Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 079 – Mengendalikan Batin Sendiri agar Tidak Terpengaruh Kondisi Luar

Saudara se-Dharma Sekalian, setiap hari kita berbicara tentang menyelaraskan pikiran kita. Hal ini sungguh penting. Setiap hari, dalam menghadapi berbagai kondisi baik manusia, masalah, maupun objek, pikiran kita harus dikendalikan, jangan sampai tanpa kita sadari kegelapan batin timbul dan berkembang sehingga muncul banyak kerisauan// terhadap segala yang kita hadapi itu. Sebelumnya kita telah membahas, “Akibat adanya noda batin, timbullah berbagai karma buruk.” “Akibat adanya karma buruk, diperolehlah buah penderitaan.” “Oleh karena itu, (kami) hari ini bertobat sepenuh hati.” Noda batin sering membingungkan dan menyesatkan pikiran kita sehingga kita melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu, kita harus bertobat. “Bertobat atas rintangan noda batin.” Kita harus bertobat atas segala noda batin yang menghalangi kita. Kita memiliki banyak noda batin yang berasal dari sebersit kegelapan batin. Jadi, mulai saat ini kita harus senantiasa bertobat karena noda batin dapat merintangi kita.

Maka, kita perlu mengingatkan diri sendiri untuk selalu membangkitkan rasa bertobat. “Seluruh noda batin ini timbul dari pikiran.” Noda batin sesungguhnya muncul dari pikiran kita. “Lalu apakah dampaknya?” Apakah dampak selanjutnya? “Akibat munculnya karma pikiran, tubuh dan ucapan pun mengikuti.” Kita sering membahas tentang tiga jenis karma. Dari tiga jenis karma, yang terpenting adalah yang mendahului semuanya, yakni pikiran. Saat sebersit pikiran muncul, akan diikuti dengan tindakan atau ucapan. Tindakan dilakukan oleh tubuh. Sebersit perasaan tidak suka akan berpengaruh pada raut wajah dan gerak-gerik kita. Lihatlah, saat orang merasa tidak suka, raut wajahnya sangat tidak enak dilihat, tindak-tanduknya pun menjadi kasar. Mereka mungkin akan mengambil sesuatu dan membantingnya dengan kuat. Melihatnya, kita tahu bahwa pikirannya sedang bergejolak, memiliki kebencian, merasa marah, dan tidak senang. Juga adalah pikiran yang membuat tubuh melakukan tindakan. Dalam keseharian,//tindakan yang didasari noda batin entah berapa banyak kita lakukan. Sebagai manusia,//setiap hari kita pasti beraktivitas. Dalam aktivitas ini,//kita pasti bertemu dengan orang lain. Ketika berinteraksi dengan orang lain, kerja mereka belum tentu sesuai harapan kita. kerja mereka belum tentu sesuai harapan kita. Ucapan mereka belum tentu kita senangi.

Saat pikiran seperti ini muncul, tindakan oleh tubuh kita akan merefleksikannya. Selain tubuh, ada pula ucapan. Mendengar sebuah ucapan yang tidak baik, pikiran pun penuh dengan kemarahan. Kita pun membalas kata-katanya dengan ucapan yang lebih menyakitkan. dengan ucapan yang lebih menyakitkan. Begitulah reaksi lewat ucapan. Saat hati menyimpan rasa benci, kita sering membicarakan keburukan orang lain, memfitnah, atau memaki, bahkan menyebarkan keburukan orang itu. Semua ini keluar lewat ucapan. Ketika merasa tidak suka terhadap seseorang, kita mungkin berbicara sembarangan dan bergunjing di mana-mana. Karma buruk lewat ucapan juga berawal dari pikiran. Jika pikiran kita teguh, maka bagaimana pun kondisi di luar, pikiran kita tidak akan terpengaruh, sehingga karma lewat tubuh dan ucapan pun tidak timbul. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa kita harus selalu mengendalikan pikiran. Pikiran kita harus dikendalikan hingga tidak tergoyahkan.

Dengan demikian, pelatihan diri kita akan berkembang baik. Saya teringat beberapa tahun silam, ada sebuah keluarga yang hubungan antara istri dan adik ipar perempuan begitu baik. Suatu ketika mereka datang mengunjungi saya. Adik iparnya sangat cerdas. Ia sering membela kakak iparnya. Ia merasa kakak iparnya begitu baik, namun ibunya bersikap tidak baik terhadapnya. Betapa pun kakak iparnya berusaha, ibunya selalu merasa tidak senang, bahkan sering mengeluarkan kata-kata pedas. Mendengarnya, putrinya ini pun marah. Ia berkata pada ibunya bahwa ibunyalah yang salah dan kakak iparnya tidak bersalah. Mendengar ini, ibunya semakin marah. Lalu kakak iparnya berkata kepadanya bahwa ibunya tidak salah. Karena itu, sang adik ipar ini merasa bahwa kakak iparnya sangat bodoh. Ia merasa bahwa saat ibunya sedang berbicara buruk tentang kakak iparnya, kakak iparnya tidak merasa tersinggung dan malah menganggap ibunya benar. dan malah menganggap ibunya benar.

Karena itu, sang adik ipar terus merasa bahwa// kakak iparnya sangat bodoh karena saat ibunya mengeluarkan kata-kata pedas, kakak iparnya seakan tidak mengerti. Suatu ketika, mereka berdua menemui saya. Sang adik ipar terus memuji kakak iparnya dan terus mengkritik ibunya sendiri. Saya pun bertanya pada sang kakak ipar, “Ibu mertuamu memperlakukanmu begitu, apakah kamu tidak merasa apa-apa?” Ia menjawab, “Master, saya sungguh tidak merasa apa-apa.” “Saya merasa mungkin saya memang salah sehingga Ibu Mertua memarahi saya.” “Saya rasa memang seharusnya begitu.” “Saya tidak merasa diperlakukan buruk.” Saya kembali bertanya, “Apakah kamu tidak merasa tertekan atau merasa diperlakukan tidak adil?” Ia menjawab, “Apanya yang tidak adil?” “Jika orang tua memarahi kita, namun sesungguhnya kita benar, maka saat mereka bilang kita salah, cukup tidak perlu dimasukkan ke dalam hati.” “Begitu saja.” “Selama kita tahu mana yang benar, maka cukup lakukan dengan benar.” Adik iparnya kembali berkata, “Bukan hanya masalah benar atau salah, bahkan saat ibu saya menyindirnya, ia juga bilang ia tidak mengerti.” Saya kemudian berkata, “Sejujurnya, kakak iparmu sangat bijaksana.” “Kamu selalu menganggap ia bodoh, namun sesungguhnya yang bodoh itu kamu.” Ia bertanya, “Mengapa begitu?” Saya menjawab, “Ya, bagaimana pun perkataan ibumu, cara kakak iparmu adalah yang paling tepat.”

“Bagaimana pun, ibu adalah orang tua kita.” “Bahkan meski kita yang benar dan kita yakin akan hal itu, namun ketika ia bilang kita salah, janganlah kita membantah.” “Janganlah beradu mulut dengannya.” “Mungkin setelah itu ibumu juga akan sadar bahwa kakak iparmu sesungguhnya benar.” “Ia memilih tidak memasukkannya ke dalam hati.” “Jangan masukkan ke hati saat kita disalahkan.” “Yang penting kita tahu mana yang benar.” “Mengenai sindiran, ia tidak merasa disindir dan seakan tidak mengerti.” “Meski terlihat bodoh, sesungguhnya ia bijak.” “Dengan begitu, semua baik-baik saja.” “Mengapa malah kamu yang marah?” “Itu berarti mengambil kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri.” “Hal itu tidak ada kaitan denganmu, mengapa kamu harus marah?” Ia berpikir sejenak dan merasa ini ada benarnya. “Sebenarnya, saya sendiri sering bertengkar dengan ibu mertua saya, karena semua ucapannya saya mengerti dengan jelas, maka saya bertengkar dengannya.” “Itu membuatnya semakin marah.” “Saya merasa saya benar.” Saya menjawab, “Ya, kakak iparmu tak pernah berdebat dengan ibumu, kakak iparmu tak pernah berdebat dengan ibumu, bukankah mereka hidup lebih damai dan jauh dari masalah?” “Dengan begitu, kakakmu tidak serba salah.”

“Sedangkan kamu, kamu merasa memahami//semua perkataan ibu mertuamu, sehingga terus berselisih dengannya.” “Bagaimana perasaan suamimu?” Ia menjawab,  “Suami saya selalu mengeluh bahwa ia amat serba salah karena harus berada di tengah-tengah kami.” Saya menjawab, “Begitulah, untuk apa seperti itu?” “Kalau begitu, kamu lebih pintar ataukah kakak iparmu yang lebih bijak?” Ia menjawab, “Saya selalu merasa saya pintar, namun kini saya sadar saya tidak pintar.” “Kakak ipar saya memang bijaksana.” Lihatlah bagaimana pikiran membedakan kondisi luar yang ditemui. Orang yang bijaksana, pikirannya tidak akan terpengaruh kondisi luar. Apa pun yang orang lain katakan, mereka tahu dengan jelas bahwa mereka benar, dan tetap berada pada jalan itu. Inilah kebijaksanaan. JIka kita salah dan orang lain memberi tahu kita, kita seharusnya berterima kasih dan segera memperbaiki diri. Dengan begitu, tidak ada masalah. Jadi, jangan biarkan pikiran//terpengaruh kondisi luar, karena jika pikiran kita terpengaruh kondisi luar, perbuatan dan ucapan kita akan ikut menciptakan karma buruk. Intinya, semua berawal dari pikiran. Akibat munculnya karma lewat pikiran, terciptalah karma melalui tubuh dan ucapan.

Dengan timbulnya karma melalui pikiran, kita harus sangat waspada. Karma buruk melalui pikiran ada tiga jenis. Karma buruk melalui pikiran ada tiga jenis. Pertama adalah sifat kikir dan tamak. Apakah yang dimaksud dengan kikir dan tamak? Ada sebuah analogi yang sering saya gunakan. Ketamakan tidaklah terbatas. Setelah memiliki, tetap merasa kurang. Ketamakan selamanya tak akan terpuaskan. Ketamakan selamanya tak akan terpuaskan. Ini sungguh membawa penderitaan. Memiliki keinginan tentu menderita. Kikir berarti segala yang telah diperoleh tidak akan rela dilepaskan. Selamanya ia tak akan merasa cukup. Oleh karena itu, dia tidak rela menggunakan yang yang dimiliki. Di Taiwan bagian tengah ada seorang pria yang bergelar magister ilmu fisika. Dia juga pernah mengajar di sebuah universitas. Dahulu, orang tuanya mengirimnya ke luar negeri untuk belajar dan ia berhasil mendapatkan gelar magister. Saat mengajar di sebuah universitas, dia berkenalan dengan seorang wanita yang juga merupakan dosen di sana. Mereka akhirnya menikah dan punya anak.

Berhubung orang tuanya tinggal di desa, Berhubung orang tuanya tinggal di desa, suatu ketika dia mengunjungi mereka. Dia merasa bahwa kehidupan di desa adalah impiannya. Karena itu, setelah mengunjungi orang tuanya, ia tidak ingin lagi kembali ke kota dan tidak lagi lanjut mengajar. Jadi, ia mengundurkan diri dari jabatan dosen dan tinggal bersama orang tuanya. dan tinggal bersama orang tuanya. Tahun berganti tahun, orang tuanya semakin tua. Ayahnya lalu meninggal dunia, dan tak lama ibunya pun meninggal sehingga ia hidup sendirian. Ia merasa hidup sendirian sangat nyaman karena tidak memiliki beban, tidak perlu tertekan oleh urusan mengajar, juga tidak perlu menyokong  anggota keluarga seperti anak dan istri yang semuanya hanya menambah kerisauan. yang semuanya hanya menambah kerisauan. Maka, dia memutuskan untuk menetap di desa. Manusia menua seiring waktu. Hari demi hari pun berlalu. Dia gemar membaca buku, maka setiap hari dia hanya membaca buku dan mengabaikan lingkungan sekitarnya. Jika lelah, dia akan berbaring dan tidur. Jika lelah, dia akan berbaring dan tidur. Ketika merasa lapar, dia akan memakan apa saja yang ada. Ia tidak bisa masak dan terkadang bahkan tidak ingin makan. Ia lebih memilih kelaparan untuk membaca buku. Bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu. Kondisi rumahnya pun menjadi sangat kotor, sungguh berantakan.

Lingkungan tempat hidupnya sendiri tidak dia rawat. Karena itu, rumahnya menjadi sangat kotor. Tubuhnya pun sangat kotor. Para tetangga merasa kasihan terhadapnya dan heran melihat dirinya menjadi demikian. Kadang mereka membawakannya makanan, namun dia tetap tenggelam dalam buku-bukunya. namun dia tetap tenggelam dalam buku-bukunya. Departemen Sosial beranggapan bahwa kondisi hidupnya yang begitu kotor dapat memengaruhi lingkungan sekitar dan menimbulkan masalah kesehatan. Jadi, mereka berencana memasukkannya// ke panti jompo. Setelah memeriksa latar belakangnya, mereka baru menemukan bahwa dia memiliki kekayaan puluhan juta dolar NT. Akan tetapi, karena kebodohan dalam batinnya, Akan tetapi, karena kebodohan dalam batinnya, dia tidak tahu cara menggunakan kekayaannya, pun tidak rela menggunakannya. Ini juga merupakan sejenis noda batin. Meski ia tidak tamak akan apa pun, tidak berambisi apa-apa, dan tidak merasa kekurangan, namun ia terus menyimpan kekayaannya tanpa menggunakannya. Ia bahkan tidak menggunakannya// untuk memenuhi kebutuhannya, apalagi untuk bersumbangsih menolong orang. Inilah sifat kikir. Dia tidak rela menggunakan kekayaannya// dan hanya menyimpannya. Sifat kikir dan tamak juga membawa penderitaan. Sifat kikir dan tamak juga membawa penderitaan. Yang kedua adalah kebencian.

Kebencian ditandai oleh kemarahan. Kita semua tahu akan hal ini. Dalam masyarakat, banyak hal yang mengganggu ketenangan. Banyak di antaranya disebabkan oleh kebencian dan temperamen buruk. Bahkan, di masa sekarang dkatakan bahwa jika seseorang tidak dibiarkan meluapkan emosi, jika seseorang tidak dibiarkan//melampiaskan emosi, ia akan semakin bermasalah. Karena itu, sebagian anak, demi melampiaskan isi hati dan mencari kesenangan, mereka terlibat dalam berbagai geng, mengonsumsi ekstasi, kebut-kebutan di jalan, atau berkeliaran di klub malam dan tidak pulang hingga tengah malam. Dengan berkelompok dalam geng, ketika bertemu hal-hal yang tak disukai, mereka mulai berkelahi. Semua masalah ini berawal dari kebencian. Terlebih lagi, ketika  sifat emosional ini terus dipelihara, kita tentu akan sangat menderita. Saudara sekalian, melatih diri bertujuan untuk melatih batin dan membina sifat kita. Janganlah mudah terpancing emosi. Marah karena emosi adalah sesuatu yang sungguh membawa penderitaan. Berikutnya, kebodohan dan kegelapan batin.

Kebodohan berarti tidak mengerti kebenaran. Betapa banyak orang di dunia yang akibat kebodohan sendiri terjerumus dalam asmara atau terbelenggu dalam cinta, benci, dan dendam. Kebodohan ini sungguh menakutkan. Cinta asmara akan membuat seseorang buta. Ini menyebabkan kegelapan dalam batin terus-menerus bertambah. Inilah kebodohan dan kegelapan batin. Kegelapan batin sama dengan ketidaktahuan. Kebodohan dapat menumbuhkan banyak noda batin. “Akibat kebodohan dan kegelapan batin, timbullah pandangan salah dan segala perbuatan tidak baik.” Betapa menakutkan. Dari sebersit pikiran saja dapat timbul ketamakan, kebencian, kebodohan. Terutama kebodohan, dapat menjerumuskan kita pada pandangan salah. Banyak karma buruk bermula dari kebodohan. Sesungguhnya, kebodohan ini adalah kegelapan batin yang sesungguhnya.

Singkat kata, akibat kegelapan batin, dalam pikiran kita timbullah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Intinya, akibat kegelapan batinlah ketamakan dan kebencian timbul. Karena kebodohan ini pulalah pandangan hidup kita menjadi menyimpang. Dengan pandangan hidup yang menyimpang, kita akan tersesat ke arah yang jahat. Karena itu, pengetahuan dan pandangan benar sangatlah penting. Kebodohan dan kegelapan batin dapat menjerumuskan kita ke dalam pandangan salah. Saudara sekalian, yang terpenting dalam berlatih di jalan Buddha adalah tetap lurus. Kita harus melatih batin, membina sifat, dan menjaga perilaku yang lurus. Inilah pelatihan diri yang sesungguhnya. Jalan Bodhisattva adalah jalan yang lapang dan lurus, juga merupakan jalan yang agung dan benar. Jadi, kita harus meneguhkan tekad untuk sungguh-sungguh menapaki jalan ini. Harap semuanya tekun dan bersemangat, janganlah menyimpang sedikit pun. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran dengan baik.

Leave A Comment