Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 074 – Menanam Benih Berkah akan Menuai Berkah

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari saya memiliki perasaan bahwa hidup sungguh tidak kekal. terkadang saat saya membaca sutra, Adakalanya saat sedang membaca Sutra, saya akan berkata pada diri sendiri, “Hidup bagaikan embun yang jatuh di rerumputan atau lilin di tengah angin.” Hidup sungguh tidak kekal. Dalam kehidupan ini, apakah yang sebenarnya telah kita kumpulkan, dan apa yang dapat kita bawa saat meninggal? Jika tidak ada,  pada saat meninggal kita akan sangat kesepian. Dalam Teks Pertobatan tertulis, “Terombang-ambing menanti pengampunan yang tak kunjung tiba.” “Sendirian menanggung penderitaan tanpa ada yang dapat menggantikan.” Setiap orang perlu memahami dengan jelas, apa yang telah kita lakukan sepanjang hidup. Jika kita melakukan perbuatan salah, maka butir-butir benih karma buruk akan tertanam dalam kesadaran ke-8 kita. Kesadaran kedelapan ini akan berlanjut// dari kelahiran ke kelahiran. Di antara delapan kesadaran, kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran disebut enam kesadaran pertama.

Kesadaran ketujuh disebut Manasvijnana atau kesadaran pikiran ternoda, merupakan sumber dari keakuan. Kesadaran kedelapan disebut Alayavijnana atau kesadaran gudang, merupakan tempat tersimpannya benih karma. Semua benda milik kita dalam hidup ini, juga semua harta benda seperti permata yang menghiasi seluruh tubuh, sewaktu kita meninggal akan ditinggalkan di dunia ini. Saat menemui Raja Yama, tak peduli berapa tinggi jabatan seseorang tak peduli berapa tinggi jabatan seseorang, seberapa termasyhurnya ia, atau berapa banyak pengawal yang melindunginya, saat ajal tiba, ia tidak dapat membawa apa-apa meski hanya uang satu dolar sekalipun. Apakah yang ia miliki? Saat meninggal, kita tidak membawa apa-apa selain kesadaran kita dan setumpuk benih dari perbuatan kita. Saat menghadap Raja Yama, semua kebaikan dan keburukan kita akan tampak jelas di sana. Saat kita menjalani hidup sekarang ini, kita merasa yang sudah terjadi telah berlalu, tidak ada pengaruh yang ditinggalkan. Ada. Kita telah melakukan dan mengatakannya. Segala yang kita perbuat atau katakan, meski sudah berlalu dan kita tidak melihat dampaknya, namun benih karma tersebut tetap tersimpan.

Walaupun perbuatan kita itu tidak dilihat oleh orang lain hingga tiada yang mengetahuinya, namun benih perbuatan tersebut   tetap tertanam dalam kesadaran kita. Oleh karena itu, meskipun kita tak dapat melihatnya, namun butir-butir benih karma telah tertanam dalam kesadaran kedelapan kita. Saat meninggalkan dunia ini, kesadaran kedelapan ini ikut menyertai kita. Terombang-ambing menanti pengampunan yang tak kunjung tiba; sendirian menanggung penderitaan tanpa ada yang dapat menggantikan. Jadi, dalam Syair Pertobatan digambarkan kondisi yang cukup menggentarkan. Saat kesadaran terombang-ambing, tidak akan ada orang yang mendampingi kita, sungguh kesepian, dan sangat gelap. Dalam kondisi ini kita diadili tanpa bisa meminta pembelaan dari siapa pun. Maka dikatakan, “Menanti pengampunan yang tak kunjung tiba, sendirian menanggung penderitaan.” Kita hanya seorang diri merasa sangat ketakutan dan tidak berdaya. Hanya kita seorang diri, tiada orang yang dapat menggantikan.

Siapakah yang dapat menggantikan kita, yang dapat membela, menemani, ataupun membantu kita? Tidak ada seorang pun. Dalam pengadilan di alam manusia, kita dapat menyewa pengacara dan mendatangkan saksi-saksi, juga ada orang-orang yang menjadi juri. Namun, di sana tidak ada, tidak ada orang yang dapat membela kita. Maka dikatakan, “Tiada orang yang dapat menggantikan.” Jangan katakan dalam kehidupan ini diri sendiri tidak pernah berbuat salah sehingga tidak perlu tulus berdoa dan bertobat. “Jangan katakan dalam kehidupan ini sehingga tidak perlu tulus berdoa dan bertobat.” Jangan berkata, “Itu hanya untuk orang yang berbuat jahat, sementara saya tak pernah berbuat jahat.” ”Seumur hidup ini saya sangat bersih, tidak melakukan karma buruk apa pun.” Sebenarnya, karma buruk bukanlah tidak ada. Semasa hidup kita menciptakan karma buruk, hanya saja kita tidak menyadarinya.

Tanpa sengaja dan secara tidak disadari, kita tetap menciptakan karma buruk. Sebelumnya kita pernah membahas bahwa noda batin manusia sangat tebal. Batin setiap orang tercemar oleh kegelapan dan noda batin yang sangat tebal. Setiap orang memiliki kegelapan batin dan juga noda batin. Akibat adanya kegelapan dan noda batin ini, melalui tubuh, ucapan, dan pikiran kita menciptakan karma buruk tanpa sadar. Oleh karena itu, siapa berani mengatakan//dirinya bebas dari kesalahan? Tiada yang bisa berkata demikian. Di dunia ini, setiap orang memiliki kesalahan dan pernah melakukan pelanggaran baik disengaja maupun tidak. Kita juga sering berkata, “Saya sungguh tidak bermaksud demikian.” “Maafkan saya, saya tidak disengaja.” Walaupun mungkin tidak disengaja, jika membuat orang lain merasa tidak nyaman, karma buruk tetap tercipta. Inilah yang disebut jalinan jodoh buruk.

Meskipun kita tanpa sengaja dan tanpa sadar melukai orang lain, dan tanpa sadar melukai orang lain, namun orang itu merasa terluka. Mungkin dalam kehidupan ini tidak muncul akibat, namun dalam kehidupan mendatang, saat kita lengah dan kegelapan batin muncul, maka jalinan jodoh buruk pun akan matang. Karena itu, kita sering mengatakan, “Harus menjalin jodoh baik dengan banyak orang, jangan terlalu berhitungan dalam hal duniawi.” Inilah alasannya. Walau kita berbuat sesuatu tanpa maksud buruk, namun itu bisa menyinggung orang lain. Meski kita tidak merasakan apa-apa, namun jodoh buruk telah terjalin dengan orang lain. Jadi, benih karma dan kondisi buruk akan menyebabkan siklus tanpa akhir. Jadi, jangan berpikir kita tidak pernah melakukan kesalahan. Siapa yang dapat menyatakan bahwa// dirinya tidak pernah melakukan kesalahan? Karma buruk sering kita lakukan tanpa sadar, kecuali kita telah melatih diri dengan baik dan batin kita telah bebas dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan, hingga ketika bersentuhan dengan kondisi luar, hati dan pikiran kita tidak terpengaruh.

Hanya orang seperti ini yang dapat mengatakan dirinya bebas dari kesalahan. Karena kita semua adalah makhluk awam, maka ketamakan, kebencian, dan kebodohan senantiasa ada dalam keseharian kita sehingga sengaja ataupun tidak, kita bereaksi lewat perbuatan melalui tubuh, ucapan melalui mulut, dan pikiran serta perasaan dalam batin. Kita tidak dapat mengatakan bahwa// kita tidak menciptakan karma buruk. Selama masih memiliki// ketamakan, kebencian, kebodohan yang merupakan noda batin, setiap orang pasti menciptakan karma buruk. Akibat noda dan kegelapan batin, manusia menciptakan karma buruk. Jika racun ketamakan, kebencian, dan kebodohan dalam batin dapat dilenyapkan serta mengubah noda batin menjadi Bodhi, maka akan dapat menghentikan terciptanya karma buruk. Ada seorang pria paruh baya di Taiwan Barat. Karena kondisi ekonomi yang kurang baik, ditambah dirinya yang tidak memiliki keahlian, maka untuk bertahan hidup, ia berjualan di kaki lima. Barang yang dijualnya adalah tiruan barang bermerek. Polisi pun menyita semua dagangannya.

Pada saat itu, ia merasa menemui jalan buntu dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia pun teringat seorang teman lama yang pernah meminjam uang darinya sebesar sekian puluh ribu dolar. Ia pun pergi dari wilayah barat ke timur untuk menagih utang pada temannya itu. Siapa sangka, temannya telah kehilangan semua harta dan tidak dapat ditemukan. Ia tidak memiliki tujuan sehingga hanya terus menyusuri jalan, dan sampailah di Aula Jing Si Tzu Chi. Ia duduk di rerumputan di luar aula sambil memegang sebotol racun hama dan mulai meminumnya. Tepat pada saat itu, Ia terpikir sesuatu yang mengubah pikirannya ia teringat sesuatu dan berubah pikiran lalu segera memuntahkan racun itu. Para relawan Tzu Chi, pada setiap siang seperti itu selalu datang ke sana untuk memberi perhatian bagi para pasien RS yang duduk-duduk di sana. Kebetulan seorang relawan yang peka melihat sikap pria ini tampak tidak wajar, dan segera menyapanya. Mengetahui bahwa pria itu baru meminum racun, ia segera memanggil petugas keamanan dan relawan Tzu Cheng, dengan setengah memaksa membawa pria ini ke Unit Gawat Darurat.

Mereka perlu menarik, menyeret, dan membopong sambil terus membujuk pria itu ke UGD. Awalnya, ia tetap menolak perutnya dipompa, namun relawan Tzu Chi tidak menyerah, mereka terus membujuknya dengan halus serta tak henti memberinya perhatian. Setelah menjadi lebih tenang, ia akhirnya setuju perutnya dipompa. Kemudian, para relawan pun mendampinginya dan mengetahui semua kisah di atas, yaitu akibat krisis ekonomi, ia menjual barang tiruan di pinggir jalan lalu disita oleh polisi hingga membuatnya sangat marah dan benci. Namun, karena teringat seorang teman di Hualien, ia bermaksud menagih utang, namun ternyata temannya sudah entah ke mana dan tak dapat ditemukan lagi. Dalam kemarahan yang memuncak, ia pun meminum racun hama. Ia tidak tahu sedang berada di Tzu Chi. Saat itu ia dikuasai oleh kemarahan, sungguh murka. Tanpa disadari ia telah memasuki halaman Tzu Chi. Ia berkata bahwa saat meminum racun tersebut, tiba-tiba ia teringat pada anaknya yang baru berumur 3 tahun. Ia berpikir, “Jika aku meninggal begitu saja, bagaimana nasib anakku itu selanjutnya?” Maka, pada saat racun itu belum terminum, ia pun memuntahkannya.

Maka, kondisinya tidak kritis. Petugas Unit Gawat Darurat RS Tzu Chi membersihkan isi perutnya, dan ia pun baik-baik saja. Ini semua hanya berkat perubahan pikirannya. Jika ia benar-benar menelan racun hama, tubuhnya tentu akan mengalami kerusakan parah. Kalaupun tidak meninggal, tetap berakibat fatal. Di tengah krisis ekonomi dan kesulitan finansial, jika ia bertindak gegabah akibat sebuah pemikiran menyimpang, baik disadari maupun tidak, baik disadari maupun tidak, maka jika tidak meninggal, ia tentu akan semakin menderita dan membebani keluarga serta anak-anaknya karena tidak dapat lagi memikul tanggung jawab. Beruntung, ia segera berubah pikiran. Penyesalannya inilah yang disebut pertobatan. Ia segera memuntahkan racun itu dan segera berintrospeksi. Ia cukup beruntung sehingga tidak semakin terluka. Setelah dibimbing oleh para relawan, kini ia semakin memahami makna kehidupan dan mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.  Dengan penuh keyakinan, ia berterima kasih kepada para relawan Tzu Chi, bahkan berjanji untuk berusaha sebaik-baiknya untuk menjaga tubuh dan kesehatannya. Ia bahkan bersedia untuk menjadi relawan di masa mendatang. Lihatlah, ini pun merupakan sebuah jalinan jodoh. Ia memiliki jalinan jodoh yang baik.

Walaupun sempat mengalami frustrasi dan tidak dapat berpikiran terbuka hingga melakukan kesalahan, namun beruntung, ia memiliki jalinan jodoh yang baik sehingga bertemu dengan para relawan Tzu Chi yang sedang memerhatikan para pasien. Beruntung, seorang relawan yang cukup peka melihat adanya kejanggalan dan segera bertindak. ini juga merupakan jodoh baik. Setelah meminum racun itu, ia segera memuntahkannya kembali. Inilah yang disebut sadar dengan segera. Ini disebut menolong diri sendiri dengan bantuan orang lain. janganlah berpikir kita tak pernah salah, sebab seperti kisah pria ini, jika sebuah kekeliruan kecil dalam pikiran tidak segera disadari, akan menyebabkan karma buuk yang besar, sebab dibandingkan dengan membunuh orang, karma buruk tindakan bunuh diri lebih berat. Kita semua adalah manusia. Jika  melakukan bunuh diri, berarti kita tidak berbakti pada orang tua, sebab semasa mengandung kita selama 10 bulan, orang tua sungguh menderita.

Setelah kita lahir, orang tua membesarkan kita dengan susah payah, entah berapa banyak sumber daya alam yang telah kita konsumsi. Jika kita tidak menjaga diri dengan baik, bahkan melukai diri sendiri, ini disebut tidak mencintai diri sendiri dan tidak mengenal balas budi. Bunuh diri menciptakan karma buruk atas pembunuhan dan tidak berbakti pada orang tua. Jadi, jika bunuh diri berhasil, karma buruk yang tercipta sangat berat, namun jika tidak berhasil, maka kondisi hidup segan mati tak mau ini akan menjadi beban bagi diri dan keluarga. Maka, sebagai praktisi Buddhis kita perlu menjaga pikiran agar tetap jernih, tidak membiarkan kondisi luar menggoyahkan pikiran kita. Dengan begitu, kita akan merasakan kedamaian, dan kegelapan batin kita dapat terkikis selapis demi selapis, sehingga rintangan karma pun turut terkikis. Kita sering mengatakan bahwa saat karma apa pun berbuah, kita harus menerimanya dengan penuh sukacita. Dengan demikian, maka karma ini akan terkikis. Sebaliknya, jika kita tidak menerimanya dengan sukarela, maka bagaikan menghindar dari utang, bunganya akan terus bertambah. Kita telah berutang banyak pada orang lain, namun menghindar dari kewajiban, maka bunganya akan semakin berat. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh menjaga hati dan pikiran dengan baik. Jika dapat menerima dengan sukacita saat rintangan karma muncul, maka karma itu akan terkikis dan berakhir. Jika berusaha melarikan diri darinya, maka akan menciptakan karma buruk baru sehingga timbunan karma ini menjadi bagai gunung dan membawa penderitaan yang tak berkesudahan. Dulu di Malaysia (Kuala Lumpur), ada seorang nenek yang disapa “Nenek Anggur”. Relawan Tzu Ching (muda-mudi) sungguh baik. Biasanya, aktivitas anak muda berkisar antara bermain-main atau bekerja paruh waktu di hari libur.

Namun, kelompok relawan muda Tzu Chi ini tidak mengisi waktu mereka dengan bekerja ataupun bermain-main. Mereka memanfaatkan hari libur untuk mendampingi orang-orang yang butuh perhatian. Mereka melakukan sumbangsih sejak semasa kuliah hingga lulus dan juga membimbing para Tzu Ching baru, sehingga menciptakan estafet yang tak terputus. Dalam menangani penerima bantuan, Tzu Ching akan terus mendampingi. Jika mahasiswa yang menangani sudah lulus, Tzu Ching yang baru akan melanjutkannya. Nenek Anggur ini sejak dilahirkan sudah mulai ditumbuhi tumor-tumor kecil berbentuk seperti butir-butir anggur yang memenuhi tubuh, kepala, dan wajahnya. Ia memiliki seorang putri yang juga mewarisi kondisi ini. Karena itu, mereka sangat rendah diri. Orang luar takut berdekatan dengan mereka sehingga kehidupan mereka sangat kekurangan. Putrinya ini juga menyimpan kebencian. Selain rendah diri, ia juga membenci kenyataan bahwa ibunya mewariskan kondisi ini padanya, sehingga ia sangat membenci ibunya. Hubungan mereka pun tidak harmonis.

Orang luar pun selalu menjauhi mereka. Lalu bagaimana mereka dapat bertahan hidup? Nenek ini berjualan di lapak pinggir jalan, sementara putrinya terlalu malu keluar rumah. Kasus seperti ini, setelah melalui perhatian para relawan Malaysia dan pendampingan para Tzu Ching, meski awalnya juga mengalami penolakan dari ibu dan putrinya tersebut, perlahan-lahan hati mereka mulai terbuka. Akhirnya, setiap minggu nenek mulai menantikan kunjungan dari sekelompok muda-mudi ini yang ia anggap cucunya sendiri. Setiap kali datang, mereka akan menyapa, “Nenek! Nenek!” Mereka membantunya membersihkan rumah, dll, benar-benar seperti cucu di keluarga ini yang pulang ke rumah setiap minggunya. Di saat yang sama, Tzu Ching juga mendampingi putri nenek itu hingga suatu kali, seorang Tzu Ching berkata, “Kakek Guru kami berkata bahwa kita yang memiliki sepasang tangan yang sehat// adalah yang paling penuh berkah, tak perlu memusingkan pendapat orang lain terhadap diri kita.” “Asalkan berusaha dengan kekuatan sendiri, kita pun dapat memiliki hidup yang baik dan dapat pula membantu orang lain.” Putri nenek itu pun bertanya, “Bagaimana caranya membantu orang lain?” “Diri saya saja masih bergantung pada orang lain, bagaimana bisa membantu orang lain?” Tzu Ching itu pun menjawab, “Suatu kali, Kakek Guru berceramah di Taichung.”

“Setelah itu, semua orang bertepuk tangan.” “Lalu, Kakek Guru memberi tahu setiap orang untuk memakai kedua tangan yang bertepuk itu untuk melakukan pelestarian lingkungan.” “Dengan begitu,// pertama, kita akan menyelamatkan bumi; kedua, tidak memboroskan sumber daya alam; ketiga, hasil penjualan sampah daur ulang itu dapat dipakai untuk membantu orang lain.” Nenek dan putrinya amat bahagia mendengarnya, “Kalau itu, kami juga bisa!” Maka, pintu hati mereka mulai terbuka. Putrinya mulai bekerja, dan dengan hati yang ringan dan lapang, nenek berjualan cabai di pinggir jalan. Seusai bekerja, ibu dan anak ini melakukan daur ulang bersama. Mereka membuka hati dan memahami bahwa segalanya// berkaitan dengan karma. Bila dahulu pernah menciptakan karma buruk, maka sekarang harus ikhlas menerima akibatnya. Ingin lari dari karma yang berbuah hanya akan menimbulkan penderitaan. Mereka dipandang rendah oleh orang lain, ditambah lagi memiliki rintangan dalam hubungan ibu dan anak, kehidupan seperti ini bukankah membuat kondisi semakin buruk?

Sungguh kehidupan yang dingin dan pahit serta penuh penderitaan. Maka, ketika ibu dan anak ini paham dan membuka hati mereka, anaknya menjadi bahagia dan nenek itu menjadi lebih damai. Hubungan keduanya menjadi semakin baik, sang anak mengerti untuk berbakti, dan sang nenek menyayangi anaknya. Selama kondisi memungkinkan, mereka melakukan hal yang membantu orang lain dengan mengumpulkan barang daur ulang// demi melindungi bumi dan menyumbangkan hasilnya pada Tzu Chi. Maka, agar orang lain dapat membantu, diri sendiri harus menolong diri sendiri dulu. Jika tidak menolong diri sendiri, maka berapa pun orang yang coba membantu, tidak akan ada hasilnya. “Langit akan membantu orang yang membantu dirinya sendiri.” Orang yang rela membantu dirinya sendiri pasti akan menemukan jalan keluar. Hanya dengan berusaha menanami ladang berkah sendiri, barulah dapat menghimpun karma baik. Jadi, kita hendaknya dapat memahami bahwa kehidupan ini tidak kekal. Saat kesadaran meninggalkan tubuh setelah kita meninggal, siapa yang dapat menemani kita? Selama hidup di alam manusia ini, kita mungkin memiliki banyak hal. Suatu waktu, saat kematian tiba dan kesadaran kita meninggalkan tubuh, meski di sekujur tubuh ada banyak perhiasan, yang terbawa pergi hanyalah kesadaran yang menyimpan benih karma kita.

Pada saat itu, perbuatan baik atau buruk akan dihadapkan pada Raja Yama. Karena itu, kita perlu memerhatikan pola kehidupan kita saat ini dan merenungkan bagaimana kualitas kehidupan kita. Lihatlah Nenek Anggur dan putrinya. Walaupun penampilan mereka buruk dan menakutkan bagi orang-orang, namun ada sekelompok muda-mudi, Bodhisattva muda yang sepenuh hati membantu. Sekarang para tetangga menyayangi mereka dan sangat memerhatikan mereka. Di pinggir jalan,// nenek berjualan dengan murah senyum. Orang-orang merasa ia sangat menyenangkan. Kehidupan mereka pun menjadi sangat damai. Ini sama dengan pria di awal tadi. Ketika berbuat kesalahan, meski yang disakiti hanya diri sendiri, namun ia dapat segera berintrospeksi. Ia juga telah menyelamatkan dirinya sendiri. Intinya, karma buruk tak hanya tercipta dari perampokan pembunuhan, atau perbuatan mencelakai orang lain. Lebih dari itu, tidak menyayangi diri juga sama. Sedikit penyimpangan pikiran dan perilaku// akan membawa terciptanya karma buruk. Karena itu, kita harus selalu berintrospeksi dengan tulus dan sungguh-sungguh bertobat. Ini sangatlah penting. Jadi, kita yang mempelajari ajaran Buddha// harus menyerap ajaran ke dalam hati. Ajaran yang telah dibabarkan Buddha harus benar-benar kita praktikkan// dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kita harus lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment