Sanubari Teduh – 071 – Tulus Bertobat Melenyapkan Kegelapan Bathin
Saudara se-Dharma sekalian, Waktu berlalu begitu cepat. Setiap orang perlu menyadari, seiring berlalunya waktu, masa hidup semakin berkurang, bagai ikan kekuarangan air, di manakah kebahagiaan? Meskipun hari terus berlalu, kekuatan karma sulit dilenyapkan. Setiap hari kita melalui keseharian dalam ketidaktahuan dan ketidaksadaran, berhubungan dengan orang dan masalah. Di tengah ketidaksadaran dalam menghadapi manusia dan masalah ini, kita melakukan kekeliruan tanpa sengaja ataupun secara sengaja berbuat kesalahan. Demikianlah kita di tengah kehidupan yang tidak kekal ini telah menciptakan karma buruk dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, Syair Pertobatan Air Samadhi mengingatkan kita untuk senantiasa mawas diri. Hidup ini sungguh tidak kekal. Sebelumnya kita pernah membahas bahwa Dharma bagaikan air. Setiap perbuatan yang kita lakukan setiap hari semuanya menciptakan karma. Karena itu, kita harus menguatkan tekad dan melatih diri dalam setiap kesempatan, memanfaatkan waktu yang tidak kekal ini untuk melatih jalan kebenaran yang abadi. Inilah jalan yang harus kita lalui. Waktu terus berlalu dalam ketidakkekalan, meskipun kita tidak melangkah maju, waktu tetap berlalu.
Jalan kebenaran yang abadi ini jika tidak kita tapaki dengan baik pada arah yang benar, maka kesalahan arah sedikit saja dalam kehidupan yang singkat ini mungkin menyebabkan kita menciptakan karma buruk yang buahnya tidak berkesudahan. Karena itu, meskipun waktu terus belalu, karma buruk sulit dilenyapkan. Tidak mudah bagi kita untuk menemukan jalan kebenaran ini. Jadi, kita harus selalu bersungguh-sungguh. Di awal kita telah membahas bahwa kita harus meningkatkan kewaspadaan. Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi dikatakan, Mengakui kesalahan, tulus berdoa, merasa malu, bertekad untuk berubah dan memperbaiki diri. kita harus mengakui kesalahan, tulus berdoa, merasa malu, dan bertekad memperbaiki diri. Kita harus merasa malu dan memperbaiki diri karena kita mengetahui bahwa banyak karma buruk yang tercipta secara sengaja maupun tidak sengaja, sehingga kegelapan batin semakin tebal. Semua ini tergantung pikiran kita.
Sebelumnya kita telah membahas bahwa kita harus memiliki 7 kondisi pikiran. Kita harus membalas budi Buddha. Kita harus paham bahwa semua makhluk setara. Kita harus memahami di manakah sesungguhnya hakikat kejahatan berada. Sesungguhnya, tidak di luar, tidak di dalam, ataupun di antaranya. Di manakah sesungguhnya? Ia ada di dalam pikiran kita, berwujud benih. Apakah benih itu memang ada sejak awal? Tidak. Kejahatan pada hakikatnya kosong. Ia tak memiliki sifat hakiki. Tabiat buruk kitalah penyebabnya. Saat kondisi bertemu benih karma masa lalu, terciptalah karma buruk baru. Setelah mengetahui bagaimana kegelapan batin dan karma buruk dapat tercipta, dan mengintrospeksi diri. Setelah itu, kita harus merasa malu dari lubuk hati, merasa malu atas keangkuhan kita dalam berhubungan dengan orang ataupun masalah. Kita harus membangkitkan rasa malu atas sikap ini. Kita harus menyingkirkan sikap yang demikian dan memperbaiki diri kita. Jika kita tidak bisa memperbaiki diri, maka tabiat buruk ini akan tetap melekat. Tabiat buruk ini bagaikan sebutir benih. Jika ia terus melekat pada diri kita, maka saat kondisi pendukung dari luar tiba, tabiat buruk itu akan langsung muncul.
Oleh karena itu, sifat buruk tersebut harus disingkirkan dengan tuntas. Lalu bagaimana cara kita menyingkirkannya? Dalam Syair Pertobatan dipaparkan dengan jelas. Membersihkan jantung dan hati, serta menyucikan usus dan perut. Dengan bertobat seperti ini, kejahatan apakah yang tak dapat dipadamkan, dan berkah apakah yang tak dapat ditumbuhkan? “Membersihkan jantung dan hati.” Sama seperti kita membersihkan seluruh tubuh dengan air bersih. “Membersihkan jantung dan hati” berarti membuka hati dan pikiran kita dan membersihkannya dengan penuh kesadaran hingga tuntas. Ini juga berarti kita harus tulus. Kita harus tulus dalam memperbaiki diri. Jangan berkata, “Baiklah, saya akan pelan-pelan memperbaiki diri.” “Ya, saya akan perbaiki sedikit demi sedikit.” Memperbaiki diri pelan-pelan dan sedikit demi sedikit seperti itu tidak akan berhasil.
Jika Anda pelan-pelan memperbaikinya, ini seperti Anda pelan-pelan membersihkan sebuah tempat yang sangat kotor. Karena Anda membersihkannya pelan-pelan, maka meski ada sudut yang sudah bersih, akibat Anda melakukannya pelan-pelan, yang sudah bersih akan menjadi kotor kembali. Yang di depan belum sempat dibersihkan, yang di belakang sudah kotor kembali.
Sama halnya seperti menyiangi rumput liar di sebidang tanah yang luas. Saya ingat dahulu saat kita menanam kacang. Tanah ladang kita ini tidak subur dan tidak menghasilkan hasil yang baik. Tetapi, ada satu jenis tumbuhan, yaitu rumput liar, yang tumbuh sangat cepat. Ketika itu, kami hanya beberapa orang saja, dan ladang ini juga tidak kecil. Kami belum terbiasa dan tidak tahu cara menyiangi rumput liar yang benar. Karena ingin ladang menjadi lebih bersih, kami berjongkok dan menggunakan sekop, lalu mencabut rumput liar satu per satu, menggali pelan-pelan. Kami berharap dapat mencabut rumput-rumput ini helai demi helai sampai ke akar-akarnya. helai demi helai sampai ke akar-akarnya, Kami berharap dengan pelan-pelan mencabut rumput-rumput ini hingga akar, seluruh ladang akan bebas dari rumput liar. Pekerjaan mendetail seperti ini butuh waktu, sehingga kami mengerjakannya pelan-pelan.
Setelah pelan-pelan mencabuti rumput seharian, keesokan harinya, di bagian yang telah bersih tunas-tunas sudah muncul kembali. Rumput liar telah tumbuh kembali. Dengan “mengerjakan pelan-pelan” ini, sungguh tak akan mencapai tujuan. Kita harus mengetahui caranya, bahkan harus tekun; tekun dan mengetahui caranya. Ini berarti kita harus rajin. Meski Anda mengetahui caranya, namun jika tidak rajin dan bertindak cepat melainkan melakukannya pelan-pelan, maka ini bagaikan menyiangi rumput dengan pelan-pelan; pekerjaan belum usai, lahan yang telah disiangi sudah kembali ditumbuhi rumput. Demikianlah prinsipnya. Di Pusat Budaya Kota Hualien, kita menggelar pementasan Sutra 12 Ikrar Agung Bhaisajyaguru. Suasana pementasan itu begitu agung dan khidmat, begitu indah. Semua itu bisa terealisasi berkat adanya sekelompok Bodhisattva dari Yilan dan Hualien yang bekerja sama. Dalam waktu 3 hari, mereka membersihkan seluruh Pusat Budaya mulai dari kaca jendela sampai lantai, mulai dari aula hingga toilet. Ratusan relawan ini bekerja selama 3 hari.
Gerakan mereka begitu cepat. Gedung itu sangat luas. Jika tidak menggerakkan begitu banyak relawan yang semuanya bekerja dengan keras, menahan hawa panas, menahan rasa haus, menahan cucuran keringat, serta bersatu hati dan bergotong royong, maka kita tidak akan bisa melihat lingkungan gedung yang bersih. Begitu masuk ke dalam gedung, lantainya berkilau hingga memantulkan bayangan. Pemandangan yang begitu bagus, begitu terang dan indah ini adalah berkat kesatuan hati dan kerja sama dari setiap orang. Ini karena setiap orang bersatu hati dan bersumbangsih dengan tulus, sehingga gedung itu bisa begitu bersih. Ini hanya sebuah contoh membersihkan lingkungan di luar tubuh kita. Bagaimana dengan kondisi pikiran kita? Kita harus mengandalkan diri sendiri. Orang banyak pun tidak dapat membantu membersihkan hati kita. Ini tergantung apakah kita sudah membangkitkan niat dan ketulusan atau belum. Apakah kita tulus berdoa dan merasa malu? Mengakui kesalahan berarti tiada yang ditutupi.
Kita harus benar-benar membuka hati kita dan tulus berdoa serta sungguh-sungguh membersihkan hati kita. Ini sangat penting. Syair Pertobatan ini tampaknya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Sedalam apa? merasa malu, bertekad untuk berubah dan memperbaiki diri, Dikatakan bahwa kita harus tulus berdoa,// merasa malu, memperbaiki diri, Bahkan isi rongga perut pun harus kita bersihkan agar lancar. Dibutuhkan banyak air dan cara yang terampil untuk// membersihkan isi perut kita. Dengan demikian, berarti menyucikan karma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran kita. Perbuatan kita harus benar, ucapan juga harus diperbaiki, dan pikiran harus kita waspadai. Karena itu, jika kita bisa tulus bertobat atas karma lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, maka “Kejahatan apa yang tidak dapat dipadamkan, dan berkah apa yang tidak dapat ditumbuhkan?” Maksudnya adalah kita harus bertobat setulus hati dengan menjaga tubuh, ucapan, dan pikiran kita. Ini bagaikan kita sedang mencuci organ-organ tubuh kita hingga seluruhnya menjadi bersih.
Dengan begitu, kejahatan mana yang tidak padam, dan kegelapan batin mana yang tidak terhapuskan? Semua kegelapan batin dan karma buruk kita akan lenyap dengan sendirinya. Dengan senantiasa membersihkan batin menggunakan air Dharma, tulus bertobat atas segala karma buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran, maka kegelapan batin akan lenyap dan karma buruk pun akan turut lenyap. Tetapi, janganlah kita beranggapan, “Jika saya segera melantunkan Syair Pertobatan secara terus menerus, maka semua karma buruk saya akan lenyap dengan sendirinya.” Bukan begitu. Justru setelah kita telah paham Justru setelah kita paham dan membuka tabir kegelapan batin, kita mengakui semua perbuatan kita di masa lalu dan mengetahui bahwa sebagai makhluk awam, ada sesuatu yang berada di luar kendali kita dan berjalan sesuai hukum karma. Jadi, kita harus tulus bertobat dan menerima semua buah perbuatan kita. Jika bisa demikian, kita pun bisa melenyapkan karma buruk, karena kegelapan batin sudah lenyap dan ia tidak lagi membelenggu batin kita.
Karma buruk pun akan berlalu, karena karma berlalu seiring dengan waktu asalkan kita tidak membiarkan kegelapan batin dan karma buruk kembali membelenggu kita. Ketika benih karma buruk masa lalu muncul dan kondisi luar mendukung, akibat karma pun akan berbuah. Ketika karma ini berbuah, jika kegelapan batin timbul kembali, maka buah karma tadi akan mengondisikan kita untuk kembali menciptakan karma buruk baru. Dengan demikian, karma buruk terus membelenggu dan tidak bisa dilenyapkan. Jadi, jika kita dapat tulus bertobat, mengakui kesalahan masa lalu dan bertekad, “Saya akan memperbaiki diri, akibat karma buruk yang berbuah sekarang akan saya terima dengan senang hati,” maka kita tidak membiarkan benih karma buruk tercipta kembali ketika kita bertemu kondisi luar yang mendukung. Dengan demikian, karma buruk akan lenyap. Jika kegelapan batin lenyap, karma buruk pun akan lenyap seiring waktu. Jika kalian mendengarkan dengan sepenuh hati, tentu dapat memahami maksud saya. Jangan lagi mengatakan, “Saya sudah berbuat baik, juga sudah memperbaiki diri, mengapa masih sering bertemu hal-hal yang tidak diinginkan?” Bertemu hal buruk adalah suatu yang wajar. Karena di masa lampau pernah berbuat salah, wajar bila sekarang kita menerima akibatnya. Ini adalah hukum alam. Setelah paham, terimalah kenyataan itu. Asalkan kita membersihkan batin kita, kita dapat memahami kebenaran ini dan tidak lagi membangkitkan kegelapan batin. Jika kegelapan batin tidak bangkit, kita akan memiliki hati yang jernih dalam menghadapi kondisi kehidupan saat ini sehingga rela menerima buah karma buruk dan segera memperbanyak kebajikan. Dengan demikian, berarti kita sedang menghimpun segala berkah. Karma buruk lenyap, berkah pun tumbuh. Dengarkanlah dengan saksama, bila karma buruk telah lenyap, berkah akan tumbuh. Sama halnya seperti kita menyiangi rumput. Jika rumput telah dicabut bersih, maka benih yang kita tanam akan tumbuh dengan subur.
Tetapi, jika kita menanam benih tanpa menyiangi rumput liar, maka begitu benih bertunas, tunas itu akan ditutupi oleh rumput liar. Dengan kata lain, di masa lampau kita tidak mengetahui bahwa batin kita telah dipenuhi rumput liar, maka kini kita harus segera menyianginya dan bertekad menanam bibit yang baik serta merawat bibit tersebut. Dalam konteks tanaman, kondisi yang baik berarti memiliki cukup sinar matahari dan air. Benih harus cukup mendapat sinar matahari dan mendapat cukup air. Karena itu, rumput liar yang mengganggu harus dibersihkan agar berbagai kondisi pendukung seperti sinar matahari, udara, dan air di sekitar benih tersebut dapat membantunya bertumbuh. Ini sama dengan sewaktu kita menggarap ladang batin kita. Bertobat sama seperti kita sedang membersihkan hati dan isi perut kita sampai benar-benar bersih. maka rintangan karma pun akan lenyap. Dan bila kita melangkah maju dengan hati yang bersih dan jernih ini, maka berkah akan tumbuh.
Jika sebaliknya, menjalani hidup dengan lamban dan sesuka hati, memiliki pikiran yang risau dan bergejolak. Jika sebaliknya, berarti kita menjalani hidup dengan lamban dan sesuka hati, Lihatlah, jika kegelapan batin tidak lenyap, kita akan terus-menerus menjalani hidup tanpa menyadari bahwa ketidakkekalan bisa menjemput kapan saja, menjalani hidup dengan bersantai-santai dan tanpa makna. Sikap “pelan-pelan” ini tidaklah benar. Begitu pula dengan sikap sesuka hati. “Pelan-pelan” berarti sangat lamban. Memperbaiki diri dengan lamban “Seiring berlalunya waktu, masa hidup semakin berkurang.” “Bagai ikan kekurangan air, di manakah kebahagiaan?” Mengapa dalam hidup ini kita masih bersantai-santai? Janganlah demikian. Kita harus bertindak dengan cepat bagai ada api yang tengah membakar alis dan harus segera kita padamkan. Kita harus dengan segera memperbaiki diri. Setelah memasuki jalan lapang dan lurus ini, kita harus berlatih dengan tekun. Jika bukan bersantai-santai menjalani hidup, umumnya manusia bertindak sesuka hati atau menjadi sangat risau dan tidak bisa menenangkan pikiran.
Dalam melatih diri, yang paling kita harapkan adalah memiliki waktu untuk berintrospeksi dan berkesempatan menenangkan pikiran. Batin yang hening dan jernih. Ini adalah kondisi yang sering saya sampaikan, juga adalah kondisi yang ingin saya capai. Jika tidak ada urusan mendesak, saat saya sendirian, saya akan menggunakan waktu untuk merenung atau membaca sesuatu. Saya merasa harus memanfaatkan waktu tersebut. Jika kita tidak memanfaatkan waktu dan hanya menjalani hidup dengan sia-sia dengan hanya pergi ke sana kemari, maka batin kita akan mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan luar. Tidak mudah untuk menenangkan hati. Tentu, dalam melatih diri, jika kita dapat melatih hingga tetap tenang di tengah segala aktivitas dan dapat menjaga keheningan pikiran di tengah kondisi kacau, inilah kondisi batin yang terbaik. Tetapi, ada sebagian orang yang meski berada di tengah suasana tenang tetap tidak dapat menenangkan hati dan terus berpikir ingin pergi ke luar untuk mencari teman berbincang-bincang. Ini sungguh menyia-nyiakan kehidupan.
Seorang praktisi, seperti yang pernah kita bahas, tidaklah melekat pada ada ataupun tiada. Kita harus berjalan di Jalan Tengah. Karena kita menyadari bahwa kehidupan bersifat penuh derita, kosong, dan tidak kekal ibarat tetes embun dan cahaya petir, maka kita tidak perlu melekat pada siapa yang benar atau salah. Tidak perlu. Tetapi, orang awam dalam masyarakat justru terikat pada pertikaian seperti itu. Keterikatan itu membuat mereka risau dan tidak bisa tenang. Namun, meski tidak melekat pada itu semua, kita tetap harus peduli pada masyarakat. Kadang-kadang dalam melatih diri ada pandangan yang keliru, yaitu karena merasa takut akan ketidakkekalan hidup, maka berpikir, “Saya ingin segera mencari tempat yang tenang.” “Saya ingin menjauh dari orang-orang dan tidak mau berurusan dengan masalah duniawi agar dapat terbebas dari kemelekatan.” Pandangan seperti ini tidak benar. Kita seharusnya tetap menjaga pikiran kita dengan baik agar meski berada di tengah masyarakat yang penuh gejolak, hati kita dapat tetap tenang dan jernih. Inilah yang disebut kondisi.
Namun, kadang kondisi yang tenang ini justru kita rusak sendiri sehingga segalanya menjadi bergejolak. Kita sendiri yang ingin pergi bergaul sehingga hati tidak bisa tenang. Saudara sekalian, kondisi-kondisi ini harus kita pahami dengan sungguh-sungguh. Tujuan melatih diri adalah mampu menjaga keheningan pikiran meski berada di tengah gejolak masyarakat. Jika batin dapat senantiasa hening dan jernih tanpa pemikiran salah dan noda batin, maka kondisi luar yang bergejolak pun akan terlihat dengan jernih dan jelas. Kita yang berjalan di Jalan Bodhisattva tidak boleh meninggalkan Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Ini sudah berkali-kali saya jelaskan dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, Saudara sekalian, kita harus mengingat Syair Pertobatan ini. Jika kita tidak bertobat dengan tulus dan tidak sungguh-sungguh membersihkan seluruh organ tubuh kita, maka sangat dikhawatirkan bahwa dengan tabiat buruk yang ada, kita akan mudah terpengaruh kondisi luar.
Karena itu, kita tidak boleh pelan-pelan. Kita harus cepat dan tekun, namun hati harus tetap tenang, batin harus tetap hening dan jernih. Jika batin dapat berada dalam keheningan, maka kondisi sekitar akan terlihat jernih. Seperti sebuah cermin, kondisi lingkungan di luar dipantulkan olehnya dengan sangat jelas. Setelah kondisi itu berlalu, cermin itu tetap sangat bening. Inilah yang harus kita latih. Jadi, kita tidak boleh berbuat sesuka hati. Jika tidak, kehidupan akan menjadi Menjalani hidup dengan lamban dan sesuka hati, memiliki pikiran yang risau dan bergejolak, maka meski terlihat begitu sibuk, apakah manfaat yang diperoleh? sia-sia, lamban, dan sembrono dengan pikiran yang risau dan bergejolak. Meski terlihat begitu sibuk, tiada manfaat yang kita peroleh. Karena itu, kita harus melatih diri. Sesungguhnya, bagaimanakah cara melatih diri? Meski terlihat sibuk, tetap tidak mendapat manfaat.
Karena itu, kita harus mawas diri. Hidup ini tidaklah kekal. Dalam kehidupan yang begitu rumit, kita harus menyederhanakan pikiran kita dan menyucikan hati kita. Ini semua membutuhkan kesungguhan hati. Sebenarnya, berapa waktu yang masih kita miliki untuk dapat mengubah diri pelan-pelan? Kita sungguh harus mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini tidak kekal. Melatih diri bukanlah untuk menjadi terhormat dan terkenal. Ini tidak perlu. Bila kita menjalankan kewajiban dan aturan dan melalui kehidupan dengan baik, ini adalah yang paling mulia. Dalam berlatih di jalan Buddha, harap semua dapat menunaikan kewajiban melatih diri. Semoga kalian menyadari ketidakkekalan. Harap semua lebih bersungguh hati.