Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 075 – Senantiasa Bersyukur dan Tak Ternoda

Saudara Se-Dharma sekalian, apakah meditasi penting dalam pelatihan diri? Meditasi sesungguhnya bertujuan meneduhkan batin kita agar dapat berefleksi dan merenungkan apakah kita telah berbuat salah pada momen-momen yang lalu. Kemudian, kita perlu memicu diri. Jika tidak melakukan kesalahan apa pun, lalu perbuatan baik apa yang sudah kita lakukan? Apa yang sudah kita lakukan sehingga merasa bahagia? Atau mungkin kita tidak berbuat salah apa pun, juga tak mendapat apa-apa dari perbuatan kita, namun pikiran kita tetap merasa damai. Jika demikian halnya, kedamaian pikiran inilah yang kita cari. Aspek terpenting dalam pelatihan diri adalah bebas dari kerisauan dan merasakan kedamaian. Walaupun perbuatan baik membawa kebahagiaan, itu adalah kebahagiaan dari memberi tanpa pamrih. Seperti kabar yang saya terima dari Indonesia. Mereka menghubungi saya dari jauh, namun saya dapat menangkap kegembiraan di suara mereka.

Maka, saya bertanya pada mereka, “Ada apa?” Mereka berkata, “Kami sungguh bersyukur.” Saya bertanya, “Mengenai apa?” Mereka berkata, “Kami baru saja mendistribusikan 10.000 ton beras.” Kita dapat membayangkan betapa indahnya peristiwa itu, setiap orang diliputi cinta kasih yang tulus, memberi tanpa pamrih dengan wajah yang tersenyum. Penerima bantuan di sana sudah bertahun-tahun tidak memiliki beras. Dapat dibayangkan bagaimana setiap orang memanggul satu atau dua karung beras. Walaupun berat, namun saya percaya hati mereka amat gembira. Pemandangan demikian, interaksi orang-orang yang bergerak mengalir, saya yakini adalah pemandangan yang penuh harmoni. Mendengar cerita mereka, saya lalu berkata, “Pasti pekerjaan yang melelahkan.” Mereka berkata, “Oh, namun kami merasa beruntung.” “Kami sangat berterima kasih pada Master.” Saya bertanya apakah mereka bahagia. Mereka berkata, “Sangat bahagia.”  “Namun, rasa syukur kami melebihi kebahagiaan itu.” “Jika bukan karena Master dan karena Tzu Chi, tidak ada yang dapat kami ceritakan, juga tidak ada yang dapat kami lakukan, dan tidak akan kami sebahagia ini.” “Maka, kami merasa lebih bersyukur daripada bergembira.” Mendengar ungkapan tersebut, saya sungguh dipenuhi sukacita dalam Dharma. Kebahagiaan ini beda dengan kebahagiaan biasa. Inilah kebahagiaan dalam Dharma.

Mereka kemudian berkata pada saya, “Master, yang lebih menggembirakan lagi, ada beberapa pengusaha dari Jawa Timur ikut mengamati dan belajar cara relawan kita mendistribusikan bantuan.” Para pengusaha ini juga ikut memanggul karung beras. Karena kegiatan pembagian beras itu hanyalah bagian dari jadwal kunjungan mereka, maka masing-masing dari mereka hanya sempat memanggul 40 hingga 50 karung. Mereka berkata, “Mengapa waktu saya begitu singkat?” “Saya baru saja menikmatinya.” “Saya tidak pernah merasa begitu bahagia sebahagia saat memanggul karung-karung beras.” adalah pimpinan perusahaan besar. Sebagian besar memiliki puluhan atau ratusan ribu karyawan. Para pengusaha ini mungkin tidak pernah memanggul karung beras selama hidup mereka. Masing-masing dari mereka memiliki kesempatan memanggul 40 hingga 50 karung, Mereka berkata, “Saat kami mulai menikmatinya, mengapa diminta meninggalkan tempat?” Itu karena dalam jadwal acara berikutnya, mereka harus mengunjungi tempat lain.

Jadi, sesungguhnya banyak orang berhati mulia yang bersedia bersumbangsih. Kita hanya perlu memberi mereka kesempatan. Meski diminta untuk mengangkat benda berat, mereka bersedia. Dengan adanya kerelaan, orang akan merasa damai tanpa beban. Walaupun barang yang diangkat berat, tetapi pikiran mereka tidak terbebani. Pikiran yang damai tanpa beban inilah yang menjadi tujuan pelatihan diri. Jika saat bersumbangsih kita merasa bahagia, maka kondisi harus kita pertahankan terus. Tidak seperti di Indonesia, di sini kita tidak memiliki ladang berkah yang besar untuk digarap.  Akan tetapi, dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap orang yang kita jumpai adalah ladang berkah spiritual kita. Terhadap orang-orang yang baik, kita perlu bersyukur, karena mereka mengajarkan banyak hal kepada kita. Kita juga perlu bersyukur terhadap mereka yang tidak berjodoh baik dengan kita.

Kita perlu bersyukur karena perilaku mereka yang kita anggap tidak baik membuat kita berintrospeksi apakah kita juga berperilaku seperti mereka, memiliki sikap dan kebiasaan buruk, nada bicara yang tidak baik, atau tindakan yang kurang tepat. Apakah kita berlaku seperti itu? Jika tidak, maka berbahagialah kita. Jika ya, maka segeralah perbaiki diri. sesungguhnya memberi kita pelajaran. Terlepas dari perilaku orang yang kita jumpai baik atau buruk, terlepas ia dekat ataupun asing bagi kita, asalkan telah berjumpa dengan kita, entah membuat kita bahagia ataupun marah, kita seharusnya selalu bersyukur pada mereka. Sungguh sulit berkesempatan untuk terlahir sebagai manusia. Segala yang kita temui di dunia ini, bukankah menjadi pelajaran penting bagi kita? Karena semua ini adalah kesempatan bagi kita untuk belajar dan berkembang, maka kita sepatutnya selalu bersyukur.

Dengan demikian, pikiran kita akan damai, tidak mudah marah dan berhitungan. Karena itu, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita sungguh perlu menjaga pikiran dengan baik. Selanjutnya,  “Sebagaimana dikatakan dalam Sutra, manusia awam menciptakan karma buruk dalam setiap tindakan.” Sesungguhnya, kita makhluk awam menciptakan karma buruk dalam setiap tindakan. “Terlebih lagi, dalam kehidupan lampau mereka telah memupuk karma buruk yang tak terhingga banyaknya.” Dalam kehidupan ini, kita telah menciptakan banyak karma buruk, terlebih lagi pada kehidupan yang lalu. Saya sering mengatakan bahwa segala yang kita terima di kehidupan ini merupakan buah perbuatan kita di kehidupan lampau. Jika ingin mengetahui perbuatan kita di masa lampau, lihatlah kehidupan kita saat ini. Apakah yang telah kita lakukan selama kehidupan lampau kita? Ini dapat dilihat dari kondisi kita saat ini.

Jika pada kehidupan ini Anda penuh berkah, memiliki jodoh yang baik dengan banyak orang, serta memiliki keberuntungan yang baik, berarti dalam kehidupan lampau Anda telah menciptakan jodoh dan karma baik. Jika Anda menanam karma baik dan menjalin jodoh baik, maka selama kehidupan ini, kita akan berjumpa dengan// orang-orang yang menyenangkan. Setiap orang akan menyukai kita,// sebagaimana kita menyukai mereka. Semua yang Anda lakukan akan berjalan sesuai harapan. Orang-orang seperti ini pada kehidupan lampaunya telah menciptakan karma dan jodoh baik. Jadi, jangan berpikir, “Dalam hidup ini saya sudah berbuat baik, mengapa semua tidak sesuai keinginan?” Perbuatan baik Anda saat ini akan berbuah di masa depan. Apa yang kita alami saat ini adalah hasil dari benih dan jodoh di kehidupan lampau yang kini telah matang dan berbuah. Sesuai hukum sebab akibat, segala yang kita terima saat ini// adalah buah karma. Apa yang kita perbuat di masa lampau menjadi benih dan jodoh yang telah ditanam. Perbuatan kita saat ini adalah benih dan jodoh yang akan kita tuai di kehidupan mendatang. Demikianlah hukum karma. Segala benih dan jalinan jodoh yang ditanam, itulah yang akan berbuah dan dituai. Kini kita sedang menerima buah karma, juga sedang menanam benih baru.

Hal ini berarti bahwa kita menentukan buah yang akan dituai di masa mendatang melalui perbuatan kita saat ini. Jadi, saat menuai buah karma di masa kini, pada saat yang sama kita menciptakan benih baru yang akan berbuah di kehidupan mendatang. Buah yang kini kita terima berasal dari// benih yang ditanam di kehidupan lampau. Saudara sekalian, janganlah kita berpikir bahwa selama kita tidak melakukan kejahatan, itu sudah cukup. Kita tidak seharusnya berhenti sampai di sana. Selain tidak berbuat jahat, kita perlu melakukan perbuatan baik karena meski kini kita menikmati hidup yang baik, namun jika kita tidak bersumbangsih kembali, maka ketika buah karma baik ini habis dituai, berkah kita pun akan habis. Ketika berkah habis, giliran jalinan jodoh buruk yang berbuah, dan kita akan menerima buah karma buruk.

Jadi, kita harus memanfaatkan//kehidupan kita saat ini dan membuka jalan yang baik bagi masa depan. Maka, janganlah berpikir bahwa kita tak pernah berbuat salah. Kita perlu tahu bahwa pada kehidupan lampau, kita telah memupuk//karma buruk yang tak terhingga, dan karma buruk ini akan terus mengikuti bagai bayangan yang mengikuti bentuk. Karma kita mengikuti bagaikan bayangan diri kita. Saat kita berjalan di bawah sinar matahari, bayangan akan selalu mengikuti kita. Seperti itulah, karma selamanya mengikuti kita. Bagaimanapun wujud diri kita, bayangan kita selalu mengikuti. Manusia sungguh ahli dalam menciptakan karma buruk. Saya melihat laporan berita mengenai Kamboja. Di musim hujan, kondisi di sana, antara lain lingkungan, iklim, dan suhu udara, membuat belalang berkembang biak dengan pesat. Karena itu, belalang ada di mana-mana. Rakyat setempat menggunakan jaring untuk menangkap belalang-belalang tersebut. Mereka menangkap banyak belalang. Untuk apa? Untuk dimasak. Keluarga-keluarga di sana terbiasa memakan belalang. Kawanan belalang yang ada di setiap tempat mereka tangkap dengan jaring. Setiap keluarga melakukan hal ini.

Bayangkan, manusia begitu kuat dan berkuasa dibandingkan dengan makhluk lain. Yang lemah dimakan yang kuat. Manusia tak memiliki belas kasih sedikit pun, tidak mengasihi makhluk lain sedikit pun. Bahkan gajah, harimau, dan beruang di Afrika yang merupakan hewan-hewan bertubuh besar masih ditangkap oleh manusia sebagai hewan buruan. Selain memakan dagingnya, mereka mengulitinya, karena kulit harimau sangat berharga. Bahkan mereka juga membunuh gajah yang bukan merupakan binatang buas. Untuk apa mereka membunuh gajah? Untuk mendapatkan gadingnya. Lalu, yang terjadi pada beruang, mereka memotong kakinya. Untuk apa? Untuk diambil cakarnya. Banyak nyawa hewan yang berharga dibunuh demi memenuhi ketamakan manusia atas bagian-bagian tubuh hewan yang berharga. Lihatlah, manusia sungguh kejam. Mungkin di kehidupan lampau kita, banyak burung di udara, ikan di laut, ataupun hewan lain di darat yang telah kita bunuh maupun buru. Saudara sekalian, dapatkah kita katakan bahwa kita tidak pernah melakukan kesalahan? Untuk makan saja, kita sudah membunuh banyak hewan. Intinya, siapa yang tidak pernah melakukan karma buruk?

Banyak orang tidak berbakti kepada orang tua. Semua orang mungkin bisa mengatakan bahwa tak sepatutnya seseorang tidak berbakti. Banyak juga orang yang tidak menghormati guru. Ini juga tidak benar. Kita mungkin dapat mengatakan pada mereka bahwa tidak seharusnya mereka berbuat begitu. Akan tetapi, ada yang sering kali tidak kita sadari. Saat masih kecil, terutama generasi muda masa kini, kita semua minum susu untuk bertumbuh. Lihat, saat masih kecil, kita minum susu sapi, dan setelah dewasa, kita makan daging sapi. Kita tidak pernah berpikir bagaimana kita tumbuh besar. Walaupun ibu yang melahirkan kita, namun orang zaman sekarang tidak banyak yang memperoleh ASI. Mereka minum susu sapi atau susu kambing. Setelah dewasa, mereka malah makan daging sapi. demikianlah yang dilakukan manusia. Dapatkah kita bilang kita tidak menciptakan karma buruk? Setiap orang pasti pernah, bahkan telah banyak menciptakan karma buruk. kita harus selalu membangkitkan rasa malu dan senantiasa bertobat. Kita harus segera memperbaiki diri.

Jangan berkata kita tidak pernah berbuat salah. Jika terus berpikir begitu, kita akan terus melakukan kesalahan. Kesalahan yang disengaja disebut pelanggaran, yang tak disengaja disebut kekeliruan. Dalam segala perbuatan kita,// kita tengah menciptakan karma. Benih karma yang kita tanam di masa lalu dapat kira rasakan buahnya di masa kini. Saat bertemu kondisi yang tak diinginkan, kita harus menerimanya dengan sukarela. Di masa lalu,// kita melakukan hal buruk dengan sukacita, kini terimalah akibatnya dengan sukarela. Saya sering berkata kepada kalian bahwa kita harus melakukan dengan sukarela// dan menerima dengan sukacita. Melakukan dengan sukarela// berarti disertai tekad. Betapa pun sulitnya, kita tetap bersukacita. Contohnya, di Indonesia. Lihatlah, di tengah cuaca panas dengan suhu 40 sampai 50 derajat Celsius, para pengusaha tadi masing-masing memanggul 50 karung beras di bawah terik matahari, dan berharap dapat memanggul lebih banyak lagi karena mereka merasakan sukacita. Inilah contoh melakukan dengan sukarela.

Tidak peduli teriknya matahari ataupun panasnya cuaca, meski tubuh dipenuhi peluh, mereka semua sangat gembira. Inilah yang disebut melakukan dengan sukarela. Kita harus sepenuh hati dan gembira dalam berbuat baik. Sumbangsih yang ikhlas dan sukarela inilah yang disebut melakukan dengan sukarela. Setelah bersumbangsih, mereka merasa gembira dan dipenuhi sukacita dalam Dharma. Sebaliknya, orang yang gelap batin melakukan hal buruk dengan sukacita, sehingga harus menerima akibatnya dengan sukarela. “Yang penting saya senang, tidak ada urusannya denganmu.” Mereka tahu bahwa itu salah,// namun masih melakukannya. Karena melakukannya dengan sukacita, mereka harus rela menerima akibatnya. Saudara sekalian, berlatih di jalan Buddha sesungguhnya adalah menjaga pikiran kita. Kehidupan tidaklah kekal. Harap semua lebih bersungguh hati.

Leave A Comment