Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 067 – Membalas Empat Budi Besar

Saudara se-Dharma sekalian, pada saat yang tenang dan hening seperti ini, adakah rasa syukur di dalam pikiran kita? Hidup di dunia ini, kita tidak boleh menjalaninya tanpa bersyukur, terutama bagi kita praktisi Buddhis. Mari kita mengingat kembali, sejak pertama saat dilahirkan, kita disambut dengan penuh sukacita di dunia ini oleh orang tua kita dan menerima banyak perhatian; tubuh kita dibersihkan dengan air, sehelai selimut dibungkuskan di badan kita, susu diberikan untuk kita, dll. Sejak saat dilahirkan, kita telah terus-menerus menerima segala sesuatu yang menopang kehidupan sehingga tidak kekurangan dan mampu bertahan. Terlebih lagi, ada banyak orang yang telah melindungi, membimbing, dan mendidik kita. Banyak sekali yang harus disyukuri. Budi luhur orang tua, guru, dan semua makhluk, tidakkah harus kita syukuri? Terlebih lagi, sebagai praktisi, kita telah tumbuh dewasa dengan selamat, memiliki kesempatan mendengar ajaran Buddha. Dari ajaran Buddha yang kita pelajari, betapa banyak kebenaran yang dapat kita pahami. Ini memungkinkan kita memahami hukum yang berlaku di alam semesta dan menyadari luar biasanya kehidupan. Kita jadi paham bahwa benda materi mengalami proses terbentuk, berlangsung, rusak, hancur; bahwa pikiran timbul, berlangsung, berubah, lenyap; dan bahwa kehidupan mengalami lahir, tua, sakit, dan mati.

Dapat memahami segala kebenaran ini, kita harus bersyukur pada Tiga Permata. Ini adalah berkat kebijaksanaan Buddha Jika bukan karena kebijaksanaan Buddha yang Beliau capai dengan mengamati berbagai fenomena di alam semesta hingga mencapai penerangan sempurna. Dharma dibabarkan oleh Buddha dan diwariskan terus-menerus. Untuk semua ini, kita hendaknya bersyukur. Buddha tidak hanya datang sekali saja. Saya sering membahas tentang satuan kalpa yang tak terhingga. Artinya, tak dapat disebutkan secara pasti berapa kehidupan Buddha datang ke Dunia Saha. Jadi, kini apakah semua menganggap bahwa Buddha telah meninggalkan dunia ini atau berpikir//Buddha hidup lebih dari 2.000 tahun lalu, apa kaitannya dengan kita sekarang? Tentu saja masih ada kaitan dengan kita. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu Buddha membabarkan Dharma. Saya kerap menyebut Sravaka dan Pratyekabuddha, terutama Pratyekabuddha. Sravaka adalah mereka yang mendengar Dharma yang dibabarkan semasa Buddha hidup dan kemudian memperoleh pencerahan. Karena itu, disebut Sravaka atau “pendengar”. Pratyekabuddha hidup di zaman ketika Buddha tidak ada di dunia.

Karena itu, disebut “yang tercerahkan sendiri”. Mereka mengamati perubahan musim dan fenomena. Dari sini, mereka menyadari 12 Rangkaian Sebab dan Akibat. Mungkinkah para Pratyekabuddha ini merupakan emanasi dari Buddha? Mungkin saja. Jika jalinan jodoh dengan semua makhluk belum matang atau belum terpenuhi, Buddha akan terus datang ke dunia dalam berbagai wujud. Pratyekabuddha sering disebutkan dalam Sutra. Melalui mereka, Dharma dapat terus diwariskan. Namun kemudian, lebih dari 2.000 tahun lalu di Kerajaan Kapilavastu di India, Buddha beremanasi sebagai Pangeran Siddhartha dan menunjukkan 8 aktivitas Samyaksambuddha. Lengkaplah Permata Buddha dan Dharma. Ini karena jalinan jodoh dengan semua makhluk sudah cukup dan matang. Karena itu, Buddha dapat menunjukkan emanasi agung. Demikianlah lebih dari 2.500 tahun lalu ajaran Buddha muncul di dunia. Setelah Buddha wafat, apakah Buddha benar-benar tidak ada? Kita sering membahas bahwa era kemurnian Dharma berlangsung 500 tahun, dilanjutkan dengan 1.000 tahun era kemiripan Dharma.

Berikutnya adalah era kemunduran Dharma. Jadi, apakah Buddha masih ada atau tidak? Meski secara fisik Buddha telah wafat jauh pada era kemurnian Dharma, namun sesungguhnya Tubuh Dharma-Nya tetap ada. sesungguhnya Tubuh Dharma-Nya tetap ada. Buddha terus kembali ke Dunia Saha ini dalam berbagai wujud yang berbeda demi meneruskan pewarisan Dharma. Jadi, mulai dari era kemurnian Dharma, berlanjut ke era kemiripan Dharma, kini kita telah memasuki era setelah kemiripan Dharma, yakni era kemunduran Dharma. Era kemunduran Dharma penuh kekeruhan. Akibat populasi manusia yang semakin meningkat, pemikiran dan pandangan jadi makin kompleks. pemikiran dan pandangan menjadi makin kompleks. Karena itu, manusia banyak melakukan kejahatan. Dengan demikian, kekuatan karma buruk semakin menambah kekeruhan yang ada, bagaikan sebuah bola salju yang terus bergulung membesar. Kegelapan batin di dunia semakin tebal sehingga membuat dunia semakin gelap. Dalam Lagu Tiga Permata ciptaan Master Tai Xu, dikatakan bahwa semesta diliputi kegelapan. Ini adalah akibat kegelapan batin manusia yang menambah akumulasi karma buruk. Apakah Buddha sungguh meninggalkan dunia ini? Tidak, karena Dunia Saha ini adalah dunia tempat-Nya beremanasi dan mengajar.

Jadi, Buddha tidak meninggalkan kita. Karena itulah hari ini kita masih dapat mendengar ajaran Buddha. Selanjutnya, yang keenam adalah membalas budi Buddha. “Sejak berkalpa-kalpa yang lampau, Tathagata telah merelakan kepala, mata, sumsum, otak, tangan, kaki, kerajaan, istri, anak, gajah, kuda, dan tujuh jenis permata milik-Nya, serta menjalani latihan sulit demi kita semua.” Membaca penggalan ini, kita seharusnya mengerti dengan jelas. Kita pun telah melihat dalam Agama Sutra, dalam kitab Jataka diceritakan banyak kisah saat Buddha masih melatih diri dalam banyak kalpa yang tak terhingga. Baik kerajaan, istri, anak, maupun segala harta kekayaan-Nya, semua rela Ia lepaskan dan ikhlaskan sebagai praktik berdana. Banyak kisah seperti ini di dalam Sutra. Buddha bahkan pernah menempuh latihan yang penuh kesulitan. Tidak semua orang mampu menjalaninya. Namun, Buddha telah menempuhnya. Dalam banyak Sutra kita dapat pula melihat banyak contoh yang tak terhitung.

Demi membimbing semua makhluk dan membantu pencapaian mereka, Buddha terus-menerus datang ke dunia. Karena itu, kita harus bersyukur. “Budi dan keluhuran ini sungguh sulit dibalas.” Budi dan keluhuran Buddha, bagaimana kita balas? Dalam Sutra Bakti Seorang Anak dikatakan bahwa meski hingga bahu terkelupas, anak tetap tak dapat sepenuhnya//membalas budi orang tua. Kita bahkan tidak dapat membalas jasa orang tua kita dalam masa kehidupan ini. Jasa orang tua saja tak terbalas, apalagi jasa Buddha. Buddha menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Entah sudah berapa lama kita berjodoh dengan Buddha//dari kehidupan ke kehidupan mengingat Buddha tidak pernah// meninggalkan dunia ini, melainkan terus bermanifestasi//dalam wujud manusia dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia demi mendidik dan membimbing kita tanpa henti. Hanya saja diri kita tidak menyadarinya. Semua yang dilakukan-Nya adalah demi menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Dari kehidupan ke kehidupan, Buddha menjadi ibu dari jiwa kebijaksanaan kita. Bagaimana kita membalas budi luhur Buddha ini? Jasa seperti itu sungguh sulit dibalas. Karena itu, di dalam Sutra dikatakan bahwa jasa ini tak akan terbalas meski memikul Buddha di atas kepala maupun pada kedua bahu selama banyak kalpa yang bagaikan butiran pasir Sungai Gangga.

Sekali lagi, kita menjumpai penjelasan ini. Sama seperti membalas budi orang tua, bahkan bila menopang kedua orang tua//di kedua bahu selama banyak kalpa yang tak terhingga, dengan tujuan membalas budi orang tua, usaha keras seperti ini yang dilakukan hingga bahu terkelupas pun tak mampu membalas budi mereka. Kini kita//membahas tentang membalas budi Buddha. Bahkan hingga berkalpa-kalpa tak terhingga bagai butiran pasir Sungai Gangga pun, mungkinkah kita dapat membalas jasa Buddha? Ada beberapa orang yang setelah melatih diri di vihara selama bertahun-tahun, merasa mereka telah layak untuk hidup dari sokongan umat dan tak perlu bekerja. Kita sendirilah yang menerima manfaat pelatihan. Membalas budi dengan menjalani// kehidupan monastik dari kehidupan ke kehidupan adalah sudah sepantasnya.

Sebagai bagian dari Sangha monastik, setiap orang hidup bersama, saling mendukung, saling melayani dan tumbuh bersama. Bekerja bagi Sangha adalah kewajiban, apalagi jika ingin membalas budi Buddha. Ini tak akan pernah selesai sampai kapan pun. Meski menggunakan waktu yang lama dari kehidupan ke kehidupan,// tetap tak akan terbalas penuh. Sebagian orang yang melatih diri, setelah berlatih di vihara selama sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun, merasa sudah sangat senior. Kadang saya merasa, pikiran awam sungguh sulit teratasi. Jika kita membaca Sutra, dapat ditemukan bahwa kita tak akan pernah bisa membalas jasa Buddha meski berusaha selama beberapa kehidupan. Apalagi kini kita berjodoh untuk//menjalani kehidupan monastik. Kita seharusnya bertekad untuk membalas jasa Buddha. Karena itu, berikutnya dikatakan, “Kita yang hendak membalas budi Tathagata, dalam kehidupan ini haruslah melatih diri dengan berani dan bersemangat, bekerja keras dan tahan derita, mengorbankan segenap jiwa raga demi menegakkan Tiga Permata, menyebarkan ajaran Mahayana, dan membimbing semua makhluk secara luas agar bersama-sama memasuki kesadaran agung.” Saudara sekalian, setelah membaca kalimat ini, kita tahu bagaimana kita harus membalas jasa Buddha.

Kita harus mulai dari saat ini juga. Dalam kehidupan ini, kita harus membangkitkan keberanian dan semangat tanpa pernah lengah. Jika upaya kita mengendur, itu sama dengan melukai jiwa kebijaksanaan. Agar jiwa kebijaksanaan bertumbuh, juga dibutuhkan nutrisi layaknya tubuh. Tubuh kita terus bermetabolisme dan melapuk seiring waktu. Karena itu, kita sungguh harus giat mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Hanya dengan memanfaatkan tubuh yang sehat, barulah kita dapat hidup dengan baik. Jadi, kita harus mengingat baik-baik bahwa ini juga berlaku pada jiwa kebijaksanaan kita. Jiwa kebijaksanaan juga harus dilatih. Kalian tentu pernah mendengar//ungkapan yang berbunyi, “Jika ingin sehat, harus banyak bergerak.” Kita memang harus banyak bergerak dan aktif secara fisik.

Jika untuk bertahan hidup kita hanya makan, namun menolak melakukan aktivitas fisik, maka tubuh kita pasti tidak sehat. Orang-orang di masa kini kurang aktif bergerak sehingga mereka harus didorong untuk berolahraga di pagi hari sebagai gantinya. Meski tidak melakukan pekerjaan fisik, Anda tetap perlu berolahraga agar tubuh tetap sehat. Jiwa kebijaksanaan kita bahkan lebih berharga. Sekali jiwa kebijaksanaan kita terbangkitkan, selamanya ia akan terus ada dan berlanjut. Baik pada orang tua, muda, kaya, miskin, apa pun status sosialnya, jiwa kebijaksanaan akan lestari selamanya, tetap hidup dan tetap cemerlang. Demikianlah jiwa kebijaksanaan kita. Jiwa kebijaksanaan kita tidak mengalami proses lahir, tua, sakit, mati karena jiwa kebijaksanaan ini tidak memiliki awal maupun akhir. Ia tidak akan berubah atau menjadi lapuk. Sejak jiwa kebijaksanaan ini bangkit, ia tidak menderita penyakit. Intinya, jiwa kebijaksanaan amat cemerlang dan tidak berubah, tidak seperti badan jasmani kita yang akan menua. Tidak. Jiwa kebijaksanaan kita bersifat abadi. Maka, kita haruslah bersyukur karena memiliki jiwa kebijaksanaan ini. Buddha-lah yang telah membangkitkannya.

Berkat budi luhur Tiga Permata, ajaran Buddha dapat terus lestari. Dalam kehidupan ini, kita masih dapat bertemu ajaran Buddha dan bertekad melatih diri. Untuk itu, kita kita harus giat. Untuk itu, kini kita harus giat. Mungkin kita telah giat pada kehidupan lampau sehingga kini kita dapat bertemu ajaran Buddha dan kembali bertekad untuk berlatih. Kita pernah berlatih di kehidupan lampau. Namun, Buddha berkata bahwa pelatihan diri//tidak selesai dalam satu kehidupan, melainkan harus dijalankan berkalpa-kalpa. Kita harus segera berusaha untuk mencapai tanah Buddha kita sendiri. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, kita harus “menyucikan tanah Buddha”, yakni tanah Buddha masa depan kita sendiri. Ketika karma dan kondisi matang, kita juga akan mencapai kebuddhaan.

Untuk itu, kita harus memanfaatkan hidup ini. Dahulu kita telah berlatih dengan tekun dari kehidupan ke kehidupan, maka dalam kehidupan ini,// setelah kembali bertemu ajaran Buddha, kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melatih diri dengan tekun dan berani. Tak peduli berapa berat jalan ini, kita tetap harus bersabar, bertahan, dan tetap teguh dalam latihan kita, tak boleh goyah dalam keadaan sesulit apa pun. Kita sering berkata, “Lakukan dengan sukarela.” Di dunia, siapa yang tak mengalami kesulitan? Bahkan saat tidak melakukan apa-apa, saat cuaca panas terik, hanya berdiri di suatu tempat, duduk, atau berjalan saja sudah merasa menderita. Namun, jika kita takut terkena terik, maka kita akan terus berdiam dan tidak akan pernah membuat kemajuan. Jika kita merasa mudah berkeringat, merasa pekerjaan terlalu sulit sehingga tak mau mengerjakannya, maka pekerjaan itu tak akan selesai. Begitu pula, jika kita memiliki noda dalam batin namun tidak giat berusaha mengikisnya, bagaimana kita bisa berlatih di tengah masyarakat? Bagaimana kita mampu bersumbangsih? Jika kita takut bekerja keras, maka kita tak akan dapat menjalin jodoh dengan semua makhluk.

Ini sama seperti jika Anda tak berani keluar karena panas terik. Jika Anda tidak keluar dan berjalan, maka tidak akan sampai pada tujuan. Jika Anda tidak bersumbangsih, Anda tidak akan dapat Jika di dalam batin kita ada banyak noda dan keraguan sehingga kita tidak mau berusaha dan takut akan kesulitan, maka noda dalam batin kita ini tidak akan pernah terkikis dan akan terus terakumulasi bagai pekerjaan yang terbengkalai. Ia akan terus menumpuk. Karena itu, kita harus bersemangat dan sabar menahan kesulitan. Dunia Saha adalah dunia yang memerlukan kesabaran. Hidup di dunia seperti ini, jika tidak mampu bersabar, kita tak akan bisa menjadi manusia seutuhnya, apalagi menjadi seorang Buddha.

Maka, kita harus melatih diri agar mampu untuk bersabar menanggung semua beban. Inilah yang disebut sabar menahan derita. Setiap kali melihat kisah relawan daur ulang dalam program Da Ai TV, syair berikut muncul dalam pikiran saya. “Bekerja keras dan tahan derita.” Lihatlah para relawan lansia itu. Mereka telah menjalani hidup yang sulit, bekerja keras demi keluarga dan anak-anak. Mereka telah berumur dan tidak lagi prima. Meski masih bisa berjalan, tetap sudah sulit. Namun, mereka masih menanggapi seruan saya untuk menjaga dan melindungi bumi kita dengan melakukan daur ulang. Demi menghargai berkah dan demi membantu Empat Misi Tzu Chi, mereka mengubah sampah menjadi emas. Hasilnya kemudian didanakan kembali. Himpunan tetes demi tetes sumbangsih ini menyatu menjadi sebuah kekuatan besar dalam membantu pencapaian Empat Misi. Lihatlah, bukankah mereka sabar menahan derita? Sebagian dari mereka berkehidupan baik, anak-anaknya sangat berbakti. Mereka bisa menikmati kenyamanan dengan menonton TV dan memasang penyejuk ruangan.

Dengan anak dan cucu yang berbakti, mereka sudah dapat menikmati hidup. Namun, mereka tidak rela. Mereka tak rela menyia-nyiakan waktu. Mereka memanfaatkan hidup mereka dalam kelahiran kali ini untuk melatih diri dengan berani dan bersemangat. Meski pekerjaan daur ulang ini Meski ini pekerjaan daur ulang ini memerlukan kerja keras, namun mereka dengan sabar menjalaninya. Inilah “bekerja keras dan tahan derita, dan membimbing semua makhluk secara luas  agar bersama-sama memasuki kesadaran agung”. kita perlu bekerja keras dan menahan derita. Dengan demikian, barulah kita dapat mengabdikan diri sepenuhnya. Jika tidak berani mengabdikan diri, maka kita tak akan mencapai buah pelatihan.

Jadi, kita harus berani berkorban. Janganlah selalu tamak terhadap kehidupan kita sendiri dan tidak rela bekerja. Jika begitu, bagaimana bisa melatih diri? Kita harus berani berkorban untuk “menegakkan Tiga Permata”. Dengan himpunan pelatihan diri setiap orang, kita akan dapat menyebarkan Tiga Permata dan menyebarkan ajaran Mahayana untuk membimbing semua makhluk secara luas hingga bersama-sama mencapai kesadaran agung. Saudara sekalian, balas budi sangatlah penting. Jika tidak memiliki hati yang mengingat budi, kita tak akan dapat memahami dan menghargai tumbuhnya jiwa kebijaksanaan kita, pun tak dapat mengemban misi Tiga Permata demi perkembangan jiwa kebijaksanaan kita. Meski kita mengemban misi Buddha selama berkalpa-kalpa, kita tetap tak akan mampu membalas budi Buddha karena mencapai tanah Buddha adalah pencapaian pribadi kita, dan pencapaian akhir kebuddhaan kita adalah juga pencapaian pribadi kita. Namun, jika kita dapat berbuat sesuai ajaran Buddha, itu juga termasuk membalas jasa Tiga Permata dan Buddha. Untuk itu, semua harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment