Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 069 – Timbul tengelamnya Sebab dan Kondisi

Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi saat melihat jam, angka yang ditunjukkan selalu sama, namun kita tahu ini bukanlah hari yang sama. Kehidupan berubah seiring berlalunya waktu, demikian juga dengan masa hidup yang berlalu. “Kehidupan berkurang seiring berlalunya hari.” “Bagai ikan kekurangan air, di manakah kebahagiaan sesungguhnya?” Penderitaan hidup ada pada perputarannya, menderita karena waktu tidak mampu kita pertahankan selamanya. Kita semuanya berkumpul bersama dengan perasaan sukacita, namun karena berlalunya waktu dan masa hidup terus berkurang, maka ketika jodoh sudah berakhir, akan tiba saat untuk berpisah. Jodoh yang terjalin ini juga akan lenyap seiring ketidakkekalan. Kita sungguh beruntung terlahir sebagai manusia dan dapat mengenal Dharma. Benih karma yang kita bawa menyebabkan kita terus mengalami kelahiran kembali. Akibat bertemunya benih karma dan kondisi, kegelapan batin kita semakin bertambah hingga berlapis-lapis. Kegelapan batin ini pun menyebabkan karma buruk kita terus bertambah. Inilah jalinan jodoh dalam kehidupan. Namun, kita juga memiliki berkah karena dalam kehidupan ini dapat mengenal Dharma. Ini merupakan suatu jodoh yang baik. Jalinan jodoh yang baik muncul dan lenyap.

Demikian pula jodoh yang buruk muncul dan lenyap. Bagaimana ia dapat muncul? Karena benih karma dan kondisi bertemu. Contohnya setiap manusia, terlahir karena perpaduan darah ayah dan ibu sehingga terbentuklah tubuh fisik kita. Jika sel sperma terpisah dari sel telur dan keduanya tidak bergabung, maka tidak akan terbentuk tubuh manusia. Contohnya saat wabah SARS terjadi. Tentu semua masih ingat. Sebelumnya, kita tidak pernah menemukan adanya virus ini dalam tubuh manusia. Sebenarnya, virus ini bukan virus bawaan pada tubuh manusia. Apakah dahulu virus ini tidak ada? Ada. Hanya saja, penyakit yang diakibatkan virus ini hanya muncul pada tubuh binatang. Hanya saja sekarang ini hubungan manusia dengan binatang makin dekat dan ruang yang ada semakin sempit. Dengan makin dekatnya manusia dengan hewan, ditambah keserakahan hati manusia dan sifatnya yang mampu melakukan segala hal, manusia pun menindas binatang yang lemah dan memakan dagingnya. Jadi, di dunia ini ada banyak sekali kehidupan kecil yang oleh manusia yang merasa paling hebat dan berhak menindas semua makhluk hidup terus-menerus dibunuh.

Mulanya, virus ini hanya hidup pada tubuh binatang. Namun, karena lingkungan hidup dan juga karakteristik tubuh binatang yang berbeda, mereka dapat hidup bersama virus ini. Sementara noda batin manusia yang merupakan virus dalam jiwa, telah mengusik keseimbangan alam. Kehidupan berbagai makhluk hidup lain dengan sesuka hati diganggu oleh manusia, dirusak habitatnya, dan dibunuh. Akibatnya, virus yang mulanya hidup menumpang dalam tubuh binatang dengan baik, menjadi kehilangan tempat menumpang hidup saat binatang induknya dibunuh. Karena itu, virus masuk ke tubuh manusia dan bertemu dengan bakteri di dalamnya sehingga terbentuklah virus baru ini. Sebenarnya, jika virus ini tidak bertemu dengan bakteri di tubuh manusia, ia tidak akan menimbulkan penyakit.

Ini merupakan pertemuan sebab dan kondisi. Virus adalah benih atau sebab yang bertemu kondisi pendukung yakni bakteri lain, lalu bergabung dengannya, hingga terbentuklah virus baru sebagai akibat. Sama halnya dengan kehidupan umat manusia. Ketamakan manusia merupakan sebab utama manusia mengalami kelahiran kembali di enam alam kehidupan. Makhluk awam melekat pada keakuan, membangkitkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan yang disebut tiga racun. Dengan adanya kondisi luar yang mendukung, mereka menciptakan banyak benih karma dan menerima buahnya. Kekuatan karma ini terus terakumulasi. Akibatnya, semua makhluk terus terlahir kembali di enam alam. Hanya dengan pelatihan diri terus-meneruslah mereka dapat terbebas dari lingkaran kelahiran kembali ini. Kini ada begitu banyak bencana di dunia. Bencana alam maupun ulah manusia, keduanya bermula dari perbuatan manusia.

Malapetaka dari ulah manusia mengakibatkan terjadinya bencana alam. Dan malapetaka akibat ulah manusia ini tentu diciptakan oleh manusia sendiri. Bukankah ini berarti kita semua tengah menciptakan karma buruk? Kebencian dan dendam membawa malapetaka. Semua ini merupakan akumulasi. Sejak berkalpa-kalpa yang lalu hingga sekarang, dalam jangka waktu sangat panjang ini, selama bertumimbal lahir di 6 alam, kita terus membawa benih karma, terus menambah kegelapan batin, dan terus menciptakan karma buruk hingga terus terkumpul hingga saat ini. Karena itu, pada masa akhir Dharma ini, dunia dipenuhi banyak kekeruhan. Moralitas tidak ada lagi dalam hati manusia.

Akibatnya, berbagai bencana pun terjadi pada zaman ini, pada tubuh manusia serta lingkungannya. Kita harus berintrospeksi. Jika kebajikan kita semakin banyak, maka benih karma dan kondisi yang baik akan semakin banyak pula. Saat benih karma dan kondisi baik bergabung, maka dunia manusia ini akan menjadi tanah suci. Dunia yang mulanya suci ini, kini justru penuh benih karma dan kondisi buruk. Kondisi pendukung karma buruk yang sangat kuat membuat kita menciptakan banyak karma buruk. Maka, kita sering membahas hukum sebab akibat. Praktisi Buddhis harus mengingat hukum ini. Sebersit niat bagaikan sebutir benih. Dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak niat yang timbul dalam pikiran kita, berarti sebanyak itu pulalah benih yang kita tanam. Saat benih itu bertemu kondisi pendukung, akan menghasilkan benih-benih baru. Demikianlah siklus hukum sebab akibat berjalan tanpa henti.

Karena itu, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Usia terus berkurang seiring berlalunya waktu. Seperti ikan yang hidup di dalam guci bocor yang airnya menetes keluar sedikit demi sedikit, kehidupan ikan di dalamnya pun sehari demi sehari mendekati kematian. Kita hidup di alam semesta. Alam semesta bagaikan sebuah guci besar, sementara musim dan waktu bagaikan air kolam. Usia kehidupan setiap orang bagaikan guci lain yang berbeda yang masing-masing terisi oleh airnya sendiri. Air ini menunjukkan pada kita Air ini menunjukkan seberapa panjang jodoh kita dengan dunia ini. Jika jodoh sudah berakhir, maka kehidupan juga akan berakhir. Saudara sekalian, sebagai praktisi Buddhis kita harus optimis dan berpikiran terbuka bahwa inilah hukum alam semesta. Ketika seseorang terlahir di dunia, sudahlah dipastikan bahwa suatu hari ia akan meninggal dunia. Dan ketika kita meninggal, itu pun merupakan awal kehidupan baru kita. Inilah lingkaran kelahiran kembali.

Akhir dari yang satu adalah awal dari yang lain. Jadi, hari di mana kita dilahirkan sesungguhnya adalah hari penuh penderitaan, sehingga bayi yang terlahir langsung menangis. Itu karena ketika lahir, kondisi di lingkungan sekitar bagaikan goresan puluhan ribu pisau angin. Kulit bayi sangat lembut, belum memiliki lapisan pelindung yang tebal sehingga kontak dengan udara luar amat terasa. Karena itu, bayi yang terlahir pun menangis. Kita semua sudah lupa bagaimana situasi saat kita dilahirkan. Dalam kandungan ibu, kita bagaikan segumpal daging merah. Rahim ibu membalut kita. Saat tiba waktunya kita akan dilahirkan, kulit pembungkus ini seperti harus dibelah. Saat itu, tubuh kita bagaikan segumpal daging merah. Kontak pertama dengan udara luar sering saya umpamakan seperti lilin yang sedang menyala dan hampir habis meleleh, namun apinya masih menyala.

Saat itu Anda segera meniupnya agar padam. Setelah api padam, perhatikanlah dengan saksama. lilin yang telah lumer itu Di permukaan atas lilin yang meleleh langsung terbentuk sebuah lapisan tipis. Demikian pula, mulanya tubuh kita ini Saat terjadi kontak pertama dengan udara luar, ia seperti api lilin yang ditiup padam. Saat itu juga terbentuk lapisan kulit terluar. Karena itu, sewaktu dilahirkan kita menangis akibat kesakitan. Tangisan itu telah terlupakan, dan yang paling kita takuti adalah kematian. Sesungguhnya, kematian tidaklah menakutkan. Saat di mana kesadaran kita meninggalkan tubuh sangatlah ringan bahkan bercahaya. Suasananya sangat indah. Kesadaran keluar dari tubuh dengan ringan tanpa merasakan penderitaan. Yang paling dikhawatirkan adalah kesadaran ini mengikuti cahaya menuju ke alam tertentu yang seperti apa. Entah akan terlahir sebagai sapi atau kuda atau ke alam neraka. Tidak ada yang tahu. Ini tergantung pada masa sekarang.

Masa antara kelahiran dan kematian inilah, yakni proses kehidupan, yang harus ditakuti. Noda batin apa yang telah kita pupuk, dan di tengah noda batin itu, karma apa saja yang telah kita lakukan, hal inilah yang perlu kita waspadai. Makhluk awam tak kuasa mengendalikan diri yang akan terjadi. dan dengan mudah terpengaruh kondisi luar yang mengakibatkan goyahnya pikiran hingga melakukan perbuatan buruk, terus menciptakan karma dan jodoh buruk. Bila kita terus menanam benih buruk, kelak akan terus bertemu kondisi yang buruk, sehingga akibat buruk akan terus berbuah. Dengan demikian, sulit untuk mengikis karma buruk ini. Maka, saat melihat cara Maudgalyayana mati, Buddha berkata, “Buah karma buruk dari banyak kehidupan lampau telah diterima dalam satu kehidupan ini.” Bencana yang dialami Maudgalyayana terjadi di bawah gunung, di mana tubuhnya hancur tertindih batu besar.

Ada orang yang mengatakan, “Maudgalyayana adalah murid Buddha yang terhebat kesaktiannya, bagaimana mungkin tubuhnya bisa hancur tertindih batu?” “Maudgalyayana melatih diri dengan baik, mengapa Buddha tidak mampu menghindarkannya dari bencana?” “Mengapa Maudgalyayana tidak dapat luput dari bencana sekejap ini?” “Mengapa ia tak dapat lolos?” Buddha mengajarkan tentang hukum sebab akibat. Sebagaimana benih yang ditanam, demikianlah kondisi, buah, dan akibat yang akan diterima. Maudgalyayana telah menerima buah karma dari banyak kehidupan lampaunya. kita harus bekerja keras dan tahan derita. Cara membalas budi Buddha adalah dengan bekerja keras dan tahan derita. Yang ketujuh adalah mengamati kosongnya hakikat kejahatan. Kejahatan tak memiliki hakikat sejati dan tidak memiliki wujud hakiki, timbul karena sebab dan kondisi. Kejahatan tak memiliki hakikat sejati, timbul karena sebab dan kondisi.” Kejahatan sungguh tak memiliki hakikat sejati. Seperti virus, jika ia tidak menumpang hidup pada bakteri lain, maka ia tidak akan memberi pengaruh apa pun. Sama halnya manusia, tanpa sel sperma ayah dan sel telur ibu yang bertemu, maka tidak terbentuk manusia. Intinya, kejahatan tidak memiliki hakikat sejati.

Semua timbul akibat adanya sebab dan kondisi serta akibat pandangan salah. Makhluk awam memiliki pandangan terbalik mengenai kekekalan, kebahagiaan, keakuan, dan kesucian. Bahkan orang yang melatih diri sekalipun dapat berpemahaman salah tentang kekosongan, bahwa tiada kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kesucian. Yang berlatih hanya mencari kesucian pribadi, sedangkan yang terjerumus terus terjerumus. Akibatnya, adakalanya makhluk yang menderita tidak ada yang menolong. Karena itu, Buddha mendorong kita untuk menjaga kesucian pikiran agar meski masuk dalam lingkungan keruh, pikiran kita tidak tercemar ataupun ternoda. Maka, dalam menapaki Jalan Bodhisattva, kita telah membahas perlunya membina Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita. Kita harus terjun ke tengah masyarakat. Janganlah melekat pada “kekosongan”, jangan pula melekat pada “keberadaan”. Pemahaman terbalik kita terdiri atas pemahaman makhluk awam dan dua kereta.

Jadi, berlatih di Jalan Bodhisattva haruslah mematahkan 8 kekeliruan. Makhluk awam harus melenyapkan 4 kekeliruan tentang keberadaan, dan praktisi dua kereta harus melenyapkan 4 kekeliruan tentang kekosongan, sedangkan praktisi Jalan Bodhisattva harus melenyapkan 8 kekeliruan, yaitu jangan melekat pada keberadaan maupun kekosongan karena keduanya merupakan pandangan keliru. Karena muncul akibat adanya sebab dan kondisi, demikian pula mereka dapat lenyap ketika sebab dan kondisinya padam. Karena kejahatan timbul dari sebab dan kondisi, maka ketika bergaul dengan teman yang buruk, manusia melakukan perbuatan salah. Dan karena kejahatan lenyap jika sebab dan kondisi padam, maka kini kita membersihkan batin dan bertobat. “Karena muncul akibat adanya sebab dan kondisi, ketika sebab dan kondisinya padam.” Bertemunya benih sebab dan kondisi menimbulkan banyak penderitaan.

Namun, kita juga dapat memadamkan sebab dan kondisi buruk ini. Bagaimana kita harus melatih diri? Bagaimana kita harus bertobat? Juga di tengah masyarakat. Karena kita telah melakukan perbuatan buruk dan kesalahan di tengah masyarakat, maka kita pun harus sungguh-sungguh bersumbangsih untuk menebusnya sekaligus mengakui kesalahan dengan jujur, agar sebab dan kondisi buruk dapat padam. Jadi, kita harus sungguh-sungguh bertobat. “Karena kejahatan timbul dari sebab dan kondisi, Ketika kejahatan mendekat, maka ketika bergaul dengan teman yang buruk, manusia melakukan perbuatan salah.” Artinya, bergaul dengan teman yang tidak baik dapat mengondisikan kita berbuat karma buruk. “Dan karena kejahatan lenyap Jika karma berakhir karena jodoh, jika sebab dan kondisi padam, maka kini kita membersihkan batin dan bertobat.” Artinya, mulai hari ini kita melatih diri untuk senantiasa bertobat, menghapus kejahatan masa lalu, serta melenyapkan noda batin.

Setiap hari dan setiap waktu, kita harus senantiasa bertobat. Kita harus senantiasa menyucikan batin agar batin bebas dari kekotoran. Batin yang tercemar harus segera dibersihkan dengan cara bertobat. Itulah sebabnya, di dalam Sutra dikatakan bahwa hakikat kejahatan ini tidak berada di dalam, di luar, maupun di antaranya. Karena itu, kita tahu bahwa kejahatan ini pada hakikatnya adalah kosong. Selanjutnya, dikatakan bahwa itulah sebabnya, di dalam Sutra dikatakan, “Hakikat kejahatan ini tidak berada di dalam, di luar, Pada dasarnya hakikat kejahatan tidaklah ada. Hanya saja kita terus terpengaruh tabiat buruk. Sesungguhnya, sifat hakiki manusia adalah suci seperti Buddha. Karena itu, sering kali dikatakan, “Sifat manusia pada dasarnya adalah bajik, saling bergaul dan memengaruhi.” Semua orang saling memengaruhi. Sesungguhnya, tidak ada sifat jahat, tidak di dalam, di luar, Ia muncul akibat pertemuan antara kondisi luar dengan benih karma kita yang tak berwujud. “Karena itu, kita tahu bahwa kejahatan ini pada hakikatnya adalah kosong.” kekosongan ini bebas dari kejahatan.

Sesungguhnya, benih kejahatan ini hanyalah gabungan dari benih karma kita dengan kondisi lingkungan luar, sehingga akhirnya menjadi berwujud. Kelahiran dan kematian tidaklah menakutkan. Yang paling menakutkan adalah bilamana kita melakukan perbuatan buruk dan memiliki pandangan yang salah. Jika mampu hidup selaras dengan hukum alam dan tekun melatih diri di tengah hukum ini, berarti kita telah melakukan hal yang benar. Manusia pada hakikatnya bersifat bajik. Jika mampu berpemahaman benar dan tekun berlatih di jalan Buddha guna melenyapkan kesempatan bertemunya benih karma dan kondisi buruk, maka akan dapat menghentikan terciptanya kejahatan. Saudara sekalian,// kita harus senantiasa bersungguh hati. Dalam proses melatih diri, kita harus mengingat ketidakkekalan dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh. Hari ini bukanlah hari kemarin. Seiring berlalunya hari kemarin dan hari ini, usia kita pun telah berkurang. Tidak ada sesuatu pun di dunia yang dapat kita miliki selamanya. Yang dapat selamanya menjadi milik kita hanyalah tekad kita dalam melatih diri. Harap semua lebih bersungguh-sungguh.