Tzu Chi Filipina Menyelenggarakan Acara Makan Vegetarian Bersama untuk Amal
Jika kunjungan pertama kali Auggie Yap Suratos ke Buddhist Tzu Chi Campus (BTCC) di Sta. Mesa, Manila, sangat berkesan, maka itu dikarenakan pengalaman tersebut benar-benar memanjakan panca inderanya. Saat memasuki gerbang BTCC, dia langsung terpesona oleh pemandangan indah komplek yang luas, taman yang terawat rapi, dan arsitektur bangunan yang bertema oriental.
“Saya kagum,” katanya. “Saya merasa seperti berada di vihara Buddha di Taiwan.”
Namun yang mengugah seleranya adalah hidangan prasmanan vegetarian oleh Yayasan Tzu Chi pada acara makan bersama untuk amal tersebut. Diadakan pada tanggal 06 Maret 2022 di coffee shop BTCC, acara penggalangan dana ini mempersilahkan para tamu menyantap hidangan salad sayuran hijau yang penuh warna dan menggoda, vietnamese roll, sup krim jamur, kembang kol panggang, grilled king mushroom, polonchay, nasi daun zaitun, dan tempura versi vegetarian, serta bebek peking vegetarian, kung pao vegetarian, dan futomaki. Buah-buahan segar dan berbagai macam kue dan hidangan penutup juga tersedia.
“Semuanya sangat lezat,” kata Suratos, pemilik Vegan Grocer, sebuah toko serba ada yang khusus menjual produk makanan vegan. “Semuanya vegan sehingga kami bisa mencoba semuanya. Anda bisa merasakan kemurnian energinya. Semua hidangan ini disiapkan dengan penuh cinta.”
Kristin Lim, yang juga baru pertama kali mengenal Tzu Chi, sangat bersyukur bisa mengikuti acara tersebut. “Saya suka semua makanan dan orang-orang yang ada disana. Tempat ini sangat istimewa karena penuh energi positif. Di masa depan, saya berharap bisa menjadi relawan. Saya akan sangat senang bisa bertemu dengan orang baru dan menjelaskan kepada mereka bagaimana rasanya menjadi vegan dan bervegetarian.”
Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi Dharma Master Cheng Yen adalah seorang vegetarian seumur hidup, cerminan dari cinta dan hormatnya kepada semua makhluk hidup, termasuk hewan. “Jika lebih banyak orang mengadopsi pola makan vegetarian, akan lebih sedikit hewan yang dipelihara hanya untuk dibunuh untuk dijadikan makanan, yang akan mengurangi polusi,” kata beliau. “Ini akan meringankan beban Bumi. Semua mekhluk hidup layak dihargai dan dilindungi.”
“Mempertahankan pola makan nabati juga bagus untuk kesehatan seseorang,” kata Beliau. “Banyak dokter di Rumah Sakit Tzu Chi di Taiwan telah mengadopsi pola makan vegetarian, dan tubuh mereka tetap sehat dan pikiran mereka tetap tajam.”
Suratos, seorang penganut ajaran Buddha dan vegan yang taat, menganggap acara makan bersama vegetarian untuk amal ini sebagai “sebuah jalan yang bagus untuk menyebarkan ajaran Master Cheng Yen yang memiliki welas asih untuk semua makhluk hidup. Saya sangat percaya kita harus membantu hewan, membebaskan mereka dari rasa sakit dan penderitaan dengan cara memakan makanan nabati satu kali dalam sehari.”
“Membunuh hewan berarti tidak mencintai dan baik kepada mereka,” kata Lim, seorang vegan beragama Kristen. “Kita seharusnya menjadi pelayan mereka.”
Jurnalis : Joy Rojas,
Fotografer : Daniel Lazar,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.