berkata tak apa-apa, karena semua itu dapat dibuat kembali. Yang membuatnya tersentuh adalah cek dan uang tunai ratusan ribu dolar itu serta buku donasinya tidak terbakar. Yang terbakar hanyalah bagian tepinya saja dan masih dapat ditukarkan ke bank. Semua itu masih bisa diselamatkan. Ia berkata bahwa ini sulit dibayangkan. Barang-barang itu disimpan di tempat yang sama dengan sertifikat komisaris kehormatannya. Semua sertifikatnya terbakar, namun buku donasinya serta uang dan cek dari donatur tidak terbakar. Ia merasa ini sangat luar biasa. Karena itu, ia berkata bahwa ia harus terus bersumbangsih di Tzu Chi. Demikianlah insan Tzu Chi kita. Mereka berpikiran terbuka dan tidak melekat. Ia sungguh penuh rasa syukur, karena ia berkata, “Harta duniawi adalah kepunyaan lima pihak.” Saya sering mengatakan hal ini. Untuk apa begitu melekat pada harta? Dalam bencana kebakaran itu, ia teringat hal ini. Karena itu, ia tidak menghitung kerugiannya.
Ia hanya menghitung yang masih dimilikinya. Sikap seperti ini sungguh jarang ditemui. Jika ditanya, “Apa harapanmu untuk masa depan?” Ia menjawab, “Memperkuat misi Tzu Chi.” Ia berharap para karyawannya selain bersama-sama membangun kembali pabrik, juga dapat belajar dari kebakaran itu dan semakin menyadari ketidakkekalan hidup. Ia sangat berterima kasih pada karyawannya yang rela memikul beban bersamanya. Ia sangat berharap para karyawannya ini juga dapat menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Ia berharap semua orang dapat merasakan sukacita dalam bersumbangsih di Tzu Chi. Lihatlah, bukankah ini hati Bodhisattva? Bodhisattva memandang setara semua makhluk. Ia sendiri telah mengalami bahwa di Jalan Bodhisattva Tzu Chi banyak yang dapat dirasakan dan dipelajari, seperti rentannya harta duniawi, semua telah ia pahami. Ia juga mengerti untuk tidak memperhitungkan kerugian yang diderita, mengubah pola pikirnya, dan hanya memikirkan yang masih ia miliki. Ia masih memiliki kesehatan fisik dan keluarga yang harmonis. Ia juga masih memiliki karyawan yang sehat. “Bukankah kesehatan adalah harta?” “Berarti saya masih memiliki harta.” “Saya juga masih punya//kebijaksanaan dan semangat.” “Saya masih memiliki banyak kemampuan.” “Jadi, masih banyak yang patut disyukuri.” Demikianlah caranya berpikir. Pertama, ia mengingat rentannya harta duniawi karena merupakan kepunyaan lima pihak.
Ia juga tidak memikirkan kehilangannya. Ia hanya memikirkan yang masih dimiliki. Ia merasa kehidupannya masih baik. Di dunia ini, masih banyak hal yang patut kita syukuri. Bukankah ini merupakan berkah? Jadi, ia masih merasa penuh berkah. Ia bahkan masih mengalami hal luar biasa, Bahkan ia masih mengalami hal luar biasa, yakni dana amal untuk Tzu Chi yang ia kumpulkan dari para donatur tidak tersentuh oleh api meski sama-sama disimpan di dalam pabrik. Lihatlah himpunan cinta kasih banyak orang itu. Meski pabriknya mengalami kebakaran, namun cinta kasih dari banyak orang itu tidak terbakar sedikit pun. Jadi, kebakaran kali ini bukan hanya tidak menghancurkan dirinya, melainkan memperteguh tekadnya. Lihatlah, inilah contoh ketidakmelekatan terhadap keberadaan dan kekosongan. Saat menghadapi kenyataan dunia ini, ia tidak memikirkan segala rintangan. Terlebih lagi, terhadap setiap orang, ia tidak membeda-bedakan. Dengan sendirinya, ia bebas dari kerisauan. Karena itu, ia senantiasa bersyukur. Dalam berlatih di jalan Buddha, saat menghadapi berbagai hal dalam keseharian, kita hendaknya dapat berpikiran terbuka. Inilah keterampilan yang sesungguhnya. Saudara sekalian,//inilah inti pelatihan di jalan Buddha, yakni untuk dipraktikkan secara nyata. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.