Sanubari Teduh – 073 – Kebijaksanaan Murni
Saudara se-Dharma sekalian, ketika pikiran kita tenang dan damai, kita dapat sadar dan merasakan napas kita. Ketika dapat bernapas dengan lancar, kita harus menghargai momen-momen ini. Kita dapat mendengar suara burung berkicau dan melihat matahari terbit yang cahayanya menyinari pepohonan. Sebagian sinarnya terhalang oleh pepohonan, namun sebagian lagi menerobos dahan-dahan dan mampu menyinari pohon-pohon lain. Betapa indahnya pemandangan ini. Sungguh indah. Ketika tubuh kita sehat, lingkungan luar tenang dan damai dengan dipenuhi suara burung dan serangga, dan pikiran kita jernih dan murni, bukankah ini adalah kondisi tanah suci? Namun, banyak orang tidak menyadari ini dan malah berselisih, menyibukkan diri dalam ketidakjelasan, sehingga dipenuhi kerisauan. Jika dipikirkan, ini sungguh sia-sia. Di dalam Sutra sering kita temukan kalimat-kalimat yang mengingatkan kita bahwa kehidupan tidaklah kekal bagai sebatang lilin yang menyala. Ketika lilin ditiup angin, apinya akan bergetar. Ketika angin bertiup lebih kencang, api lilin itu akan padam dan tak akan menyala kembali.
Sekali apinya padam, lilin itu tak akan lagi menyala. Untuk menyalakannya kembali, sumbunya harus disulut lagi. Jika sumbu dan lilinnya masih ada, ia tentu dapat disulut lagi. Begitu apinya padam, cahayanya tidak ada lagi. Jadi, kita harus memahami kehidupan ini. Dalam satu kehidupan ini, apakah tubuh kita pasti selalu sehat? Sulit dikatakan. Kehidupan bagaikan nyala lilin yang terus bergetar. Jika minyaknya habis, lilin tersebut tak akan menyala lagi. Saat satu kehidupan berakhir, baik dimakamkan atau dikremasi, tubuh akan menjadi debu atau seonggok tanah. Adakah yang tersisa? Ada. Apakah yang tersisa? Buah penderitaan di tiga alam rendah. Apa pun yang telah kita perbuat, karma ini akan terus mengikuti kita. Benih karma akan mengikuti kesadaran kita meninggalkan jasmani. Fenomena yang paling Anda sukai akan muncul dan menarik Anda. Namun, apakah fenomena itu nyata? Itu hanyalah ilusi yang timbul dari hasrat dalam batin Anda. Fenomena ini akan muncul dan menyeret kita entah ke tiga alam rendah ataupun ke alam manusia. Bagaimana kondisi kehidupan kita nantinya? Tidak tahu. Tergantung dengan orang tua mana kita berjodoh. Kekuatan karma akan menentukan lingkungan tempat kita dilahirkan. Kita tak dapat menentukannya.
Jadi, Syair Pertobatan mengatakan, “Buah penderitaan di tiga alam rendah harus diterima tanpa dapat dihindari.” Kita harus menerima buah perbuatan kita. “Tidak dapat dibayar oleh uang, harta, maupun permata.” Tidak bisa. Ketika pada suatu hari kita sungguh-sungguh menghadap Raja Yama, maka keadaan saat itu tidak sama dengan pengadilan di alam manusia. tidaklah sama dengan pengadilan di alam manusia. Dalam pengadilan di alam manusia, dengan membayar uang jaminan, Anda dapat dibebaskan sementara. Namun, di hadapan Raja Yama, tak berlaku tebusan untuk pembebasan sementara. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu, demi pembangunan rumah sakit,// saya berkunjung ke wilayah barat. Suatu hari di Taipei, sekelompok orang datang ke kantor kita di Taipei yang terletak di Jalan Jilin. Dalam perbincangan, seorang tokoh masyarakat tiba-tiba berkata, “Master, Anda bilang kehidupan tidak kekal, bahwa tiada yang dapat dibawa kecuali karma.” “Saya sangat percaya hal ini.” Saat itu saya sedang membabarkan Bhaisajyaguru Sutra. Setelah mendengar pembabaran saya, ia berkata demikian.
Katanya, “Saya sangat memercayai hal itu.” Saya balik bertanya, “Apakah Anda punya pengalaman langsung?” “Mengapa Anda begitu percaya?” Ia menjawab, “Bukan pengalaman saya sendiri, melainkan pengalaman orang lain.” Ia bercerita bahwa temannya menderita sakit dan di rawat di ruang rawat kelas satu. Saat itu kondisinya sangat kritis. Banyak dokter RS Univ. Nasional Taiwan bersama-sama berusaha menolongnya. Meski hampir dapat dipastikan bahwa kondisinya kurang optimis, namun mereka tidak menyerah. Akhirnya, ia tertolong. Kemudian, dalam waktu yang cukup lama ia menjalani pemulihan di rumah sakit. Setelah pulang ke rumah, perlahan-lahan ia mulai bisa berbicara. Kesehatannya pun berangsur-angsur pulih. Satu hari, sekelompok orang yang berlatar belakang sama dengannya datang menjenguknya. Saat itu ia sudah mampu duduk dan berbicara.
Ia berkata kepada mereka, “Kali ini saya hampir menghadapi maut.” Teman-temannya kemudian bertanya, “Seperti apa rasanya?” Ia berkata, “Sangat menakutkan.” “Sungguh sulit dijelaskan.” “Setiap orang di sana terlihat menyeramkan.” “Di sana, saya merasa sangat sendirian.” “Tiada seorang pun yang saya kenal.” “Saya dibawa ke hadapan Raja Yama.” “Raja Yama sangat menyeramkan.” “Ia berseru, ‘Hukum fisik!’” “Saat itu saya sangat ketakutan.” “Ia mengeluarkan buku catatan kehidupan dan bertanya kebajikan apa yang telah saya perbuat di alam manusia.” “Tiada satu pun ditemukan dalam catatan.” “Tetapi, saya berkata padanya, ‘Banyak urusan negara yang harus diselesaikan, saya harus segera pergi dari sini, setidaknya bebaskan saya untuk sementara dan berilah saya waktu, biar saya membayar uang jaminan.’” “‘Berapa yang harus saya bayar?’” “Raja Yama berkata, ‘Uang jaminan? Di alam manusia ada uang jaminan, di sini tidak ada.
Namun, karena engkau bilang ada urusan negara yang perlu diselesaikan, maka aku mengizinkan engkau membayar uang jaminan.’” “Saya sangat senang, lalu bertanya, ‘Berapa yang harus saya bayar?’” “Ia menjawab, ‘Tidak banyak, cukup satu dolar saja.’” Ia segera merogoh setiap kantong, namun tidak dapat menemukan satu dolar pun. Ia melanjutkan, “‘Saya tidak punya uang.’” “‘Mengapa mengapa tidak punya?’” “‘Di rumah, saya punya banyak uang, hanya saja saya tidak bawa uang sekarang.’” “Saat itu, Raja Yama berkata, ‘Ya, engkau punya banyak uang di alam manusia, tetapi sekarang, engkau sendirian di sini.’” “‘Uang tidak berguna di sini.’” “‘Apa yang aku ingin tahu adalah apa yang telah engkau lakukan semasa hidup.’” “‘Ini yang paling penting.’” “‘Di sini, kebajikan dan kejahatan tercatat dengan jelas.’” “‘Apa pun yang kau lakukan semasa hidup, baik ataupun jahat akan diadili di sini.’” Orang ini sangat terkejut, dan tiba-tiba ia siuman. Ia pun berkata kepada teman-temannya, “Kehidupan sungguh tidak kekal.” “Kelak ketika saya meninggal, siapa yang dapat menemani saya?” “Jika sesuatu terjadi pada saya, siapa yang dapat menjadi saksi bahwa saya telah berbuat baik di dunia?” “Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.” “Kenyataannya, di sana tercatat dengan jelas.” “Pada saat itu, saya menyadari hal ini.” Tokoh ini menceritakan kisah ini pada saya.
Ia berkata, “Apa pun tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” “Apakah catatan Raja Yama itulah yang disebut karma?” Saya menjawab, “Ya, kelahiran dan kematian tidaklah penting, yang terpenting adalah apa yang telah Anda lakukan semasa hidup.” “Segalanya tercatat dengan jelas.” “Sepanjang kehidupan ini, apa yang Anda lakukan dan bagaimana Anda menghadapi orang dan masalah, semuanya tercatat dengan jelas.” Ia menjawab, “Saya mengerti sekarang.” Tokoh masyarakat ini sekarang telah menjadi seorang relawan Tzu Chi yang berdedikasi. Saudara sekalian, dalam hidup ini kita mungkin memiliki berbagai kenikmatan, namun suatu hari, ketika ajal menjemput dan kesadaran terpisah dari tubuh, ke manakah kita akan pergi? Fenomena mana yang akan menyeret kita? Mungkin kita akan tiba di tempat yang dingin dan penuh pertikaian, yang orang-orangnya tidak berperasaan dan bersikap sangat kejam terhadap kita. Tak peduli di alam manusia ini seberapa tinggi kedudukan kita// dan seberapa terkenal diri kita, saat ajal menjemput, kita akan sendirian dan tiada yang mengenal kita. Jadi, sulit untuk membayar jaminan karena kita tidak membawa apa-apa.
Karena itu, dikatakan, “Tidak dapat dibayar oleh Ketika saatnya tiba, segala kekayaan yang kita miliki tidak akan ada gunanya. Jika ingin meminta orang lain membela kita, juga tidak mungkin. Siapa yang akan membela kita? Semua orang di tempat itu begitu dingin dan tidak berperasaan. Siapa yang akan peduli dan melindungi Anda? Dikatakan, ”Terombang-ambing menanti pengampunan yang tak kunjung tiba.” Tiada rasa simpati di sana. Anda mungkin dapat terbebas sementara. Jika jodoh dengan kehidupan ini belum habis, Amda mungkin dapat kembali. Namun, jika jodoh telah berakhir, banyak dokter pun tak akan mampu menolong. Lihatlah, tanggal 6 Juli 2003, di Singapura diadakan operasi yang menarik perhatian dunia, yakni pemisahan kembar siam dari Iran. Bagian kepala mereka menyatu, namun mereka memiliki sifat yang berbeda, pemikiran sendiri-sendiri, dan cara pandang masing-masing. Yang satu sangat suka bergerak, sedangkan yang lain lebih pendiam. Ketika menuntut ilmu di sekolah, mereka memiliki cita-cita yang berbeda, namun harus menghadiri kelas yang sama. Sang kakak ingin menjadi pengacara, sedangkan sang adik ingin menjadi wartawan. Pemikiran dan kegemaran mereka sangat berbeda. Namun, kepala mereka menempel, sehingga harus melakukan segala hal bersama.
Betapa menderitanya mereka. Dengan pemikiran yang berbeda, mereka harus melakukan hal yang sama. Inilah derita bertemu dengan yang tak disukai. Bukan hanya itu, bagian tubuh mereka pun menempel. Sungguh menderita. Para dokter di suatu rumah sakit di Singapura berharap dapat melakukan sesuatu yang akan menjadi terobosan dalam dunia medis. Mereka bersedia melakukan pembedahan bagi kembar siam tersebut. Pembedahan ini sangat berisiko. Namun, menyatu selama bertahun-tahun, kembar siam ini juga sungguh menderita. Mereka berharap dapat bergerak bebas. Jika dapat dipisahkan, mereka dapat menentukan masa depan masing-masing, mengejar cita-cita dengan bebas, memakai barang sesuai keinginan sendiri, mengutarakan pikiran masing-masing, dan bergaul dengan orang yang mereka sukai. Mereka sangat berharap bahwa suatu hari mereka dapat hidup dengan bebas. Karena itu, mereka rela mengambil risiko. Rumah sakit di Singapura bersedia menangani kasus mereka dan mengundang banyak spesialis dari negara-negara maju di dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis. Para ahli dari berbagai negara diundang untuk turut membantu.
Ada puluhan dokter ternama yang membantu pembedahan kembar siam ini. Operasi ini memakan waktu lebih dari 50 jam. Si kembar tidak berbaring di meja operasi, melainkan duduk di kursi yang dirancang khusus. Mereka duduk saat kepala mereka dibedah, dan proses ini memakan waktu 50 jam lebih. Banyak dokter ternama dari berbagai negara maju bekerja sama dalam operasi tersebut. Apakah operasi itu berhasil? Selain membutuhkan tenaga banyak orang, operasi ini juga menghabiskan dana lebih dari 10 juta dolar NT (Rp3 miliar). Lebih dari 10 juta dolar NT dikeluarkan dan lebih dari 100 orang ahli dikerahkan untuk menolong nyawa kembar siam tersebut. Operasi pemisahan ini telah memakan waktu lebih dari 50 jam, namun kembar siam itu akhirnya meninggal. Lihatlah, meski telah menghabiskan dana lebih dari 10 juta dolar NT, tetap tak dapat menyelamatkan nyawa mereka. Bahkan ratusan dokter ternama pun tak dapat menyelamatkan nyawa dua orang ini. Jadi, jika jodoh dengan kehidupan ini berakhir, dokter ternama pun tak akan dapat menolong. Mereka tak dapat melakukan apa-apa. Meski telah mengundang dokter ternama dan menghabiskan banyak dana, tak ada gunanya.
Bagaimana pun majunya ilmu pengetahuan, tidak dapat menyelamatkan kehidupan mereka. Intinya, saat ajal menjemput, seseorang akan sendirian. Pada akhirnya, kita hanya seorang diri saat menghadapi ajal. Kita tidak tahu fenomena apa yang akan muncul dan menarik kita. Kita tidak tahu semua ini. Kita hanya akan mengikuti. Entah menderita di tiga alam rendah ataupun di alam manusia, kita tidak tahu. Karena itu, kita harus sadar dan waspada. kondisi alam yang kita temui mungkin membuat kita terombang-ambing dan sangat kesepian. Saat itu, bahkan orang-orang yang kita sayangi tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan jika kita memanggil mereka, “Datanglah kemari, temani saya,” mereka akan berkata, “Kamu sudah meninggal, jangan lagi datang mengganggu saya.” Kita tentu merasa takut jika orang yang meninggal meminta kita menemani. Ini kenyataan keras dari kehidupan. “Terombang-ambing menanti pengampunan yang tak kunjung datang.” Kita akan sendirian. Buah penderitaan pun harus ditanggung sendiri.
Tiada orang yang dapat membantu kita. “Sendirian menanggung penderitaan tanpa ada yang dapat menggantikan.” Kelak, penderitaan apa yang akan kita terima, tidak ada yang dapat menggantikan kita. Seperti yang kita lihat di rumah sakit, banyak pasien yang menderita karena sakit. Banyak pula anggota keluarga yang tak rela melihat orang yang mereka kasihi menderita akibat penyakit. Mereka merasa sangat khawatir dan cemas. Namun, apakah ini dapat membantu si pasien? Sedikit pun tidak. Bagaimana pun mereka khawatir, bagaimana pun mereka menangis, bagi anggota keluarga yang di ambang ajal, hanya akan menambah rintangan batin. Ia tidak rela dan menderita. Jadi, siapa pun tak dapat menggantikannya menderita. Baik siksaan batin maupun penderitaan fisik, tiada yang dapat menggantikannya. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus senantiasa waspada, waspada di sepanjang jalan hidup kita. Karena telah dilahirkan di sini, kita hendaknya merasa puas dan tidak mengeluh ataupun menyesalkan, “Mengapa saya begitu tak beruntung?” Tidak perlu mengeluh. Apa yang kita perbuat di kehidupan lampau, itulah yang kita terima saat ini. Karena sudah terlahir, maka terimalah kondisi kita.
Kapankah ini akan berakhir? Saat waktunya tiba, kita akan pergi. Apakah kematian begitu menakutkan? Sebenarnya, kematian sendiri tidak menakutkan. Yang paling menakutkan adalah jika saat kesadaran meninggalkan tubuh, kita tak dapat menentukan ke mana arah kita. Kita mungkin akan terombang-ambing dan tiba di tempat yang gelap dan dingin, atau kekuatan karma kita akan bermanifestasi menjadi fenomena yang menyeret kita. Kita tak dapat mengendalikan semua ini. Kita akan merasa khawatir, namun kekhawatiran ini tidaklah berguna. Yang terpenting saat ini adalah apa yang kita perbuat dan bagaimana kita meneguhkan pikiran kita agar kelak dapat menentukan ke mana akan pergi. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menaati sila dan aturan. Sila harus dijaga dengan baik. Janganlah melanggar norma sebagai manusia. Kita harus melatih pikiran untuk teguh. Setelah memilih arah yang benar, kita harus meneguhkan pikiran kita. Dengan begitu, kebijaksanaan baru akan tumbuh. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita akan datang dan pergi dengan bebas. Dengan demikian, kita tak perlu khawatir tentang di mana kita akan terlahir kelak atau ke mana kekuatan karma akan menyeret kita. Dengan memiliki tekad, kita akan dapat kembali ke alam manusia dengan mengemban misi. Kita akan tahu jelas tentang semua ini. Demikianlah, para Buddha dan Bodhisattva tidak pernah meninggalkan Dunia Saha, melainkan terus datang kembali. Saya terus mengatakan kepada semua orang bahwa yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjalani hidup saat ini. Untuk itu, harap semua menjaga arah kehidupan masing-masing dengan menaati aturan yang ada serta norma sebagai manusia. Kendalikanlah pikiran kita. Dengan demikian, kematian tidaklah menakutkan. Lebih bersungguh hatilah senantiasa.